
Gunung Kai Lun menjulang tinggi, hingga separo tubuh nya berada di balik awan abadi.
Dikatakan awan abadi, karena awan ini tidak pernah bergeser meskipun sejengkal dari puncak gunung itu.
Pagi menjelang siang itu, nampak seorang wanita cantik, terbang dengan menarik tangan seorang wanita cantik pula, dan seorang pemuda tampan, juga terbang sambil menarik tangan seorang pemuda tampan lain nya, sementara Disamping nya, nampak seorang wanita jelita, terbang menggunakan selendang nya.
Setelah terbang beberapa saat, mereka menembus awan.
Dibalik awan pekat itu, terlihat puncak Kai Lun yang indah menawan.
Sebuah telaga kecil di kelilingi oleh pohon pohon Tao yang rimbun, dan sebuah kuil kecil menghadap kearah Telaga.
Di depan kuil itu, ada sebuah patung batu aneh, berbentuk seperti kera besar dan tinggi, tetapi berdiri tegak serta tidak ber ekor.
Kera itu nampak sedang memakan sebelah kaki manusia.
Yang lebih aneh lagi dari kera itu adalah, tubuh nya mengenakan baju seperti manusia lazim nya.
Di batu pondasi tempat patung mahluk itu berdiri, tertulis, "mahluk orgo, masuk mati, atau menjadi iblis!" ...
Sebelum masuk kedalam kuil, Shin Liong terlebih dahulu menuliskan sesuatu dengan jari kelingking kanan nya, di antara kedua mata A Yong, Dewi Teratai putih dan putri Xuan Yi.
"Ini adalah segel Dewata, segel penolak segala kekuatan sihir dan mantra mantra, serta penolak segala macam aura jahat, maupun Qi kegelapan yang bisa membuat pikiran dan hati kalian menjadi jahat!" kata Shin Liong menjelas kan.
Seperti di ceritakan di awal, bahwa Shin Liong mewarisi semua ilmu dari sang kakek yaitu kakek Qin atau Dewata San Qin, termasuk ilmu segel dan tirai gaib, sehingga bukan hal sulit bagi Shin Liong untuk menyegel tubuh seseorang agar tidak kemasukan pengaruh jahat dan aura negatif.
Setelah selesai memasang segel Dewata kepada kedua istri dan putra nya, Shin Liong pun mengajak mereka memasuki kuil kecil itu.
Didalam kuil itu ada dua pilar, dengan jarak satu depa, dan atas nya saling terhubung seperti sebuah gapura, sedangkan di sebelah kanan nya ada sebuah batu giok persegi empat, tempat pemicu energi portal itu.
Shin Liong meletakan tangan nya diatas batu giok itu, lalu mengerahkan energi murni nya ke arah batu Giok itu.
Cuma dengan sedikit pengerahan energi murni saja, portal itupun aktif, dan mengeluarkan cahaya putih di selingi dengan asap putih pula.
Sambil memasang kesiagaan penuh, Shin Liong melangkah masuk kedalam portal itu.
Mereka berjalan kedepan beberapa langkah, hingga terlihat dua buah pilar berdiri tegak, di depan mereka, persis pilar yang tadi.
Ketika mereka melewati pilar itu, mereka tiba Diruangan sebuah kuil yang sangat mirip seperti yang tadi mereka lewati.
Kuil itu juga persis seperti yang tadi mereka masuk, di depan nya ada patung batu berbentuk manusia kera besar tinggi bernama orgo.
Kuil ini juga menghadap ke sebuah telaga kecil diatas puncak sebuah gunung yang tinggi.
Di bawah terlihat hamparan awan putih seperti lautan kapas yang terhampar.
"Ayah !, kita kembali ketempat kita masuk tadi!" kata A Yong.
Shin Liong meneliti kesekeliling terlebih dahulu, barulah menyahut omongan putra nya.
"Ah tidak!, kita sudah pada jalur yang benar!" jawab Shin Liong singkat.
__ADS_1
A Yong menarik tangan nya, "bagai mana ayah bisa seyakin itu kita tidak kembali ketempat asal?" tanya anak muda itu penasaran dengan kata kata sang ayah.
Shin Liong menunjuk kearah patung batu berbentuk manusia kera raksasa itu.
"Coba kau perhatikan patung batu itu!" kata Shin Liong kepada putra nya. A Yong memperhatikan patung itu dengan seksama, terasa memang sangat mirip dengan yang tadi, lalu di mana salah nya?.
"Lihatlah arah muka patung batu itu nak, dan bandingkan dengan yang tadi kita lewati!" ujar Dewi Chang 'e memberitahukan kepada cucu nya.
"Ya ampun, nenek benar, ternyata ayah memang sangat teliti, tadi patung itu menghadap kearah telaga,menyambut orang yang datang, sekarang patung nya menghadap kearah kuil, juga menyambut setiap orang yang datang!" kata A Yong sambil tertawa tawa.
Mereka berlima turun seperti tadi mereka naik.
Setelah melewati awan yang terhampar di tengah tengah gunung, barulah terlihat jika gunung ini hanyalah sebuah batu besar yang teronggok di atas tanah, tanpa ada sebatang pohon pun.
Barulah di sekitar punggung gunung batu itu, terlihat pohon pohon sangat besar menjulang tinggi membentuk sebuah hutan rimba belantara.
Hawa Qi hitam aura kegelapan sangat kental terasa di situ.
Untung saja Shin Liong sudah memasang segel Dewata pada kedua istri nya serta putra nya, jika tidak, bisa bisa mereka menjadi gila, karena pekat nya aura kegelapan ditempat itu.
Dahulu dunia ini sama seperti di ia yang lain nya, penuh dengan hawa Qi murni, tetapi semenjak di kuasai oleh para iblis, hawa Qi hitam aura kegelapan menjadi sangat dominan di dunia ini.
Shin Liong mengajak semua nya untuk terbang dari dahan kedahan dan dari pohon ke pohon, agar mempercepat perjalanan mereka.
Setelah beberapa lama berlompatan dari satu dahan ke dahan lain nya, akhirnya, di kejauhan mereka melihat sebuah desa kecil.
Desa itu ternyata begitu sunyi sekali, seakan akan tidak memiliki kehidupan sama sekali.
Sebenar nya sekeliling desa itu di beri pagar dari kayu besar yang di tancapkan ketanah dan di biarkan atas nya tersisa sangat tinggi.
Shin Liong memasuki desa itu dan melihat kerusakan parah di sana sini, serta darah yang berceceran di mana mana.
Di halaman sebuah rumah cukup besar, terlihat sebuah kepala manusia tergeletak di halaman itu.
Tetapi setelah A Yong membalikan kepala itu, terlihat jika idi kepala nya sudah tidak ada lagi, seperti nya sudah di santap sesuatu.
Sambil terpekik, A Yong melemparkan kerangka kepala manusia yang sudah kosong melompong tidak ada isi nya lagi.
"Ayah binatang apa yang sudah memangsa manusia seperti ini, sangat mengerikan, tubuh dan isi kepala nya sudah tidak ada lagi?" tanya A Yong bergidik ngeri.
"Mungkin di mangsa kelinci liar barang kali!" kata Shin Liong sekena nya.
"Kelinci apa yang bisa memangsa manusia sampai seperti ini ayah?" tanya A Yong lagi sangat serius menanggapi jawaban sang ayah.
Shin Liong Menoleh kearah putri Xuan Yi, "kelinci apa kira kira meme?" tanya nya.
"Eh kenapa kakak tanya meme, kan yang bilang seperti itu kakak, jadi pikir saja kakak sendiri!" jawab putri Xuan Yi menahan tawa nya.
Shin Liong kembali berpaling kearah Dewi Teratai putih, "kelinci apa ya Dewi?" tanya nya.
"Kakak!, kenapa sangat suka menjahili putra nya?, A Yong!, coba kau tanya nenek!" kata Dewi Teratai putih.
__ADS_1
A Yong berpaling kearah sang nenek, sambil memegang tangan sang nenek, dia bertanya," nek kelinci apa yang bisa memangsa manusia?" tanya nya.
"Hei!, kenapa itu yang kau tanyakan kepada nenek mu A Yong?" kata Dewi Teratai putih.
"Aah ibu!, tadi kan ibu yang menyuruh A Yong bertanya sama nenek!" jawab pemuda itu lugu.
"Iya A Yong!, tetapi bukan masalah kelinci, kau di jahili Ayah mu tahu, tanya masalah binatang apa kira kira yang telah memangsa para penduduk sini, nenek kan seorang Dewita, siapa tahu dia mengetahui nya!" kata Dewi Teratai putih menjelaskan kepada putra nya itu.
A Yong bukan nya idiot, dia tahu telah di jahili sang ayah, maka sengaja membalas kejahilan ayah nya dengan berpura pura bertanya hal yang sama kepada ibu nya itu.
"Berhati hatilah semua nya, bila aku tidak salah duga, dunia ini telah terkontaminasi oleh mahluk Orgo, mahluk setengah manusia setengah binatang, ganas seperti binatang yang paling ganas, tetapi pintar seperti manusia, dan mahluk ini selalu lapar dengan daging serta isi kepala manusia, apa lagi yang muda muda seperti A Yong!" kata Dewi Chang 'e menjelaskan, tetapi sekaligus menjahili sang cucu nya itu.
"Iih nenek seperti nya tidak benar benar sayang sama A Yong!" kata A Yong merajuk.
Dewi Chang 'e merangkul cucu nya itu, "tentu saja nenek sayang sama A Yong!" ...
Shin Liong mendekat sambil menepuk bahu A Yong, "hei anak muda, dia ibu ku, Sono ibu mu, temui dia!"...
"Ah ternyata Shin Liong itu seorang ayah yang paling iri hati dengan putra nya sendiri!" kata A Yong sambil berlari menjauh dari tempat itu kesamping sebuah rumah.
Namun baru saja dia bermaksud berlari kesamping rumah itu, dia kembali terpekik nyaring.
Mendengar suara sang putra, spontan saja Shin Liong melompat ke tempat itu.
Namun dia pun terpana menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan sekali, setumpuk tulang belulang manusia yang masih berdarah darah menumpuk Disamping rumah, seolah olah di gerogoti mentah mentah.
Bahkan dari tumpukan tulang belulang merah itu, masih terlihat wajah wajah para manusia malang itu, dengan tulang belakang kepala yang sudah tidak ada lagi, serta isi kepala nya yang sudah hilang.
Melihat kengerian itu, nampak Dewi Teratai putih dan putri Xuan Yi terisak Isak menangis.
"Bu, sepertinya mereka laki laki semua Bu, apa mungkin satu desa isi nya cema laki laki semua?" tanya Shin Liong bingung.
Dewi Chang 'e memperhatikan tengkorak itu satu persatu, memang keterangan dari Shin Liong sangat benar, tulang belulang itu milik laki laki semua nya.
"Ibu tidak mengerti nak!, apa mungkin para wanita dan gadis gadis semua nya di culik, cuma para laki laki yang mereka makan?" gumam Dewi Chang 'e.
"Bu!, mahluk biadab apa mereka sebenar nya?" tanya Dewi Teratai putih.
"Entahlah nak, setahu ibu, mahluk Orgo itu dahulu tidak se ganas ini, mereka memang suka membunuh mahluk lain, tidak perduli itu manusia atau binatang, tetapi yang mereka makan cuma binatang nya saja, bukan manusia seperti sekarang ini!" kata Dewi Chang 'e turut kebingungan.
"A Yong!, ayo bantu ayah menggali lobang besar di belakang rumah ini, kita kuburkan tulang belulang ini semua nya di sini!" kata Shin Liong kepada sang putra.
Anak muda ini, meskipun suka melawan bahkan membalas kejahilan sang ayah, dengan kejahilan nya pula, tetapi semua nya tahu, jika anak muda ini sangat menyayangi sang ayah.
Kedua anak beranak ini menggali lobang besar yang cukup dalam di belakang sebuah rumah, lalu mengumpulkan semua tulang belulang itu dan meletakan nya di dalam lobang.
Seluruh desa mereka jelajahi, mencari sisa sisa tulang belulang yang masih basah dengan darah itu.
Setelah semua sisa sisa tulang mereka masukan kedalam lobang kubur, kemudian Shin Liong dan A Yong menutupi lobang itu dengan tanah kembali.
Shin Liong mengambil sebongkah batu cukup besar, menggurat tulisan diatas batu itu dengan jari nya." inilah makam korban kebiadaban mahluk iblis".
__ADS_1
Senja turun dengan beribu tanda tanya di hati mereka masing masing, seperti apakah mahluk biadab yang telah memangsa seluruh penduduk desa kecil itu.
...****************...