
''Sialan...... umpat seorang pria tampan itu dalam kamarnya, tak ada seorang pun yang berani mengetuk pintu termasuk sang sekretaris, Siapa lagi kalau bukan Refan.
Refan berulang kali menghubungi Sahila ,meskipun aktif namun tak pernah di jawab, itulah yang membuat Refan murka, bukan menyalahkan Sahila, tapi menyalahkan dirinya sendiri.
Refan memaki dirinya sendiri berkali kali, ponsel nya pun berubah menjadi berkeping keping, Refan menjambak rambutnya mengingat apa yang sedang terjadi,
Semua benda di dalam kamarnya pun berantakan, menjadi sasarannya, bahkan tangannya pun mengeluarkan darah, namun Refan tak merasakan sakit sedikit pun.
''Kamu kemana, aku cuma ingin menjelaskan sama kamu, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, apa kamu marah sama aku, bukan maksudku menyembunyikan semua ini ,tapi aku menunggu waktu yang tepat, Refan terlihat begitu frustasi memikirkan Sahila yang entah kemana, karena tak menerima panggilan darinya.
Refan memang tak langsung menghubungi Sahila waktu itu ,bahkan ini sudah dua hari setelah kejadian di restoran, dan menurut Refan ini waktu yang tepat untuk menjelaskan pada Sahila, namun Refan terlambat, Sahila tak mau mengangkat telepon darinya, Refan berpikir pasti Sahila marah karena kejadian itu ,
Refan beranjak dan membuka pintu menghampiri Mike yang menunggu di luar kamarnya.
''Mike, kita ke kantor sekarang, aku ingin cepat menyelesaikan semuanya, aku ingin segera pulang, ucapnya tegas dengan penampilan yang acak acakan membuat Mike mengerutkan alisnya.
''Baik bos, tapi ,apa bos mau berpenampilan seperti ini?'' ucap Mike sambil melihat Refan dari atas sampai bawah.
Refan tak menyadari bahwa dirinya begitu kacau , bahkan tangannya yang memar pun tak di rasa,.
''Apa bos benar benar mau lembur, ini sudah malam, lagian bos kenapa, terus itu tangan kenapa ?''siapa yang gigit, nona tidak ada, apa ada wanita lain di kamar!?''cerocos Mike, sedikit khawatir ,setelah mendengar suara dari kamar Refan.
''Kamu tidak usah banyak tanya, ikuti saja apa yang aku suruh, dan siapkan semuanya, besok kita akan pulang, malam ini aku akan selesaikan semuanya .ucapnya datar, namun penuh arti.
Benar saja, dalam semalam Refan sudah menyelesaikan apa yang menjadi permasalahan yang mengharuskan dirinya harus datang langsung,
Berbeda dengan Refan yang begitu bersemangat untuk pulang, Mike sedikit malas karena mengantuk akibat semalam penuh tidak tidur sama sekali .
__ADS_1
Di dalam pesawat ,Mike hanya memejamkan matanya tak peduli dengan Refan, baginya ini adalah suatu siksaan berat, Meskipun Mike selalu di buatnya repot, dengan keinginan pribadinya , Berbeda dengan Mike yang sedang asyik di dunia mimpi ,Refan terlihat dengan matanya begitu tajam untuk memandang, tak ada sedikit pun lelah atau kantuk menghampirinya,
''Mike bangun, apa kamu mau tidur disini terus, apa kamu nggak mau pulang?'' ucap Refan sambil menggoyang goyang sekretarisnya itu.
Mike gelagapan melihat bosnya yang sudah berdiri di sampingnya.
''Maaf bos aku ketiduran, ucap Mike sedikit ragu membuat Refan berdecak.
''Bilang saja kamu memang sengaja tidur bukan ketiduran, ucap Refan menyindir, namun yang di sindir tak marah malah tertawa cengengesan.
Refan dan Mike masuk mobil yang sudah siap membawanya untuk pulang, Namun kali ini Refan menyuruh supir untuk duduk di belakang, Mike yang tau akan bosnya itu langsung saja memasang sabuk pengaman.
Kalau sudah kayak gini, aku harus nyelametin nyawaku sendiri, pasti bos sudah nggak memikirkan ku dan pak supir batin Mike sambil menelan ludahnya dengan susah payah
Tak ada pembicaraan sama sekali ,Mike dan pak supir merasa nyawanya terancam pun hanya diam saja, Sedangkan Refan masih fokus dengan jalanan yang masih ramai,.
''Bos hati hati, aku masih pingin hidup, apa bos lupa kalau aku..... ucapan Mike terhenti karena Refan langsung saja memotongnya, ''Belum nikah, .
''Tenang saja, aku tidak akan membahayakan nyawa kalian, jadi kalian diam saja, jangan banyak bicara, ucap Mike sambil melirik pak supir yang sedang menunduk.
Setelah beberapa menit, mobil sudah terparkir, Refan langsung saja masuk ke dalam rumah, apa lagi tujuannya kalau bukan kamarnya,
Sedangkan Mike dan pak supir masih mengumpulkan nyawanya yang sempat tercecer karena ketakutannya,
''Tuhan masih memberikan kesempatan kita untuk hidup pak ,Bapak berdoalah dan berterima kasihlah, ucapan Mike sambil menghela nafas panjang,
Pak supir pun mengikuti apa yang di ucapkan Mike padanya.
__ADS_1
Ceklek, suara Refan membuka pintu ,Refan melihat ruangan itu kosong, Refan kembali turun, namun tak ada siapapun di rumah termasuk sang bibi dan pak jono, akhirnya Refan kembali ke kamar dan membersihkan diri, niatnya setelah rapi Refan baru akan menanyakan di mana Sahila.
Betapa terkejutnya Refan saat membuka lemari, Refan melihat baju Sahila yang tinggal sedikit, Refan membolak balikkan gantungan itu dan ternyata benar ,baju Sahila memang tinggal sedikit, dan itu pun baju yang tidak di sukanya.
Refan melihat nakas, dan ternyata ponsel Sahila tertinggal di sana, Refan membuka dan melihat notif, beberapa panggilan darinya yang tak terjawab serta beberapa pesan dari Sindi yang belum terbaca.
Dengan tak sabarnya ,akhirnya Refan turun kembali mencari Mike,
''Mike kita keluar sekarang!'' ucap Refan sambil berjalan menuju pintu,
Sebelum mobil Refan keluar pagar, mobil pak Jono masuk, Tefan keluar dan menanyakan apa yang terjadi,
''Pak Sahila ke mana, kenapa di kamarnya tidak ada, bajunya juga tidak ada, sebenarnya dia ke mana? Refan begitu tegas,
Kali ini bukan pak jono yang menjawab melainkan Bibi.
''Pulang kampung den, katanya kangen kampung , bibi juga nggak tau pasti, tapi bibi lihat non Sahila seperti habis menagis, wajahnya terlihat sangat sedih, dan matanya sembab. Bibi menjelaskan.
''Pulangnya kapan Bi?'' tanya Refan kembali.
''Dua hari yang lalu, Setelah mendengar jawaban sang bibi Refan langsung saja naik ke mobilnya kembali, namun kali ini Mike yang di suruh untuk mengemudi, karena pikirannya sedikit kacau, memikirkan dua hari yang lalu di saat dirinya Vc dengan Sahila di restoran, karena itu terakhir kali Refan berbicara dengan Sahila lewat telepon.
''Dasar wanita sialan, awas saja kalau aku sampai ketemu denganmu , aku akan beri perhitungan, aku tidak akan segan segan membuat hidup kamu lebih menderita dari pada sekarang, umpatnya,
Refan terlihat sangat marah, tangannya mengepal siap untuk di luncurkan,
Kali ini Mike hanya diam, takut menjadi pelampiasan genggaman tangan yang kekar itu.
__ADS_1
Perjalanan begitu panjang di tempuh Mike tanpa istirahat sama sekali membutanya semakin lelah, Sedangkan Refan masih fokus dengan semua umpatan umpatan jelek yang terlintas dalam hatinya saat ini.
Like komennya serta votenya ya! ''supaya Authornya lebih semangat untuk nulis.