
Bu Nur menarik tangan Sahila untuk berdiri di sampingnya, melihat Refan yang masih menopangkan lututnya di lantai membuatnya merasakan iba.
''Bu kasihan mas Refan, dia kan sudah menyesali semua kesalahannya, lagi pula sekarang kami sudah hidup bahagia, ucapnya di sela sela tangis.
Sedangkan Refan masih bergeming dengan tempatnya di depan sang Ibu mertua.
Sahila ikut berjongkok memegang kedua tangan Refan.
''Mas, maafkan sikap Ibu yang kasar, mengusap wajah Refan yang sudah basah dengan air matanya.
''Ibu benar, Mas bukan laki laki yang baik untuk kamu, tapi karena mas sudah terlanjur mencintai kamu, mas akan tetap mempertahankan kamu, bagaimana pun caranya.''
Sahila mengangguk dan kembali berdiri di samping sang Ibu.
''Kalau Ibu tau kelakuan dia sama kamu dari dulu, Ibu tidak akan merestui pernikahan kalian.'' ucapnya lantang.
Refan menghela nafas panjang mendengar semua ucapan sang mertua.
''Ibu akan membawa kamu pergi dari sini,'' ucapnya menarik tangan Sahila menuju tangga, Refan yang tau akan emosi mertuanya itu langsung berdiri membuntuti dari belakang.
''Bu, aku mohon jangan bawa istri dan anakku pergi dari sini, aku akan lakukan apapun untuk mendapat maaf dari Ibu,'' ucapnya sembari berjalan menuju kamarnya,
Sahila tak berbuat apa apa, meskipun tangannya sudah meronta minta di lepaskan, faktanya itu tak berhasil juga.
Meskipun berjalan kedepan, namun matanya menatap ke belakang memandang wajah sang suami yang mengejarnya dan sudah menitihkan air mata.
''Mas...'' panggilnya seraya menangis.
''Sayang mas mohon jangan ikut Ibu pulang, kamu dan Kyara kalian adalah hidupku, kalau kalian pergi mas gi mana?'' bahkan ucapan Refan mulai melemah.
Sahila kembali menghadap Ibu nya.
''Bu, Sahila memang anak Ibu, tapi sekarang Sahila adalah seoarang istri dan harus menurut apa kata suami Sahila Bu, kalau Ibu mengajakku pergi hanya untuk sementara aku akan ikut, tapi kalau Ibu mau memisahkan aku dari mas Refan, maaf aku tidak bisa,'' Sahila menangkupkan kedua tangannya.
Bu Nur melipat kedua tangannya dan beralih menatap Refan.
''Kamu dengarkan, anak Ibu mati matian membela kamu, dan dia akan menurut apa kata kamu, jadi sekarang bilang sama dia untuk ikut Ibu pergi, kalau kamu tidak melakukannya, Ibu akan memintamu untuk menceraikannya, ucapnya tepat di depan Refan yang membuat keduanya terbelalak.
Sahila tidak menyangka kalau Ibu nya seserius ini, bahkan ini bukan sifat Ibunya yang mudah memutuskan sesuatu yang besar tanpa mempertimbangkan dengannya.
__ADS_1
Lebih baik kamu ikut Ibu sekarang dan aku akan memperjuangkanmu kembali dari pada kita bercerai, batinnya.
Refan berjalan pelan ke arah Sahila yang mematung di belakang Ibunya.
Maraih tubuh kerempengnya dan memeluknya.
Keduanya diam dan saling meneteskan air matanya.
''Sayang kamu dengarkan mas!" Kini menangkup kedua pipi Sahila dan menatap manik matanya yang sudah memerah karena kebanyakan mengeluarkan air matanya.
''Tidak apa apa, sekarang kamu ikut Ibu, nanti mas akan menyusulmu, kamu nggak mau kan kalau kita cerai?'' tanya nya masih dengan pandangannya ke arah mata Sahila.
Sahila mengerti dua pilihan itu memang sangat sulit bagi Refan, tapi kalau Refan tidak memutuskan nya masalah tidak akan terlewati.
Sahila mengangguk dan kembali memeluk sang suami.
Mulai saling melepaskan tangannya, dan Sahila masuk ke dalam kamarnya.
Mengambil tasnya dan memilih baju yang akan di bawanya, sedangkan sang Ibu sudah siap menunggu sambil menggendong Kyara.
Refan merasakan ada sedikit kesusahan melihat Ibu mertuanya saat menggendong Kyara dan membawa tasnya.
''Tidak usah," jawab Bu Nur ketus.
Melihat putri kecilnya tidur Refan semakin tersayat hatinya.
Mengusap air matanya dan mencium pipi Kyara yang sedang terlelap.
''Kyara sayang, kamu yang pintar ya, jangan bikin Oma marah, jadi anak yang pintar," bisiknya.
Beralih ke belakang melihat Sahila juga sudah siap membawa tasnya.
''Kamu hati hati ya sayang, Mas akan menyusul kamu secepatnya, Jangan lupa nanti kabari mas kalau kamu sudah sampai, Refan memeluk sang istri kembali, wanita yang sudah dua tahun ini membuatnya merasa bahagia.
Sahila sudah kehabisan kata hanya bisa mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan Refan yang mulai runtuh dengan kakinya yang kini lentur.
Kejadian dalam sekejap yang mampu membuat tubuh Refan kaku dan seakan mati.
Refan yang mengingat wajah Sahila saat bermanja padanya, langsung masuk ke kamarnya dan menuju balkon kamarnya yang menuju halaman bawah.
__ADS_1
Sahila tersenyum kecil sambil mendongak menatap Refan yang terlihat kacau.
''Mas akan menjemputmu kembali," ucapnya sedikit berteriak dan tak mempedulikan Ibu mertuanya.
Sedangkan Sahila mengangguk dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan yang terakhir sebelum masuk ke dalam taksi.
Belum juga mobil yang di tumpangi Sahila keluar dari gerbang, mobil Mike sudah masuk ke dalam, dan itu kembali menggugah semangat Refan untuk menemui Mike saat ini, tak mau putus asa dan akan tetap usaha.
Refan kembali melangkahkan kakinya keluar kamar walaupun saat ini terasa berat.
''Siapa tadi bos?'' tanya Mike sambil menoleh keluar.
Belum juga bicara, Refan melihat Ana yang muncul dari belakang.
''Ana kamu boleh pergi dari sini?'' nanti kalau Ibu dan Kyara sudah pulang, aku akan menelpon kamu dan kembali kerja disini, ucapnya sambil memberi sebuah amplop yang berwarna coklat.
Maksud bos apa, kenapa menunggu Nona kembali, Memang Nona ke mana? batin Mike bingung.
''Kamu nggak mau duduk," menawari dan mencoba tidak cengeng di depan Mike saat ini.
Tumben ramah, batinnya kembali.
''Mike, Ibu membawa Sahila pergi, karena Ibu mendengar semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada istriku dulu, dan kayaknya Ibu sangat marah padaku dan sekarang kamu tau kan, apa yang harus kamu lakukan, karena saat ini aku tidak bisa berfikir, otakku buntu, mengucapkan, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
''Kenapa di biarkan?" tanya Mike masih dengan nada santai.
Refan kembali membuka wajahnya dan menatap Mike dalam dalam.
''Kalau aku mencegahnya untuk membawa Istri dan anakku pergi, Ibu ingin aku menceraikannya, ucapnya kembali membuat Mike tersentak kaget.
''What... bercerai, kenapa sampai segitunya," Mike bingung, kenapa hanya karena masa lalu Ibunya Sahila masih se serius ini, toh Refan dan Sahila sudah saling cinta dan bahagia bahkan mereka sudah mempunyai anak, mungkin itulah yang ada dalam fikiran Mike saat ini.
''Kalau gitu kita kejar sekarang, mengatakannya sambil beranjak.
''Jangan!'' suara Refan pun kini menghentikan langkahnya.
''Kenapa?''
Sekarang Ibu masih emosi, dan aku nggak mau kalau Ibu semakin marah padaku, besok saja, kita nunggu kabar dari Istriku, Oke."
__ADS_1
Refan menjelaskan pada Mike yang juga terlihat bingung .