KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 50.Perjalanan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan hanya ada senyuman yang menghiasi wajah Sahila, ucapan terima kasih berkali kali di ucapkannya untuk Refan,


Hati Refan merasa ikut terhanyut melihat kebahagiaan Sahila.


Andai dari dulu aku sudah membuatnu bahagia ,mungkin sekarang kamu sudah menjadi milikku seutuhnya, kini aku hanya bisa melihat senyum itu, bahkan menyentuh nya pun aku tak bisa, penyesalan memang selalu datang dari belakang, tapi aku bersyukur bisa sedikit menebus kesalahanku. lirih hati Refan


Dalam hati Sahila sudah terbayang sebuah kampung tempat tinggalnya dari kecil, teringat wajah sang ayah yang sudah tiada ,pun ikut terlintas dalam benaknya.


''Apakah mas tau saat aku ke rumah mas waktu itu?'' ucap Sahila polos.


''Memang kenapa, bukankah waktu itu kamu sangat bahagia karena aku melamarmu, ceplos Refan.


''Bukan itu, maksud aku perjalanan ke sana, mobil yang di pakai ayah itu sudah tua dan mogok berkali kali, bahkan ayah sampai bermuka cemong karena memperbaikinya,. tapi ayah tak pernah mengeluh demi membuatku senang, dan aku lebih senang setelah bertemu denganmu, dan di hari itulah aku merasa orang yang paling bahagia meskipun itu hanya sesaat, ucapnya semakin pelan dan menunduk.


Refan tertawa melihat tingkah Sahila, membuat nya bingung.


''Kenapa tertawa aku nggak ngelawak?''.


''Maaf, setidaknya aku pernah melamarnu, meskipun sekarang nggak mungkin, pasti nanti akan ada orang yang melamarmu dengan lebih indah dan romantis dari pada itu, dan aku harap kamu lebih bahagia lagi dengannya.


Sahila terdiam seribu bahasa mendengar kata Refan ,sedangkan hati Refan merasa teriris mengucapkan kata katanya sendiri,


Sahila melihat peluh di dahi dan pipi Refan dan mengelapnya.


''Apa kamu lelah sampai berkeringat,, tanya nya.


''Sedikit, aku jarang nyetir sejauh ini, tapi aku kan sudah dua kali ke rumah kamu, dan ini kedua kalinya aku mengemudi sendiri.


''Aku juga pingin bisa bawa mobil sendiri, tapi itu nggak mungkin,


''Kenapa, aku bisa ngajarin kamu,


''Aku kan nggak punya mobil, lagi pula aku sudah pernah naik mobil mewah meskipun numpang,.


Refan tertawa lebih keras mendengar ucapan Sahila. Refan merasa Sahila adalah orang yang sangat bodoh,padahal mau beli sekarang pun bisa, tapi Sahila tak menyadari itu,


''Kamu pingin mobil yang seperti apa,? ''

__ADS_1


''Nggak ah, mobil kan mahal, lagian aku belum kerja, nanti kalau aku sudah kerja aku akan beli mobil dan mengajak Ibu jalan jalan,


''Itu terlalu lama, bilang saja sekarang, papa itu bukan orang miskin, kalau hanya mobil baginya beli jajan di warung, apa kamu nggak pernah lihat uang yang ada di kartumu?''.


Sahila menggeleng, karena waktu mengambil uang pun Sindi yang mengambilnya dan Sahila tak mau tau berapa isinya.


''Ya sudah ,sepulang dari kampung nanti aku ajarin kamu nyetir.ucapan Refan langsung di jawab anggukan oleh Sahila.


Tak terasa, mobil Refan sudah memasuki perkampungan Sahila membuat wajah nya semakin berseri seri, tak ada kata yang bisa di ucapkannya melainkan senyuman yang kini selalu menghiasi wajahnya.


Refan pun sering kali melirik wajah yang penuh keceriaan itu,


''Akhirnya kita sampai juga, sambil mematikan mesin mobilnya.


Tanpa tanggung tanggung Sahila langsung berlari menuju rumahnya, bukan mengetuk pintu melainkan berteriak memanggil sang Ibu.


Setelah beberapa lama tak ada sahutan membuat Sahila sedikit bingung dan menghampiri Refan yang masih mengeluarkan oleh oleh untuk Ibunya.


''Mas, Ibu nggak ada, pintunya terkunci, ucap sahila sedikit resah.


''Mungkin Ibu sedang keluar, kita tunggu saja!''.


''Ibu.... teriak Sahila membuat sang empu tersenyum,


''Anak Ibu, kamu pulang kok nggak bilang bilang dulu, kan Ibu bisa masak untuk kalian. ucap Sang Ibu,


''Nak Refan, apa nggak capek ke sini terus, perjalanan ke sini kan jauh, dan ini apa, kalian nggak usah repot repot, sambil melihat banyak paperbag ,


Refan tersenyum, lain halnya dengan sahila sedikit bingung, dengan kata kata Ibunya.


Tapi sahila hanya diam saja, tak melanjutkan apa yang ingin di katakannya, menurutnya itu sudah tak penting, dan kini Sahila terus bergelayut di pelukan sang Ibu.


''Bu, aku sangat merindukanmu, untung saja mas Refan mau mengantarku, kalau nggak, mungkin sekarang aku akan sangat bersedih.


''Kamu ini merepotkan saja, Nak Refan pasti bela belain nggak masuk kantor hanya demi kamu, lain kali jangan di ulangi, nunggu hari libur saja, ucap Bu Nur.


Refan terdiam karena sedikit lelah, dengan perjalanannya yang memakan waktu.

__ADS_1


''Apa Ibu nggak suka aku pulang?'' Sahila mulai sewot mendengar Ibunya.


''Bukan begitu, mengertilah, kamu nggak lihat nak Refan kelihatannya sangat lelah,


Sahila beralih memandang Refan dengan wajah yang memang terlihat lelah, namun di hiasi senyuman.


Aku ingat pertama kali kamu datang ke sini memarahi dan menghina aku dan Ibuku, tapi kamu sekarang datang dengan penuh senyuman,meskipun sudah berkali kali kamu menyakitiku, tapi dalam hatiku tidak bisa membencimu,bahkan aku sangat mengangumimu, pria sombong itu sudah meluluhkan hatiku, bahkan rasa ini sangat berbeda saat aku bersama kekasihku dulu, batin Sahila.


''Sa, kenapa kamu memandang nak Refan terus, apa kamu tidak mau membuatkan minuman untuknya!''.


Sahila mengangguk dan beranjak dari duduknya.


''Maaf nak Refan, Sahila memang seperti itu, kekanak kanakannya itu masih saja melekat,


''Nggak apa apa Bu, aku senang bisa mengantarnya pulang, sekalian jalan jalan, ucapnya dengan ramah.


Setelah seharian penuh, Sahila hanya bisa menikmati sekitar rumahnya ,karena waktu yang begitu singkat ,membuatnya menggerutu,.


Namun itu tak di gubris Refan maupun sang Ibu,


Setelah berpamitan dengan sang Ibu, Kini mobil Refan sudah mulai melaju, ada rasa sedih di hati Sahila, namun inilah yang terjadi ,dia harus meninggalkan sang Ibu dan kembali dengan kehidupannya.


Sepanjang perjalanan pulang tak ada yang bersuara karena Sahila tertidur,


Refan menghela nafas panjang, setelah sampai di halaman rumahnya rasa lelah langsung hilang setelah melihat wanita yang ada di sampingnya.


Refan menyelipkan rambut Sahila yang berantakan,


Namun Sahila yang merasa ada sentuhan langsung tersadar dan membuka matanya.


''Mas, apa kita sudah sampai,?''tanya Sahila sambil menoleh ke arah kanan kiri.


Refan mengangguk dengan penuh senyuman.


''Maaf aku ketiduran,


''Nggak apa apa, tapi kalau nanti kamu sudah bisa nyetir, gantian aku yang jadi penumpang dan kamu yang mengemudinya. Candaan Refan yang langsung di tanggapi serius.

__ADS_1


''Baiklah tuan, sekarang mari kita turun, aku mau tidur lagi, sambil melepas sabuk pengaman.


Keduanya turun dan masuk rumah, benar saja Sahila langsung masuk ke kamarnya untuk tidur, membuat Refan geleng geleng.


__ADS_2