
Seperti hari sebelumnya, Kali ini Sahila sudah berpakaian rapi dan melihat dirinya dari pantulan cermin.
Kenapa sepertinya aku gendut ya, apa ini cuma perasaanku saja, batinnya sambil mencubit pipinya sendiri.
Refan hanya sesekali melirik dari atas ranjang, melihat tingkah konyol Sahila.
Sahila berjalan menghampiri Refan dan kini duduk di samping Refan.
''Mas, kenapa sekarang aku makin gendut, apa aku banyak makan ya?'', ucapnya sambil mengambil ponsel yang di mainkan Refan.
''Nggak apa apa, lagian aku akan tetap suka meskipun kamu gendut, bagiku nggak masalah ,mau segede apapun aku akan tetap menjadi suami kamu, ucapnya santai.
''Tapi biasanya laki laki kan suka cewek yang berbadan ramping dan seksi, seperti mbak Kania itu, ucap Sahila keceplosan. namun dengan cepat Refan menarik Sahila ke pelukannya.
''Jangan sebut nama itu lagi, aku nggak suka, apa lagi itu keluar dari mulutmu, aku nggak mau dengar lagi kamu menyebut namanya.
Sambil mengelus punggung Sahila.
''Tumben ,sepagi ini kamu sudah rapi memangnya kamu pingin jalan kemana? ''
''Laut lagi, kali ini aku pingin naik kapal pesiar, aku pernah lihat di tv mereka mengungkapkan kebahagiaannya dengan berteriak di atas kapal pesiar, dan aku sekarang ingin melakukannya.
''Baiklah sekarang kita berangkat,
Refan langsung beranjak dari ranjang mengambil baju ganti untuk keluar,
'', Istriku ingin naik kapal, cepetan kalian siapkan sekarang!''ucap Refan pada body guart suruhan pak Cakra.
''Baik tuan, kami akan segera persiapkan, ucapnya sambil berlalu meninggalkan Refan yang mematung
Setelah menunggu beberapa menit, kini Sahila di tuntun menuju tempat ,di mana banyak sekali kapal pesiar ,
Sahila kagum dengan berbagai kapal yang berada di bibir laut, dan semua itu tak pernah terlitas di otaknya.
''Mas,apakah ini nyata,?''ucap Sahila membelalakkan matanya.
Semua ini nyata, dan cepat kita naik,
__ADS_1
Refan menjulurkan tangannya, menuntun Sahila untuk naik,.
Sahila sangat menikmati indahnya laut dari atas kapal, melihat pemandangan yang belum pernah di lihat sebelumnya.
''Ini benar benar seperti mimpi, aku nggak nyangka semua keinginanku menjadi nyata, aku sangat bersyukur dengan semua ini, terima kasih mas, sekarang kamu benar benar menjadi perisaiku, ucapnya sambil mengalungkan tangannya di leher Refan.
''Jangan terlalu memujiku, sekarang berteriaklah apa yang ingin kamu katakan!''
''Tuhaaaaan, terima kasiiih.... atas semuanya, semoga Engkau selalu memberikan kenikmatan untukku, jangan biarkan semua ini berlalu, Teriak Sahila sambil berdiri di depan Refan.
Sahila menghela nafas panjang dan berbalik menghadap Refan.
Keduanya saling pandang, larut dalam suasana, angin laut menerjang rambut panjang Sahila dan terurai di wajah Refan.
Refan tersenyum, dan mencium kening Sahila dengan lembut dan lama.
''Sekarang apa kamu sudah puas melihat laut ini, ucap Refan sambil memegang tengkuk leher Sahila dengan kedua tangannya.
Sahila mengangguk, dan keduanya saling memeluk.
Setelah beberapa jam ,Sahila mulai bosan dan mengajak untuk kembali, hal itu pun langsung saja di turuti Refan,
''Baiklah nona, besok kita pulang, jangan merengek lagi, aku nggak punya eskrim di sini, ucap Refan sambil bercanda.
Berbeda dengan Refan yang saat ini menikmati kebahagiaannya dengan Sahila,
Kania saat ini sedang terpuruk, karirnya semakin menurun, semenjak Bram meninggalkan dirinya dan mempunyai kekasih baru,
''Kamu benar benar laki laki brengsek, aku menyesal sudah meninggalkan Refan demi kamu,kalau bukan karena kontrak ini ,mungkin aku akan kembali ke Indonesia, aku yakin Refan masih menungguku, dia sangat mencintaiku, gumamnya,
Setelah kepergian Refan ,Kania menjadi wanita yang bekerja keras, selain menjadi model ,usaha lain pun di lakoninya, dan itu dari harta yang di berikan Refan.
Apartemen pemberian Refan pun kini menjadi tempat tinggal satu satunya, sedangkan Bram sudah tak peduli dengan Kania.
Kania melihat layar ponsel, nomor kontak Refan masih di simpannya.
''Aku yakin kamu akan menerimaku kembali, pasti tidak ada wanita lain yang bisa kamu cintai selain diriku, aku akan secepatnya kembali, dan aku pastikan kamu akan menjadi milikku lagi, ujarnya.
__ADS_1
Karena rasa cinta Refan untuknya memang begitu besar sebelum menikah, sampai harta pun tak jadi masalah jika sudah menyangkut Kania, Semua yang di inginkan Kania selalu terkabul, itulah yang membuat Kania merasa yakin dengan Refan.
Akhirnya dengan tidak sabarnya Kania menghubungi Refan.
Masih dengan Santainya ,Refan dan Sahila berada di dalam kamar.
Refan merebahkan tubuhnya karena lelah menuruti kemauan Sahila yang dari pagi terus saja mengajaknya ke laut .
Sahila yang mendengar bunyi ponsel pun langsung mengambilnya, karena tak ada respon dari Refan.
Sahila mengernyitkan dahinya, karena tak ada nama yang tertera, ''Mas, ada Telepon, ucap Sahila sambil menyodorkan benda pipih itu,
Refan melihat dan sedikit bingung, Nomor siapa ini, kenapa nggak ada namanya,
Refan melihat lagi, ternyata itu ponsel pribadinya, hanya untuk keluarga dan teman terdekatnya saja.
''Kenapa nggak di angkat?'' tanya Sahila saat melihat Refan hanya diam dan memikirkan sesuatu.
Refan mengangguk dan mulai menaruh di telinganya.
''Halo... ucapan pertama kali dari Refan untuk sang penelpon.
Halo juga sayang, gimana kabarmu, apa kamu baik baik saja, ini aku, kamu pasti nggak lupa kan dengan suaraku, ucap dari seberang sana.
Dalam sekejap ,Refan langsung membelalakkan matanya ,matanya melihat ke arah Sahila yang sedang duduk di sampingnya ,mungkin bisa dengan jelas mendengar suara Kania.
Refan langsung saja menutup bibir Sahila dengan satu jarinya, memberi tanda Sahila untuk diam dan menyalakan loudsepeaker nya.
''Apa uangmu sudah habis sampai kamu menelponku? ''ucapan Refan langsung saja mengarah tujuan,
''Ayolah Ref, apa kamu nggak kangen sama aku, aku tau kamu pasti merindukanku, aku menyesal ,kasih aku kesempatan yang kedua, aku janji tidak akan meninggalkanmu seperti dulu. ucap Kania melas.
''Apa kamu tidak tau malu, sampai mengemis padaku, kamu pikir aku sebodoh dulu yang gampang kamu bodohi, sudahlah Ka, jangan ganggu aku, sekarang aku sudah bahagia tanpamu, ucapan Refan yang terakhir dan langsung menutup telponnya.
Kenapa mas Refan tidak mengatakan kalau sudah punya istri, apa dia malu punya istri seperti aku, dulu istrinya sangat cantik dan seksi, sedangkan aku hanya wanita kampung,apa mas Refan masih mencintai Kania, batin Sahila.
Sahila memandang Refan yang saat ini seperti memikirkan sesuatu sambil membolak balikkan ponselnya.
__ADS_1
Sedangkan Sahila memandang Refan dengan penuh tanda tanya, kini pikiran negatif sudah menyelimuti Sahila pada Refan.
Bagaimana lanjutannya ya! kasih dukungan Author supaya tetap semangat.