KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 53.Pingsan


__ADS_3

Setelah mobil yang di tumpangi Refan menghilang ,Sahila semakin terisak dan merosot, Bibi dan pak Cakra merasa kasihan, tapi mereka pun tak bisa berbuat apa apa,


Satu satunya yang terlintas saat ini adalah Iwan, Sahila langsung beranjak dari lantai menuju kamarnya, melewati pak Cakra dan sang bibi yang masih mematung di belakangnya.


Di peganganya benda pipih itu dan mulai menggeser layarnya.


Masih dengan tangisnya ,Sahila mengatakan semua yang terjadi di rumah pak Cakra.


Tak berselang lama Iwan datang dan langsung menemui Sahila.


''Kak tolong aku, aku nggak mau mas Refan pergi, ucapnya sambil menangis.


''Kamu yang tenang, sekarang kita susul Refan, oke jangan menangis, Iwan berusaha menenangkannya.


Tanpa berbicara panjang lebar ,Sahila dan Iwan langsung pergi meninggalkan rumah pak Cakra.


Dalam perjalanan, Sahila masih saja terisak mengingat detik detik Refan pamit kepadanya.


Kenapa semua jadi begini,, ini semua salahku, andai aku nggak selalu jalan sama kak Iwan pasti mas Refan nggak akan pergi lagi dariku, batin Sahila sambil sesekali menoleh ke arah Iwan.


''Sa, hubungi Doni, suruh dia datang ke bandara juga, pinta Iwan yang di angguki Sahila.


Doni pun merasa kaget saat mendengar penjelasan Sahila dengan tangisnya.


Setelah beberapa waktu, mobil yang di tumpangi Iwan pun sampai bandara, Sahila sedikit bingung, karena ini pertama kalinya dirinya memasuki yang namanya bandara,


Sahila mengekori Iwan dari belakang,mata Sahila dan Iwan mengarah ke seluruh arah mencari sosok yang namanya Refan.


''Kak kepalaku pusing, keluh Sahila sambil memegang kepala dengan satu tangannya.


Iwan terkejut dan mengajak Sahila duduk.


''Sa, kamu istirahat saja dulu, aku yakin Refan pasti belum pergi ucapnya meyakinkan.


Tak lama Doni datang menghampiri Iwan dan Sahila,


''Gi mana Wan, sudah ketemu, tanya Doni, dan langsung mengambil ponsel mencoba menghubungi Refan, namun percuma karena ponsel Refan tidak bisa di hubungi.


''Kak, aku mohon cari mas Refan,biar aku di sini, ucap Sahila sambil mendorong Doni dan Refan.

__ADS_1


Semua orang pun merasa heran melihat Sahila yang menangis tersedu sedu,.


Kini Sahola duduk sendiri sedangkan Iwan dan Doni mencari Refan entah kemana, karena tak ada yang tau kepergian Refan bahkan tak ada yang bisa di hubungi saat ini,


Karena tak kuat dengan kepalanya yang sangat pusing akhirnya Sahila tumbang, dan itu membuat semua orang yang melihat terkejut,.


Setelah beberapa waktu, Doni dan Iwan pun kembali dan melihat Sahila yang sudah tak sadarkan diri,.


''Pak ada apa di sana, kenapa banyak orang yang berkerumun?'', tanya seorang pemuda.


''Ada yang pingsan, kasihan, kayaknya mencari keluarganya yang hilang, saya lihat dari tangisnya yang begitu terisak, ucap salah seorang yang melihat Sahila dari awal sampai pingsan.


Kasihan sekali, batin Refan,


Ya, orang yang bertanya itu adalah Refan,


''Apa bos mau berdiri di sini sampai kita jamuran?'' ucap Mike, sambil melihat Refan yang masih menatap ke arah kerumunan.


Setelah kaki Refan melangkah, pandangannya terlintas wajah sang sahabat ,namun dalam hatinya masih ragu ,


Nggak mungkin itu Doni, ngapain dia di sini sepagi ini, lirih hatinya,


Akhirnya dengan tak sabarnya Refan menghampiri Doni,


''Doni, ngapain kamu di sini, ujarnya membuat Doni menoleh dan langsung merangkulnya,


''Jadi ada apa, apa yang terjadi ,kenapa kamu seperti ini, ucap Refan heran melihat tingkah Doni yang tiba tiba merangkulnya dan menebar senyuman.


''Dasar, lihat Sahila pingsan dan semua ini gara gara kamu, dan aku di sini mencarimu ucap Doni dan langsung menarik Refan membelah kerumunan.


Refan terkejut melihat Sahila yang tak sadarkan diri, seingatnya Sahila berada di rumah beberapa menit yang lalu, tapi kenapa bisa pingsan di bandara,.


''Sahila, ini kenapa Wan, kenapa dia bisa pingsan apa yang terjadi dan kenapa dia ada di sini? ''ucap Refan sangat terkejut.


''Ini semua gara gara kamu, kalau saja kamu nggak pergi, dia juga nggak akan pergi ke sini untuk mencarimu, ucap Iwan menyalahkan Refan.


Rasa haru menyelimuti bandara kali ini ,Refan memeluk tubuh mungil di depannya itu meskipun tak sadarkan diri, Refan begitu bahagia akhirnya dia bisa memeluk orang yang di sayanginya tanpa suatu halangan.


Hatinya sangat terluka melihat orang yang sangat di sayanginya itu pingsan ,dan ini kedua kalinya Refan melihat Sahila dalam keadaan yang lemah,

__ADS_1


Refan langsung mengangkat Sahila untuk membawanya ke rumah sakit.


Sedangkan Iwan dan Doni menyusul dari balakang, karena mereka membawa mobil masing masing.


''Mike cepat sedikit!'' ucap Refan sambil mengelus rambut Sahila.


Setibanya di rumah sakit dengan cepat Mike memanggil dokter,


Refan sangat gelisah, raut wajahnya penuh penyesalan karena tak mendengarkan kata Sahila yang melarangnya untuk pergi.


Andai saja aku tadi mendengarmu, mungkin kamu tidak akan seperti ini, kalau terjadi apa apa sama kamu ,aku adalah orang yang patut di salahkan. batinnya pilu,.


Iwan dan Doni datang dan merangkul sang sahabat bergantian.


Refan merasa sangat bingung dengan sikap Iwan yang begitu baik, sedangkan dirinya harus pergi gara gara menerima kemarahan Iwan,.


Tapi Refan hanya diam ,karena masih terpikir kondisi Sahila saat ini,


Tak berselang lama dokter keluar dari Ruangan Sahila,


''Bagaimana keadaannya Dok, tanya Refan yang masih sangat panik,


''Tuan tenang aja, pasien baik baik saja, hanya saja ini akan terus terjadi, karena pasien mengalami traumatik, itu di sebabkan karena pasien pernah mengalami benturan di kepalanya, jadi saat pasien merasa sangat capek dengan pemikirannya ,pasti dia akan merasa pusing, dan jika pasien tidak kuat akan mudah pingsan, dan itu akan berlanjut, jadi saya harap jangan membuat pasien banyak berfikir,itu akan sangat mengganggu kesehatan nya, terutama pada kepalanya,


''Baik dok, apa sekarang saya bisa menemuinya ?''tanya Refan yang langsung di angguki sang dokter.


Sedangkan yang lain hanya mematung dan melihat Refan masuk ke ruangan Sahila.


Refan menghampiri Sahila dan memegang tangannya yang dingin ,dan melihat satu tangannya yang tertusuk jarum infus ada rasa pilu, dalam hatinya, melihat tangan Sahila yang bengkak,


''Cepatlah bangun ,aku ada di sini, dan aku nggak akan pergi lagi, ucap Refan berbisik di telinga Sahila.


Sahila tak bergeming, namun pegangan tangannya semakin erat mencengkeram tangan Refan, satu tangan Refan masih setia mengusap pucuk kepalanya, membuat sang empu menggeleng.


''Bangunlah, ucap Refan saat melihat air mata Sahila menetes dengan mata terpejam,


''Aku tidak mau bangun, kalau dengan tidur aku bisa melihat wajahmu, aku akan terus tidur, jadi jangan paksa aku untuk bangun, ucapnya parau, dengan air mata yang masih setia menetes,.


''Kalau kamu terus memejamkan matamu, kamu tidak akan bisa melihat wajahku dengan nyata, cobalah buka matamu, ucap Refan sambil mencium tangan Sahila dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


''Benarkah?'' ucapnya memastikan, akhirnya Sahila membuka matanya dengan perlahan, dan melihat orang yang di carinya ,ternyata berada di sampingnya .


__ADS_2