
Sindi berdiri berhadapan dengan Refan, Sindi masih juga menangis, Bingung ,di satu sisi ada Sahila di dalam mobilnya yang pinsan karena terbentur saat mobilnya menabrak pembatas jalan, di sisi lain Sindi takut Refan akan marah pada Sahila .
Refan ingat siapa yang berdiri di depannya pun langsung mengajukan pertanyaan.
''Mobil kamu kenapa?, kenapa bisa rusak seperti ini, sambil menunjuk bagian mobil yang ponyok .
''Tu... tuan, tolong aku, Sahila pingsan di dalam, semua gara gara keteledoranku, tadi aku nyetirnya nggak fokus jadi nabrak pembatas,
''Apa, Sahila pingsan, Refan terkejut dan langsung melangkah menuju pintu mobil, sebelum Refan membukanya, Sindi menarik tangannya dari belakang.
Refan ikut menoleh ke belakang dan melihat raut wajah Sindi yang masih menangis.
''Tidak usah takut,Aku tidak akan memarahinya. ucap Refan meyakinkan.
Refan langsung membuka pintu mobil dan melihat Sahila tak sadarkan diri serta keningnya yang sedikit memar,
'Aku pernah membencimu, bahkan sangat membencimu, dan mulai sekarang, aku akan selalu menjagamu meskipun dari jauh, karena aku tau kamu milik orang lain, Gumam Refan sambil melihat wajah Sahila lekat,
''Tuan, cepat, aku takut Sahila kenapa napa, ucap Sindi dari belakang membuyarkan lamunan Refan.
Refan mengangkat tubuh mungil Sahila dan membawa ke mobilnya.
''Tuan, tolong cepat sedikit, aku takut terjadi apa apa, aku sudah membuatnya celaka,
''Kamu tenanglah semua akan baik baik saja,
Ucap Refan, Refan hanya bisa melihat Sahila dari kaca spionnya, itu sudah sangat lega,
Sepanjang perjalanan waktu, hanya terdengar tangis Sindi,
Sesampainya, Refan langsung mengangkat kembali tubuh Sahila sampai ke dalam,
Sedangkan Sindi hanya membuntutinya dari belakang.
''Dok tolong dia, ucap Refan sambil merebahkan badan Sahila di atas brankar rumah sakit.
''Kamu kenapa masih menangis, maaf tuan, ini yang kedua kalinya Sahila celaka karenaku, aku takut Om Cakra akan memarahiku,
''Kedua kalinya? '' Refan mengulangi kata Sindi
Sindi mengangguk.
''kenapa kamu seceroboh itu, kalau sampai dia kenapa napa gi mana, Refan mengeraskan suaranya.
''Aku kan nggak sengaja,siapa sih yang mau celaka, semua orang juga nggak mau ,apa lagi aku yang belum nikah, tuan jangan marah gitu.
''Baiklah, lain kali lebih hati hati lagi, apa lagi dengan orang lain.
Setelah beberapa menit, akhirnya dokter keluar dari ruangan Sahila.
''Gi mana Dok, apa Sahila baik baik saja, tanya Sindi panik.
Dokter tersenyum,
__ADS_1
''Pasien baik baik saja, cuma syok aja, sekarang juga sudah sadar,
''Apa boleh saya masuk dok?'' ucap Sindi minta izin kepada Dokter.
''Silahkan, dan pasien juga bisa langsung pulang, hanya butuh istirahat yang cukup.
''Terima kasih dok ucap Sindi dan Refan bersamaan.
Sindi melihat Refan yang masih mematung.
''Apa tuan ikut masuk juga?''
Refan menggeleng,
Akhirnya Refan melihat punggung Sindi yang berlalu masuk ke ruangan Sahila.
Sebenarnya aku juga ingin sekali masuk dan melihatnya, tapi itu nggak mungkin, aku nggak mau membuatnya lebih syok saat melihatku, batin Refan.
Refan menghela nafas panjang dan duduk di kursi yang di sediakan.
Sedangkan di dalam ,Sindi dan Sahila saling bercakap bercerita bagaimana dia sampai rumah sakit,
''Sin kamu juga nggak apa apa kan? ''tanya Sahila melihat Wajah Sindi yang khawatir,
''Aku nggak apa apa Sa, untung saja tadi ada tuan Refan yang nolongin, kalau nggak aku nggak tau gi mana membawa kamu ke sini, di sana sih banyak orang, tapi aku nggak terlalu percaya karena aku nggak mengenal mereka, tanpa sadar Sindi sudah memberi tau Siapa yang membawa Sahila ke rumah sakit .
''Sin, ulangi ,siapa yang mengantar kita ke sini? ''
Sindi membelalakakan matanya, ''Memang tadi aku bilang apa,?''
''Re.. Refan yang waktu itu marahin kamu di acara pernikahan kak Doni, maaf Sa, aku panik, aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, jadi aku minta tolong sama tuan Refan.
''Nggak apa apa, tapi dia nggak memarahimu kan ?''
Sindi menggeleng. berbohong padahal Refan sudah memarahinya karena sudah mencelakai Sahila dua kali.
''Syukurlah, kalau gitu kita pulang saja!''
''Baiklah, aku bayar dulu, ucap Sindi sambil membantu Sahila turun dari brankarnya.
Refan masih duduk di depan ruangan Sahila,
Sahila kaget melihat Refan menunduk dalam keadaan duduk, menangkupkan kedua tangannya,
Apa dia akan marah lagi, karena aku menyusahkannya, tapi kali ini aku siap, karena memang itu kenyataannya aku menyusahkannya, dia sudah rela membawaku ke sini,
''Tuan, maaf kita mau pulang, apa tuan mau antar kita? ''ucap Sindi terpaksa karena nggak tau, kalau nyari taksi lama, dan Sahila butuh istirahat secepatnya,
Sahila menundukkan wajahnya tak berani berkata apapun.
Refan tersenyum kecil dan mengangguk.
''Mau kemana?'' tanya Refan melihat Sindi berjalan ke arah resepsionis.
__ADS_1
''Mau bayar perawatan Sahila.
''Sudah aku bayar, kata singkat Refan membuat Sindi dan Sahila membelalakkan matanya.
Mas Refan kesambet setan mana, kok jadi baik ,dan dia nggak marah melihatku batin Sahila bingung.
Karena setiap Sahila bertemu Refan ,pasti hanya kemarahan yang di tunjukkan Refan padanya.
''Kamu duduk di depan, ucap Refan sambil melihat Sahila.
Sahila hanya bisa mengangguk.
''Papa mencarimu, dan beliau ingin kamu pulang ke rumah, ucap Refan sambil melirik Sahila.
''Tapi maaf, kalau itu membuatmu nggak nyaman, lebih baik aku tinggal di rumah Sindi saja, ucap Sahila ragu, karena takut Refan marah.
''Aku lebih nggak nyaman lagi kalau aku nggak bisa mengabulkan permintaan papa, dan aku harap kamu nggak menolaknya, dengan nada ketusnya.
''Nggak apa apa Sa, kamu pulang aja, pasti Om Cakra kangen sama kamu!'',
Sahila mengangguk, setelah mengantar Sindi pulang, kini tinggal Sahila dan Refan yang berada di dalam mobil.
Sahila hanya diam tak berani mengeluarkan satu patah kata pun, dalam otaknya teringat hinaan Refan padanya membuatnya pusing, Sahila memegang kepalanya dengan satu tangannya membuat Refan bertanya.
''Kamu kenapa, apa kepalamu sakit?'', Refan panik dan meminggirkan mobilnya.
''Sedikit, tapi nggak apa apa, aku baik baik saja, jawab Sahila sedikit takut,
Refan menghela nafas,
''Kenapa kamu menundukkan kepalamu, Apa kamu takut melihatku?''
''Bukan, aku hanya nggak mau membuatmu muak, kalau aku bisa menyembunyikan wajahku yang kampungan ini ,mungkin sudah aku buang jauh, supaya kamu tidak lagi melihat wajahku .
Kata kata Sahila bagaikan pisau yang menyayat hati Refan saat ini,
apakah aku harus mengucapkan maaf sekarang, lirih hati Refan.
''Apa kamu mau memaafkan orang yang sudah menyakitimu? tanya Refan balik,
Sahila tersenyum dan memalingkan wajahnya menghadap luar,
''Tanpa meminta pun aku sudah memaafkan semua orang yang pernah menyakitiku.
''Termasuk aku?'' ucap Refan membuat Sahila melongo dan memutar wajahnya ke arah Refan.
''Jangan dekatkan wajahmu, aku muak melihatnya, ucap Refan santai, namun Sahila menanggapinya serius.
''Maaf, aku nggak sengaja, aku lupa, sambil mengerucutkan bibirnya membuat Refan tersenyum kecil.
''Kamu belum menjawab pertanyaanku, apa orang yang kamu maafkan itu termasuk aku ?''
Refan mengulanginya lagi.
__ADS_1
Sahila mengangguk.
Terima kasih, dalam hati Refan