Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Antri di Gerbang Kota.


__ADS_3

Setelah menamatkan kisah hidup sepasang Tua Laknat, Shin Liong dan Dewi Teratai putih kembali berpacu dengan kuda mereka di sepanjang jalan, dan mendahului yang lain nya satu persatu.


Akhir nya setelah hampir satu purnama perjalanan dengan kuda, gerbang kota Famoa pun terlihat berdiri dengan megah nya di kejauhan.


Kota Famoa berdiri di tepi sungai Ruan,yang merupakan anak sungai Liong.


Kota Famoa sama seperti kota Tao,adalah sebuah kota yang besar dengan penduduk yang sangat padat, apa lagi kota ini merupakan gerbang barat ke kota Raja Alexia selain kota Fan Sau yang merupakan kota gerbang timur kota Raja.


Di kota ini terdapat markas prajurit dengan ratusan ribu prajurit dari berbagai pasukan berada.


Kota Famoa ini selain disebut sebagai gerbang barat,juga di sebut sebagai benteng barat kota raja Alexia, sedangkan kota Fan Sau, selain disebut gerbang timur, juga di sebut sebagai kota benteng timur kota Raja Alexia, karena di kota Fan Sau ini juga terdapat ratusan ribu prajurit dari berbagai pasukan.


Lepas tengah hari,Shin Liong dan Dewi Teratai putih pun memasuki kota Famoa setelah melewati pemeriksaan yang ketat di gerbang kota oleh sejumlah prajurit jaga.


Mungkin kota Fansau ini sedikit lebih ramai dari pada kota Tao,itu karena kota ini berada tidak jauh dari kota raja yang merupakan ibu kota negara tempat berdiri nya istana Alexia yang luar biasa megah itu.


Sama seperti kota Tao,kota Famoa ini juga memiliki empat gerbang keluar masuk kota.


Gerbang pertama bernama gerbang Tao, karena dari gerbang ini orang bisa ke kota Tao.


Gerbang kedua bernama gerbang Kung Ciau,dari gerbang ini orang pergi ke kota Kung Ciau.


Gerbang ke tiga bernama gerbang Hai Nan,karena dari gerbang itu orang yang biasa nya datang dan pergi ke kota Hai Nan.


Sedang kan gerbang ke empat bernama gerbang kota Raja, karena orang yang datang dan pergi ke kota raja harus melewati gerbang itu.


Shin Liong dan Dewi Teratai putih terus berkuda menuju arah gerbang kota Raja,dan menitip kan kuda mereka di penitipan kuda di dekat gerbang kota Raja itu.


Di selatan kota Famoa ini membentang sungai Ruan anak sungai Liong dari barat ke timur terus berakhir di pegunungan Hai Nan,sedang kan jalan raya dari kota Raja ke kota Kung Ciau berada di tepi sungai itu.


Jadi gerbang Kung Ciau berada di hilir sungai Ruan,dan gerbang kota Raja berada di hulu sungai Ruan.


Sedangkan gerbang Tao berada di barat laut kota Famoa, dan gerbang Hai Nan berada di timur laut kota Famoa.


Karena sedari tadi Shin Liong dan Dewi Teratai putih belum makan,maka mereka segera mencari sebuah rumah makan, untuk sekedar mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


Karena kota Famoa ini merupakan gerbang barat kota Raja, maka kepadatan nya luar biasa padat hari itu.


Sepanjang waktu, hampir tidak ada orang yang datang dari kota raja, tetapi semua nya bertujuan pergi ke kota Raja, sehingga arus manusia yang ingin pergi kekota Raja membludak luar biasa banyak nya, hingga antrian terakhir hari itu, baru bisa keluar kota Famoa setelah mengantri hingga tengah malam.


Rumah makan lama sudah tidak mampu menampung para pengunjung nya,dan rumah makan dadakan pun dibangun berderet di sepanjang jalan antara gerbang kota Raja dan gerbang Kung Ciau.


Shin Liong dan Dewi Teratai putih pun tidak kebagian rumah makan besar,sehingga makan di rumah makan dadakan itu.


Rumah makan dadakan ini tidaklah sebesar rumah makan biasa,mungkin hanya seperti warung nasi biasa saja, dan pengunjung nya tidak sepadat rumah makan besar,tetapi masakan nya tidak kalah dengan rumah makan besar juga.


Dewi Teratai putih memesan dua porsi nasi lengkap dengan lauk pauk nya untuk mereka berdua.


"Dewi!,apakah kita menginap di kota ini atau terus mengantri untuk keluar kota Famoa?" tanya Shin Liong bingung melihat banyak nya manusia yang bermaksud pergi ke kota Raja.

__ADS_1


"Sayang, bila kita mengantri besok, bisa bisa tengah malam besok nya lagi, baru kita bisa keluar dari gerbang, menurut ku,sebaik nya kita mengan tri sekarang saja,agar paling tidak tengah malam nanti, kita bisa keluar dari gerbang kota raja ini, tetapi terserah sayang saja, Dewi akan patuh pada keputusan sayang" kata Dewi Teratai putih.


Shin Liong merenung sejenak,memikirkan saran dari Dewi Teratai putih itu.


"Baik lah,kupikir saran mu sangat baik,aku setuju selepas makan ini kita ikut antri keluar gerbang kota raja ini" kata Shin Liong sambil meneruskan makan nya.


Seperti kebiasaan mereka berdua kalau sedang makan,sesekali Dewi Teratai putih menyuapi Shin Liong.


Hal itu tentu saja membuat perhatian orang lain yang kebetulan makan disitu tertuju kepada mereka berdua.


Beberapa orang pemuda nampak jengkel dengan Shin Liong karena rasa iri mereka.


Tetapi karena disitu banyak prajurit kota berjaga jaga,maka mereka terpaksa menahan diri.


Shin Liong segera mengambil nomor antrian,dan menunggu sambil duduk duduk di teras rumah penduduk, tidak jauh dari gerbang kota, bersama Dewi Teratai putih.


Karena antrian masih sangat jauh,maka mereka belum menjemput kuda mereka.


Bersama mereka saat itu,kebetulan juga ada beberapa pasang suami istri yang juga sedang menunggu antrian.


Shin Liong bersandar di dinding rumah penduduk itu sambil memejamkan mata nya karena rasa lelah yang mulai mendera nya.


Dewi Teratai putih menatap sang suami yang tersandar di din Ding sambil mata terpejam itu.


Ada rasa haru, bahagia dan juga kasihan kepada laki laki itu di dalam hati nya.


Rambut Shin Liong itu, kini sudah tertata rapi, tidak lagi awut awutan seperti dulu, saat dia masih sendirian, karena setiap hari di sisir oleh Dewi Teratai putih, dan di anyam dibelakang punggung nya, bahkan beberapa hari sekali, Dewi Teratai putih menyempatkan diri untuk mencuci rambut Shin Liong itu dengan sejenis tumbuh tumbuhan hutan, sehingga rambut Shin Liong terlihat putih bercahaya.


"Nona muda bersama adik nya dari mana?" terdengar sapaan seorang laki laki paro baya yang juga bersama istri nya itu.


Sang istri terlihat tertidur dengan berbantalkan paha suami nya.


Dewi Teratai putih menoleh sejenak kearah laki laki paro baya itu,terlihat laki laki paro baya itu tersenyum genit kearah Dewi Teratai putih.


"Dia bukan adik saya tuan, tetapi suami saya, kami dari kota Li Cuan" jawab Dewi Teratai putih singkat.


Laki laki paro baya itu tertawa kecil sejenak, "ah masa,adik di bilang suami,tidak boleh itu"...


Dewi Teratai putih mulai jengkel dengan tingkah laku laki paro baya itu.


"Terserah bapak deh, bapak percaya,dia suami saya, sebaliknya bapak tidak percaya,dia tetap suami saya!" jawab Dewi Teratai putih mulai ketus.


"Ah sayang sekali, seorang bidadari, mendapatkan seorang pangeran ko.....".


Kata kata laki laki paro baya itu tiba tiba terhenti ketika Dewi Teratai putih mengibaskan tangan nya, dia diam terpaku,tanpa bisa bergerak sedikit pun, apa lagi berkata kata, totokan Dewi Teratai putih telah melumpuhkan tenaga nya,dan menyumbat urat suara nya, cuma mata nya saja yang berputar putar.


Terdengar dengkuran sang istrinya tertidur dengan sangat pulas nya.


Satu persatu orang yang duduk di teras rumah penduduk kota Famoa itu pergi,dan ketika nomor kedua pasangan itu di panggil,mereka tidak bisa bergerak sama sekali.

__ADS_1


Dewi Teratai putih menggoyang tubuh Shin Liong perlahan.


"Sayang, ayo bangun, giliran kita sudah hampir sampai"bisik Dewi Teratai putih di telinga Shin Liong.


Shin Liong membuka mata nya,dan mengedipkan beberapa kali,lalu duduk.


"Giliran kita sudah hampir sampai sayang" kembali Dewi Teratai putih mengulangi perkataan nya.


"Tetapi mereka?" kata Shin Liong sambil menunjuk sepasang suami istri itu.


"shtt!" Dewi Teratai putih menyilangkan telunjuk nya dibibir pertanda agar Shin Liong tidak banyak bicara.


Shin Liong mengerti dan sudah menduga ada sesuatu yang terjadi kepada bapak itu.


Mereka bangkit berdiri meninggalkan sepasang suami istri itu.


Nampak mata laki laki paro baya itu berlinang air mata nya,memohon belas kasihan dari Dewi Teratai putih,tetapi sang Dewi tidak memperdulikan nya,dan terus melangkah dibelakang Shin Liong sambil berpegangan tangan dengan nya.


Setelah menjemput kuda mereka dan membayar ongkos penitipan nya, mereka segera berjalan mendekat kearah gerbang kota.


Setelah melewati pemeriksaan oleh para petugas gerbang kota, mereka pun pergi keluar dari gerbang setelah mendapat tanda rekomendasi dari para petugas itu.


Setelah berada di luar gerbang kota,nampak banyak dari para pelintas yang memutuskan untuk beristirahat hingga esok hari,tetapi ada juga yang memutuskan untuk meneruskan perjalanan mereka, terutama gerobak dan kereta kuda.


Shin Liong tahu sang istri belum tidur sekejap pun,maka dia menyuruh istrinya itu untuk duduk di depan nya dan bersandar ke tubuh Shin Liong sambil tiduran.


Sedangkan Shin Liong sambil memegang tali kekang kuda,juga menjaga sang istri agar jangan terjatuh.


Sebuah selendang di ikatkan ke tubuh mereka berdua.


Kuda tidak mereka pacu,tetapi berjalan perlahan mengikuti iring iringan lampu lentera gerobak dan kereta kuda.


Sambil mengepit kedua tangan sang suami nya di kedua ketiak nya, Dewi Teratai putih bersandar di dada Shin Liong sambil memejamkan mata nya.


Entah sudah berapa lama Dewi Teratai putih tertidur bersandar di tubuh sang suami nya itu, hingga ketika dia membuka mata nya, mata hari mulai menyembul di ufuk timur.


Setelah menguap beberapa kali,diambil nya tempat air dari kulit labu yang selalu di bawa Shin Liong kemana pun pergi itu,diteguk nya beberapa teguk air putih dari tempat air itu.


"Lama kah Dewi tertidur sayang?" tanya nya.


"HM, lumayan,hampir setengah malaman,aku senang melihat kau tertidur pulas seperti tadi, lihatlah banyak warung makan berdiri di sepanjang jalan ini,kita bisa berhenti disebuah warung yang tidak terlalu ramai untuk sarapan "kata Shin Liong kepada istri nya itu.


"Iya sayang,jangan yang banyak pengunjung nya,aku bosan diperhatikan" kata Dewi Teratai putih.


"Kamu malu bila banyak orang memperhatikan kamu yang sedang bersama ku Dewi?" tanya Shin Liong kepada Dewi Teratai putih.


Dewi Teratai putih tersentak kaget, "sayang, kenapa berkata seperti itu?, Dewi tidak malu bersanding dengan mu dan dilihat orang banyak, sayang jangan berpikiran ke arah situ, Dewi benar benar sayang sama kamu, Dewi kepengen semua orang tahu bahwa Dewi milik Shin Liong, dan Shin Liong milik Dewi, Dewi cuma tidak ingin menjadi pusat perhatian orang orang, terutama laki laki mata keranjang, karena Dewi sudah memutuskan, bahwa Dewi milik Shin Liong seorang"kata Dewi Teratai putih sambil membelai pipi Shin Liong.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2