
Ulat hitam mirip lintah itu menggeliat beberapa kali setelah terkena bubuk merah yang di taburkan oleh Shin Liong di atas tubuh nya, lalu diam untuk selama lamanya.
"Ba bagai mana bisa putri ku menelan racun aneh itu nak?" tanya sang Ratu kebingungan.
"Ratu tidak usah bingung, ada musuh di dalam istana ini yang mulia, dia lah yang telah memasukan telur ulat tengkorak itu ke makanan sang putri, sehingga sang putri tanpa sadar menelan telur ulat itu, dan ulat itu berkembang dari telur menjadi ulat di dalam perut sang putri, lalu menghisap sari tubuh sang putri hingga sang putri menjadi tengkorak, seharusnya ulat itu berkembang biak di dalam tubuh sang putri, tetapi karena setiap hari sang putri di beri sari bunga Mo Li, maka ulat itu menjadi lamah dan tidak mampu berkembang biak!" jawab Shin Liong menjelaskan.
"Lalu untuk apa orang itu melakukan hal sekeji ini kepada putri ku?" tanya sang Ratu.
"Hamba tidak tahu Ratu, apa maksud orang itu melakukan hal keji seperti itu, mungkin ibu tahu alasan nya?" tanya Shin Liong kepada sang ibu.
"Kita tanya saja kepada pelaku nya nak!" kata Dewi Chang 'e sambil mengibaskan tangan nya kearah jendral Zhen Juan.
Tiba tiba saja tubuh sang panglima itu kaku di tempat nya.
Ilmu totokan angin ini khusus di miliki oleh para Dewata dan Dewita, karena memerlukan energi besar yang berasal dari tingkat kultivasi minimal Dewa sempurna.
"Ba bagai mana mungkin, kalian jangan asal bicara!" kata sang ratu agak emosi, karena sang panglima Zhen Juan ini adalah panglima terpercaya nya selama ini.
"Saya tidak asal bicara yang mulia, ambilah bungkusan kecil di saku nya, lalu siapkan piring putih!" kata Dewi Chang 'e.
Beberapa orang pelayanan istana menggeledah tubuh sang panglima , dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil.
Sedangkan yang lain nya mengambil piring putih di dapur istana.
Dewi Chang 'e, disaksikan oleh yang lain nya, membuka bungkusan kecil itu, didalam nya ada beberapa butir telor ulat sebesar biji cabe, lalu dia ambil sebutir dan di letakan didalam piring putih.
Dengan sebilah pisau kecil, di iris nya sedikit jari telunjuk sang panglima, dan di teteskan beberapa tetes kearah telur ulat tengkorak ltu.
Tiba tiba telur ulat itu berputar putar di atas piring, lalu dari dalam nya keluar ulat hitam yang mirip lintah, persis seperti yang di muntahkan oleh sang putri tadi.
Dengan mengisap darah yang ada di piring itu, sebentar saja, ulat itu sudah sebesar kelingkingan anak anak.
Sang Ratu terperangah melihat kenyataan di depan mata nya itu, percaya atau pun tidak percaya, bukti sudah berbicara.
Di tatap nya wajah sang panglima perang jendral Zhen Juan yang sangat di percaya nya itu.
"Ingin rasa nya aku tidak mempercayai kenyataan ini jendral, tetapi mata kepala ku sendiri yang menyaksikan bukti dari kejahatan mu, lalu apa pembelaan mu sekarang?" tanya sang Ratu.
Dengan tubuh gemetar, dan muka yang pucat pasi, sang jendral bersimpuh dihadapan sang Ratu.
"Hamba tidak akan membela diri hamba yang mulia, hamba mengakui bahwa hamba lah pelaku nya, hamba sakit hati, empat tahun yang lalu, tuan putri Xuan Yi menolak cinta putra hamba, dan itu membuat putra hamba patah hati, lalu bunuh diri, suami hamba yang bersedih di tinggal putra tunggal nya, akhir nya juga menyusul putra hamba, hati hamba sangat sakit sekali dan dendam kepada sang putri Xuan Yi, sehingga hamba mengambil jalan pintas, meskipun mati, hati hamba belum puas!" kata sang panglima Zhen Juan.
"Ibunda Ratu, bagai mana hamba bisa menerima manusia yang hampir saja memperkosa hamba, Ibunda!, kalau saja tidak ada pertolongan seorang tua dari langit yang datang begitu saja, kehormatan hamba pasti direnggut nya" kata putri Xuan Yi.
Sang ratu menatap kearah panglima jendral Zhen Juan dengan perasaan yang sangat geram.
Ingin sekali dia menebas leher sang jendral dengan sekali tebasan pedang saja, tetapi dia teringat, jika dia adalah seorang Ratu yang tidak boleh menuruti perasaan amarah semata.
__ADS_1
Akhirnya,sang Ratu menyuruh para punggawa istana untuk memasukan jendral Zhen Juan kedalam penjara khusus.
Hari itu juga sang Ratu mengumumkan kepada seluruh penduduk kota, bahwa besok hari akan diadakan pernikahan antara Shin Liong dan putri bungsu Xuan Yi, dan pesta pernikahan akan di rayakan selama tujuh hari tujuh malam.
...----------------...
Sudah sangat lama kita meninggalkan Dewi Teratai putih atau Dewi Nuwa.
Baiklah sejenak kita ikuti perjalanan sang Dewi Nuwa.
Kita mundur ke empat tahun yang lalu, di mana Dewi Nuwa mencari Shin Liong hingga terdampar di sebuah hutan di belahan barat Dunia Fangayun.
Meskipun pada saat yang sama, Shin Liong juga terdapat di dunia yang sama, tetapi di belahan benua yang berjauhan.
Bila Dewi Nuwa terdampar di belahan benua barat,sedangkan di saat yang sama, Shin Liong terdampar di belahan benua timur, dan jarak mereka terpisah sangat jauh sekali.
Perjalanan sang Dewi mengikuti naluri dan kata hati nya itu, membawa nya terdampar di sebuah hutan rimba lebat.
Segala kecantikan yang dulu luar biasa dan di gandrungi banyak lelaki, kita hilang tanpa bekas.
Penyesalan dan rindu dendam berpadu, di mana tubuh bersandar, disitu kenangan menggerogoti hati nya, dan air mata pun tumpah ruah.
Dengan tubuh kurus kering karena tidak lagi makan, serta perut yang mulai nampak membesar, sang Dewi tetap saja memaksakan kaki nya untuk melangkah, yang ada di dalam pikiran nya cuma mencari keberadaan sang suami.
"Tian Agung!, dengarlah permintaan hamba sekali ini saja, jangan cabut nyawa hamba sebelum bertemu suami hamba, hamba ingin berlutut di kaki nya, memohon ampunan nya, setelah itu hamba ikhlas untuk kau ambil!" ...
Rambut indah nya dulu sudah lama sirna, berganti dengan rambut awut awutan, serta tubuh yang tidak lagi terurus.
Namun satu hal yang masih dia miliki, yaitu kesaktian nya.
Namun sesakti saktinya manusia biasa, bila tidak makan dan minum, daya tahan nya pun pasti akan habis.
Begitulah cerita nya, karena sudah lupa dengan makan dan minum, maka pada satu hari, tubuh nya tidak lagi bisa menuruti kehendak hati nya.
Akhirnya tubuh nya tergolek tanpa daya dibawah sebatang pohon yang sangat besar.
Dengan bersandar ke batang pohon besar itu, dicoba nya mengumpulkan sisa sisa energi di tubuh nya.
Tetapi rupanya itulah saat saat akhir dari sisa sisa energi yang terus dia paksakan berjalan, tanpa tambahan makanan dan minuman.
"Tian yang maha Agung, begitu besar kah dosa ku kepada suami ku?, hingga engkau pun marah dan tidak memperkenankan doa doa ku, sayang ampuni aku, aku sangat kehilangan diri mu, andai waktu bisa di ulang, aku pasti akan memperbaiki kesalahan ku, kini tubuh ku pun tidak lagi mau menuruti kemauan ku, mungkin ini akhir hidup ku, aku ingin kau tahu betapa aku sangat menyayangi mu!" kata Dewi Nuwa sambil air mata nya mengalir.
Tenaga nya sudah benar benar habis, bahkan untuk menghapus air mata nya sendiri sekalipun.
"Selamat tinggal suami ku, meskipun seribu kelahiran lagi, aku tetap akan mencari mu, memohon ampunan mu!" kata Dewi Nuwa sambil memejamkan mata nya, segala panca indra nya pun mulai hilang daya nya.
Tiba tiba dari langit melesat satu cahaya biru terang menuju ke bawah pohon tempat Dewi Nuwa bersandar.
__ADS_1
Cahaya biru itu ternyata berasal dari tubuh seorang wanita paro baya, bertubuh subur namun tidak gendut, dengan kedua pipi yang agak tembem namun tetap cantik, berkulit putih bersih dan halus.
Wanita cantik bertubuh subur itu memegang sebuah kipas yang terbuat dari emas.
Setelah tiba di permukaan tanah, wanita paro baya itu melangkah mendekat kearah Dewi Nuwa, memeriksa denyut nadi nya, lalu mengeluarkan sebutir pil dan di masukan kedalam mulut Dewi Nuwa.
"Kasihan sekali kau nak, betapa berat beban hidup mu, kau membawa kehidupan lain di dalam tubuh mu, keturunan dari Dewata San Qin, aku akan merawat mu anak ku!" kata wanita bertubuh subur namun sangat cantik itu sambil memanggul tubuh Dewi Nuwa di bahu kiri nya, sedangkan tangan kanan nya di kibas kan ke udara.
Sebuah pintu portal berbentuk bulat oval terbuka, seolah merobek ruang waktu.
Lalu wanita itu melangkah memasuki pintu portal yang terbuat dari cahaya putih itu.
Setelah wanita itu masuk sambil memanggul tubuh Dewi Nuwa, pintu portal itu pun tertutup kembali.
Nun di sebuah alam dimensi ruang waktu, sebuah pintu portal terbuka,dan dari dalam Pitu portal itu muncul wanita paro baya berbadan agak subur namun sangat cantik itu sambil memanggul tubuh Dewi Nuwa di pundak kiri nya.
Di tepi sebuah telaga kecil, nampak sebuah istana yang cantik berdiri menghadap ke arah telaga.
Wanita itu membawa tubuh Dewi Nuwa ke arah istana cantik itu.
Di dalam istana, di atas sebuah tempat tidur yang terbuat dari gading, di baringkan nya tubuh Dewi Nuwa di situ.
Di pijat nya kepala Dewi Nuwa di beberapa bagian, lalu di tempelkan nya tangan nya di dada wanita itu, sambil menyalurkan hawa Qi murni.
Hingga beberapa saat lama nya, mata Dewi Nuwa pun terbuka perlahan.
"Apakah aku sudah mati?, inikah alam kematian itu?, oh mengapa aku tetap saja mengingat suami ku?" racauan keluar dari mulutnya.
"Anak ku, kau belum mati sayang, kau berada di tempat ibu, ibu akan merawat mu!" kata wanita paro baya itu dengan suara yang sangat lembut sehingga siapa yang mendengar suara wanita itu, niscaya hatinya akan merasa damai.
Apalagi dengan tatapan mata wanita itu yang sangat teduh serta menyejukkan hati, membuat perasaan benar benar terasa damai.
Dewi Nuwa berusaha untuk duduk, tetapi tenaga nya belum memadai.
"Tiduran saja dulu anakku, kau perlu istirahat, apalagi sekarang, kau membawa kehidupan lain di dalam tubuh mu!" kata wanita bersuara sangat lembut itu.
"A apa maksud ibu?" tanya Dewi Nuwa kurang paham.
"Kau akan menjadi seorang ibu anakku, kau harus kuat demi anak mu, kau harus tangguh demi dia!" kata wanita itu kembali.
Dewi Nuwa meraba perut nya," ooh suami ku, kini aku mengandung anak mu, aku sangat merindukan kehadiran mu!" bisik nya.
"Si siapakah ibu sebenar nya?" tanya Dewi Nuwa akhirnya.
Dengan tersenyum ramah, wanita itu berkata, "nama ku Yaochi Jin Mu, atau biasa juga dipanggil orang ibu Suri, aku akan merawat mu anak ku, kau harus bisa menguasai hati mu, jangan biarkan hati mu yang menguasai diri mu, segala yang ada di adakan ini, harus pula dengan sebab ada nya, seperti kenyang dengan sebab makan, maka jangan hindari sebab!" kata wanita bernama Yaochi Jin Mu itu.
Yaochi Jin Mu ini sebenarnya seorang Dewita, dengan segala rasa belas kasih nya yang besar dan tulus.
__ADS_1
...****************...