
Malam yang begitu istiwewa bagi Sahila, karena seumur hidupnya, baru kali ini Sahila merasakan kebahagiaan yang sangat tak bisa di ucapkan, meskipun bahagia selalu menghampirinya, Sahila masih terngiang ngiang ungkapan isi hati Refan untuknya.
''Mas kenapa di tutup, kita mau ke mana?'' ucap Sahila kaget, karena tiba tiba saja Refan menutup matanya.
''Tenang saja, ayo jalan!" ucap Refan santai dan menggiring sahila untuk berjalan.
Sahila terus melangkahkan kakinya kemana Refan membawanya.
''Mas, kok lama sih, kita mau kemana?" ucapnya kembali, karena sudah beberapa menit tak sampai juga.
''Sayang diamlah, jangan bicara lagi." kata Refan lantang, karena menurutnya lama lama istrinya ini berisik.
Akhirnya Sahila memilih untuk diam, dan tak mengucapkan satu patah kata pun.
Ceklek, suara orang membuka pintu, namun Sahila hanya bisa mendengarnya.
Setelah pintu tertutup dan terdengar seperti terkunci, Sahila mengernyitkan dahinya.
Di mana ini, kenapa mas Refan menutup pintunya, batinnya.
Dengan pelan Refan membuka mata Sahila,
Sahila tak bisa berkata apa apa saat melihat kamar yang sangat indah, bahkan jauh lebih indah dari kamar pengantinnya dulu.
''Terima kasih," ucap Sahila dan langsung mendaratkan sebuah ciuman dipipi Refan.
Namun dalam hatinya merasa sangat jengkel, karena tau maksud dari semua itu.
''Mas, kita ini kan sudah menikah lama, kenapa kamu mempersiapkan ini semua? apa kamu nggak malu sama semua pekerja hotel disini?" ucapnya sewot.
Refan kembali berdiri menghampirinya.
''Sayang, tidak ada pengantin lama, bagi mas, kita adalah pengantin baru, dulu, sekarang dan selamanya, untuk apa malu, ini hotel punyaku, dan mereka nggak akan berani macam macam. Jadi ayo, apa kamu nggak risih pakai baju ini?" ucap Refan mulai merayu.
Sahila yang sudah tau akal bulus dari suaminya pun langsung saja menurut, karena bagaimana pun menolak Refan, tidak akan mempan.
Sahila pergi ke kamar mandi dan mengganti bajunya, itupun tak luput dari pandangan Refan.
Ini nih jadinya kalau habis mendapat kejutan, pasti dia maunya itu, kenapa dia nggak mau yang lain sih, ah, aku punya ide, gi mana kalau aku mengajaknya jalan jalan supaya dia lupa untuk itu. batin sahila di kamar mandi.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamar mandi, Sahila menghampiri Refan yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, Refan sedikit lelah karena acara berjam jam itu menguras tenaganya, meskipun hanya bicara di atas panggung.
''Mas, kelihatannya hotel ini baru dan bagus deh,aku ingin dong melihatnya," ucap Sahila pelan.
''Besok saja, sekarang kamu sini!'' ucap Refan kembali berusaha menolak permintaan Sahila.
''Mas, aku maunya sekarang, jadi ayo cepatlah!'' Sambil menarik narik tangan kekar Refan.
Dengan terpaksa Refan berdiri dan memakai baju nya lagi.
''Silakan tuan putri," ucapnya dengan lembut.
Karena saking senangnya, Sahila memeluk Refan dengan begitu erat, menurutnya dia yang menang kali ini, namun saat bagian sensitif Refan tak sengaja tersentuh oleh tangannya, di saat itulah Refan tak bisa menahan hasratnya.
''Nggak jadi," ucap Refan kembali dan langsung mencium bibir Sahila, Sahila sedikit mendorong badan besar Refan karena tak bisa bernafas.
''Kenapa?'' Sahila heran.
''Tangan kamu jahil, ada yang bangun, dan dia minta pertanggumg jawaban," ucapnya pelan.
Akhirnya Sahila pasrah dengan apa yang di lakukan Refan kali ini, meskipun Refan sudah tak terhitung melakukannya, tapi menurut Sahila malam ini malam yang syahdu, malam yang penuh di selimuti kebahagiaan, bukan hanya dirinya, tapi semua orang yang mendukung hubungan mereka.
Sahila merasakan setiap sentuhan suaminya itu sangat lembut, dan benar apa kata Refan, bahwa dirinya beruntung diperistri oleh Refan dengan cara yang tertunda, karena pernikahannya ini benar benar membawa berkah berupa kabahagiaan.
Meskipun belum di karuniai seorang anak, Sahila maupun Refan menghadapinya pun dengan kenikmatan, bukan cobaan, dengan begitu dari keduanya tak ada beban sama sekali.
''Terima kasih, mas tidak akan melupakan malam pertama kita ini," ucap Refan menggoda Sahila.
dengan cepat Sahila melayangkan pukulan tepat di dada Refan.
''Malam pertama apaan, bahkan kamu,__ucapan Sahila berhenti karena Refan lagi lagi sudah membungkamnya.
''Jangan cerewet lagi, atau mas akan melakukannya lagi sekarang." ucap Refan, sedangkan Sahila langsung berpura pura memejamkan matanya, Sahila masih teringat saat Refan melakukannya dengan buas, meskipun lembut, tapi Refan sangat bersemangat dan tak memberi celah untuk Sahila.
''Tidurlah sayang, malam ini mas sangat bahagia, dan aku harap kamu juga merasakan hal yang sama," ucapnya kembali seraya meraih kepala Sahila dan meletakkan di dadanya.
''Hari hariku akan terus bahagia jika aku ada di sampingmu mas, karena hanya kamu manusia yang bisa membuatku melayang, membuatku menjadi orang yang sangat beruntung."
Setelah lama bercakap, Akhirnya Sahila maupun Refan sudah pergi ke alam masing masing.
__ADS_1
Sahila tidur di pelukan hangat sang suami, pelukan yang begitu dia rindukan di setiap harinya.
''Mas, bangun!'' ucap Sahila setelah sebentar tidur, tiba tiba saja Sahila merasa perutnya sangat lapar, Karena dari kemarin Sahila tak makan sedikit pun.
''Hmmm," jawaban Refan, namun matanya masih tertutup rapat.
''Mas, aku lapar," rengek Sahila kembali, sambil menggoyang goyangkan lengan kekar Refan.
Tangan Refan memencet bel yang ada di samping ranjangnya, tak berapa lama ada suara ketukan pintu.
''Sayang tutup tubuh kamu!'' perintah Refan melihat tubuh polos Sahila.
Refan beranjak dari tempatnya dan membuka pintu.
''Taruh disana!'' ucap Refan pada sang pelayan yang membawa makanan.
Tak sengaja pelayan itu melirik Sahila yang hanya terlihat kepalanya.
''Apa yang kamu lihat, keluarlah!" ucap ketus Refan, dengan suara seraknya.
Sahila merasa sangat malu, meskipun tak mengenal pelayan itu, apa lagi Refan pun tak memakai bajunya, Refan hanya memakai celana, itupun pendek.
''Sayang, ayo makan! katanya lapar." Refan menghampiri Sahila dan menarik selimutnya.
''Mas..." jerit Sahila, karena belum juga sempat memakai baju, tapi Refan sudah membuka dan itu sangat merugikannya.
''O... mas tau, kamu mau lagi kan?'' Refan kembali menggodanya.
Refan langsung saja memeluk tubuh mungil itu mengunci setiap gerakan Sahila, menghimpit kedua pahanya, dan menyusuri setiap tubuhnya.
Lagi lagi Sahila pasrah, karena percuma saja melawan, tenaganya yang lembek itu tak akan sanggup melawan tenaga Refan.
''Ayo makanlah!" tiba tiba saja ucapan Refan membuatnya tersenyum.
''Tapi kita mandi dulu," Refan mengangkat tubuh kecil Sahila ke kamar madi, dan seperti biasa, Refan memandikan sang istri dengan penuh kelembutan, kalau sudah seperti ini, Sahila lebih memilih diam dari pada Nanti dia kena batunya.
Begitu pun yang lainnya, mengeringkan rambutnya pun semua itu sekarang menjadi rutinitas Refan setiap mereka habis mandi bersama, Sahila benar benar di perlalukan seperti anak kecil, namun bahagia itu pasti.
Karena Refan selalu memberikan cinta yang sangat luar biasa untuknya.
__ADS_1