KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 98.Keraguan


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang , Sahila masih saja terngiang ngiang dengan ucapan Doni, meski Refan sudah membuktikan cintanya berulang kali, namun Sahila masih saja sedikit resah,dalam hatinya ingin rasanya menjerit ,agar seluruh dunia tau apa isi hatinya sekarang, namun semua itu percuma,


''Pak, kita ke kantor mas Refan!'' ucap Sahila.


Sedangkan pak Jono hanya mengangguk, meng iyakan nona mudanya .


Setelah beberapa menit, Sahila sudah memasuki gedung pencakar langit itu, namun kali ini ada yang berbeda, meskipun Sahila ramah menerima sapaan dari para karyawan ,namun wajahnya tak bisa berbohong bahwa dalam hatinya begitu sedih, tak ada senyuman di wajahnya, membuat para karyawan bertanya tanya.


Sahila melihat ruangan Refan yang tertutup sedangkan Mike pun tak terlihat diruangannya.


Akhirnya Sahila memilih langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Dan ternyata ruangan itu kosong, Sahila menaruh tas dan langsung duduk menunggu sang suami,


Karena sedikit lama menunggu, Akhirnya Sahila masuk ke kamar pribadi Refan, Sahila melihat lihat apa isi dari kamar suaminya itu. bukan bermaksud lancang, hanya sekedar ingin tau saja.


Tanpa sengaja, Sahila melihat sebuah gaun yang begitu mewah di lemari tempat baju Refan, Baju dengan desain yang sangat mahal, Karena rasa ingin taunya Sahila mengambil dan membolak balikkan baju itu.


''Ini sangat cantik dan mahal, tapi ini terlalu besar kalau untuk ukuranku, dan sepertinya ini sudah pernah terpakai, ucap Sahila penasaran, karena baju itu terlalu panjang, dan itu sama sekali tak pas untuk postur tubuhnya yang kecil.


Karena pikirannya sedang sensitif, akhirnya Sahila teringat lagi dengan perkataan Doni.


''Apa ini baju mbak Kania, kenapa mas Refan masih menyimpannya, apa benar mas Refan tidak benar benar mencintaiku, apa mungkin memang aku ini pelarian karena sakit hatinya, dan yang sebenarnya mas Refan masih mengharapkan mbak Kania untuk kembali, tapi tidak, aku yakin mas Refan sudah melupakan mbak Kania ,dan aku yakin ,pasti mas Refan sudah mencintaiku, tapi ini apa ,kalau memang mas Refan sudah melupakan mbak Kania pasti dia akan membuang semua kenangan tentang mbak Kania ,gumamnya,


Namun Sahila tak bisa manahan air matanya yang sudah berada di pelupuk mata itu,.

__ADS_1


Setelah mengembalikan nya,dan hampir saja menutup pintunya, Namun sebelum pintu lemari itu tertutup,tak sengaja mata Sahila melihat sepasang High heels.


Kali ini Sahila hanya memegang benda itu,benda yang tak sesuai dengan dirinya, pasalnya Sahila tak pernah memakai sepatu setinggi itu.


Sahila semakin yakin kalau itu semua adalah milik Kania, Entah itu di belikan Refan atau milik Kania sendiri, Sahila tak peduli, dalam hatinya saat ini hanya bisa merasakan betapa sakitnya saat tau ada benda perempuan lain di dalam kamar suaminya,.


Sahila terduduk di bawah, karena tak kuat menahan tubuhnya yang berulang kali menerima kenyataan pahit, dulu mungkin Sahila tak sesakit ini, karena Refan bukan suaminya, tapi kali ini sahila benar benar hancur.


Di satu sisi, Sahila belum bisa sempurna untuk membahagiakan sang suami, dan di sisi lain ,Sahila tau bahwa masa lalu suaminya yang begitu mencintai Kania yang sekarang berstatus mantan istri.


Setelah beberapa saat ,Sahila mendengar ada suara pintu yang terbuka, dengan sigap Sahila berdiri dan merapikan baju serta rambutnya.


Sahila berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar itu,


Maafkan aku mas ,karena sudah meragukanmu, aku nggak tau perasaan apa yang menyelimutiku saat ini, tapi tak bisa kupungkiri kalau saat ini aku cemburu, meskipun kamu berulang kali bilang cinta padaku, tapi baju itu membuktikan bahwa kamu belum sepenuhnya melupakan mantan istrimu, apakah aku harus berjuang untuk memilikimu, ataukah aku harus mundur melihatmu bersama orang lain, karena diriku yang tak sempurna ini, lirih hati Sahila dengan memandang lekat Refan dari jauh.


Sahila mengusap pipinya yang di penuhi air mata dan mendekati Refan.


''Hai sayang, kamu disini dari kapan, ucap Refan terkejut melihat sang istri menghampirinya, dengan cepat Refan menyambutnya dengan sebuah ciuman.


''Habis dari rumah Nesya aku lansgung ke sini, aku pikir kamu nggak sibuk, tapi aku salah, kamu terlihat sangat sibuk, lebih baik aku pulang saja, ucapnya sambil mengambil tasnya yang masih berada di sofa .


Refan sedikit heran dengan perkataan Sahila yang begitu serius dan matanya yang sedikit sembab


''Kamu kenapa lagi, ucap Refan menarik tangan Sahila dari belakang saat Sahila berjalan menuju pintu, dengan terpaksa Sahila menoleh melihat Refan.

__ADS_1


''Aku nggak apa apa, aku hanya capek saja, ucap Sahila masih dengan wajah datar.


Refan menggeleng, dan semakin mendekat hingga memeluk tubuh Sahila.


''Aku suami kamu ,meskipun kita belum setahun menikah, aku sudah tau kalau kamu saat ini ada masalah, bilang padaku, apa yang membuatmu sedih seperti ini, ucap Refan penuh harap, agar Sahila mau menjawabnya.


Masih dalam keheningan, karena Sahila masih saja diam.


Ingin rasanya dalam hatinya di luapkan,namun semua itu di urungkan karena takut akan salah taksir.


''Mas, apa nggak sebaiknya kita periksa lagi, dan kita ikuti program kehamilan, dan aku mau kali ini kamu menurutiku, kalau Ririn bilang kita masih sulit punya anak, aku mau program bayi tabung, ucap Sahila pelan tapi pasti .


Dengan cepat Refan mengendurkan pelukannya dan melihat wajah Sahila.


''Tidak, aku tidak setuju, kalau untuk periksa mas setuju, tapi untuk bayi tabung, maaf, mas tidak setuju, meskipun Ririn bilang kalau kita nggak bisa punya anak, ucapnya dan langsung meninggalkan Sahila yang masih mematung.


''Kenapa, apa kamu nggak mau punya anak dariku?'' ucap Sahila seketika dengan ketus membuat Refan berdiri kembali dan menghampirinya.


''Hai, kenapa kamu berkata seperti itu, anak itu anugerah, dan anak itu rejeki, mana mungkin mas nggak mau punya anak dari kamu, bahkan seandainya kamu bisa melahirkan berapapun anak mas akan lebih bahagia, asalkan tidak dengan bayi tabung, mas tetap nggak akan setuju, mengertilah sayang, aku sangat mencintaimu ,dan aku nggak mau gara gara masalah ini kamu terpaksa menjalani program bayi tabung, ucapnya memastikan Sahila untuk tidak terlalu memaksa diri.


Namun dalam benak Sahila berbeda, Sahila memikirkan hal yang negatif pada Diri Refan Yang tak mau punya anak segera.


Tapi menurut Sahila ini bukan saatnya untuk menanyakan hal yang belum pasti, karena itu semua akan sia sia karena dirinya yang terlalu emosi.


Sedangkan Refan hanya bisa menahan saja, meskipun Refan seorang suami, dia tak mau begitu mengekang Sahila, apapun yang akan terjadi nantinya ,sebisa mungkin larangan satu itu tak di jalani sang istri.

__ADS_1


__ADS_2