
Benar saja matahari yang terang itu tak di lihat oleh Refan sama sekali, karena saking lelahnya Refan menghabiskan waktu hanya untuk tidur selama berjam jam.
''Mas, bangun, Sahila mencoba membangunkannya berulang kali, namun tak ada respon, akhirnya Sahila memanggil Mike karena takut terjadi apa apa.
Mike ikut panik mendengar cerita dari Sahila, Mike masuk dan melihat kondisi Refan.
Mike mendengar dengkuran nafas Refan halus itu pun langsung tersenyum kecil.
''Nona tenang saja, Bos tidak apa apa, dia cuma tidur, biasa, karena waktu kami di sana semalam bos tidak tidur, setibanya di rumah kami langsung ke sini, jadi bos belum memejamkan matanya sama sekali, biarkan saja, nanti dia juga bangun, ucap Mike dan langsung keluar dari kamar.
Sahila menghampiri tubuh yang terbaring serta mata yang masih terpejam, ada rasa penyesalan dalam dirinya, karena sudah menyusahkan sang suami,
''Mas, aku menyesal, aku nggak akan mengulanginya lagi, aku tau kamu sudah lelah bekerja ,belum lagi mengurus ku yang penyakitan ini, mulai sekarang aku tidak akan merepotkanmu lagi, aku akan menjaga diriku sendiri, ucapnya sambil menyunggar rambut Refan ke belakang,.
''Aww... sakit, kenapa kamu menjambakku, apa kamu masih marah padaku?'', ucap Refan tiba tiba membuat Sahila terkejut.
''Mas, kamu sudah bagun!'' ucapnya ,
Refan mengangguk dan meraih pinggang ramping itu, tak ada jarak di antara keduanya ,
''Kita pulang, kamu masih harus ke rumah sakit ,kalau nanti kamu sudah sembuh kita akan ke sini lagi, mas nggak mau kamu mengabaikan kesehatanmu.
Sahila mengangguk, ''Tapi aku mau ke makam ayah dulu, sudah lama aku nggak ke sana.
Kali ini Refan yang mengangguk.
Keduanya serta Mike berjalan menyusuri sudut kampung, karena letak pemakaman yang sulit di lewati kendaraan roda empat, membuat mereka berjalan, meskipun harus becek becek ,karena musim hujan.
Gundukan tanah itu mengingatkan kembali dengan makam seorang wanita yang sangat di rindukan sosoknya, Refan dan Sahila serta Mike hanya berdoa, tak ada yang bisa di ungkapkan selain kebahagiaan, Sahila merasa sangat bahagia memiliki suami seperti Refan, meski perjalanan yang di tempuh begitu menyakitkan dan penuh dengan tangisan, namun itu semua berubah menjadi kebahagiaan yang tak bisa terukur,
__ADS_1
''Paman, sekarang aku sudah menepati janjiku pada putrimu, aku akan menjaganya sebagaimana aku menjaga nyawaku sendiri, semoga paman tenang di alam sana dan di beri tempat paling indah di sisi Nya
Ucapan itu membuat Sahila menangis tersedu sedu, ada rasa sedih karena sang ayah tak bisa melihat dirinya menikah, ada pula rasa bahagia karena apa yang di inginkan terjadi juga. Impiannya menjadi nyonya Refan sudah terkabul.
Setelah doa demi doa di panjatkan, semuanya kembali pulang, banyak pasang mata yang melihat kemesraan Sahila dengan sang suami, genggeman tangan itu tak pernah terlepas meski sedetik pun, membuat semua orang iri, termasuk Mike.
''Bu, kita mau pulang, apa Ibu mau ikut dengan kami lagi, Sahila membutuhkan Ibu juga, ucap Refan sedikit memaksa .
''Tidak, kalian pulanglah, Sahila lebih membutuhkanmu, jaga dia, maaf kalau sifatnya masih kekanak kanakan,
Setelah berpamitan, Mike mulai melajukan mobilnya untuk kembali ke kota,
Setelah beberapa jam ,kini mobil Refan sudah mulai menyusuri kota besar, kota di mana dirinya di besarkan.
''Mike ponsel ,ucap Refan seketika melihat sebuah toko ponsel yang begitu besar .
Tanpa bicara, Mike langsung keluar menuju tempat itu, sementara Refan dan Sahila masih berada di dalam mobil, namun ada kebingungan pada wajah Sahila melihat Mike.
''Tidak, mas yang mau beli ponsel, ponsel mas rusak ,dan nggak bisa di pakai lagi.
''Tapi ponsel mas kan masih banyak ,apa nggak bisa di pakai semua?'',.
''Sayang, kamu tau kan, kalau mas itu orang yang sangat penting, jadi ponsel mas itu bukan sembarang nama yang mas simpan, bahkan posel pribadi mas yang hancur itu hanya ada nomor kamu saja, dan tak ada yang lain,
Tak berapa lama Mike kembali dengan membawa sebuah kotak yang berisikan ponsel.
Sahila membukanya dan melihat lihat gambar dari kotaknya
Mata Sahila langsung terbelalak melihat harga yang tertulis,
__ADS_1
''Tuan Mike, apa kamu nggak salah beli, ponsel semahal ini, ucap Sahila sambil menelan ludahnya dengan susah payah.
Bukan menjawab Mike malah bingung dengan kata nonanya.
''Maksud Nona apa, ini tak seberapa, bahkan ponsel Bos yang lain jauh lebih mahal,
''Apa..... jadi ponsel mas Refan yang berjejer itu mahal, bahkan jauh lebih mahal dari pada ini?'' ucap Sahila semakin terkejut
Mengingat ponsel Refan yang lebih dari satu itu.
''Sayang, kamu kira kamu ini istri siapa, mas nggak apa apa kalau kamu mau menghabiskan uang mas,belanja saja sepuasnya setiap hari, bahkan kamu bisa membeli apapun yang kamu mau, ucap Refan sombong.
''Tapi mas.... ucapan Sahila terhenti karena mulutnya sudah tertutup dengan tangan Refan.
''Sekarang kamu tidur, dari pada kita berdebat tentang ponsel ,ucap Refan langsung menidurkan Sahila di pahanya.
Benar saja dalam hitungan menit ,mata Sahila sudah terpejam, dan nafasnya yang halus itu memberi warna dalam tidurnya.
Sedangkan Mike hanya geleng geleng melihat nonanya yang begitu lugu, banyak wanita mendekati kaum pria karena hartanya, tapi beda dengan Sahila yang bertahan menunggu Refan hanya karena cinta yang tertunda.
''Apa bos tau kalau di dunia ini bos adalah orang yang paling beruntung di antara pria lain?''.
''Hmmm.. maksud kamu?'', Refan sambil memainkan ponsel barunya.
''Bos nggak lihat istri bos yang begitu cantik, baik, dan lugu itu setia sama bos, bahkan dia tidak tau seberapa kekayaan bos,
''Memang ini lah hidup, dulu aku sangat membencinya, tapi dengan berjalannya waktu, hatiku berubah dan perubahan itu yang membawaku menjadi orang yang paling beruntung, aku juga nggak nyangka ,kalau dia akan menungguku, mungkin dia bersedih dan menangis di saat aku menikah dengan Kania, mungkin juga dia putus asa saat tau aku sudah menikahi wanita lain, dan di saat kita bertemu lagi bahkan aku masih saja menghinanya di depan umum, aku masih ingat, saat aku menuduhnya menjual diri pada Iwan, dia terlihat terluka, tangisan itu yang mengingatkan akan kesalahanku, dan di saat aku tau siapa dia sebenarnya, disaat itulah penyesalan selalu menyelimutiku, di saat itu juga aku ingin dia merobek dadaku supaya aku merasakan rasa sakitnya di hina dan di rendahkan, mungkin kalau aku mendapat pembalasan aku akan sedikit merasa lega, tapi tidak ,dengan mudahnya dia memberi maaf padaku, dan itu semakin membuatku merasa orang yang paling buruk, ucap Refan panjang lebar dan tak terasa air matanya menetes dan membasahi pipi Sahila yang tertidur di pangkuannya, dan akhirnya membuat sang empu terbangun.
Bahkan Mike pun tak bilang apa apa, Mike ikut terharu mendengar cerita dari Refan,
__ADS_1
''Mas menangis, apa yang membuat mas sampai menagis begini, ucap Sahila sambil mengelap air mata yang masih tersisa di pipi Refan, Bukan menjawab namun pelukan itu mendarat di tubuh mungil Sahila.
''I LOVE YOU''ucap Refan pelan di telinga sang istri.