
Kini Shin Liong dan Dewi Teratai putih telah berada di sebuah kamar penginapan bertingkat dua.
Kebetulan mereka mendapat kamar di tingkat dua, dengan membelakang sungai Liong.
Sementara Dewi Teratai putih sedang merias diri, Shin Liong berdiri menatap ke arah seberang sungai Liong.
Di seberang sana nampak rumah rumah penduduk berjejer berdiri membelakangi sungai, dengan latar belakang pegunungan Hainan di kejauhan sana.
Dewi Teratai putih yang sudah selesai berhias datang menghampiri nya dan memeluk tubuh Shin Liong dari belakang, sambil meletakan kepala nya di atas pundak laki laki itu.
"Sayang sedang melamun kan apa?, apa gadis di rumah makan tadi?" tanya Dewi Teratai putih lembut.
"Ah, tidak Dewi,aku tidak melamun kan apa apa, cuma sedang melihat gunung di kejauhan itu, berderet seperti pagar alam" jawab Shin Liong jujur.
"Itu pegunungan Hainan sayang,kota Raja Alexia berada dibalik pegunungan itu" kata Dewi Teratai putih menjelaskan.
Shin Liong membalikan tubuh nya menghadap kearah Dewi Teratai putih,sehingga kini mereka saling berhadap hadapan.
"Oh iya Dewi,aku masih belum mengerti,ada apa dengan festival budaya itu?" tanya Shin Liong tidak mengerti.
Dewi Teratai putih tersenyum menatap wajah suami kecil nya itu.
"Festival budaya itu aku pernah melihat nya dulu bersama ayah dan ibu ku sebelum mereka menghilang tanpa kabar berita nya lagi,di festival budaya itu ada pertandingan seni bela diri untuk para pemuda pemudi, baik perguruan maupun perorangan, ada aneka masakan dari berbagai wilayah dan kue kue nya,dan malam nya di isi dengan lelang terbesar selama dua tahun sekali,juga ada tari tarian dari para pemuda pemudi berbagai daerah" kata Dewi Teratai putih menjelas kan.
"Apakah kita akan melihat nya Dewi?" tanya Shin Liong lagi.
Dewi Teratai putih tersenyum menatap wajah Shin Liong, lalu di tempelkan ya hidung mancung nya ke hidung Shin Liong,lalu sebuah cubitan manis mampir di hidung Shin Liong, "tentu saja sayang, kita tidak akan melewati peristiwa yang jarang terjadi itu, kita akan melihat lihat acara itu,kau senang sayang?" ...
Shin Liong cuma menganggukkan kepalanya saja,tanpa berkomentar apa pun.
"Lelang?,apa lagi itu Dewi?" tanya Shin Liong tidak mengerti.
"Lelang adalah menjual sesuatu benda yang langka milik kita dengan harga tertinggi dari para pembeli" jawab Dewi Teratai putih.
"Apakah kita bisa melelang pil Dewa milik kita Dewi?" tanya Shin Liong lagi.
"Tentu saja sayang, pil Dewa buatan kita berkualitas bintang sembilan,dan aku yakin susah mencari pembuat obat yang bisa membuat pil berkualitas bintang sembilan seperti itu,dan pil itu termasuk sangat langka, kita bisa menjualnya dengan harga tinggi sayang"kata Dewi Teratai putih.
"Berapa?"...
"Entahlah, mungkin seratus ribu keping emas untuk tiap butir nya,atau mungkin juga lebih"...
Mata Shin Liong terbelalak mendengar keterangan dari Dewi Teratai putih itu.
"Bagai mana bila pil Dewa milik kita itu kita jual saja, toh kita punya cukup banyak, lagipula aku dan kamu tidak lagi bisa berkultivasi dengan meminum pil itu,pil itu sudah tidak berpengaruh banyak bagi kita" tanya Shin Liong kepada Dewi Teratai putih.
__ADS_1
"Tentu saja boleh sayang, kita harus menyiapkan botol kecil untuk tempat pil Dewa itu, kita bisa menjualnya per empat bijian saja, tetapi kita tidak boleh mengatakan itu hasil bikin sendiri,atau kita yang akan di buru oleh semua pendekar dan penjahat di seluruh negeri ini"Dewi Teratai putih menjelaskan kepada Shin Liong.
"Ya, ya, ya, kita cuma menjual nya dua botol saja,kita bisa mengatakan itu pemberian dari seorang kakek tua"Shin Liong memberikan usul.
"Iya sayang,itu bisa kita atur nanti" kata Dewi Teratai putih sambil mengeluarkan dua botol kecil dari dalam cincin penyimpanan nya,dan memasukan empat biji pil kecil berwarna putih berkilau dengan aroma sangat harum itu ke tiap botol kecil, lalu menyimpan kedua botol kecil itu kedalam cincin ruang nya.
Hembusan angin malam mulai bertiup dari seberang sungai Liong membuat suasana terasa mulai dingin.
Shin Liong segera menutup jendela kamar nya dan menyusul sang istri yang terlebih dahulu berbaring.
Ke esokan pagi nya, setelah mendi dan sarapan,tidak lupa Dewi Teratai putih membeli bahan makanan untuk bekal mereka di jalan.
Setelah semua nya selesai,mereka mengambil kuda yang mereka titipkan di tempat penitipan kuda, setelah itu, barulah mereka turun kedermaga penyeberangan.
Mereka harus menunggu antrian beberapa kali,karena padat nya orang yang ingin menyeberang juga.
Rata rata mereka yang menyeberang itu bermaksud ke kota Raja untuk melihat keramaian Festival budaya itu.
Ada beberapa perguruan yang juga pergi ke kota raja,seperti perguruan Rajawali emas,Belibis putih,dan sekte kelelawar dari wilayah Song, namun tidak semua nya pergi hari itu,ada yang sudah terlebih dahulu pergi,dan ada juga yang masih belum pergi.
Hari itu mereka berbarengan dengan murid murid perguruan Belibis putih dari kota Ciang wilayah propinsi Song.
Sepuluh orang pemuda pemudi,sepuluh orang remaja putra putri,dan empat orang guru pendamping mereka.
Pagi itu Dewi Teratai putih mengikat rambut panjang nya dengan ikatan buntut kuda di kiri dan kanan kepala nya, ada poni menghiasi dahi nya,serta rambut nya di hiasi dengan bunga bunga teratai dari emas.
Sebuah kecantikan yang tiada Tara nya berdiri diatas rakit penyeberangan, sambil memegang tangan Shin Liong yang juga sedang memegang tali kendali kuda nya itu.
Hampir semua mata tertuju kepada Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang terlihat sangat kontras itu.
Se orang pemuda dari perguruan Belibis putih bergumam kepada teman nya.
"Lihat laki laki culun itu, bila dia ikut menjadi peserta perorangan,aku juga akan mendaftar sebagai peserta perorangan, akan kubuat dia tidak bisa bernafas lagi,dan bidadari di samping nya itu akan menjadi milik ku" kata pemuda delapan belas tahun itu.
"Bagai mana bila setelah itu kau dikalahkan oleh orang lain lagi, kan orang itu yang akan mengambil bidadari itu"sanggah teman nya.
"Tidak!, tidak!, tidak!, kau tahu di perguruan,aku murid yang paling tinggi tingkat kultivasi nya dan paling tinggi ilmu bela diri nya,bagi ku sangat mudah mengalahkan orang orang itu"kata pemuda itu dengan sombong nya.
Pemuda bernama Mao Gi itu di perguruan Belibis putih memang seorang pemuda yang paling tinggi tingkat kultivasi nya,yaitu alam ksatria akhir, sedangkan teman teman seangkatan nya,rata rata berada di tingkat Ksatria menengah saja.
Tentu saja Shin Liong dan Dewi Teratai putih mendengar semua perbincangan mereka itu,meskipun mereka berbisik bisik, namun mereka enggan menanggapi nya.
Dengan biaya seratus keping perak per orang termasuk hewan mereka juga seratus keping perang per ekor,kecuali jenis unggas.
Sedangkan untuk jenis kereta,tergantung banyak nya kuda penarik nya, untuk satu kereta dengan satu kuda penarik nya, di Bebani dua ratus keping perak,untuk dua ekor kuda penarik nya dibebani tiga ratus keping perak,dan begitu seterusnya.
__ADS_1
Ongkos penyeberangan di bayar terlebih dahulu sebelum berangkat.
Setelah tiba di seberang sungai, Shin Liong segera menuntun kuda nya untuk naik ke darat.
Ternyata di seberang sudah menunggu tuan muda Wang sudah menunggu mereka dengan sebuah kereta yang di tarik empat ekor kuda, serta sepuluh orang pengawal utama.
Maklum setelah keruntuhan keluarga Zhang,kini keluarga Wang menempati puncak teratas keluarga paling kaya di kota Tao.
"Dewi!, sebaik nya Dewi ikut kereta kami saja,kasihan hewan itu kecapean mengangkut kalian berdua" tawar tuan muda Wang pada Dewi Teratai putih.
"Tidak, tidak, terimakasih saja tuan muda, biarlah saya bersama sama suami saya saja!" jawab Dewi Teratai putih.
"Ayolah Dewi, kasihan kuda itu, biarlah Shin Liong berkuda sendirian,dia sudah terbiasa sendirian, Dewi ikut kereta kami saja!" paksa tuan muda Wang.
"Tuan adalah tuan muda terhormat yang tahu adat istiadat, jangan kotori hati tuan dengan hal hal aneh,kasihan tuan bila hati tuan keluar dari raga tuan dan tercabik cabik menjadi makanan serigala,tuan pasti mengerti maksud kata kata saya kan!" kata Dewi Teratai putih yang semula lembut,kini berubah bak suara halilintar menyambar, hingga Shi Er dan Ming Ming tersentak kaget dan muka mereka sampai pucat pasi.
Kedua gadis ini tidak mengerti maksud sang ayah yang aneh aneh itu.
Shin Liong terlebih dahulu melompat ke atas punggung kuda nya, di lanjutkan oleh Dewi Teratai putih yang melompat dengan sangat ringan ke punggung kuda,sehingga tubuh kuda itu jangan kan bergerak,bulu nya saja tidak bergoyang.
"Tuan, berhati hati bila tuan bicara dengan gadis itu, ilmu gadis itu di luar nalar manusia normal tuan, saya bisa merasakan jika tingkat kultivasi wanita itu setingkat dengan kultivasi para Dewa Dewi di langit!" kata kepala pengawal kepada tuan muda Wang.
Kuda yang ditunggangi Shin Liong dan Dewi Teratai putih berlari kencang seperti tanpa memiliki beban apa apa.
Tuan muda Wang tersadar,ada rasa malu dihati nya,mengapa meng ingin kan hal yang aneh aneh,andai saja Dewi itu marah,maka sepuluh pengawalnya bukan tandingan untuk sang Dewi itu.
Sesaat tadi dia seperti tersihir dengan kejelitaan wanita itu,sehingga semua akal sehat nya macet.
Kuda yang di tunggangi Shin Liong dan Dewi Teratai putih berlari seperti terbang di permukaan rumput.
Hal itu bukan tanpa alasan,selain Shin Liong dan Dewi Teratai putih mempergunakan ilmu meringan kan tubuh yang sempurna,secara diam diam, Dewi Teratai putih menyalurkan energi murni ke arah kuda itu,sehingga kuda itu seperti tidak merasakan cape.
Kendatipun sang kusir kereta melecut ke empat kuda nya terus menerus, hingga kereta nya pontang panting tidak karuan,tetapi lari kuda Shin Liong dan Dewi Teratai putih semakin lama semakin menjauh saja meninggalkan mereka.
Tengah hari pun Dewi Teratai putih singgah cuma sekedar makan, sambil memberi makan dan minum kuda mereka, setelah itu pergi lagi.
Hingga hari menjelang sore,mereka sudah sangat jauh meninggalkan kereta kuda milik tuan muda Wang.
Menginap pun Dewi Teratai putih enggan di tempat persinggahan yang di bangun di pinggir pinggir jalan,tetapi malah mengajak Shin Liong mencari tempat yang agak jauh dari jalan dan dekat dengan air.
Akhirnya di tepi sebuah telaga kecil, mereka berhenti untuk membuat tempat berteduh.
"Kenapa kau masih diam Dewi,marah pada ku kah?" tanya Shin Liong perlahan.
Akhirnya,seulas senyum kembali tersungging di bibir sang Dewi itu,sambil meraih dan mencium pipi Shin Liong , Dewi Teratai putih berkata, "aku tidak mungkin marah kepada mu sayang, aku masih jengkel dengan bandot tua itu,dianggap nya apa aku,bagi ku cukup kau satu satu nya, tidak ada nama lain"...
__ADS_1
...****************...