
Tak pernah terselip dalam hati, apa lagi sampai nyata, hari ini kesedihan menyelimuti hati Mike, karena akan berpisah dengan Nia, Karena nyonya Wilson meminta Nia untuk ikut dengannya,.. Meskipun berulang kali Mike memohon, keputusan nyonya Wilson sudah bulat kekeh tetap membawa Nia pulang.
Bukan hanya Mike, Nia pun merasa sedih harus jauh dari sang kekasih yang selalu melindunginya, meskipun begitu, keputusan orang tua itu sudah deal dan tidak bisa di ganggu gugat.
''Tapi ma.... bahkan Mike pun hanya bisa mengucapkan itu saat Nia membereskan semua pakaian yang ada di kamar, sebelum mereka pergi, Mike menemui sang kekasih, rasanya baru saja sebentar mereka bertemu, namun kali ini mereka akan berpisah kembali.
Merenung di tepi ranjang, Mike sambil melihat tembok putih yang ada di depannya. tubuhnya lunglai bahkan kakinya lentur dan tak bisa berdiri tegak.
Nia menghela nafas panjang, sebenarnya rasa berat itu ada, tapi apa daya mereka tidak boleh memenangkan egonya sendiri, harus ada hati yang di jaga.
Nia berjongkok di depan Mike, memegang tangannya, senyuman kecil pun di tampilkan untuk Mike.
''Mas, kita kan berpisah cuma dua bulan, dan setelah itu kita akan bersama sama lagi untuk selamanya, lagi pula dulu kita juga pernah berpisah, bahkan lebih lama dari ini, dan setelah ini tidak akan ada lagi yang akan mengambilku dari kamu, termasuk mama dan papa, ucap Nia ramah memberi pengertian dengan ngambeknya Mike.
''Tapi kali ini rasanya sangat berat, andaikan mas bisa ikut, pasti aku akan ikut pulang, katanya, masih dalam posisinya. ''Mas, jangan bersedih dong, aku jadi nggak tega ninggalin kamu, tersenyum, Kini Nia mulai terbata bahkan air matanya sudah siap untuk meluncur.
Mike tersenyum demi sang kekasih yang memintanya, namun itu pun dengan paksaan.
Mike meraih tangan Nia dan kini mereka berdiri saling berhadapan.
Mike memeluk Nia dengan erat, sampai membuat sang empu sesak.
''Kamu baik baik ya di sana, jangan pernah pergi dari rumah, mas percaya papa dan mama pasti akan menjaga kamu dengan baik, karena kamu hidupku, aku pasti akan kangen sama kamu, ucapnya, Meskipun laki laki, Mike tak bisa membohongi bahwa saat ini dirinya seakan rapuh tanpa Nia.
Nia mengangguk.
''Aku akan baik baik saja sampai kamu menjemputku, kalau mas kangen kan bisa telepon aku, lagi pula ini nggak lama, Nia mulai merayu kekasihnya.
Mike tidak menyangka kedatangan orang tuanya itu menciptakan kebahagiaan dan kesedihan yang bersamaan.
''Apa kamu sudah siap sayang?'' tiba tiba nyonya Wilson menyahut dari balik pintu, Nia hanya menjawab dengan anggukan, Sedangkan Mike terpaksa harus berdiri menyeret koper milik Nia.
__ADS_1
''Anak mama jangan sedih, ini kan cuma dua bulan, nyonya Wilson dengan menepuk bahu putranya yang dari tadi bermuka masam.
''Nia, aku pasti akan merindukanmu, kini gantian Sahila yang berhamburan memeluk Nia.
''Aku juga, pasti aku akan merindukan kelucuan Nona saat menghadapi tuan Refan, kini air mata itu sudah tak bisa di bendung, Sahila dan Nia sama sama menangis.
Sedangkan semua nya menjadi penonton saja.
''Maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai bandara, merasa bersalah.
''Nggak apa apa, lagian Nona jangan sering lelah, nggak baik.
''Iya kakak ipar, kata Nia itu memang benar, kakak nggak boleh terlalu lelah.
''Kamu manis sekali, meskipun hamil besar kamu masih saja cekat, ucap nyonya Wilson yang selalu melihat tingkah Sahila.
''Nia, aku minta maaf ya, kalau aku ada salah sama kamu,'' kini giliran Ririn yang memeluk Nia.
''Aku juga minta maaf,'' Kini Nia berjalan menghampiri Nyonya Wilson.
''Ma, kalau Ririn menikah, kita bisa kan ke sini?'' tanyanya Ragu, takut nyonya Wilson marah dengan permintaannya itu.
''Harus, jawab Mike seketika sambil menatap langit langit.
''Iya nanti kita ke sini,'' ucap nyonya Wilson kali ini sambil melirik Mike.
''Son jangan di tekuk terus wajahnya, kamu nggak malu sama Mr Wilson, yang gagah itu, kali ini Nyonya Wilson mencoba membuat Mike tegar.
Setelah berpamitan pada seluruh anggota keluarga, Mr Wilson serta istrinya, Nia dan Mike berlalu meninggalkan rumah besar pak Cakra, mereka melangkahkan kakinya dengan pelan dan sesekali Nia menoleh ke belakang, melihat Sahila yang dari tadi masih terlihat sedih dan melambaikan tangannya.
Setelah mobil yang di tumpangi Mike menghilang, Sahila menangis terisak di pelukan sang suami.
__ADS_1
Refan mengelus rambut panjang Sahila, mencoba menenangkannya.
''Sayang sudah dong, lagian sebulan lagi Nia kan ke sini, pikir Refan, Sahila menangis karena Nia.
Sahila malah menggigit lengan Refan sekencang kencangnya, untung saja nggak ada yang lihat.
''Kenapa?'' sambil meringis.
''Mas nggak tau kan, bagaimana rasanya di tinggal orang yang di sayangi, karena mas nggak pernah merasakan itu, pasti tuan Mike sedih, karena aku pernah merasa di posisinya, meskipun saat itu aku tau kalau orang yang aku sayangi tidak mungkin menjadi milikku, dan tidak mencintaiku, tapi dalam hati tetap saja sakit, apa lagi tuan Mike, pasti lebih sakit karena mereka saling menyayangi dan mencintai, ucapnya sambil terisak.
Refan masih saja diam, meraba setiap kata yang sudah terangkai dengan baik itu.
''Apakah yang kamu maksud itu diriku?'' Akhirnya Refan mencoba menebak, ''Orang yang sudah meninggalkanmu, apakah saat itu kamu sudah ada rasa dengan ku, dan kamu merasa sakit karena aku sudah menikah dengan Kania, dan meninggalkanmu, Refan memegang kedua lengan Sahila menatap matanya yang sudah mulai sembab.
Dengan pelan Sahila mengangguk.
Refan langsung memeluk istrinya yang masih berderai air mata itu, seluruh tubuhnya terasa kaku, Refan mengira kalau Sahila hanya menerima perjodohan saja, tak sampai sedalam itu, bahkan sampai mencintainya.
''Bagaimana bisa kamu menyayangiku, sedangkan kita baru bertemu beberapa kali saja, itupun aku selalu memperlakukanmu dengan tidak baik, apa kamu memang sudah tau kalau aku adalah laki laki yang mengurung diri di dalam kamar, yang akan menjemputmu, dan yang sudah melamarmu waktu itu?'' Kini Refan balik bertanya.
''Aku tau saat Ibu bercerita tentang siapa laki laki yang akan di jodohkan denganku, awalnya aku juga lupa, aku juga sudah punya pacar, tapi setelah ibu mengingatkanku, aku memutuskannya, dan semua yang aku kira akan berjalan lancar malah sebaliknya, kau menolakku dan menghinaku, akhirnya karena keingin tauanku diam diam aku pun pernah membuka kamarmu dan aku menemukan cincin itu di laci, maaf bukannya aku lancang, aku cuma penasaran saja, dan setelah aku melihat cincin itu, aku yakin kalau kamu memang lupa dengan apa yang kamu ucapkan padaku waktu kecil, dan di saat itulah aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, mencintai suami orang, ucap Sahila masih dengan tangisnya membuat Refan ikut menangis menyandarkan keningnya di kening sahila.
''Aku minta maaf, Andai saja aku sadar lebih awal mungkin kamu tidak akan tersakiti, Sahila langsung meraup kedua pipi Refan.
''Tidak perlu minta maaf, disini akulah yang salah, aku yang terlalu terobsesi dengan wajah tampanmu.
Setelah mendengar ucapan Sahila, Refan langsung memeluk Sahila kembali, setelah beberapa saat di lepaskan.
Itulah kamu selalu merendah diri, batinnya.
''Aku mencintaimu, bisik Refan sambil mencium pipi Sahila yang membuat sang empu langsung tersenyum.
__ADS_1