
Derap kaki kuda terdengar memecah kesunyian hutan Kai Tung.
Jalan setapak kecil itu harus di lewati oleh beberapa ratus ekor kuda,dan beberapa gerobak, membuat jalan setapak itu menjadi semakin lebar.
Empat ratus prajurit penunggang kuda, dan enam ratus prajurit pejalan kaki bergerak melewati gunung Kai Tung mengelilingi lewat jalur timur, meskipun lebih jauh, tetapi tidak melewati sungai.
Seribu prajurit negeri Dao bergerak kearah kota Si Ma, di pimpin oleh seorang komandan bernama Theo Ban Gow dan seorang panglima perang bernama Zhuo Bong Eng.
Setelah mengitari gunung Kai Tung, kini mereka mendekati kota Si Ma.
Mendekati gerbang kota Si Ma, pasukan negeri Dao berhenti mendirikan tenda di situ.
Sementara itu di atas benteng kota yang terbuat dari gelondongan kayu besar besar yang di tancapkan dalam dalam di tanah, seratus pasukan panah telah bersiaga, dan dua ratus pasukan pejalan kaki sudah bersiap di dalam gerbang kota dengan senjata dan perisai siap perang.
Jendral Zhuo Bong Eng dan komandan Theo Ban Gow sedang mengatur siasat serangan ke benteng kota besok pagi.
Sementara itu, di atas benteng kota, Shin Liong, tuan ketua kota, kedua tuan dan nona muda serta komandan Guo, sedang melihat lihat pasukan negeri Dao yang sedang berkemah tidak jauh dari benteng kota Si Ma.
"Tuan ada enam ratus prajurit pejalan kaki, dan empat ratus prajurit berkuda, satu orang komandan setingkat alam Brahmana menengah dan satu jendral setingkat alam Brahmana akhir " kata komandan Guo menjelaskan.
"Tuan ketua kota, tugas kalian hanya menahan para prajurit negeri Dao itu semampu mampu nya, sedangkan sang jendral dan komandan pasukan itu biarlah saya yang akan mengatasi nya, sedangkan tuan muda dan nona muda kalau boleh,menyerang pasukan berkuda itu agar mereka menjadi kacau, menurut hemat hamba, inti kekuatan pasukan negeri Dao itu ada pada kedua pimpinan nya itu, bila kedua pimpinan nya itu bisa kita kalahkan, pasukan nya akan kehilangan arah dan semangat tempur nya, hingga walaupun jumlah prajurit kita kalah jauh, tetapi bila semangat tempur mereka sudah hilang, tinggal masalah waktu saja lagi menuju kekalahan mereka" kata Shin Liong.
"Aku sepakat dengan pikiran mu itu nak, kami akan berjuang keras mempertahan kan benteng kota ini semampu daya kami, semoga kau bisa mengatasi kedua orang pemimpin pasukan itu sebelum mereka ******* kami!" kata tuan ketua Kota.
Malam itu mereka satu malam suntuk berjaga diatas benteng kota.
Dan ketika pagi pagi buta,terdengar suara terompet dan genderang perang dari pasukan negeri Dao di bunyikan.
Ketika pasukan negeri Dao sedang mendekat, ratusan anak panah berhamburan mengarah kepada mereka.
puluhan prajurit negeri Dao langsung bertumbangan tertembus anak panah.
Melihat anak panah dari prajurit kota berhamburan seperti hujan, para prajurit negeri Dao segera membentuk pertahanan mereka dengan tameng besi.
Puluhan anak panah dari prajurit kota berpentalan di hadang oleh tameng besi para prajurit negeri Dao.
Sambil berlindung di balik tameng besi, pasukan negeri Dao meringsek maju mendekati benteng kota Si Ma.
Di belakang pasukan pejalan kaki, terlihat pasukan berkuda telah bersiap siap untuk menyerbu.
Baru saja pasukan pembuka gerbang dengan berlindung di balik tameng meringsek maju, tiba tiba dari arah kanan mereka, muncul seorang remaja menenteng panah bercahaya putih, menarik dawai nya dan saat melepaskan panah tersebut, tiba tiba puluhan anak panah terbuat dari cahaya putih, meluncur ke arah pasukan pendobrak.
meskipun para prajurit pendobrak itu berlindung di balik tameng besi, tidak ada guna nya berhadapan dengan panah sumbu langit.
Anak panah ajaib itu bisa menembus baja sekalipun lalu menancap di leher lawan nya.
Sebentar saja, pasukan pendobrak sudah kocar kacir tidak karuan karuan lagi.
Melihat pasukan pendobrak kocar kacir, pasukan berkuda segera mengejar kearah Shin Liong.
Namun sepasang remaja berkepandaian tinggi menghadang mereka.
pertempuran pun segera berlangsung antara nona muda Na Li dan Bo An, melawan pasukan berkuda.
__ADS_1
Sedangkan Shin Liong dengan panah sumbu langit nya, terus menerus menghujani pasukan negeri Dao dengan panah, dan setiap anak panah nya terlepas, satu anak panah pasti menewaskan satu orang prajurit negeri Dao.
Pasukan negeri Dao yang tadi seribu orang, kini hampir separuhnya telah tewas.
Melihat kenyataan itu, komandan Theo Ban Gow segera mendekati Shin Liong secara diam diam.
Dia sangat kagum pada senjata panah Sumbu langit di tangan Shin Liong itu, timbul hasrat untuk menguasai senjata mustika langit itu.
Ketika sudah berada sangat dekat dengan tubuh Shin Liong , komandan Theo Ban Gow segera melepaskan pukulan jarak jauh dengan kekuatan maksimal kearah Shin Liong.
Namun ketika pukulan dari komandan Theo hampir mengenai tubuh Shin Liong , tiba tiba tubuh Shin Liong menghilang dari pandangan mata komandan Theo dan,
"Wuss!"
"Cras!".
Sebatang anak panah terbuat dari cahaya putih menghantam tengkuk nya hingga tembus ke tenggorokan nya.
Komandan Theo pun tumbang tersungkur ketanah dengan tulang leher yang sudah hancur.
Melihat komandan Theo telah tewas, sang panglima perang negeri Dao, jendral Zhuo Bong Eng segera melompat kearah Shin Liong sambil melepaskan serangan jarak jauh nya.
Kembali Shin Liong berkelit menghindar dari serangan jarak jauh itu sambil melemparkan busur panah Sumbu langit ke udara, sehingga panah itupun menghilang, kembali ketempat nya di dalam tubuh Shin Liong.
Serangan dari jendral tua itu sangatlah cepat serta mengandung energi yang sangat kuat, sehingga beberapa saat, Shin Liong harus pontang panting menghindari serangan itu.
Shin Liong segera menggunakan jurus langkah Dewa Dewi.
Kini tubuh nya bergerak super cepat, bahkan sangking cepatnya, diri nya seolah olah bisa berpindah tempat dengan mempergunakan lorong waktu.
Sementara itu pertempuran antara pasukan panah negeri Dao dan kota Si Ma masih berlangsung dengan sengit.
Korban di kedua belah pihak mulai berguguran pula.
Begitu pula dengan pasukan berkuda negeri Dao, melawan Cai bersaudara, terjadi pertempuran yang sangat seru, satu persatu prajurit berkuda itu tumbang ketanah dengan tubuh yang tidak utuh lagi.
Pertarungan antara Shin Liong dan jendral Zhuo, juga masih berlangsung sengit, dengan mengerahkan separuh dari kekuatan nya, Shin Liong masih bisa mengimbangi sang jendral negeri Dao itu.
Hingga pada satu kesempatan, benturan antara dua energi besar tidak bisa di hindarkan lagi.
Jendral Zhuo Bong Eng dengan seluruh energi nya,sementara itu Shin Liong dengan separuh energi nya.
"Bum!!"...
Terdengar suara dentuman nyaring membahana, membuat pohon pohon disekitar nya bergoyang bagaikan di terpa badai.
Debu dan daun daun kering berterbangan ke udara.
Ketika debu telah mereda, nampaklah tubuh Shin Liong bergetar hebat, sedangkan tubuh jendral Zhuo terlihat terpental hingga puluhan depa ke belakang.
Terlihat dari mulut, hidung mata dan telinga sang jendral menyemburkan darah segar, dan tubuh nya tidak bergerak sama sekali.
Seorang prajurit negeri Dao segera memeriksa ke adaan sang jendral itu beberapa saat.
__ADS_1
"Jendral Zhuo telah tewas!" teriak nya.
"Jendral Zhuo telah tewas!"...
"Jendral Zhuo telah tewas!"...
"Jendral Zhuo telah tewas!"...
Teriakan sambung bersambung bergema di tempat itu hingga sekejap saja sudah menyebar keseluruh pasukan.
Masing masing prajurit ingin memastikan kabar yang mereka terima siang itu.
Setelah melihat dengan mata kepala mereka sendiri, tubuh komandan Theo Ban Gow dan panglima perang jendral Zhuo Bong Eng yang terbujur kaku di tanah dengan kondisi sangat mengenaskan.
Shin Liong segera maju kedepan para prajurit negeri Dao.
"Kalian semua apakah mau melanjutkan peperangan ini, dan pulang nama, atau menyerah dan kami jamin keselamatan?" tanya Shin Liong.
Mendengar pernyataan dari Shin Liong itu, para prajurit yang tersisa cuma beberapa ratus orang itu, sudah kehilangan semangat tempur nya semenjak dua orang pimpinan pasukan mereka tewas, kini mendengar perkataan dari Shin Liong, setelah masing masing saling pandang, akhirnya, mereka serentak membuang senjata nya.
Pintu gerbang kota di buka, beberapa pasukan ke luar mengawal para tawanan masuk ke dalam kota.
Setelah di hitung, ada limaratus prajurit yang dapat mereka tawan hari itu.
Semua tawanan diperlakukan dengan baik, tanpa di kurung di dalam tahanan, hanya di tampung di dalam sebuah barak besar dan di jaga oleh para prajurit bersenjata lengkap dan di jamin makan dan minum nya.
Tuan kota membebaskan lima orang prajurit Dao untuk pulang ke negeri nya, guna mengabarkan tentang ke kalahan mereka melawan prajurit kota Si Ma.
Sebenar nya Shin Liong bermaksud melanjutkan pengembaraan nya, namun karena tuan ketua kota memohon dia untuk tetap tinggal di kota Si Ma untuk sementara, sampai mereka mengetahui tanggapan dari Negeri Dao, maka Shin Liong terpaksa menuruti saja.
Dunia Fangayun ini adalah Dunia dimensi ke dua, Dunia yang sedikit lebih tinggi dari dunia dimensi pertama,dengan kepadatan Qi murni nya dua kali lipat dari Dunia Fangkea, maka nya di sini manusia nya sedikit lebih tinggi tingkat kultivasi nya di bandingkan Dunia Fangkea.
Hari hari selanjut nya, selain berkultivasi, kegiatan Shin Liong cuma jalan jalan sambil mencicipi masakan khas kota Si Ma.
Seperti siang itu, Shin Liong sedang menikmati makanan di sebuah rumah makan di pinggiran kota Si Ma.
Shin Liong kebetulan berjalan sendirian, melihat lihat sekitar kota Si Ma, tanpa sengaja sampai di pinggiran kota itu, dan melihat sebuah rumah makan sederhana, namun banyak pengunjung nya, sehingga hati nya penasaran karena nya.
"Silahkan masuk tuan muda, tuan mau pesan apa?" sapa ramah seorang gadis cantik pelayan rumah makan itu.
"Eh, iya sediakan makanan paling istimewa di tempat ini untuk ku" kata Shin Liong.
"Disini ada bebek panggang istimewa sambal pedas, dan belibis panggang sambal pedas, tuan muda mau yang mana?" tanya gadis cantik pelayan rumah makan itu.
"Baiklah tuan muda, silahkan duduk dulu, pesanan nya akan kami persiapkan sebentar lagi!" kata gadis cantik pelayan rumah makan itu.
Shin Liong segera mencari tempat duduk di meja dekat jendela yang melihat langsung ke arah halaman depan rumah makan itu.
Sementara menunggu makanan dipersiapkan, teh panas segera di hidangkan ke pada Shin Liong.
Namun baru saja Shin Liong bermaksud menyeruput teh panas di depan nya, dari arah pintu masuk tiga orang pemuda tanggung sambil dudu di meja dekat jalan lintasan orang berlalu lalang.
Ketika gadis cantik pelayan rumah makan tadi lewat membawa makanan pesanan dari Shin Liong, tiba tiba salah seorang dari pemuda tadi memanggil sang gadis pelayan rumah makan itu.
__ADS_1
Gadis pelayan rumah makan itupun berjalan menghampiri meja para pemuda tanggung tadi dengan gemetar.
...****************...