KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 151. Nggak muat


__ADS_3

Akhirnya Refan memutuskan untuk menginap di villa setelah mendapat persetujuan dari Sahila., meskipun Sahila mengatakan bahwa Refan tak boleh tidur dengannya, baginya melihat sang istri di dekatnya sudah cukup.


''Nona makan malam sudah siap! '', ucap Nia sambil mengetuk pintu kamar Sahila.


''Iya, kamu ke sana saja dulu, nanti aku nyusul, teriak Sahila dari dalam kamar, setelah mendengar jawaban dari Sahila Nia kembali ke meja makan bersama Mike dan Refan.


''Istriku mana,? ''tanya Refan pada Nia.


''Kata Nona kita di suruh menunggu sebentar. ucap Nia singkat ,karena itulah yang di dengar


Setelah beberapa menit, Sahila tak juga keluar membuat Refan cemas.


''Apa kamu yakin kalau dia bilang seperti itu ?''tanya Refan balik,


Nia mengangguk.


Ingin rasanya Refan menghampiri Sahila ke kamarnya ,namun Tak ada keberanian setelah apa yang di pembuatnya, bukan takut pada Sahila tapi menghargai kalau sebenarnya Sahila memang sedikit masih marah padanya.


''Apa nggak lebih baik Bos sendiri yang menghampiri Nona, ini sudah lewat tiga puluh menit, semenjak Nia memanggilnya .ucap Mike.


Akhirnya dengan terpaksa Refan melupakan kemarahan Sahila padanya ,Refan beranjak dari duduknya menghampiri kamar Sahila.


''Mungkin dia masih marah padaku ,ah ,biarain saja itu urusan nanti, yang penting aku tau keadanya kalau dia nggak kenapa napa. batin Refan.


Dengan cepat Refan mengetuk pintu,.


''Nia, tunggulah sebentar, aku nanti nyusul, atau kalau kalian lapar makan saja dulu, nanti aku makan sendirian. teriak Sahila kembali dari balik kamar.


Refan hanya diam saja tak bergeming. namun masih mematung di depan pintu,karena di rasa cukup lama ,Akhirnya Refan pun kembali ke meja makan.


Sedangkan Sahila di dalam kamar bingung, memilih baju yang tidak muat di bagian perut,


Karena Nia lah yang mengemasi baju untuknya saat mereka pergi dan Sahila tak melihat kalau baju itu memang baju Sahila yang di belikan pak Cakra saat pertama kali.


''Bagaimana ini, nggak mungkin aku keluar dengan baju yang aku pakai tadi, gumamnya .sambil membolak balikkan badannya.


Tapi setelah melihat perut yang buncit itu, ada senyuman yang merekah dari bibir Sahila.


''Aku nggak nyangka hal yang aku tunggu akan segera hadir ke dunia ini, sambil mengelus perutnya.


''Ah, kenapa aku jadi lupa lagi, aku kan mau nanya sama Nia, apa dia punya baju yang lebih besar,


Sahila berjalan menghampiri meja nakas, mengambil benda pipih dan mengirim pesan untuk Nia.

__ADS_1


✉️


''Nia, apa kamu punya baju yang lebih besar dari pada punyaku , tadi kamu ngambil bajuku di bagian mana, kenapa semua ini nggak muat untuk aku pakai,tapi jangan bilang sama semuanya, cukup kamu saja yang tau, ?''🤫


Isi pesan dari Sahila untuk Nia, karena Nia meletakkan ponselnya di meja makan, semua mendengar bunyi notif ponsel Nia termasuk Refan.


Nia membuka dan membaca pesan sambil sesekali melirik ke arah Refan dan Mike.


''Pesan dari siapa? 'tanya Refan curiga.


Nia hanya diam saja ,pandangannya kini beralih ke arah Mike.


''Katakan saja, nggak usah takut, ucap Mike,


Tanpa kata ,Nia menyodorkan ponselnya ke arah Refan.


Maafkan aku nona, aku nggak bisa memegang amanahmu, aku terpaksa memberi tau Tuan Refan, karena aku juga nggak punya baju yang seperti nona sebutkan, batin Nia.


Karena badan mereka sama sama ramping, jadi baju Nia pun sama kecilnya.


Refan mengambil ponsel yang di sodorkan ke arahnya , dengan cepat Refan pun membuka pesan yang mana itu dari sahila.


''Nggak muat, ucap Refan dengan keras membuat Mike tercengang dan melihat ke arah Refan.


Aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang, mungkin dengan cara ini kamu bisa memaafkanku. batin Refan .


✉️


Punya, aku akan segera mengantarkannya, itulah isi pesan dari ponsel Nia untuk Sahila, namun semua itu ulah Refan.


Refan hanya cengar cengir sendirian membuat Nia dan Mike bingung.


''Memangya yang nggak muat apa, kenapa bos jadi senyum senyum seperti itu?'' bisik Mike tepat di telinga Nia.


''Baju Nona nggak muat,aku salah ngambilnya .jawab Nia pun dengan berbisik.


Mike hanya bisa manggut manggut setelah mendengar penjelasan dari Nia.


Refan beranjak dari duduknya dan keluar. Sedangkan Mike dan Nia hanya melihatnya saja tanpa bertanya.


Tak berselang lama ,Refan kembali membawa paper bag dan berjalan menuju kamar Sahila.


Tok.. tok.. tok... suara Refan mengetuk pintu.

__ADS_1


Tak lama pintu itu terbuka, namun hanya sedikit.


''Mana, ucap Sahila dengan mengulurkan tangannya, Sedangkan kepalanya maupun badannya pun tak nampak.


Dengan cepat pula Refan menyodorkan paper bag yang di ambil dari mobilnya.


Sahila membuka paper bag ,dan betapa terkejutnya melihat baju yang ada di dalamnya ternyata baju Refan.


''Apa Nia bercanda, ini kan baju mas Refan, kenapa dia ngasih ini, bukankah aku tadi minta baju dia, gumam Sahila sedikit jengkel.


Akhirnya Sahila kembali ke arah pintu berharap Nia masih ada di depan pintu.


Nia, kamu masih di sini kan?'' ucapnya dari balik pintu, namun tak ada sahutan dan itu berulang, namun sama, tak ada sahutan, dengan terpaksa Sahila mencondongkan kepalanya keluar pintu, dan betapa kagetnya melihat Refan yang sudah mematung sambil melipat tangannya.


Refan mendorong pintu ,karena Sahila tak siap untuk menahan, akhirnya pintu terbuka.


Sahila sedikit malu karena baju yang di pakainya itu terlalu ketat, apa lagi di bagian perut.


''Kenpaa mas ke sini, aku kan tadi nyuruh Nia, ?''ucap sahila sedikit jutek.


Refan memegang tangan kecil Sahila.


''Kenapa harus menyuruh Nia, kan ada aku, aku bisa membantumu,apa begitu marahnya sampai kamu nggak mau meminta bantuanku ?''ucap Refan pelan.


Sahila masih diam,dengan cepat Refan memeluknya meletakkan kepala Sahila tepat di dada bidangnya.


''Kamu boleh marah padaku, tapi jangan lama lama, aku nggak kuat, !''ucap Refan sambil mengelus rambut panjang Sahila.


Sahila masih saja diam tak bergeming ,wajahnya masih terlihat datar, membuat Refan semakin pasrah.


''Baiklah, kalau memang kamu masih marah padaku, aku akan keluar, dan aku akan bilang pada Mike untuk membelikan baju untukmu, ucap Refan sambil merenggangkan pelukannya, Refan berbalik berjalan menuju pintu, namun dengan cepat Sahila menarik tangan Refan dari belakang.


''Aku juga nggak bisa kalau kamu marahnya lama, aku juga sebenarnya tersiksa saat kamu mengabaikanku dan anak kita, bahkan kamu sedikit pun tak bicara apa kesalahanku, seakan aku ini tidak berarti lagi di hidupmu,ucap Sahila sambil terbata, Refan membalikkan badannya dan memeluk Sahila.


Beberapa kali kecupan itu mendarat di pucuk kepala Sahila.


''Jangan bilang seperti itu, kamu sangat berarti dalam hidupku, maafkan ke khilafanku, ucap Refan,


Refan meraup kedua pipi Sahila dan memandang manik matanya dengan lekat, ''Kamu mau kan memaafkanku, ?''ucap Refan serius .


Setelah menunggu sedikit lama, Akhirnya jawaban yang di tunggu tunggu keluar dari mulut Sahila.


''Aku memaafkanmu. ucap Sahila sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2