KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 68.Minta upah


__ADS_3

Setelah mendapat izin dari orang tuanya Sindi, Sahila datang ke kamar yang dulu di tempatinya bersama Sindi, ketukan pintu berulang kali dari Sahila ,namun tak ada respon, Akhirnya Sahila membuka suara, dan seketika Sindi membuka pintu dan langsung memeluk Sahila dengan erat.


Sindi semakin terisak membuat Sahila bertanya tanya,


''Hai, kamu kenapa, apa yang terjadi, bukankah hari ini kamu bahagia karena orang tua kamu pulang, ?''


Sindi menggeleng, masih dengan tangisnya.


''Terus kenapa, kamu cerita saja, apa yang terjadi, kalau aku bisa pasti aku akan membantumu, ucap Sahila meyakinkan.


''Tapi kamu nggak akan bisa Sa, ini masalahku dengan orang tuaku, mereka nggak setuju dengan hubunganku dan kak Iwan ,bahkan mereka mengusir kak Iwan dengan tidak hormat,


''Maksud kamu kak Iwan dari sini, dan orang tuamu menolak kak Iwan, memang kenapa, bukankah kak Iwan itu laki laki yang baik dan tampan, terus apa yang kurang,?''


Sindi menggeleng, enggan mengatakan apa penyebabnya,


Sahila menghela nafas panjang, dan kini pertanyaannya kembali terulang.


''Ayolah Sin, kalau kamu nggak cerita ,aku nggak akan bisa membantumu, ucapnya serius,


Akhirnya Sindi menceritakan semuanya pada Sahila, dengan seketika Sahila langsung memahami apa yang di maksud Sindi.


''O... jadi mereka nggak setuju karena kak Iwan itu belum punya perusahaan sendiri, dan masih tergantung orang tua, Sahila meyakinkan.


Sindi mengangguk.


''Baiklah kalau hanya itu aku akan bantu kamu, dan kali ini aku pasti berhasil.


Setelah mendengar cerita dari Sindi ,Sahila langsung saja teringat dengan orang tua Sindi yang takut dengan Refan.


Sekarang Sahila punya ide untuk mempersatukan Sindi dan Iwan.


Sahila keluar dari kamar Sindi, sedangkan Sindi masih tetap di dalam kamarnya, enggan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


''Mas, aku dengar tadi mas mau meratakan perusahaan om ,apa sekarang masih berlaku, ?''ucapan Sahila membuat semua mengernyitkan dahinya, apa lagi Refan merasa sangat bingung dengan ucapan istrinya.


Sedangkan tak tau lagi wajah kedua orang tua Sindi semakin menunjukkan ketakutannya.

__ADS_1


Refan hanya mengangguk mengikuti alur Sahila, karena Refan tau pasti ada sebab di balik perkataan nya.


Sahila tersenyum, dan kini pandangannya mengarah pada orang tua Sindi.


''Apa om dam tante mau melihat perusahaan Om rata dengan tanah,? ''pertanyaan Sahila.


Kedua orang tua Sindi hanya menggelengkan kepalanya.


''Kami minta maaf, sambil menangkupkan kedua tangannya, ''Kalau memang kami menyinggung perasaan nyonya, ucapan pertama dari mama Sindi.


''Iya tuan, kami minta maaf, jangan hancurkan perusahaan kami, ucapan kedua dari papa Sindi.


Refan masih bingung mau jawab apa, akhirnya Sahila melihat Refan dan mengedipkan matanya.


''Kalau begitu kalian mau kan menyetujui hubungan Sindi dan kak Iwan?'' ucapan terkahir Sahila membuat semuanya melongo, terutama Refan .


O.. jadi ini tujuan istriku menakut nakuti mereka, cerdas juga rupanya, semakin berani saja, batin Refan.


Dalam hati Refan hanya cekikikan melihat ekspresi kedua orang di depannya.


''Ayo jawab, istriku tanya pada kalian, apa kalian bisu sampai tak bisa menjawab pertanyaan yang semudah itu, Refan menimpali.


Refan menahan tawanya melihat wajah wajah yang penuh ketakutan saat mendapat bentakannya.


''Mas, sekarang telepon kak Iwan, suruh datang ke sini!'', ucap Sahila dengan pelan.


Refan mengangguk dan mengambil ponsel menghubungi Iwan.


Setelah menunggu beberapa menit, Suara ketukan pintu menggema, Kini Sahila sendiri yang langsung membuka pintunya.


''Sahila, ngapain kamu di sini, terus Refan mana ?''ucap Iwan sedikit bingung.


''Ada di dalam, kakak masuk saja ,aku punya kabar bagus buat kakak.


Sahila menggiring Iwan menghadap kedua orang tua Sindi.


''Ada apa Ref, kenapa kamu nyuruh aku ke sini?'', ucapan Iwan masih dengan kebingungannya.

__ADS_1


''Duduk dulu, kamu akan mengerti kenapa aku menyuruhmu datang ke sini lagi, , Refan dengan begitu santainya


''Sekarang kalian cepat katakan!'' bentak Refan lagi pada orang tua Sindi.


Tanpa ada keraguan dari kedua orang tua Sindi untuk mengatakan semua apa yang di perintah Refan, satu persatu mereka menjelaskan kepada Iwan akan persetujuan hubungannya dengan Sindi,dan sampai pada akhir yang membuat Iwan berbunga bunga,


''Bawa orang tuamu ke sini, dan cepatlah lamar Sindi, Aku tidak mau menunggu lama,


Iwan tak bisa berkata apa apa, kebahagiaan menyelimuti wajahnya, di tambah dengan senyuman yang memperlengkap betapa bahagia hatinya saat ini.


Iwan langsung merangkul Refan, tanpa terasa air matanya mengalir,


''Terima kasih Fan, kamu sudah membantuku, aku tidak tau harus bilang apa,bahkan tadinya aku sudah putus asa ,tapi sekarang aku yakin kalau Sindi benar benar milikku.


''Jangan berterima kasih padaku, aku hanya ingin membantu sahabatku, sekarang persiapkan semuanya, aku juga ingin kamu cepat bahagia. ujar Refan sambil menepuk bahu Iwan.


Sahila langsung saja berlari ke kamar Sindi dan memberi tau Sindi kabar yang sangat baik itu.


''Gi mana bisa Sa, kenapa papa dan mama bisa luluh dalam sekejap, aku tau ini bukan hal yang wajar ?''


''Sudah, kamu nggak perlu tau, sekarang ayo kita keluar ,dan kamu bisa lihat sekarang kak Iwan juga ada di sini!'' ucapan Sahila langsung membuat Sindi beranjak dari tempatnya dan keluar mengekori Sahila dari belakang.


Kini semuanya berkumpul di ruang keluarga, membicarakan hal yang akan di lakukan kemudian, Sedangkan Refan cuek tak mau tau, karena tugasnya sudah selesai, kesibukannya dengan ponsel membuat Sahila mengeraskan suaranya.


''Mas, kamu dengar nggak aku ngomong apa?'' ucapan sahila sangat keras membuat Refan mengernyitkan hidungnya.


''Sayang, kamu mau aku tuli, aku dengar, sudah, ini urusan mereka, biar mereka yang menyelesaikan ,tugas kamu sudah selesai, kita pulang sekarang, ucap Refan sambil berdiri dari duduknya.


''Wan, tugasku sudah selesai, sekarang tinggal kamu sendiri yang harus mengambil langkah, kalau sampai mereka macam macam bilang saja, aku tidak akan segan segan membuat mereka hancur, ucapan Terakhir Refan membuat semuanya bengong.


Sahila mendorong Refan untuk segera keluar ,Setelah Refan berjalan menuju pintu Sahila meminta maaf atas sikap suaminya itu.


Bagaimana tidak takut, perusahaan orang tua Sindi termasuk perusahaan kecil di banding dengan perusahaan Refan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, perusahaan mereka tergantung dengan Refan, semua kendali ada di tangan Refan, Sekali hentakan saja akan lebur semuanya, dan itu yang membuat mereka takut dengan Refan ,pengusaha kaya namun sombong itu.


''Terima kasih ya mas, mas sudah membantuku memepersatukan kak Iwan dan Sindi, semoga saja ini awal yang baik yang akan membawa mereka ke pelaminan.


''Kamu tenang saja, mereka tidak akan berani macam macam denganku, kalau sampai itu terjadi, mereka akan jadi pengemis di jalanan, tapi aku minta upah untuk ini ,ucap Refan menggoda,

__ADS_1


''Aku sudah pikirkan dari tadi, nggak mungkin kamu membantuku secara gratis, dan ternyata benar, kalau kamu minta upah ,dan pasti upahnya di ranjang kan?'' jawaban Sahila membuat Refan tertawa keras.


__ADS_2