KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 112. Ungkapan


__ADS_3

Sahila masih saja diam tak mau bertanya, namun rasa rindunya pada sang Ibu benar benar tak bisa di bendung, Sahila memeluk sang Ibu dengan erat, itupun di saksikan semua keluarga.


''Jangan nangis!" ucap Refan seketika, karena


Refan yang lebih tau, kalau Sahila sudah seperti itu, pasti ujung ujungnya menangis.


Dengan terpaksa Sahila menahan air matanya yang sudah berada di telupuk mata untuk tidak keluar, meskipun wajahnya sudah memerah karena menahannya.


Ke terkejutannya Sahila balik lagi, setelah keluar dari rumah, dan ada beberapa mobil yang berjejer.


Dengan terpaksa, kali ini Sahila bertanya, ''Mas, ini mobil siapa, kalau satu mobil untuk kita semua kan cukup?''


Sahila nampak sedikit bingung.


''Sudah kamu diam saja,'' ucap Refan santai.


Sahila masuk ke dalam mobil bersama sang Ibu dan Ririn.


''Pak, hati hati!'' ucap Refan pada sang supir.


Sahila lebih bingung, kenapa Refan tak ikut bersamanya, akhirnya Sahila membuka kaca mobil dan bertanya.


''Kenapa mas nggak naik mobil bersama ku?'' tanya Sahila sedikit cemas.


Refan menghampiri Sahila melihat raut wajah nya.


''Tenanglah, mas naik mobil yang itu, bersama papa dan Mike, ucapnya sambil menunjuk mobil di belakangnya.


''Dan mobil mas akan berjalan di belakang.'' ucap Refan kembali yang membuat Sahila tenang.


Sahila mengangguk dan menutup kacanya, dengan pelan akhirnya mobil yang di tumpanginya berjalan, begitu juga mobil yang di belakangnya pun ikut berjalan menyusul.


Dalam perjalanan, Sahila penuh dengan tanda tanya, sebenarnya ada acara apa? dan mau kemana? itulah yang selalu terlitas di otaknya.


''Rin, apa kamu tahu kita mau ke mana, kenapa banyak sekali yang mengawal mobil kita?'' tanya Sahila heran, karena baru kali ini Sahila di kawal beberapa mobil.


''Aku juga nggak tahu, tapi kakak ipar tenang saja, mungkin saja ada acara penting, jadi kak Refan dan Om Cakra membuat penjagaan ketat,'' jawab Ririn santai, karena Ririn memang dari keluarganya dan tahu setiap ada acara penting pasti mereka selalu begitu.

__ADS_1


Sedangkan Sahila hanya mengangguk.


Perjalanan memang tak membutuhkan waktu lama, hanya beberapa menit saja, dan kini mobil yang di tumpanginya sudah sampai tujuan, namun kali ini ada yang beda, mobil yang di kemudi Mike menyalip dan kini berada di depan.


Refan turun membelah kerumunan yang sudah berada di depan gedung.


''Nona di sini saja!'' ucap sang supir yang melihat Sahila hendak membuka pintu mobil.


''Tapi pak, mas Refan sudah masuk.'' ucap Sahila kembali, melihat punggung Refan dan pak Cakra serta Mike yang sudah tidak nampak.


''Maaf Nona, tapi ini perintah tuan Refan, saya hanya menjalankan tugas,'' ucap sang supir kembali.


Akhirnya Sahila memilih diam daripada ribut.


Refa, pak Cakra dan Mike masuk dan di ikuti wartawan, kini gedung itupun penuh tamu undangan dan wartawan.


Setelah keadaan diluar sepi, Sang supir langsung membukakan pintu untuk Sahila.


''Silakan Nona, sekarang Anda boleh masuk, tapi anda akan di dampingi,'' ucap sang supir.


Sahila melihat beberapa orang berbaju hitam yang sudah berada di samping mobil.


''Rin, ini tempat apa, kenapa banyak sekali wartawan, terus kenapa mas Refan mengajakku ke sini ?'' ucapnya.


Sahila melihat kanan kiri, gedung yang berukuran besar itu terlihat rapi dan sangat indah, lampunya warna warni serta tamannya yang terlihat sangat cantik dengan sorotan lampu.


''Kakak ipar tenang saja, pasti ada yang mau di tunjukkan kak Refan untuk kakak ipar.''


Akhirnya Ririn dan Sahila serta sang Ibu sudah memasuki ruangan.


Sahila sedikit ragu melihat banyak orang, karena baru kali ini dirinya berada di antara orang banyak dan semuanya serba mewah.


''Silakan duduk Nona!'' ucap sang pengawal, sambil memundurkan sebuah kursi.


Kemana mas Refan, kenapa dia nggak kelihatan, batin Sahila sambil melihat ke segala arah.


Tak lama Sahila melihat Refan yang duduk di atas panggung bersama pak Cakra.

__ADS_1


''Mas Refan, kenapa dia ada di sana?'' Sahila merasa heran, di antara banyak manusia, hanya suami tercintanya yang duduk di atas panggung.


Namun Sahila tak berani berbuat apa apa, hanya bisa melihat dan mendengar suara dari orang yang berada di atas panggung.


''Dan saya di sini selaku pemilik hotel, akan menyerahkan tanggung jawab pada putra saya satu satunya.'' itulah poin terakhir dari pak Cakra sambil menunjuk ke arah Refan.


Semua mata mengarah


di atas panggung, tak terutama Sahila.


''O... jadi ini penyerahan hotel papa untuk mas Refan,'' gumam Sahila.


Semua bergemuruh tepuk tangan, dan itu menjadi alunan di dalam gedung.


''Terima kasih kepada Tuhan yang sudah memberi kita semua kesehatan dan segala kelimpahannya. Terima kasih pada papa, karena sudah memberikan kepercayaan pada saya, dan saya juga mengucapkan terima kasih pada tamu undangan yang hadir di sini.'' Menjeda, mengambil napas dalam-dalam untuk melanjutkan lagi.


''Saya selaku pemilik hotel yang baru mengucapkan banyak terima kasih pada para staf yang sudah membantu kami dalam bekerja, baik di perusahaan saya maupun di perusahaan papa, ataupun di tempat lain, karena saya tidak bisa mengucapkan satu persatu, saking banyaknya, jadi saya mohon maaf bagi yang kurang berkesan dalam saya menyampaikannya, karena saya juga ingin tidur, nggak bisa bicara semalaman.'' ucap Refan sedikit bercanda yang membuat semua orang tertawa.


''Ternyata mas Refan bisa ngelawak juga,'' gumam Sahila.


''Poin terakhir dari saya, terima kasih untuk istri saya.''


Baru saja mengucapkan kata itu, seluruh gedung sudah bergemuruh, mereka saling pandang satu sama lain, saling menanyakan mencari wanita yang di sebut oleh Refan.


Sedangkan Sahila hanya diam dan tak bergeming.


''Saya harap kalian tidak memotong kata kata saya,'' Refan kembali menegaskan.


''Terima kasih untuk istri saya yang sudah menemani saya selama setahun, bersabar mengahadapi keegoisan dan kesombongan saya, mencintai dan selalu menyiapkan pundaknya di saat saya mencari tempat untuk bersandar.''


Refan menghela nafas panjang, karena meskipun laki laki Refan juga manusia yang bisa menangis.


''Dia adalah wanita yang sangat hebat, wanita yang sudah membuka hati saya, di mana saat saya merasa gelap, dia yang datang untuk meneranginya, meskipun sifatnya lemah lembut, tapi bisa menghancurkan batu yang kokoh, dan mungkin dari ratusan, bahkan ribuan orang di sini, hanya saya satu satunya laki laki paling beruntung, kalian mungkin bingung, dan mengira kalau saya belum menikah.''


Refan menebak, dan memang tebakannya itu benar, karena sebagian dari kolega dan rekan bisnisnya masih banyak yang belum tau dengan pernikahannya dengan Sahila. Karena semenjak perceraiannya dengan Kania, Refan menjadi sedikit tertutup oleh media.


''Saya sudah menikah, karena istri saya tidak mau pesta saat pernikahan kami, jadi saya hanya melakukan akad nikah di depan keluarga,'' ucap Refan menjelaskan.

__ADS_1


''Maaf pak, apakah bapak bisa memperkenalkan istri bapak?'' ucap salah satu wartawan yang sangat penasaran dengan wanita yang di puji oleh Refan, wanita yang sangat beruntung bisa di cintai oleh Refan.


__ADS_2