Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Seruling sakti Perenggut Sukma.


__ADS_3

Suara seruling perenggut sukma masih saja terdengar turun naik meliuk liuk, seakan ikut menarik Sukma orang yang mendengarkan nya.


Kalau tadi nona Ah Mei dan nona Yun Yun terpengaruh suara seruling maut dari Shin Bu Mo Thi (Iblis Bumi roh kegelapan) itu, kini setelah Dewi Teratai putih menotok di beberapa bagian tubuh kedua nya, tidak lagi terlihat kedua nya terpengaruh oleh suara seruling maut itu.


Shin Liong dan Dewi Teratai putih mengedarkan persepsi nya, memantau daerah sekitar mereka.


"Apakah kau sudah menemukan iblis itu sayang?" tanya Dewi Teratai putih kepada suami nya.


Shin Liong menganggukkan kepala nya, sambil menunjuk ke sebelah timur mereka, "dia berada di balik batu besar itu Dewi, meniup seruling sambil bersandar ke batu besar itu!"...


"Ya tampang laki laki paro baya, meskipun sebenar nya usia iblis ini menurut ayah ku, lebih tua dari kakek ku sendiri, mungkin sudah ratusan tahun usia nya" bisik Dewi Teratai putih di telinga Shin Liong.


"Kita teruskan acara makan kita seolah olah tidak terpengaruh dengan suara seruling itu, aku ingin tahu, apa yang akan dia perbuat nanti!" kata Shin Liong .


Dan akhirnya mereka ber empat pun meneruskan acara makan mereka, seolah olah tidak terpengaruh dengan suara seruling itu maut itu.


Shin Liong menambatkan kedua kuda mereka di bawah pohon rindang, serta menutupinya dengan tabir gaib punggung kura kura, agar kedua kuda itu tidak terpengaruh serangan suara seruling dari Shin Bu Mo Xiau.


Setelah menutupi kedua ekor kuda tadi dengan tabir gaib, kini terlihat kedua kuda itu menjadi tenang kembali, tidak gelisah seperti tadi.


Kedua gadis cantik Ah Mei dan Yun Yun terkagum kagum dengan tingkat kesaktian kedua suami istri ini yang bukan cuma tidak terpengaruh sedikit pun dengan serangan suara seruling maut dari Shin Bu Mo Thi, tetapi juga bisa menolong orang orang di dekat mereka yang terkena serangan suara seruling maut itu.


Suara seruling itu masih terdengar turun naik, namun tidak lagi mengganggu kuping mereka.


Hingga acara makan mereka selesai, suara seruling itu masih saja bergema nyaring turun naik.


Kini suara seruling itu semakin kencang, nada nya di naikan lebih tinggi lagi, karena takut kedua gadis itu tidak sanggup menahan serangan suara seruling maut itu,Shin Liong akhir nya mengurung kedua gadis cantik itu di dalam tirai gaib punggung kura kura.


Kini yang ada di luar cuma mereka berdua saja, sambil menunggu apa yang akan di lakukan oleh Shin Bu Mo Thi berikut nya.


Shin Liong segera mengeluarkan seruling bambu biasa dari balik baju nya.


Seruling ini seruling bambu biasa yang sering dia tiup dikala senggang.


"Apa yang akan kau lakukan sayang, apa kau mau mengadu suara seruling bambu biasa milik mu dengan suara seruling dari Shin Bu Mo Thi itu?" tanya Dewi Teratai putih heran melihat kelakuan suami kecil nya itu.


"Tentu saja tidak Dewi, mana ada seruling bambu biasa mengalahkan seruling pusaka, aku cuma mau mengajak Shin Bu Mo Thi bertukar seruling saja Dewi!" kata Shin Liong lugu.


"Heh sayaang!, mana dia mau menukar seruling pusaka nya dengan seruling bambu milik mu yang butut itu!" kata Dewi Teratai putih heran.

__ADS_1


"Dia pasti mau Dewi!, kami kan bersahabat, coba saja Dewi lihat nanti, dia pasti mau!" kata Shin Liong penuh percaya diri.


Dewi Teratai putih menarik nafasnya dalam-dalam, dia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran suami kecil nya itu, mungkin jiwa jahil dari sifat anak anak nya kumat lagi, pikir Dewi Teratai putih sambil membiarkan saja apa yang akan di lakukan oleh Shin Liong.


Sekedipan mata Shin Liong menghilang,lalu muncul kembali sambil menenteng sebuah seruling terbuat dari gading gajah purba berwarna kuning itu, mulut nya senyam senyum seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru,atau seperti anak kecil yang baru saja berhasil menjahili teman nya.


"Aku tidak bohong kan Dewi, aku memang bersahabat dengan laki laki gondrong itu, makanya nama kami juga hampir sama" kata Shin Liong cengengesan sambil memperlihatkan seruling perenggut sukma kepada Dewi Teratai putih seperti tanpa dosa.


Melihat kelakuan dari suami kecil nya yang masih ada sifat kekanak kanakan nya itu, membuat Dewi Teratai putih tidak tahan hati untuk tidak memeluk laki laki muda itu.


Dipeluk nya tubuh laki laki muda itu dengan erat, "kau selalu membuat aku gemas sayang!, hal seperti ini lah yang membuat Dewi tidak bisa jauh dari Shin Liong!, kau menghadapi sesuatu selalu dengan gembira,tidak pernah dengan rasa takut" ...


"Dewi!, maap kan aku, mungkin rasa takut ku sudah lama hilang, bersama hilang nya rasa sakit ditubuh ku, aku sudah sangat terbiasa menghadapi rasa takut dan rasa sakit Dewi, sehingga kedua rasa itu tidak lagi dapat mengganggu ku, sangking akrabnya rasa itu menemani hidup ku, bagi ku kematian bukan lah hal yang harus ku takutkan, tetapi satu hal yang ku nantikan, agar aku bisa berkumpul dengan ibu ku, tetapi aku tahu, bila aku mati bunuh diri, maka selamanya aku tidak akan bisa berkumpul dengan ibu ku, tetapi bila aku mati dalam membela kebenaran, maka ibu ku lah yang pertama tama menyambut ku,itu kata kakek Qin dulu sewaktu menasehati ku!" kata Shin Liong di dalam pelukan Dewi Teratai putih .


Tanpa disadari nya, di pipi Dewi Teratai putih mengalir beberapa butir air mata, mendengar ucapan Shin Liong tadi.


"Kalau kau mati, kau akan bertemu ibu, tetapi kau meninggalkan Dewi sendirian mengembara di Dunia ini, kau tega?" tanya Dewi Teratai putih.


"Dewi!, bila kau mati, maka orang pertama yang akan menyambut mu adalah aku!" kata Shin Liong mantap.


Sebenar nya suara seruling masih saja mendayu Dayu turun naik, tetapi tidak lagi menusuk telinga dan menghantam dada seperti tadi.


Kini giliran Shin Liong yang meniup seruling pusaka gading gajah itu.


Baru saja Shin Liong meniup seruling itu,tiba tiba suara seruling dari Shin Bu Mo Thi berhenti, di gantikan suara jeritan marah dari seseorang di balik batu besar itu.


"Aaaaaaa!, keparat!"...


Belum habis gema suara jeritan amarah tadi, dari balik batu muncul se orang laki laki paro baya bertubuh jangkung, berkulit putih dengan rambut tersisir rapi.


"Jahan*m!, hei bocah kecil, kau menggunakan sihir apa sehingga mampu menukar seruling ku, tanpa aku menyadari nya sama sekali?, ayo kembalikan seruling ku, dan bersujud lah di depan kakek guru mu ini" kata laki laki paro baya itu dengan penekanan yang kuat,sehingga Shin Liong merasa ada kekuatan yang menyuruh nya bersujud,serta perlahan lahan,wajah laki laki paro baya itu berubah menjadi wajah kakek Qin.


Untung saja akal Budi Shin Liong masih berfungsi,dan mengayakan kalau laki laki di depan nya itu bukan siapa siapa, tetapi hanya sosok iblis semata.


Tiba tiba hawa hangat menyeruak dari dalam tubuh nya.


Pedang Kristal Katai putih inti bintang mulai bereaksi melindungi tuan nya dari bahaya dan sihir jahat.


Tubuh Shin Liong kini bercahaya Putih terang lebih terang dari pada cahaya matahari siang.

__ADS_1


Tiba tiba Shin Liong merasa tekanan dari sihir yang di lontarkan Shin Bu Mo Thi menjadi buyar tiba tiba.


Dia mengira Dewi Teratai putih lah yang telah membantu nya.


Sedangkan Dewi Teratai putih sendiri, menyaksikan peristiwa itu dengan melongo, tak bisa berkata kata lagi.


Setelah cahaya putih itu menyelubungi sekujur tubuh Shin Liong, tiba tiba tubuh seorang remaja kecil tadi menghilang dari pandangan, digantikan oleh tubuh seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun,dengan wajah sangat tampan dan gagah,lengkap dengan mahkota ke Dewataan di kepala nya namun masih menggunakan pakaian yang Shin Liong pakai tadi, yaitu jubah putih bermotif bunga teratai.


Begitu juga dengan kedua gadis cantik di dalam kurungan tirai gaib punggung kura kura, menatap perubahan tubuh Shin Liong dengan mulut ternganga takjub.


"Be benar kah legenda tentang Dewata yang menitis sebagai manusia itu nyata?, ataukah kita yang sedang bermimpi?" tanya Ah Mei kepada Yun Yun.


"Aku tidak tahu Ah Mei, mungkin memang mata kita yang sudah membohongi kita, lihatlah remaja kecil tadi berubah menjadi seorang pemuda yang luar biasa tampan nya, aku tidak pernah melihat laki laki setampan itu, lutut ku bergetar Ah Mei, tiba tiba aku kebelet mau pipis!" sahut gadis cantik Yun Yun.


"Sama Yun Yun, tiba tiba dengkul ku tidak bertenaga,dan rasanya kebelet mau pipis juga nih!" sahut Ah Mei.


Dewi Teratai putih melangkah mendekat ke arah Shin Liong yang masih berdiri kokoh dengan tangan menggenggam seruling pusaka.


"Shin Liong, Kau kah itu sayang?, apakah kau Shin Liong ku yang dulu?" tanya Dewi Teratai putih.


"Dewi?,ada apa Dewi, aku masih Shin Liong yang kau kenal, apakah aku berubah?" tanya Shin Liong belum sadar dengan perubahan diri nya.


Sekali lagi Dewi Teratai putih menatap wajah Shin Liong, mata nya menolah percaya, tetapi telinga hati dan otaknya masih mempercayai bila pemuda tampan di hadapan nya itu Shin Liong suami nya.


Dewi Teratai putih ingin memeluk pemuda itu, tetapi tiba tiba hati nya berontak, "tidak!,tidak!, aku bukan milik Shin Liong yang ini, aku milik Shin Liong yang dulu!"...


"Sekarang hadapilah Shin Bu Mo Thi itu dulu,lalu setelah itu kembalilah menjadi Shin Liong ku yang dulu!" ucap Dewi Teratai putih sambil mundur kedekat Ah Mei dan Yun Yun yang masih terkurung di dalam tirai gaib punggung kura kura.


"Nona muda kenapa mundur?, bukan kah dia perwujudan dari suami mu?" tanya Ah Mei heran.


"Ya kalian benar, tetapi aku hanya milik Shin Liong yang dulu, bukan Shin Liong yang berwujud tampan sekarang, kalau pun dia tidak bisa kembali seperti semula, maka aku akan berjalan sendiri, mencari Shin Liong ku yang dulu yang telah hilang, aku tidak perduli dia berwujud setampan apa, bagi ku Shin Liong yang dulu adalah pemilik tubuh, hati dan jiwa ku "ucap Dewi Teratai putih agak sedih.


Gadis Ah Mei dan Yun Yun termangu mendengar kesetiaan hati bidadari di hadapan mereka ini, wanita dengan wajah luar biasa cantik jelita nya, hingga tidak ada bandingan di seluruh semesta raya ini, tetapi dengan kesetiaan yang tiada dua nya.


Sangat jarang ada di Dunia ini, wanita cantik dengan kesetiaan luar biasa seperti itu.


Betapa Ah Mei dan Yun Yun sangat mengagumi kesetiaan Dewi Teratai putih ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2