
Empat hari sudah setelah kepergian Mike, Refan sangat di sibukkan dengan pekerjaan kantor, dan Refan pun baru menyadari betapa pentingnya Mike untuknya, seperti tiga hari yang lalu, hari ini pun Refan tak bisa pulang sekedar makan siang karena pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan, akhirnya Sahila lah yang harus mengalah untuk datang ke kantor setiap hari.
''Mas, apa nggak sebaiknya mulai sekarang kamu cari pengganti tuan Mike, Aku nggak tega lihat kamu seperti ini, kalau tuan Mike masih lama gi mana, tanya Sahila, raut wajah Sahila menunjukkan ke khawatiran yang mendalam melihat sang suami yang bekerja tanpa jeda.
Refan tersenyum, ''Mas akan mencari penggantinya kalau dia benar benar keluar dari kantor ini, mencari orang seperti Mike itu sangat sulit, dan mas nggak mau buru buru, ucap Refan, namun pandangan Refan masih fokus pada laptop.
Sedangkan Sahila masih duduk di sofa ruangan kerja Refan.
Tak berselang lama, Sahila merintih membuat Refan panik.
Pasalnya baru kali ini Sahila mengeluh pada perutnya,.
''Kamu kenapa sayang ?''ucap Refan sangat panik sambil memegang perut Sahila yang mulai membuncit.
''Perutku sakit mas, ini sakit sekali, Sahila merintih.
''Apa kamu mau melahirkan?'', ucap Refan dengan bodohnya membuat Sahila semakin jengkel, pasalnya suami nya ini memang bodoh atau mengajaknya bercanda,
Di sela sela sakitnya sahila menepuk lengan Refan dengan sedikit keras.
''Jangan bercanda, aku serius,ucap Sahila mengerutkan alisnya dengan wajah yang meringis.
''Hai sayang , mas juga serius, biasanya kalau wanita hamil saat kesakitan itu mau melahirkan. Wajah Refan terlihat serius membuat Sahila bingung.
Akhirnya Sahila memilih diam dan sesekali merintih dari pada meladeni suaminya yang bodoh.
Akhirnya dengan sigap Refan menggendong Sahila membawanya ke kamar.
Refan mengeluarkan ponselnya untuk melakukan panggilan,.
''Sayang kamu tenang, Ririn akan segera kesini, ucapnya sambil mengelus pucuk kepala Sahila.
Tak lama ada yang membuka pintu ruangan Refan tanpa mengetuk,langkah itu semakin mendekat, akhirnya Refan memilih untuk membuka suara.
''Siapa,?'' ucap Refan dari dalam kamar.
__ADS_1
''Aku .ucap sang tamu yang sudah bersandar di pintu.
Refan tak bergeming karena Sahila masih saja merintih.
''Bos ,Nona kenapa? '', ternyata Mike lah yang masuk, Mike terkejut melihat Sahila berbaring dan merintih ,sedangkan Refan berjongkok di samping ranjang.
''Mike, Gi mana ini ,istriku perutnya sakit, aku sudah memanggil Ririn ,tapi belum juga ke sini, aku bingung, aku harus ngapain ?''ucap Refan terlihat sedih, Refan tak menyambut kedatangan Mike karena hatinya saat ini sedang kalut, tak terasa air matanya pun ikut menetes.
''Bos tenang saja, pasti Nona baik baik saja. ucap Mike yang menghampiri Sahila.
''Tapi ini sakit banget , ucap Sahila sambil menangis.
''Nona tenang saja, semoga nggak terjadi apa apa dengan Nona dan juga bayinya. Nia ikut mendampingi Sahila dan mengelus perutnya.
Tak lama ada yang mengetuk pintu, Mike berlari dan membukanya, ternyata Ririn.
''Di mana kakak ipar,?'' ucap Ririn tanpa basa basi, Ririn pun tak menyambut kedatangan Mike karena ikut panik, karena Ririn mendengar suara Refan terdengar bingung saat di telepon.
''Ada di kamar, ucap Mike, dengan segera Ririn masuk ke dalam kamar dan memeriksa Sahila,
''Kakak tenang, kakak ipar tidak apa apa,mungkin kakak ipar kecapekan saja, lebih baik biarkan dia istirahat, nanti kalau sudah merasa lebih baikan, kakak kasih vitamin ini, ucap Ririn sambil menyodorkan vitamin untuk di konsumsi Sahila.
''Zero, dia menunggu di luar, tadi aku sudah mengajaknya masuk, tapi nggak mau, ujarnya.
''Kenapa tidak mau , tidakkah dia ingin mengetahui keadaan kakak iparnya? '', ujar Refan sinis.
Karena bujukan dari Refan, akhirnya Ririn memanggil Zero untuk masuk.
Tak lama suara ketukan pintu itu membuyarkan keheningan sejenak.
''Masuk, !'' ucap Refan ,ternyata sang calon adik ipar yang tak lain adalah Zero.
''Maaf kakak, tadinya aku mau masuk, tapi aku pikir lebih baik aku nanti saja jenguk kakak ipar, karena aku sedikit buru buru karena masih ada tugas , ucap Zero meyakinkan.
Refan hanya mengangguk.
__ADS_1
''Apa kalian langsung kembali sekarang?'' ,.
Ririn dan Zero mengangguk,. ''Lain kali kakak ipar itu nggak boleh terlalu capek, kehamilannya itu masih sangat muda dan rentan, jadi kakak harus menjaganya ekstra hati hati, ucap Ririn kembali menasehati, sedangkan Refan hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti.
''Maaf Mike aku lupa tidak menyambutmu. ucap Ririn kembali sambil melihat Mike yang mematung di samping Refan.
''Ah... nggak apa apa ,lagi pula aku kan bukan tamu agung, ngapain harus di sambut segala, jawab Mike santai.
Setelah Ririn dan Zero pergi Mike merangkul Refan, perasaan nya di penuhi rasa bersalah.
''Kamu kenapa, ini Aku bukan Nia, ucap Refan mengerutkan alisnya.
''Aku tau Nona pasti capek mengurus semua keperluan bos sendiri, semua ini salahku ,karena aku meninggalkan kalian, aku janji ini yang pertama dan terakhir aku meninggalkan kalian pulang, ucap Mike dengan pelan membuat Refan terharu.
''Tenanglah Mike, kamu punya keluarga, jadi aku nggak berhak untuk melarang atau mencegahmu, dan Sahila adalah tanggung jawabku, jadi disini aku lah yang salah, karena aku nggak bisa menjaga Sahila dengan baik, ucap Refan sambil menepuk bahu Mike.
''Aku lupa menanyakan, kamu kapan sampai sini, kok nggak bilang dulu, kan bisa aku jemput. ucap Refan mulai mencairkan suasana.
''Baru, aku langsung mampir ke sini, lagi pula nggak perlu bos repot repot jemput ,tadi aku menghubungi supir kantor dan dia yang menjemput kami.
Sedang Nia hanya menjadi penonton kedua orang yang saling menyalahkan diri sendiri itu sambil memijit kaki Sahila.
''Nia, kenapa kamu memijatku, ucap Sahila merasa nggak enak dengan apa yang di lakukan Nia.
''Nona, nggak apa apa, lagi pula aku tau cara memijat yang benar, jadi nona nggak usah khawatir ,aku nggak
akan menyakiti Nona , .ucap Nia dengan ramah.
''Tapi aku yang nggak enak, ucap Sahila kembali sambil menarik kakinya.
''Nona, tidak apa apa ,biarkan Nia melakukan apa yang diinginkannya,kalau itu membuat Nona lebih baik, jadi jangan merasa nggak enak, anggap saja Nia itu saudara yang harus menjaga kakaknya.
Ucapan Mike membuat Refan sekali lagi terenyuh.
''Nona dengar kan, mas Mike saja nggak apa apa, jadi Nona diam saja, aku yakin setelah aku pijat ,Nona akan lebih baik.
__ADS_1
''Kalian itu memang pasangan yang sangat serasi, semoga hubungan kalian ini sampai ke pelaminan, ucap Sahila sambil tersenyum. menggoda Nia yang sedari tadi menunjukkan wajah malu malu.
Aku sadar ,betapa berartinya dirimu di tengah tengah kami, bahkan kamu tidak memperdulikan keluargamu hanya untuk kami, dan aku tidak bisa membalas apa apa di banding pengorbananmu selama ini, semoga kamu dan kekasihmu bahagia seperti kebahagiaan yang aku rasakan bersama Sahila .batin Refan.