
Berulang kali Refan mendapat telepon dari Mike, katanya ada rapat penting, dan kali ini Refan tak bisa pulang untuk makan siang.
''Sayang, nanti mas nggak bisa pulang untuk makan siang, kata Mike ada rapat penting, ucapnya sambil menyisir rambut.
Sahila mendekat dan membawa jasnya, lalu memakaikannya.
''Nggak apa apa, tapi apa perlu aku bawakan makan siang ke kantor,sepertinya mulai sekarang aku juga harus menyibukkan diri, kalau boleh aku juga ingin kerja ?''ucap Sahila sedikit meminta .
Refan berbalik, dan melihat ada keseriusan di wajah istrinya.
''Kamu mau kerja apa, lagi pula setiap malam kan kamu sudah kerja sama mas, dan siangnya kamu istirahat saja, ucap Refan bercanda,
''Mas nggak lucu, itu kan maunya kamu, dan perasaan ,kenapa ya kamu selalu menamg dariku, ucap Sahila bingung dengan kemauan Refan yang kadang sedikit membuatnya lelah.
Seperti biasa, Refan selalu menunggu jemputan dari Mike, namun tak seperti biasa Mike yang turun dan menyapa semua orang,
pagi ini Mike hanya membunyikan klakson .
Ririn sedikit bingung dengan tingkah Mike yang sangat berbeda pagi ini,
Ada yang ingin di tanyakan, tapi masalah apa, pasalnya mereka memang belum meresmikan hubungan apa apa,
''Kakak ipar, aku berangkat dulu ya?'', ucap Ririn pamit.
Sahila mengangguk dam melambaikan tangannya untuk Ririn.
Sedang di dalam mobil ,Refan mulai sadar dengan wajah sektetarisnya yang sangat datar.
''Tumben kamu diam, biasanya kamu juga cerewet seperti Nona mu itu, ada masalah apa, apa kamu kangen sama keluargamu, ucap Refan asal, hanya menebak saja.
''Maaf bos, apa aku perlu cerita, apa aku boleh berbagi seperti bos yang selalu menceritakan masalah bos padaku? ''. ucap Mike dengan wajah yang masih datar.
__ADS_1
''He'em bicaralah, anggap saja aku temanmu,
lagi pula ada apa, kelihatannya kamu sangat serius sampai kau tak menyapa Ririn.
Mike menghela nafas panjang, ''Semalam aku bertemu dengan Nia, dan ternyata aku salah ,sudah menganggapnya menghianatiku, ternyata dia pulang karena ayahnya sakit, dan dia selalu meminta uang dariku untuk berobat ayahnya,sekarang apa yang harus aku lakukan, di satu sisi aku sudah bilang sama Ririn untuk serius dengan hubungan kami ,di sisi lain aku memang belum bisa melupakan Nia, Mike menghela nafas kembali dan melanjutkan kata katanya.
''Dia sudah menceritakan semuanya, tapi sekarang aku bingung dengan hatiku, aku nggak mau menyakiti Ririn, tapi bagaimana dengan Nia?''
Refan menggeleng, ''Aku tidak punya saran untuk masalahmu, Meskipun Ririn sepupuku, aku juga tidak mau membelanya, sebelum kamu melanjutkan hubunganmu dengan Ririn lebih baik kau memikirkan kembali keputusanmu, jangan sampai kamu salah langkah, Aku belum kenal dengan Nia, tapi aku kenal dengan Ririn, dia wanita yang baik, jangan sakiti dia seperti apa yang aku lakukan dulu, tapi jika menurutmu Nia adalah wanita yang baik, kamu pertimbangkan lagi, ''Aku akan selalu mendukungmu, ucap Refan sambil menepuk bahu Mike.
Setibanya di kantor ,Refan dan Mike di sibukkan dengan masing masing pekerjaan, rapat demi rapat di jalaninya dengan begitu lancar,
Begitu juga dengan Mike ,meskipun hatinya sedang galau, itu tak pengaruh dengan pekerjaan yang sama pentingnya.
''Mike, nanti Sahila ke sini, dan aku akan makan siang di kantor saja . ucap Refan di sela sela kerjanya.
Mike mengangguk.
''Tuan Mike mau kemana ?'',tanya Sahila saat berpapasan dengan Mike.
''Siang Nona, maaf, aku mau keluar sebentar, silahkan, bos sudah menunggu nona, ucap Mike sambil mempersilahkan Sahila masuk terlebih dulu.
Sedang di ruangan, Refan baru saja dari kamar mandi,karena jasnya dan bajunya itu kotor, terkena tumpahan kopi.
''Sial, umpat Refan, karena kini Refan terpaksa harus ganti baju,
Refan berjalan ke arah lemari dan membukanya untuk mencari kemeja dan jas di sana, dengan tak sengaja Refan melihat gaun yamg menjadi Keraguan Sahila pada dirinya.
Refan mengambil gaun itu dan mengingat ingat, gaun siapa itu,
''Perasaan ini bukan gaun Sahila, terus gaun siapa, apa ini gaun Kania dulu, gumamnya, namun sejenak terlintas, bahwa Kania pernah datang dengan gaun itu setelah pemotretan, dan Kania langsung ganti dengan baju santai, Setelah Refan mengingat semuanya, Refan teringat lagi dengan sikap Sahila yang tiba tiba diam setiba dari kamarnya itu.
__ADS_1
''O... jadi kamu meragukanku hanya gara gara gaun ini, gumamnya sambil meremas gaun cantik yang ada di tangannya.
''Mas, tiba tiba saja Sahila memanggil Refan di depan pintu kamar,.
Dengan cepat Refan menghampiri Sahila, sedang di tangannya masih membawa gaun itu .
''Kamu sudah datang, ucap Refan, tak lupa dengan ciuman mesranya.
Sahila mengangguk, namun matanya mengarah ke tangan Refan yang meremas gaun itu.
''Mas, ini apa, tanya Sahila pura pura, padahal dalam hatinya ingin Refan menjelaskan.
Sahila merebut Gaun yang sudah kucel itu.
''Jangan pura pura, kamu kemarin meragukan cintaku, pasti gara gara itu kan?'' ucap Refan sambil memungutkan kepalanya.
Namun Sahila masih saja mengelak.
''Dari mana mas tau, siapa yang bilang,lagi pula aku nggak tau kalau mas punya gaun ini, bukannya menjawab Refan mendaratkan ciuman di bibir Sahila.
''Jangan kamu kira suami kamu ini bodoh,aku tau kamu pasti cemburu gara gara ini, mas akan jelaskan, dulu memang Kania sering ke sini setelah pemotretan, dan mas nggak tau sama sekali dengan gaun ini, karena mas tak pernah membuka lemari ,bahkan sampai mas pulang dari luar negeri pun baru kali ini mas membukanya, mas faham wanita mana pun pasti akan cemburu jika melihat ada gaun wanita lain di lemari suaminya, mulai sekarang, mas akan periksa semuanya biar kamu tau, bahwa kamu lah satu satunya milikku, tidak akan pernah ada wanita lain yang bisa menyisihkanmu dari hatiku ucap Refan, dan langsung mengambil gaun itu kembali .
Refan kembali ke arah lemari untuk ganti baju dan mencari sesuatu yang berhubungan dengan Kania, dan lagi Refan menemukan high heels yang sudah pernah di lihat Sahila,
Refan membawanya keluar dari kamar dan memanggil OB, sedangkan Sahila hanya mengikutinya dari belakang.
''Kamu buang ini jauh jauh, kalau perlu bakar saja, ucapnya singkat, tapi Ob langsung faham dan keluar dari ruangan Refan.
''Mas, kenapa di buang, kan sayang, itu mahal, loh'' ucap Sahila sedikit menggoda ingin tau bagaiman reaksi Refan.
''Sini, ucap Refan sambil menepuk sofa, Sahila menghampiri dan duduk di samping Refan.
__ADS_1
''Semahal apapun itu mas masih bisa membelinya di mana pun dan kapan pun, tapi mas nggak bisa membeli cintamu, bahkan dengan nyawaku sekali pun, tetaplah mencintaiku seperti aku mecintaimu. ucap Refan lagi dan lagi membuat Sahila terharu.