
Refan tersenyum mendengar permintaan dari wartawan yang ingin melihat istrinya.
Sedang pak Cakra cuma bisa tersenyum melihat putranya yang begitu gagah dan lantang dalam setiap ucapannya.
Tak tau lagi, Sahila malah menangis mendengar semua curahan hati Refan di depan umum, Sahila tidak menyangka kalau suami yang selalu memujinya di kamar atau ruangan tertutup itu kini memuji nya di depan umum.
Sahila menangis di pelukan sang Ibu, sedangkan Ririn sesekali menepuk dan menenangkan Sahila untuk berhenti menangis.
''Sa, kenapa kamu malah nangis, harusnya kamu bahagia, kamu dengar kan apa kata suami kamu?'' sang Ibu mencoba menenangkan.
Refan menghela nafas kembali sebelum melanjutkan bicaranya.
''Mungkin jika saya cerita perjalanan hidup saya, kalian akan menjadikannya sebuah novel, tapi saya tidak bisa cerita, karena terlalu panjang,'' lagi lagi ucapan Refan membuat semua tertawa.
''Baiklah, kalau bapak berkenan, pasti saya akan menulis novel tentang perjalanan hidup bapak, tapi untuk sekarang, kami semua menantikan istri bapak, kami mohon, siapa wanita beruntung itu?'' ucap salah satu wartawan.
Semuanya berteriak menantikan Refan menunjukkan wajah sang istri.
''Baiklah, istriku majulah ke depan!" ucapan Refan kali ini membuat Sahila membelalakkan matany. Sahila tidak menyangka akan berada di depan ratusan orang, semua mata mengarah ke segala arah, tapi tak ada satu pun yang melihat wanita maju ke depan.
''Sayang, majulah ke depan! apa mau suamimu ini menjemputmu." ucapan Refan kedua kali dengan lembut dan mesra membuat semua orang terbawa suasana.
Semuanya bersiul mendengar ucapan Refan yang sangat lembut.
Akhirnya dengan terpaksa Sahila berdiri dan berjalan ke depan dengan di dampingi beberapa pengawal.
Sahila berjalan dengan pelan, kepalanya sedikit menunduk, namun membalas setiap senyuman pada semua orang yang tersenyum padanya, menghampiri Refan yang masih duduk di atas panggung.
Semua mata menatap intens ke arah Sahila.
Semua wartawan tak mau meninggalkan momen ini, semua mengabadikan, baik itu untuk berita maupun pribadi.
Sahila menempati kursi kosong yang ada di samping Refan.
Wajahnya sedikit kaku, karena Sahila malu bercampur gerogi dilihat banyak pasang mata.
''Inilah istri saya, bukan maksud saya untuk mempublikasikan istri saya di depan umum, tapi saya memperkenalkan dia sebagai pendamping hidup. Wanita yang saya cintai, wanita yang sudah membuat saya bangga dengan kesabarannya, karena dengan cara seperti ini, dia akan berdiri di samping saya, bukan di belakang saya, dan saya tidak mau menyembunyikan orang yang terpenting dalam hidup saya." ucap Refan sambil menggenggam tangan Sahila yang dingin.
''Wah, istri bapak sangat cantik, dan terlihat sangat lembut. Maaf, silakan nona! apa yang ingin anda sampaikan untuk pak Refan?" ucap wartawan kembali, namun Sahila bingung, dan melihat Refan.
__ADS_1
Sedangkan Refan membalasnya dengan senyuman.
''Bicaralah! apa yang ingin kamu ucapkan." bisik Refan.
Meskipun jantungnya berdetak dengan kencang, serta tangannya yang berubah menjadi dingin, namun Sahila harus menghormati suaminya dan semua orang.
''Selamat malam semuanya, pertama tama, Saya bersyukur kepada Tuhan yang sudah memberikan kenikmatan kepada kita semuanya, baik jasmani maupun rohani. Terima kasih untuk papa dan Ibu yang selalu mendukung hubungan saya dan mas Refan," menjeda sejenak.
''Dan di sini saya sudah tidak bisa mengucapkan apapun, karena dalam hati saya itu seperti apa yang ada dalam hati mas Refan, dan mas Refan sudah mengungkapkan semuanya, jadi untuk semuanya, saya mohon maaf, kalau kalian kecewa dengan kehadiran saya," ucap Sahila dengan lembut.
''Dan terakhir dari saya, untuk suami,
''I REALLY LOVE YOU MY HUSBAND''
Setelah Sahila mengucapkan itu, dengan Cepat Refan pun mengucapkan.
''I LOVE YOU TO SO MUCH MY WIFE''
Kemudian dengan cepat Refan mencium kening Sahila sedikit lama.
Ucapan Sahila dan Refan mendapatkan hadiah tepuk tangan dari semua orang.
Bahkan dari mereka banyak yang iri, melihat dua sejoli yang sangat romantis.
Refan berdiri dan mengambil mikrofon nya .
''Dengan ini saya menutup acara dari papa, dan sekarang kita mulai acara yang selanjutnya." ucap Refan dengan lantang. Sahila bingung dengan apa yang di katakan Refan kali ini.
'Acara apa lagi, bukankah ini sudah acara? batin Sahila.
Setelah menunggu beberapa menit, ada beberapa pelayan yang membawa kue dan meletakkan di depan para tamu, Sahila dan Refan serta pak Cakra turun.
Sedang Refan menghampiri mertuanya dan Ririn serta Mike untuk maju kedepan.
''Mas..." panggil Sahila manja, karena Sahila tidak menyangka, kalau Refan memberi kejutan yang tak terduga, bahkan tak pernah terlintas bagi Sahila untuk merayakan ulang tahun pernikahanhya.
"Sini! ini kejutan untukmu," ucap Refan sambil merangkul pundak Sahila dan menggiringnya di depan Kue.
''Terima kasih atas kejutannya." bisik Sahila tepat di telinga Refan.
__ADS_1
Setelah melantunkan doa masing masing, Sahila dan Refan meniup lilin, semua memberi selamat atas ulang tahun pernikahan sang raja bisnis yang sudah berjalan satu tahun, meskipun di pernikahan pertamanya tak berjalan mulus, namun untuk yang kedua ini di harapkan langgeng sampai akhir hayat.
''Sayang, malam ini kita akan menghabiskan malam kita di hotel ini, dan kamu persiapkanlah dirimu," bisik Refan.
Refan sudah tak menghiraukan semua tamu yang menikmati hidangan,
karena dirinya kini sibuk dengan sang istri.
''Mas, diam dulu, kita bicaranya nanti, kalau didengar yang lain kan malu." Sahila balas berbisik.
Tak lama, Ada yang menghampirinya dan juga Refan, Sahila tersenyum lebar melihat siapa yang datang.
''Nesya, Sindi, kalian datang?'' ucap Sahila dan langsung merangkul kedua sahabatnya secara bergantian, sedangkan Refan pun sama, menyambut dua sahabatnya dengan keramahan.
Nesya dan Sindi tersenyum.
''Pak Refan yang ngundang kita, mana mungkin aku nggak datang, ini adalah hari bahagiamu, selamat ya Sa, semoga kalian langgeng," ucap Nesya.
''Aku nggak nyangka ternyata tuan Refan sangat romantis." ucap Sindi menimpali.
''Kalian bisa aja, kenalin, ini Ririn sepupu mas Refan." Sahila memperkenalkan Ririn pada dua sahabatnya.
''Mana baby Aldo, kok nggak diajak?'' tanya Sahila saat melihat Nesya sendirian.
''Nggak Sa, tadi mas Doni tanya berapa tamu yang di undang, dan pak Refan bilang banyak, jadi aku takut aja, pasti dia rewel."
''O... jawaban Sahila.
''Sa, kamu tau nggak, Sindi juga sudah hamil lo," ucap Nesya, sontak membuat Sahila tertegun.
''Beneran Sin?" ucap Sahila, wanita itu memberi selamat, namun dalam hatinya sedikit merasa sedih, tapi karena janjinya tidak akan memikirkan anak, Sahila mencoba sekuat tenaga menghadapi semua masalah yang ada, terutama melihat wanita hamil.
Sesekali Refan melihat Sahila yang sedang asyik dengan para sahabatnya membuat Refan cemburu karena Sahila melupakannya.
''Sayang, sini!" ucap Refan seketika saat melihat perubahan di wajah Sahila.
Refan juga tau apa yang mereka bicarakan yang membuat wajah Sahila menjadi berubah.
''Aku di sini untukmu, tersenyumlah, aku nggak mau lagi melihatmu sedih!'' bisiknya dan langsung mengecup keningnya.
__ADS_1
Sahila pun langsung menurut ucapan Refan, meskipun sedikit terpaksa.