KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 123.Perjodohan Ririn


__ADS_3

Pagi ini memang pagi yang sangat cerah, Sahila dan Refan mengawali paginya duduk di balkon kamarnya, Refan memijat tengkuk leher Sahila setelah beberapa kali merasa mual dan muntah,


''Gi mana, apa masih mual, tanya Refan. tangannya masih setia memijat Sahila dengan lembut.


Sahila menggeleng, Badannya terasa lemas, karena beberapa hari ini pun Sahila sulit untuk makan,


Sayang, jangan kamu siksa mama, kasihan dia, baik baiklah di dalam perut, papa dan mama akan menyayagimu, meskipun kamu belum berada di dunia ini .batin Refan sambil mengelus perut Sahila yang masih rata.


''Mas, kira kira bayi kita ini laki laki apa perempuan ya? Sahila ikut menaruh tangannya di atas tangan Refan.


''Laki laki atau perempuan sama saja, yang penting sehat, dan mas tidak menuntut, karena ini pemberian Tuhan yang paling istimewa, ucapnya sambil mencium pucuk kepala Sahila.


Setelah lama bercengkerama, tiba tiba ada yang mengetuk pintu, Refan beranjak dan membukanya.


''Ririn, ngapain kamu kemari, apa kamu nggak ke rumah sakit?'',.Refan diam karena tak mendapat jawaban dari Ririn,


Refan mendongakkan dagu Ririn dengan jarinya yang dari tadi menunduk di depannya .


''Kok wajahnya cemberut, memang kenapa?'' tanya Refan pelan..


''Apa aku boleh menemui kakak ipar?'', Masih dengan wajah yang cemberut, Ririn meminta izin pada Refan.


''Masuklah, dia ada di balkon. tanpa kata, Ririn langsung berjalan menghampiri Sahila.


Sahila kaget melihat Ririn yang tiba tiba memeluknya di sertai tangisan.


Sedangkan Refan membuntutinya dari belakang.

__ADS_1


Sahila melihat Refan dan mengedipkan mata, memberi tanda supaya Refan meninggalkan mereka berdua.


''Menangislah Rin, kalau itu membuatmu lega, ucap Sahila penuh dengan kasih sayang.


Setelah mendapat izin, Ririn mengeraskan tangisannya membuat Refan menghampiri mereka.


''Sayang, kamu apain Ririn, kenapa dia semakin kencang nangisnya?'', tanya Refan heran,


Sedangkan Sahila hanya mengangkat kedua bahunya.


Refan pun ikut duduk di samping Ririn mencoba memulai percakapan,.


''Kalau kamu sudah merasa lega ,sekarang bicaralah, kami akan mendengarkanmu, Sahila.


''Kak, aku di jodohin, mama dan papa menelponku, minggu depan mereka akan ke sini, dan mereka akan segera meresmikan perjodohanku dengan pria yang tak ku kenal , ucapnya di sela sela tangisannya.


''Semudah itukah kau mengucapkan kata untuk menolak.?''Sahila.


''Maaf.'' Refan menggeleng dan langsung saja menunduk dan diam,


''Rin ,bukannya kakak lancang, tapi sekarang ceritalah, bagaimana sebenarnya isi hatimu sekarang, Sahila.


''Kak, aku ingin menikah dengan laki laki yang aku cintai, aku nggak mau hidup dengan orang asing, menurutku mereka itu egois, tidak mau mendengar apa kata kataku, bahkan mereka langsung menutup teleponnya begitu saja sebelum aku menjelaskan nya, Ririn masih saja menangis.


Sahila menghela nafas, sedangkan Refan sudah tak berani bicara apapun, apa lagi kalau membela Ririn pasti Sahila akan memarahinya.


''Tenang saja, siapa bilang kamu akan hidup dengan orang asing, kalau orang tuamu menjodohkanmu dengannya , berarti pria itu memang pantas untuk mu, berarti pria itu adalah orang yang baik ,dan bisa bertanggung jawab, bisa menuntunmu ke jalan yang benar, dan aku yakin orang tuamu tidak akan memilih pria yang sembarangan untuk anaknya, nggak mungkin ada orang tua yang akan menjerumuskan anaknya masuk ke dalam jurang, semua orang tua itu pasti sama, mereka menginginkan anaknya bahagia, Kamu lihat saja mas Refan,.

__ADS_1


Kok aku di bawa bawa ,kenapa ini, seketika batin Refan menerka.


''Mas Refan menikah dengan mbak Kania, wanita yang sangat di cintainya, dan menolak perjodohan dari papa, yaitu kakak, tapi apa, akhirnya bagimana, kamu lihat sendiri kan, padahal tak bisa di pungkiri, kalau mas Refan dan mbak Kania terlihat sangat serasi, bahkan semua orang pun iri melihat nya, mereka sangat cocok, tapi kamu harus percaya jodoh, jodoh itu tidak akan tertukar, dengan cara apapun kamu menolak perjodohan ini, kalau memang pria itu jodoh kamu, pasti dia akan tetap menjadi pendamping hidup kamu, tapi jika tidak, pasti semakin lama dia akan semakin menjauh, kamu tinggal bilang saja kalau kamu menerimanya, asalkan kamu minta waktu untuk mengenalnya, dan kakak yakin kalau orang tuamu akan memahami keadaanmu, Sahila bicara panjang lebar membuat Refan diam seribu bahasa, namun dalam hatinya banyak menerka.


Kamu benar sayang, aku menolak mu, tapi sekarang bahkan aku yang mengejarmu, aku yang tidak bisa hidup tanpamu, kamu hidupku, lirih hati Refan.


''Rin ,semua yang di katakan kakak iparmu itu benar, jangan mengulangi kesalahan seperti kakak, kakak yakin om dan tante akan memberikan yang terbaik untukmu, jadilah wanita yang penurut ,Memang setiap laki laki itu berbeda, tapi mereka tetap sama,mereka akan mencintaimu dengan tulus jika kamu mau bersabar, ucap Refan menimpali Sahila ,Refan tidak mau mempunyai pendapat lain ,karena takut sang istri itu marah, tapi memang yang di ucapkan Sahila itu semuanya benar.


''Kalian ini memang pasangan yang serasi, dari cara kalian bicara saja aku sudah iri, aku akan dengar nasehat kalian ,aku akan menerima perjodohan ini, dan kalian doakan saja semoga laki laki yang di jodohkan dengan ku itu laki laki yang tulus dan baik , yang bisa menerima aku apa adanya, ucap Ririn sambil memeluk Sahila sekali lagi, mengucapkan terima kasih berulang kali pada Sahila atas saran yang di berikannya


''Kalau begitu aku keluar dulu ,dan maaf aku sudah mengganggu kalian, ucapnya sambil berdiri,.


Sahila mengangguk, ''Tidak usah seperti itu ,kamu tidak mengganggu kami, jadi kapan pun kamu butuh bantuan kami, kami siap membantu, iya kan mas? '',


Refan mengangguk.


''Terutama pada kakak iparmu, sahut Refan.


Setelah kepergian Ririn, Refan mendekati sang istri dan memeluk erat,.


''Kenapa mas, kok sekarang jadi kamu yang manja, nggak terbalik.?''Sahila.


''Aku suka gayamu yang seperti ini, aku suka kelembutanmu dalam berbicara, tapi semua yang kamu katakan itu tak pernah sekali pun menyakiti hati orang lain, makna di setiap kata yang keluar dari mulutmu itu sangat berarti, jadilah Sahila yang seperti ini untuk selamanya, ucapnya masih memeluk sang istri.


''Jangan terus menyanjungku, kalau ketinggian itu bisa menjatuhkanku, dan aku nggak mau itu ,cukup aku berada di sampingmu, aku juga bersyukur karena kamu sudah berubah, kamu bukan Refan yang dulu yang penuh dengan kesombongan dan keangkuhan, tetaplah seperti ini, dan jadilah Refan yang aku banggakan, Sahila.


Keduanya saling peluk ,menikmati indahnya pagi yang cerah, matahari yang menampakkan cahayanya seakan memberi gambaran isi hati Sahila saat ini yang sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2