
Dunia itu memang seperti roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah, lain jiwa lain pula cerita,
''Kamu apa apaan sih Bram, siapa dia,? Kania sangat marah melihat Bram bersama dengan wanita lain didalam apartemennya.
Bram menyunggingkan senyumnya,
''Model baruku, jawab Bram santai .
''Jangan bilang kalau kamu suka sama dia? ''tanya Bram serius.
''Kania, Kania, memangnya kalau aku suka sama dia kenapa? ''toh dia juga lajang, kamu yang punya suami aja aku bisa menikmati tubuhmu, bukan sindiran melainkan kenyataan dari Bram membuat Kania hancur seketika.
Bram kembali duduk dengan gadis cantik yang saat ini berstatus menjadi model baru Bram .
Brengsek kamu Bram, ternyata selama ini kamu anggap apa hubungan kita, aku sudah menyerahkan semuanya padamu, bahkan aku tak mempedulikan Refan hanya demi kamu, tapi sekarang kamu sudah menghianatiku, batin Kania.
Kemarahan Kania memuncak saat melihat Bram mencium gadis itu di depannya, kedua tangannya mengepal ,
Kania berjalan gontai menghampiri dua insan yang saling bermesraan.
Satu tangan Kania yang tak sabar sudah mendarat pada rambut gadis itu,
''Sakit, keluh gadis itu saat Kania menjambak rambutnya..
gadis itu meringis kesakitan membuat Bram kesal pada Kania.
''Lepaskan, apa apaan kamu,sambil melepas tangan Kania yang masih memegang rambut gadis itu.
Ini pantas untuknya yang sudah merebutmu dariku,
Bram tertawa keras sekeras kerasnya..
''Merebut, kamu salah Ka, dia tidak merebutku dari kamu, lagian aku dan kamu nggak ada hubungan apa apa, kita cuma sebatas partner kerja, apa salah, aku mencari model lain yang lebih segala galanya dari pada kamu, ucap Bram di telinga Kania,
Kania memutar badannya dan melayangkan sebuah tamparan tepat di pipi Bram,
''Apa kamu bilang, partner kerja, Kania menggeleng gelengkan kepalanya, kamu memang laki laki brengsek yang pernah aku temui, bahkan dengan gampangnya aku menghianati Refan hanya demi laki laki brengsek seperti kamu,
Kemarahan Kania memang beralasan, tapi itulah kenyataan saat ini.
Kania berlalu meninggalkan Bram,
''Sialan, selama ini dia hanya memanfaatkanku saja, umpatnya.
Lain pula Kania yang marah saat ini, Sahila semakin gelisah di dalam kamarnya, hari pun mulai malam, matahari sembunyi di balik awan, Kania dan Sindi hanya bisa melihat dari balkon kamarnya.
__ADS_1
''Sin, gi mana kalau sampai kita nggak bisa keluar dari sini, ucap Sahila putus asa,
''Aku juga nggak tau, dan aku juga nggak punya cara untuk itu, ucap Sindi yang sama lemasnya karena hampir seharian memikirkan cara untuk keluar namun tak menemukan juga.
Sedangkan Refan dari ruang keluarga baru menuju kamarnya,
Refan mulai merebahkan badannya menatap langit langit kamarnya, entah apa yang di pikirkannya saat ini.
Tak berselang lama denguran suara mobil keluar dari halaman,membuat Refan beranjak, karena pintu menuju balkon kamarnya terbuka,
Refan mengerutkan alisnya melihat mobil berlalu dari rumahnya,
Karena setelah Refan masuk pak Cakra mengirim pesan untuk Sahila supaya cepat keluar, di samping itu bibi mengunci kamar Refan sebentar, dan untungnya semua rencana itu berjalan dengan lancar.
Refan masuk kembali, tak sengaja melihat laci yang sedikit terbuka,
Perasaan aku nggak pernah membuka laci itu, kenapa terbuka, batin Refan
Refan mendekatinya dan hampir menutupnya, tapi tak sengaja matanya melihat sebuah kotak kecil,
Refan mengambilnya dan membolak balikkannya, sambil mengingat apa isi kotak itu,
''Kenapa sepertinya ini tak asing, apa isi kotak ini, apakah ini punyaku, atau mungkin ini punya papa, lirihnya
Karena saking tak sabarnya Refan membuka kotak yang berisi sebuah cincin .
Fhlasback off
Di kamar mewahnya, Refan sedang di kurung oleh pak Cakra, karena perkelahiannya di sekolah ,membuat Refan marah dan tak mau bertemu siapa pun.
Waktu yang bersamaan pula sahila dan ayahnya bertamu.
''Ayah Sahila dan pak Cakra berbincang bincang, saling menanyakan kabar, karena semenjak ayah Sahila pulang kampung, baru sekali main ke rumah pak Cakra dan itu pun waktu yang sudah beberapa tahun..
''Di mana den Refan tuan, apa belum pulang sekolah ?''tanya ayah Sahila.
''Biasa dia berkelahi, dan sekarang saya kurung di kamar, anak itu nggak berubah dari dulu memang suka berantem, bikin geram saja,
''Den Refan kan masih kecil tuan ,nanti kalau sudah besar pasti juga berubah, lagian maklum lah den Refan itu pasti pingin kasih sayang seorang Ibu.
''Ini putrimu, tanya pak Cakra sambil menunjuk Sahila.
''Iya tuan, ini Sahila putri saya,
''Cantik, gi mana kalau dia kita jodohkan dengan Refan.
__ADS_1
''Saya sih setuju saja tuan, tapi nggak tau kalau mereka sudah dewasa, kalau mereka menolak gi mana kita kan nggak bisa berbuat apa apa.
Pak Cakra mendekati Sahila dan memangkunya. ''Anak manis, kamu mau kan bujuk anak Om di kamarnya, ucap pak Cakra pelan.
''Bujuk untuk apa Om, suara kecil Sahila.
''Bujuk supaya jangan berantem dan memukul temannya lagi saat di sekolah.
Sahila mengangguk dan berlari ke kamar Refan.
Sahila membuka pintu kamar, dan melihat anak laki laki yang sedang meringkuk di balik selimut,.
Refan terbangun saat mendengar sebuah langkah mendekatinya..
''Kamu siapa, ngapain ke kamarku,?''
''Aku nggak mau kasih tau, sebut saja aku gadis cantik, pasti aku senang mendengarnya,
''Baiklah gadis cantik ,apa tujuanmu kemari, siapa yang menyuruhmu?''
''Papa kamu, dan ayah aku, mereka berdua yang menyuruhku untuk menemui mu dan memintaku untuk membujukmu supaya tidak suka bertengkar lagi.
''Baiklah tapi aku punya syarat.
''Apa syaratnya?'',
''Kamu harus mau jadi kekasihku, jika kita sudah besar nanti aku akan menjemputmu, dan akan menikahimu, ucap Refan kecil dengan polosnya.
Refan berlari menemui papa Cakra, dan betapa terkejutnya melihat orang yang dulu bekerja sebagai supirnya.
''Apa gadis cantik itu anak paman?''
Ayah Sahila hanya mengangguk.
''Pa, beliin aku cincin untuk gadis cantik itu, aku akan memberikannya saat dia sudah dewasa nanti, aku mau melamarnya sekarang ,ucap Refan kecil membuat pak Cakra dan ayah Sahila tertawa keras.
Selang beberapa waktu, Refan kembali ke kamar dengan membawa sebuah kotak kecil.
''Apa itu ?''tanya Sahila sambil menunjuk sebuah kotak yang di bawa Refan.
''Ini cincin untuk mu nanti, papa yang belikan, dan akan aku simpan, jika nanti kita menikah akan aku pasangkan di jari manismu, ucap Refan kecil yang penuh dengan wajah polosnya membuat Sahila kecil tersenyum.
''Baiklah kalau begitu, mulai sekarang jangan suka berantem ,dan aku akan menunggumu untuk menjemputku nanti .
Setelah itu Refan dan Sahila kecil langsung berpisah, karena Sahila harus pulang karena hari sudah sore.
__ADS_1
Flashback on
'Apa kabar gadis itu, apa dia masih menungguku? ''tanya nya pada diri sendiri.