
Meskipun jauh tapi dekat di hati pepatah itu selalu melekat pada setiap insan yang selalu merindukan orang yang di cintainya, seperti Sahila dan Refan ,meskipun mereka terpisah jarak yang sangat jauh, tapi hatinya tetap merasa bahwa mereka tetap dekat.
Sahila sangat bahagia ,senyum merekah menghiasi wajah yang sedikit kusut setelah bangun tidur, ya ,Pemandangan yang di lihat saat ini adalah wajah Refan sang suami.
Refan melakukan Vc memakai ponsel Ririn, melihat kekasih hati dengan rambut acak acakan itu membuatnya ingin cepat kembali dan memeluknya.
''Tidurmu lelap sekali, sampai kau melupakanku di sini. ucap Refan dari seberang sana.
''Bukan aku yang melupakanmu, tapi kamu yang melupakanku, aku menunggumu , tapi kamu tak menghubungiku juga, ya sudah mendingan aku tidur, ucap Sahila dengan suara seraknya khas bangun tidur.
''Gi mana rasanya hari ini, apakah kamu merasa lebih baikan?'', Refan memastikan.
Sahila mengangguk, ''Aku baik, dan terima kasih mas sudah menyuruh Ibu untuk ke sini, apa mas masih lama di sana? '' tanya Sahila .
''Mas juga belum tau, tapi mas akan segera menyelesaikannya, dan ini sudah lima puluh persen ,mudah mudahan akan segera membaik ,ucapan Refan membuat sahila semakin tenang.
Setelah sekian lama mereka mengakhiri VC nya karena ada suara ketukan dari luar ruangan Refan, siapa lagi kalau bukan Mike.
Mike masuk setelah mendapat izin dari Refan.
Namun kali ini Mike tidak sendirian, melainkan bersama seseorang dari kantor cabang,. ''Kenapa kamu ke sini, apa di sana bermasalah juga?'', tanya Refan serius, namun yang di tanya malah tersenyum.
''Tidak pak, Saya utusan dari kantor cabang hanya untuk memberi tau bapak, kalau malam ini ada peluncuran produk terbaru kita, dan Bapak di mohon untuk datang menggantikan pak Cakra.
Tanpa pikir panjang Refan langsung mengangguk tanda setuju.
Setelah utusan dari cabang keluar ,Mike langsung saja menghampiri Refan.
''Apa bos benar benar mau datang ke sana (kantor cabang)?''
Refan mengerutkan kedua alisnya heran dengan sikap Mike kali ini,
__ADS_1
''Memang kenapa,aku pemilik nya, jadi sudah sewajarnya aku datang, apa ada yang salah?'',.Refan mendekatkan wajahnya ke arah Mike
''Tidak ada, tapi apa bos tau siapa brand ambassador untuk acara nanti malam? ''Mike sambil membuka ponselnya kembali.
Refan menggeleng.
Refan langsung saja membelalakkan matanya saat mendengar Mike mengatakan ''kania Silvana yang akan menjadi bintang nanti malam, Mike melirik wajah bosnya yang langsung tegang itu.
Mulut Refan sudah terbuka entah apa yang akan di katakannya, namun Mike segera memotong.
''Jangan menyalahkan mereka, Kania sudah terkontrak selama satu tahun, sebelum bos bercerai dengannya, jadi bos tidak bisa menyuruh mereka untuk membatalkannya, lagi pula bos nggak usah khawatir, dia nggak akan berani macam macam. Mike begitu santai mengatakan apa yang memang seharusnya dia katakan.
''Terserahlah, tapi aku harap dia tidak bisa bertemu denganku, Refan bersikap sinis.
''Apa hari ini bos sudah menghubungi Nona?'' Mike mengingatkan,..
''Terlambat, ucap Refan singkat membuat Mike langsung keluar dari ruangan Refan.
Karena hatinya sangat gundah, Refan mengambil ponsel dan melihat wajah Sahila yang menjadi walpapernya saat ini , wajah yang selalu memberinya semangat, wajah yang selalu terlihat teduh, wajah yang kini selalu membuatnya lupa dengan kesombongannya dan keangkuhannya, karena setiap dekat dengan Sahila dalam sekejap Refan merasakan perubahan dalam dirinya.
Kehidupan memang sangatlah aneh ,dulu orang yang sangat di benci Refan itu sekarang menjadi orang yang paling di rindukan, sedangkan Kania orang yang dulu di cintainya sekarang menjadi orang yang sangat di bencinya.
Membalikkan tangan memanglah sangat mudah, namun membalikkan hati begitu sulit, Refan enggan untuk berangkat memenuhi undangan dari kantor cabang setelah tau Kania akan ada di sana juga ,namun dengan bujukan Mike akhirnya Refan bersiap untuk berangkat.
''Apa bos sudah siap untuk berangkat?'' tanya Mike,
''Kamu nggak lihat kalau aku sudah rapi, apa mata kamu sudah buram?'', celetuk Refan.
''Maksudku bukan penampilan bos, tapi apa hati bos sudah siap untuk bertemu sang mantan?''
''Diamlah, kupingku gatal mendengarnya, lagi pula tujuanku ke sana bukan untuk menemuinya, tapi untuk menghormati undangan itu, ucap Refan serius di depan Mike.
__ADS_1
Mike membelah jalanan yang sedikit sepi ,karena malam hari sedikit aktifitas yang ada di jalanan kota setempat, dan itu memudahkan Mike untuk segera sampai.
Refan mengernyitkan dahinya melihat suasana yang sangat rame, apa lagi wartawan di depan gedung itu pasti menanti kedatangannya, benar saja setelah mobil mewah Refan terparkir semua wartawan berlari menuju mobil Refan.
Refan masih saja duduk di dalam mobil, karena tidak mau menghadapi media yang begitu ramai, apa lagi di dalam pasti Kania sudah hadir.
''Jangan keluar Mike, kamu tetap diam! '', ucap Refan
Refan mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, tak berapa lama Wartawan itu langsung mundur menjauh dari mobil Refan.
Kali ini Refan sedikit tenang untuk keluar dari mobilnya.
''Silahkan masuk tuan ,kami sudah menunggu tuan, ucap sang direktur perusahaan.
''Maaf, apa aku bisa bicara sebentar di sini?'', ucap Refan yang langsung mendapat anggukan dari sang direktur.
''Maaf sebelumnya, jika kalian mengharapkan kehadiranku malam ini, kalian usir semua media, aku tidak mau acara ini di liput, meskipun pribadi,kalian cukup meliput merek kalian lewat internet saja, tapi kalau kalian tidak mau mengikuti apa yang aku suruh, aku akan pulang dan kalian lanjutkan saja acaranya,.
Setelah mendengar pernyataan Refan, semuanya mematung, baik para wartawan maupun para pekerja, namun dengan cepat direktur menyuruh satpam untuk mengusir semua wartawan yang berada di situ.
Mike tersenyum melihat langkah bosnya kali ini,
Aku tau pasti bos takut kalau sampai Nona melihatnya bertemu dengan Kania, tapi kenapa, kalau memang dia sudah nggak mencintai Kania, kenapa bos tidak membiarkan acara ini di liput, bukankah lebih baik jika nona tau sikap bos yang sebenarnya pada Kania., dalam hati Mike ada tanda tanya dengan keputusan bosnya itu.
Namun Mike hanya diam tak berani mengatakan apapun, dengan langkah gontainya Refan memasuki gedung tempat acara, di dalam memang begitu ramai, namun seperti dengan keinginannya tak ada satu pun wartawan yang meliput,.
''Silahkan pak, salah satu pejabat menyambutnya dari dalam dan menggiring Refan ke bagian kursi paling depan.
Refan duduk dengan santai dan di dampingi oleh Mike di sampingnya.
Refan, apa itu benar Refan, kenapa dia ada di disini, dan kenapa dia menjadi tamu istimewa, apa ini salah satu perusahaannya juga, batin wanita cantik yang sudah siap dengan tugasnya.
__ADS_1