
Tak seperti biasanya ,setiap Refan bangun yang sudah tak nampak istrinya, pagi ini Refan di kejutkan dengan tangan sang istri yang masih melingkar di perutnya, Refan memiringkan badannya dan memegang kening Sahila.
''Tidak panas, gumamnya.''
Refan menepuk pipi Sahila ,mencoba membangunkanya,
''Sayang sudah pagi ,ayo bangun, ucapnya .
Namun tak bangun malah mengeratkan pelukannya,
''Sayang, ayo bangun, ini sudah pagi, mas mau berangkat ke kantor, bisik Refan kembali. ''
Masih sama Sahila tak bergeming, akhirnya Refan memilih membaringkan tubuhnya kembali dan membalas pelukan sang istri.
''Mike, kamu ke kantor duluan, aku sedikit terlambat, ucap nya pada Mike dari balik telepon.
Dan taulah, Mike pun hanya bisa berdecak mendengar ucapan bosnya itu,karena ujung ujung nya itu pasti dirinya yang sibuk.
Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya Sahila menggeliat, dan pelan pelan membuka matanya.
Melihat pemandangan di sampingnya pun membuat nya tersenyum.
''Mas, kamu juga belum bangun, ucapnya merasa tak bersalah, padahal dirinya yang membuat Refan terpaksa tidur kembali.
Refan tersenyum kecil,dan menyelipkan anak rambut Sahila yamg menutupi pipinya.
''Kalau begitu sekarang kita bangun sama sama,dan mas mau berangkat ke kantor, ucapnya pelan.
''Kenapa harus ke kantor, apa mas nggak mau istirahat, bayangkan dalam seminggu mas cuma libur satu hari, itupun masih saja mengerjakan pekerjaan kantor, terus waktunya untukku kapan, aku kan juga mau di perhatikan setiap waktu, tak hanya malam saja, tapi aku juga butuh perhatianmu siang, ucap Sahila cerewet, entah kesambet dari mana, karena tak biasanya Sahila protes dengan kerjaan Refan.
Refan diam sejenak, memikirkan kata yang keluar dari mulut Sahila, dan ternyata semua itu benar.
__ADS_1
''Baiklah, istriku yang cantik, terus mau kamu gi mana sekarang?'', Refan menawarkan.
''Aku mau kamu dirumah hari ini menemaniku, aku kan juga bosan, apa lagi kalau Ririn sudah berangkat kerja, tinggal Bibi saja, aku kesepian,
''Oke, kalau itu permintaan kamu, mas akan hubungi Mike, ujar Refan sambil mengambil ponselnya di nakas.
''Mike, aku nggak masuk hari ini, kamu urus semuanya, kalau ada yamg penting hubungi aku, kalau perlu bawa ke rumah, ucap lagi dari balik telepon.
Tanpa aba aba Refan langsung memutus sambunagannya membuat Mike semakin jengkel.
''Harus sampai kapan Ya Tuhan, aku menghadapi bos seperti ini, dia sungguh menyebalkan, gumamnya sambil mengeratkan giginya.
Pasalnya hari ini memang ada rapat penting, dan Refan lupa karena sudah melihat istrinya yang manja.
Akhirnya dengan terpaksa lagi Mike menghubungi Refan lewat telepon.
''Maaf bos tidak bisa, hari ini ada klien kita yang sangat penting jam makan siang ,jadi mau tidak mau bos harus tetap ke kantor, ucap Mike dari balik telepon dengan keras membuat Refan mengerutkan alisnya.
Mike pun langsung memutuskan sambungan teleponnya membalas perbuatan Refan.
Aku harus gi mana, nggak mungkin aku memaksakan diri untuk pergi kalau dia nggak mengizinkanku, tapi ini juga penting, batin nya.
''Sayang, hari ini ada rapat di kantor, dan itu tidak bisa di wakilkan, tadi baru saja Mike telepon, jadi mas harus tetap ke kantor, ucap Refan ragu, takut Sahila salah faham, karena juga akhir akhir ini Sahila lebih sensitif.
''Baiklah, tapi nanti langsung pulang, jangan keman mana?'', ucapnya dengan wajah yang cemberut.
''He'em, memang mas pernah ke mana sih, mas nggak akan ke mana mana, buat apa keluyuran kalau di rumah sudah ada hiburan yang menyenangkan, Refan langsung beranjak dan pergi ke kamar mandi, Namun Refan lebih heran lagi saat melihat Sahila yang sudah berdiri di belakangnya.
''Apa kamu mau ikut mandi mas juga?'', pertanyaan yang tepat, Akhirnya Sahila mengangguk.
Refan segera merangkul pundak kecil itu dan memandikannya.
__ADS_1
Setelah semua siap ,Sahila masih saja tergelayut di lengan kekar itu, semakin membuat Refan tak tega untuk meninggalkannya.
''Sayang, apa nggak sebaiknya kamu ikut saja ke kantor, mas jadi nggak tega ninggalin kamu sendiri , ucapnya, sedangkan Sahila hanya menggeleng.
''Aku sedikit nggak enak badan, nggak tau kenapa, dari semalam rasanya males saja mau ngapa ngapain, jadi mas berangkat aja, nanti kalau aku perlu sesuatu pasti aku akan menyuruh bibi, ucap Sahila sambil memberikan tas kerjanya.
''Apa perlu kita ke rumah sakit?'', tanya Refan memastikan, karena khawatir melihat wajah Sahila yang sedikit lesu dan pucat.
Sahila menggeleng, Akhirnya ciuman terakhir dari Refan mendarat di kening, pipi ,dan bibir Sahila sebagai tanda perpisahan.
''Kalau masih nggak enak badan kamu di kamar aja, jangan ke mana mana, mas berangkat dulu,
Sahila hanya mengangguk anggukkan kepalanya merelakan Refan untuk pergi,
Sahila masuk kembali ke rumah setelah melihat mobil Refan sudah menghilang.
''Non mau makan sekarang? '', tanya sang Bibi melihat Sahila yang berjalan menuju kamar, karena waktu Refan sarapan pun Sahila hanya melihat.
Sahila menggelengkan kepalanya, ''Nanti aja Bi, sekarang aku belum lapar, ujarnya dan melanjutkan jalannya.
Sedangkan di kantor ,Refan langsung saja menyandarkan badannya di sandaran kursi dan memejamkan matanya, memikirkan sikap Sahila yang sangat manja padanya.
''Kenapa lagi, bukankah masalah sudah selesai, tiba tiba suara berat menghampirinya, siapa lagi kalau bukan sekretarisnya yang berani masuk tanpa seizinnya.
Refan menghela nafas dan membuka matanya.
''Aku heran dengan istriku pagi ini, dia sangat manja, dan aku juga sedikit nggak tega meninggalkannya, Dia sangat kesepian, aku kasihan sama dia, mungkin saja selama ini memang dia menutupi kesedihannya soal bayi ,tapi aku nggak bisa berbuat apa apa, ingin rasanya aku mengutuk diriku sendiri Mike, aku takut kalau sampai dia putus asa hidup denganku, segala cara sudah aku lakukan untuk membuatnya lupa soal bayi, tapi setiap mendengar dan melihat sahabatnya itu hamil, pasti dia teringat dirinya sendiri yang belum bisa memberiku anak,ucapan Refan kali ini serius yang sedikit menyayat hati.
Meskipun dirinya tak pernah mengungkit masalah bayi, tapi Sahila lah yang selalu menyinggung soal bayi .
''Setiap rumah tangga memang punya masalah yang berbeda, aku yakin bos dan nona pasti bisa melewati semua ini, dan yakinlah keterlambatan Nona hamil ini pasti ada hikmahnya, seperti bos yang terlambat mencintai Nona, ucap Mike santai sambil merapikan file file di depannya.
__ADS_1
''Kamu benar, bahkan dia tak punya celah sedikit pun untuk berbuat kesalahan, dan aku beruntung menikahinya di saat aku sudah tak membencinya, kalau saja waktu itu aku langsung menikahinya ,mungkin penyesalanku sudah tak berguna, Refan dengan santai pun memberi jawaban untuk Mike.
Refan sangat beruntung mempunyai sekretaris seperti Mike ,meskipun Refan selalu menjahilinya ,tapi Mike tetap setia dengan sikapnya yang menyebalkan,