KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 226. Penyamaran


__ADS_3

Masih di dalam mall,


Semuanya pun menikmati makanan yang di pesan masing masing,begitu juga dengan Sahila.


Sahila yang masih melihat pria misterius yang belum pergi pun membuatnya mencari ide ide untuk mengetahui nya.


''Apa kita pulang sekarang?'' ,tanya Ririn setelah semuanya sudah menghabiskan makannya.


Semuanya mengangguk kecuali Sahila.


''Kakak ipar nggak pulang?'', tanya Ririn melihat Sahila yang sedang termangu.


''Ya pulang lah ,masa mau nginap di sini, ucap Sahila meraih tasnya yang di letakkan di meja.


Saat mereka semua menjauh dari restoran, Sahila menoleh ke arah pria misterius yang juga mengikutinya.


Benar benar nih orang ,nggak bisa di biarin. batinnya.


''Kalian ke depan dulu, aku mau ke toilet, pamit Sahila.


Dengan sengaja Sahila melewati pria misterius itu dari dekat, malah di depannya, namun setelah sedikit menjauh Sahila senyum menyeringai.


''Buaya mau di kadalin, ujarnya langsung berlalu ke kamar mandi.


Sahila mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu, sambil tersenyum sendiri.


Setelah menunggu, kini Sahila semakin tersenyum melihat kepanikan pria misterius itu yang semakin mendekat, Sahila sembunyi di balik pintu, dalam hatinya ingin tertawa namun di urungkannya.


Setelah pria misterius itu berdiri tepat di samping pintu, Sahila langsung menarik tangannya dengan paksa,.


Pria itu terkunci karena saat ini Sahila menguasai pergerakannya.


Dengan perlahan tangan Sahila mulai menyentuh pipinya, dan menarik jenggotnya dengan paksa yang membuat sang empu terkejut ,namun masih saja diam dan melengos.


Dengan cepat Sahila memegang dagunya dan memutar menghadapkan ke arahnya, lalu Sahila kembali menarik kumis palsunya dengan paksa juga, lagi lagi pria itu hanya bisa diam.


Dan yang terakhir Sahila membuka kaca mata yang membuat pria itu terbelalak.


''Mas itu nyamarnya kurang pinter, ucap Sahila yang ternyata mengetahui bahwa pria misterius yang di takuti dari tadi adalah suaminya.


Refan membulatkan matanya berfikir dari mana istrinya tau,.


''Dari mana kamu tau?'', tanya Refan dengan santainya, dan tak merasa kalau sudah menjadi ******* bagi Sahila.

__ADS_1


Sahila mengangkat tangan Refan ke atas dan menunjukkan jam tangan Refan yang masih melekat menghiasi tangannya.


''Aku memang tidak mengenali wajahmu mas, tapi aku mengenali ini, jam tangan kamu, dan aku nggak mungkin lupa dengan semua barang barang kamu, ucapnya semakin mendekatkan wajahnya.


Refan yang sudah merasa tertangkap basah hanya bisa menggosok tengkuk lehernya.


''Habisnya kamu nggak dengerin mas, tadi saat kamu masuk mas itu sudah lihat para pria menatapmu dengan intens dan mas nggak bisa biarin itu dong, kalau saja ini bukan tempat ramai mas pasti sudah mencongkel mata mereka, ucapnya di depan Sahila.


Apa suamiku akan jadi psikopat saat cemburu .batinnya.


Namun Sahila masih tak mau kalah,.


''Tapi aku malah jijik lihat mas Brewokan ,rasanya mau muntah, Sahila kembali membantah.


''Tapi kan ini palsu sayang, pegang saja mas masih mulus, ucapnya meraih tangan Sahila dan menempelkannya di dagunya.


''Iya iya, aku tau, tapi mas itu keterlaluan sudah membuatku takut, untung saja aku belum bilang pada yang lain, kalau sudah mas pasti sudah di tangkap satpam sini ,ucap Sahila semakin jengkel.


''Ya sudah sebentar, aku kasih kabar pada yang lain untuk pulang, Dengan cepat Sahila mengirim pesan pada para sahabatnya untuk pulang duluan.


Sebenarnya mereka bertanya tanya kenapa Sahila ingin di tinggal , namun setelah mendapat pesan kembali kalau Sahila bersama Refan semuanya pun kembali pulang ke rumahnya masing masing.


''Lain kali mas nggak boleh pakai kayak ginian, protes Sahila sambil mengangkat jenggot palsu Refan.


''Kalau di ranjang pakai itu pasti kamu akan lebih suka, bisiknya tepat di telinga Sahila.


Ayo terus saja menggodaku, nggak mempan, lagi pula menjijikkan, batin sahila.


''Karena mas sudah menakutiku dan membuatku jengkel, malam ini mas nggak akan dapat jatah, dan mungkin itu berlaku sampai satu minggu, deal.


Ucapan Sahila membuat Refan melemas seketika dan menyandarkan punggungnya di tembok.


''Apa nggak bisa di tawar sayang. Refan mencoba merayu barang kali Sahila masih berbaik hati padanya.


''Kesalahan mas ini sangat fatal, kalau mas masih mencoba coba merayuku aku akan tambahin lagi, Sahila menegaskan, Akhirnya Refan memilih diam dari pada membuat Sahila semakin marah.


Setelah keduanya masuk mobil ,Sahila memperlihatkan pada Refan belanjaan yang di belinya termasuk perhiasan.


''Menurut mas ini cantik nggak?'', tanya Sahila memperlihatkan sepasang perhiasan.


Refan hanya melihatnya sekilas.


''Bagus, ucapnya bernada cuek.

__ADS_1


Sahila menghela nafas dan menutup kembali perhiasannya.


''Mas nggak suka aku beli perhiasan?'', Kini gantian Sahila yang cemberut.


Karena tak mau mengulangi kesalahannya lagi ,Refan langsung merangkul pundak sang istri.


''Mas suka kok ,malah itu kurang banyak, kenapa nggak beli lagi?'',


Iya sombong saja terus ,aku tau kalau kamu bisa beli apapun, tapi jangan sombong di depanku lagi, bikin sebel saja .batinnya.


Sesampainya di rumah, Sahila langsung saja menghampiri Kyara yang kini di gendongan sang bibi.


''Maafin mama ya sayang, mama lama ya, ucapnya mengambil alih Kyara,.


''Loh kok Aden pulangnya bareng, bukannya aden berangkat ke kantor?'', tanya Bibi penasaran melihat Refan berjalan pelan di belakang Sahila.


Refan menggeleng.


''Bibi tau nggak, tadi aku di mall menangkap ******* yang sedang menyamar, dan hebatnya lagi aku bisa menaklukannya. ucapnya pelan sambil melirik Refan yang sedang berjalan menuju sofa.


Meskipun pelan, Refan masih saja mendegar ucapan Sahila.


''Wah.. non hebat ya, belajar ilmu bela diri dari siapa?'', tanya sang bibi yang tak tau arah tujuan omongan Sahila.


''Dari mas Refan, dia yang selalu mengajariku pakai jurus jurus untuk menaklukan seseorang, ucapnya lagi yang membuat Bibi tertawa.


Ayo terus ceritain saja se detail detailnya sampai bibi faham kalau yang kamu maksud itu aku ,batin Refan dengan kesalnya.


''Non bisa bisa saja, ya sudah kalau gitu bibi ke belakang dulu ya, ucapnya lalu berlalu meninggalkan Sahila.


Sahila yang melihat kekesalan di raut wajah Refan pun kini mendekatinya dan duduk di sampingnya.


''Marah?'', tanya Sahila.


Refan diam dan kini beralih melihat putri kecilnya.


''Baiklah kalau marah itu sangat menguntungkanku, ucapan Sahila membuat Refan langsung mendongak dan mencium pipinya.


''Mana mungkin mas bisa marah sih sayang, mas cuma nggak suka kamu menyindir mas, untung saja bibi nggak faham, kalau dia faham pasti dia menertawakan mas, ucapnya menjelaskan.


''Aku tak seceroboh mas yang lupa melepas jam tangan saat menyamar ,bahkan aku sangat rapi ,dan kata kataku tadi sudah terancang dari kita di mobil.


''Sekarang istriku semakin cerdas saja bisa merancang kata kata, besok merancang rumah ya, biar jadi arsitektur ternama,

__ADS_1


Sahila kembali mengangguk. meskipun suaminya itu hanya bercanda Namun Sahila merasa terhibur.


__ADS_2