
Di rumah kediaman klan Gak yang sangat luas seperti komplek sebuah istana seorang Kaisar saja layak nya.
Paling depan berhadapan dengan halaman yang sangat luas, ada bangunan besar dan paling megah sebagai bangunan utama.
Di belakang masih ada sebuah halaman belakang yang luas, di kelilingi oleh rumah rumah anggota utama klan, sedangkan di sebelah barat halaman itu, ada tiga bangunan lagi, yang paling tengah rumah leluhur senior, sedangkan yang kanan dari rumah leluhur senior ada rumah leluhur satu, yakni orang tua dari patriak, dan di sebelah kiri nya ada rumah leluhur kedua, saudara kandung leluhur pertama.
Di ruang utama klan Gak, nampak patriak klan Gak Ming Kwan dengan muka merah padam melihat putra kedua nya Gak Tong Kwan dibawa oleh dua orang teman nya dengan telapak tangan tertembus batang sumpit.
"Prak!". suara sebuah meja hancur terkena hantaman tangan patriak Gak Ming Kwan, "Dong Kwi!, Bing Ong!, katakan siapa yang telah melakukan ini kepada putra ku!"...
Kedua pemuda tanggung itu gemetaran melihat kemurkaan di wajah patriak klan Gak itu.
"A' ampun patriak, seorang anak remaja belasan tahun di rumah makan bebek panggang di pinggir kota" jawab pemuda Mu Dong Kwi, lalu mencerita kan kejadian waktu di rumah makan tadi.
Gak Bun Cui dan Gak Ting Ong,saudara sepupu dari patriak Gak Ming Kwan, hanya diam saja, mereka sebenarnya sudah lama muak dengan kelakuan Gak Ming Kwan dan anak nya itu.
Mereka sudah sangat lama memendam kebencian kepada saudara sepupu mereka itu, yang selama ini selalu menindas semua orang, bahkan juga tidak jarang keluarga mereka terkena tindakan arogan dari saudara sepupunya itu, cuma karena dia seorang patriak klan.
Yang membuat mereka memilih diam adalah, semua tindakan sang patriak, mendapat dukungan dari sang ayah nya yaitu Gak Tao Jin selaku sesepuh pertama dan Gak Bo Ong selaku sesepuh senior.
Gak Bun Cui cuma memberi isyarat kepada adik nya Gak Ting Ong, agar tidak ikut campur dalam masalah pribadi sang patriak.
"Apakah anak remaja itu yang sudah membantu ketua Kota menghalau pasukan negeri Dao?" tanya patriak lagi.
"Benar ayah, dialah anak muda yang turun bersama cahaya dari langit itu!" jawab Gak Tong Kwan yakin, karena dia sempat melihat di alun alun kota, bahkan sempat bersitegang dengan orang orang di sana.
"Hm, pantesan si Cai Bo Kung kini berani menentang kata kata ku, aku sudah memerintahkan dia untuk menyerah dan membuka pintu gerbang kota, tetapi dia malahan bersikeras untuk melawan, awalnya aku berharap ketua kota itu tewas di tangan jendral Zhuo, eh ternyata harapan ku gagal, malahan jendral lemah itu yang dapat di kalahkan mereka, sekarang karena ulah Cia Bo Kung itu, apa yang harus ku katakan kepada Raja negeri Dao?, aku harus menyelesaikan urusan ini satu persatu, akan ku cari anak itu, dan dia lah yang pertama akan ku bunuh, baru setelah itu sang ketua kota tol*l itu!" kata sang patriak dengan gusar nya.
Gak Bun Cui dan Gak Ting Ong serta ayah mereka Gak Shio Jin cuma terdiam tanpa reaksi apapun juga, cuma Gak Tao Jin yang mendukung tindakan putra nya itu.
"Benar Ming Kwan, kau memang harus menunjukan pengaruh mu pada kota ini, agar semua orang tidak ada yang meremehkan diri mu, kalau tidak, mereka akan semakin berani saja kepada kita, salah salah, uang keamanan pun tidak mereka setorkan lagi nanti nya, bagai mana dengan kalian Bun Cui!, Ting Ong?" tanya Leluhur pertama, Gak Tao Jin.
"Entahlah paman, kalau cuma masalah sepele itu, patriak sendiri juga mampu mengatasi nya, kalau kami sampai turun tangan, klan Gak yang kuat ini akan menjadi tertawaan orang banyak nanti nya!" jawab Bun Cui berusaha membuat alasan yang masuk akal.
"Kakak!, apa yang dikatakan putra ku itu semua benar, kita akan ditertawakan orang banyak nanti nya, bila menghadapi seorang anak saja harus menurun kan semua anggota klan!" kata Gak Shio Jin meyakin kan saudara nya itu.
__ADS_1
"Kalian tidak usah membantu ku, aku tidak butuh bantuan orang orang yang pengecut seperti kalian ini, aku sendiri yang akan mencari nya sekarang, kota ini tidak terlalu besar, sebentar saja aku pasti akan menemukan anak sialan itu, dan akan ku tusuk kedua belah mata nya, karena sudah berani menghina ku!" kata patriak klan Gak sambil berdiri dan melangkah ke luar dari kediaman nya.
Saat itu Shin Liong sedang duduk duduk dibawah sebatang pohon di pinggir lapangan kecil tidak jauh dari rumah makan tadi.
Shin Liong merenung sendiri, ingatan nya melayang kepada Dewi Teratai putih, kenangan kebersamaan mereka, terukir kembali di alam ingatan Shin Liong.
Shin Liong sebenar nya tidak bisa membenci Dewi Teratai putih, kendati bagai manapun sang Dewi itu memperlakukan diri nya.
Tetapi untuk mengemis cinta dari orang yang cuma memiliki rasa kasihan saja, Shin Liong merasa tidak ada gunanya juga.
Dia tidak ingin hidup dengan rasa kasihan orang saja, bagi nya lebih baik hidup sendirian di tengah hutan, dari pada hidup di keramaian,tetapi dengan modal dikasihani orang.
"Kau sungguh tidak tahu diri Shin Liong, sudah dikasihani,malah melonjak!"...kata kata Dewi Teratai putih kembali mengiang ngiang di telinga nya.
Tanpa sadar, dua butir air mata bergulir dari pelupuk matanya.
Seperti perih nya sakit di hina orang, lebih sakit sekarang ini yang dia rasa kan.
"Meskipun aku cuma seekor burung pungguk, dan kau se orang Dewi Bulan, aku tetap sangat menyayangi mu Dewi, biarlah kisah ini akan kubawa bersama ku, hingga ajal menjemput ku" kata hati Shin Liong.
Dari jauh dia melihat seorang laki laki paro baya yang sedang terburu buru berjalan kearah diri nya.
Dibelakang laki laki itu, berjalan tiga orang pemuda tanggung yang tadi bentrok dengan nya di rumah makan bebek panggang.
"Dialah orang nya ayah!" kata pemuda Gak Tong Kwan yang tadi telapak tangan nya tertembus batang sumpit, tetapi kini telapak tangan nya itu sudah di balut dengan kain.
patriak klan Gak memperhatikan tubuh Shin Liong dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, lalu berpaling ke arah putra nya.
"Apa kalian tidak salah lihat heh?" tanya sang patriak.
"Mana mungkin kami salah lihat ayah, memang dia orang nya yang sudah membuat tangan ku seperti ini!" jawab Gak Tong Kwan.
"Tetapi tingkat kekuatannya cuma di alam Taruna menengah saja, bagai mana bisa mengalahkan diri mu yang sudah di tingkat alam Raja akhir itu, ataukah kalian yang sudah sangat lemah karena kebanyakan berfoya foya saja, tanpa mau berkultivasi lagi?" tanya patriak klan Gak .
Ketiga orang pemuda itu cuma terdiam, merasa apa yang dikatakan patriak ada benar nya juga.
__ADS_1
"Hei kau kah yang sudah melukai telapak tangan putra ku?" tanya sang patriak sambil menunjuk ke arah Shin Liong.
Shin Liong tersenyum, masih dalam keadaan duduk bersandar di batang pohon yang cukup besar itu, " tuan bisa memikirkan nya sendiri, mungkin kah saya yang melakukan hal itu, coba saja tuan tanya kepada kedua pemuda teman putra tuan itu, apakah mereka melihat saya yang melakukan hal itu?" kata Shin Liong tenang.
Patriak menoleh kearah kedua pemuda teman dari putra nya itu, "apakah kalian melihat dia yang melakukan nya pada putra ku?" ...
"Kami memang tidak melihat dua bergerak, dia cuma diam saja saat peristiwa itu terjadi, tetapi bila bukan dia, lalu siapa lagi patriak, kan waktu itu di dekat kami tidak ada siapapun juga, cuma dia sendirian patriak!" jawab Mu Dong Kwi.
"Ah sudahlah, aku tidak butuh jawaban apapun juga, karena dia seperti itu karena bermasalah dengan diri mu, maka ku anggap saja kau yang melakukan nya, maka sebagai sasaran kekesalan hati ku, kedua mata mu juga akan ku tusuk!" kata patriak klan Gak itu sambil bergerak secepat kilat kearah Shin Liong dengan membawa dua batang sumpit dari bambu.
"Cras!".
Kedua batang sumpit itu menancap hampir separuh nya, tetapi bukan di mata Shin Liong , tetapi di batang pohon tempat Shin Liong tadi bersandar.
Gak Ming Kwan, sang patriak klan Gak itu terpana sesaat, dia yang sudah berada pada tingkat Dewa Bumi awal itu tidak pernah menyangka bila upaya nya bisa di pecundangi oleh seorang anak remaja yang baru besar itu.
Ternyata Shin Liong sudah berdiri di belakang nya, sedang menatap kearah nya.
"Kurang ajar, kau rupanya punya simpanan ilmu sihir juga, akan ku buat hari ini kau tidak bisa bernafas lagi untuk selama lama nya!" kata patriak klan Gak dengan marah sekali.
"Tuan!, sebaik nya tuan berpikir kembali sebelum membunuh saya, lagi pula yang luka cuma telapak tangan putra tuan saja, dua atau tiga hari juga sembuh, saya cuma memberi nya pelajaran saja, tidak setimpal dengan nyawa saya!" ucap Shin Liong lagi.
"Kau pikir aku perduli dengan alasan mu itu?, bagiku siapapun yang mencoba bermasalah dengan keluarga ku, berarti dia sudah bosan hidup, sudahlah, bukan kau saja yang bernasib seperti itu, kau terima saja takdir mu di kota ini, semua yang ada di kota ini harus tunduk pada ku, apapun yang di ingin kan putra putri ku, mereka harus menuruti semua nya, karena kota ini milik ku, termasuk nyawa mereka dan nyawa mu, saat ini aku menginginkan nyawa mu, jadi dengan sukarela, kau harus melepaskan nya!" ujar patriak klan Gak dengan nada sangat sombong.
"Baiklah tuan!, ambilah bila nyawa saya memang harus tuan ambil, tetapi ada syarat nya tuan, tuan harus benar benar bisa mencabut nyawa saya, karena bila tidak, sayalah yang akan mencabut nyawa tuan, silahkan di mulai tuan!" kata Shin Liong dengan nada datar, tanpa intonasi apapun, itu menunjukan kalau dia sudah mulai marah.
Dengan suara tawa terkekeh kekeh nyaring, sang Patriak klan Gak segera menyerang Shin Liong dengan gerakan yang sangat cepat dan berbahaya.
Namun kejadian tadi kembali terjadi, saat pukulan tangan sang patriak hampir mencapai dada Shin Liong , tiba tiba remaja itu lenyap dari hadapan sang Patriak klan Gak itu.
"Plak!".
Tiba tiba telinga sang patriak berdenging nyaring terkena tempeleng telapak tangan Shin Liong dari belakang.
Untung saja Shin Liong melakukan nya dengan sangat pelan, sehingga tidak berdampak buruk bagi tubuh lawan nya, cuma telinga nya saja yang berdenging nyaring beberapa saat.
__ADS_1
...****************...