
Pagi akhirnya datang juga menyapa dunia yang sunyi ini.
Tidak ada suara Kokok ayam maupun nyanyian jangkrik malam ini.
Semua berlalu seperti di dalam pekuburan saja layak nya.
Setelah selesai sarapan pagi, Shin Liong segera terbang kearah yang telah dia beri tanda tadi malam.
Tempat yang dia tuju rupanya masih sangat jauh sekali, setelah seharian terbang di udara, saat senja tiba, barulah Shin Liong melihat di kejauhan ada sebuah gunung tinggi menjulang ke angkasa, dengan bebatuan merah serta biru menghiasi nya
Tidak ada sebatang pohon ataupun rerumputan yang terlihat.
Semua nya cuma bebatuan dan Padang tandus sejauh mata memandang.
Semakin mendekati kaki gunung itu, hawa semakin terasa sangat panas sekali.
Kaki gunung Yung San masih cukup jauh, tetapi Shin Liong sudah tidak mampu lagi untuk berjalan lebih dekat lagi.
Dengan peluh yang bercucuran membasahi sekujur tubuh nya, Shin Liong dengan terpaksa melompat mundur ke belakang, karena tidak kuat dengan hantaman hawa panas yang begitu kuat nya.
"Bagai mana cara aku memasuki telaga itu, bila mendekat saja aku tidak kuat?" pikir Shin Liong bingung.
Dari jarak satu hari terbang saja, panas nya masih terasa, apa lagi bila harus memasuki telaga itu.
Sambil bersandar pada sebatang pohon besar, Shin Liong menatap punggung gunung itu dari kejauhan.
Telaga api yang di maksudkan tidak terlihat karena terlindung oleh punggung gunung itu.
"Hm!, rupanya aku memang harus bertanya kepada kakek lagi, sebenar nya aku malu, tetapi akal ku sudah habis, aku tidak tahu cara memasuki Telaga api itu tanpa harus hangus terbakar!" pikiran Shin Liong berputar putar di kepala nya.
Setelah mencari tempat yang agak tersembunyi, Shin Liong segera duduk bersila sambil melepaskan semua rasa panca indra nya, dan menyatukan setiap rasa nya kepada sang kakek nya.
"Ada apa lagi cucu ku, apa lagi kesulitan mu kali ini!" tiba tiba terdengar suara kakek Qin di dalam relung kalbu nya.
"Maafkan aku kakek!, tetapi kali ini aku benar benar tidak mengerti dan bingung, kakek menyuruh ku untuk membuang batu matahari yang menyumbat sumber air di dasar telaga Yung San ini, tetapi jangan kan untuk masuk ke dalam telaga nya sana, mendekat saja aku tidak mampu kek, beri aku petunjuk lagi kek, apa yang harus ku lakukan?" tanya Shin Liong kepada kakek nya.
"He he he he, kakek lupa nak, kakek kira kau mampu memasuki api dengan tingkat panas level tujuh itu, he he he he, maaf kan kakek ya?, sekarang kau cari Mustika Dewi Salju, cuma dengan mustika Dewi Salju itulah kau bisa mengatasi panas dari level apa pun juga!" perintah kakek Qin.
Shin Liong Terdiam, dia tidak lagi langsung meng iya kan perintah sang kakek, tetapi berpikir sebentar.
"Lalu di wilayah mana aku bisa menemukan Mustika itu kek?" tanya Shin Liong akhirnya.
Beberapa saat tidak terdengar suara dari kakek Qin lagi.
"Kek!, kakek!" panggil Shin Liong .
"Huuh! ini bocah tidak ada sabar sabar nya sama sekali, kakek kan perlu melacak keberadaan Mustika itu kini di mana, tunggulah beberapa saat, nah nah ini dia, ooh rupanya di situ keberadaan nya selama ini, pantesan di cari tidak pernah bertemu lagi, rupanya kau ngumpet di tempat itu ya?, benar benar cerdik!" gumam kakek Qin tanpa di mengerti oleh Shin Liong.
__ADS_1
"Kek!, kakek!, aku tidak mengerti maksud mu!" kata Shin Liong lagi.
"Belajar lah bersabar sedikit anak muda, jangan terburu buru, kakek mendeteksi keberadaan Mustika itu di dunia Dimensi di dalam cincin kuning bermata biru yang ada di jari tangan mu itu nak, masuklah kedalam nya, dan cari di sana, cari keberadaan Dewi Salju, dan minta pada nya, sudah ya?, kakek mau istirahat dulu!" kata kakek Qin, lalu alam kembali menjadi sunyi sepi lagi.
Shin Liong Membuka mata nya, menatap kearah cincin dimensi yang berada di jari nya itu.
Cincin yang dia letakan di jari manis kanan nya itu ternyata menyimpan satu alam misteri aneh juga.
Shin Liong segera melepaskan cincin itu, lalu meneteskan beberapa tetes darah nya ke atas batu cincin berwarna biru itu sebagai pengikat hubungan nya.
Cincin itu memancarkan cahaya biru terang dan kuning emas secara bergantian, namun lama kelamaan cahaya itu pun menyala berbarengan.
Setelah cahaya biru dan kuning menyala berbarengan, lalu seperti pecah menyebar ke sekeliling nya, dan tiba tiba saja, Shin Liong kini telah berada di dalam sebuah hutan lebat dengan pohon pohon yang besar serta tinggi tinggi.
Terdengar suara binatang hutan yang ber aneka macam ragam nya, seperti suara lutung, beruk, monyet, kera, dan berbagai macam suara burung.
Bahkan udara di tempat itu sangat bersih, penuh dengan hawa Qi murni yang sangat pekat.
Di kejauhan terlihat binatang Rusa, kijang, kancil serta kelinci berlarian dengan ceria nya.
Dengan terbang ke udara, Shin Liong mencoba mengitari tempat itu beberapa saat lama nya, namun dia tidak menemukan satu permukiman manusia pun.
Selagi dia terbang mengitari tempat itu, dari kejauhan dia melihat serombongan Phoenix es berwarna hijau kuning yang cantik melintas menuju ke Utara, dan beberapa kawanan angsa besar terbang kearah sebuah danau, lalu turun di tepi nya.
Beberapa saat kemudian, sekawanan Phoenix api berwarna merah dan kuning, terbang melintas ke arah barat.
Shin Liong segera terbang mengikuti arah terbang nya Phoenix es tadi dengan kecepatan tinggi.
Karena dia terbang tidak terlalu tinggi dari permukaan laut, maka beberapa binatang laut terlihat muncul di permukaan air.
Ada beberapa lumba lumba berwarna perak, ada beberapa putri duyung nan cantik, dan kura kura besar, sebesar rumah sedang berenang santai di permukaan air laut, dengan beberapa putri Duyung ber jemur di sisi tempurung kura kura yang sangat besar itu.
Lalu datang serombongan burung camar sebesar pintu mencaplok segerombolan ikan teri sebesar guling, dan langsung menelan nya.
Shin Liong segera turun ke belakang kura kura raksasa itu untuk ber istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan alam yang indah tiada Tara nya itu.
Yang sangat aneh adalah, lautan itu tidak bergelombang, cuma beriak sedikit saja.
Punggung kura kura raksasa itu penuh di tumbuhi oleh lumut, hingga mirip seperti Padang rumput di atas sebuah perbukitan saja layak nya.
Ketika Shin Liong turun di belakang punggung kura kura raksasa itu, beberapa ekor Putri Duyung melompat ke dalam air, tetapi lebih banyak yang berdiam sambil memuaskan hasrat ke ingin tahuan mereka.
Salah satu dari putri Duyung itu menarik kaki nya dari air laut, setelah beberapa saat, kaki nya yang berupa sirip ikan itupun menjadi kaki manusia seperti kaki Shin Liong.
"Kau siapa?, apakah kau dari bangsa Duyung seperti kami juga?" tanya wanita cantik jelmaan putri Duyung itu sambil menatap kearah Shin Liong dengan keheranan.
"Bukan!, aku dari Bangsa manusia, aku ingin mencari tempat Dewi Salju berada, aku butuh pertolongan nya!" sahut Shin Liong .
__ADS_1
"Ooh sayang sekali, aku tidak mengetahui apa dan di mana tempat yang kau cari itu, mungkin kakek Bo Beng Kong mengetahui nya!" jawab putri Duyung yang sangat cantik itu lagi.
"Kakek Bo Beng Kong itu siapa?" tanya Shin Liong antusias.
"Ini!, tempat kita istirahat ini punggung kakek Bo Beng Kong, usia nya kan sudah lebih dari seribu tahun, boleh jadi dia tahu, karena dia sudah berkelana jauh hingga ke mana mana!" sahut putri Duyung itu.
"Begitu kah?" tanya Shin Liong antusias sekali.
Ternyata yang di maksudkan dengan kakek Bo Beng Kong itu adalah se ekor kura kura raksasa tempat nya ber istirahat sekarang ini.
"Kek!, apakah kau tahu tempat Dewi Salju yang di cari pemuda ini kek?" tanya putri Duyung itu kepada sang kura kura raksasa itu.
"Ooaah!, tentu saja aku tahu, tempat itu sangat jauh di Utara Dunia ini, putri!" jawab sang kura kura raksasa itu.
"Meski sejauh apapun, aku akan tetap mendatangi tempat itu kek!" ucap Shin Liong tegas.
"Untuk mencapai tempat itu, kau harus terbang terus menerus selama beberapa hari lurus ke Utara, melewati wilayah kerajaan Naga laut Utara yang sangat pemarah, belum lagi halangan dari Elang salju raksasa, serigala salju, dan beruang salju yang semua nya ganas ganas sebagai penjaga Dewi itu!" kata kakek Bo Beng Kong.
"Tidak ada pilihan bagi ku kek!, keselamatan puluhan juta nyawa umat manusia berada di tangan ku, meskipun harus menukar dengan nyawa ku, aku rela melakukan nya kek, aku harus menemui Dewi itu secepat nya!" tegas Shin Liong lagi.
Setelah mendengar alasan dan tekad Shin Liong, akhirnya kakek Bo Beng Kong pun bersedia membantu nya.
"Baiklah anak muda!, demi ke baikan, aku akan membantu mu, turunlah kalian para putri, aku akan mengantarkan anak muda ini sebentar!" kata kakek Bo Beng Kong menyuruh para putri Duyung itu untuk turun dari punggung nya.
Setelah semua putri Duyung itu turun dari punggung nya, kura kura raksasa itu bersiap siap untuk melakukan perjalanan nya ke Utara.
"Berpeganglah pada pundak ku anak muda, aku akan berenang kearah Utara mengantarkan mu!" kata kakek Bo Beng Kong.
Shin Liong segera berpegangan pada pundak tempurung kura kura raksasa itu.
Selanjut nya, dengan kecepatan luar biasa, kura kura itu segera berenang ke arah Utara lautan itu.
Karena kecepatan kura kura itu luar biasa cepat nya, sebentar saja, Shin Liong merasakan sudah memasuki wilayah perairan yang sangat dingin.
Masih untung semua jurus yang Shin Liong miliki itu ber asal dari energi Qi murni bersifat panas, sehingga dia bisa menghadapi suhu yang sangat dingin ini.
Berbeda ketika dia menghadapi suhu panas yang luar biasa, energi panas dari dalam tubuh nya, justru memperparah keadaan tubuh nya saja.
Setelah kura kura itu berenang beberapa lama nya, dengan kecepatan luar biasa, tiba tiba di depan mereka ter lihat air laut bergolak hebat, lalu mem bumbung sangat tinggi sekali.
Se ekor Naga Laut ber warna biru tua muncul di depan mereka.
"Hei!, kura kura tua!, mau kemana kau heh?, tanya sang Naga biru itu dengan suara yang menggelegar.
"Maaf kan aku Raja Naga Laut Utara, aku mengantarkan se orang anak manusia yang ingin bertemu dengan yang mulia Dewi Salju!" kata kakek Bo Beng Kong.
Raja Naga Laut Utara itu berputar mengelilingi tubuh kura kura raksasa itu beberapa kali, seakan ingin melihat siapa orang yang di maksudkan oleh kura kura raksasa itu.
__ADS_1
Kura kura raksasa itu gemetar ketakutan melihat ulah sang Raja Naga Laut Utara itu.
...****************...