KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 163.Rumah sakit


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu yang sedikit tak terasa, kini kandungan Sahila menginjak tujuh bulan, itu berarti kurang lebih dua bulan lagi Sahila melahirkan, Ririn menyatakan pada Refan untuk ke rumah sakit menjalani USG.


Sahila pun meng iyakan ajakan Refan karena itu salah satu prosedur yang harus di taati ibu hamil.


Sebelum keluar dari rumah Sahila menarik tangan Refan dari belakang.


''Kenapa?'', Refan heran tingkah istrinya.


''Aku mau USG, tapi aku tidak mau Ririn mengatakan jenis kelamin anak kita, aku mau ini menjadi kejutan saat dia benar benar lahir ke dunia ini,


Refan mengangguk. ''Baiklah ,aku akan katakan pada Ririn.


Lalu menggandeng Sahila masuk ke dalam mobil yang sudah siap melaju, karena Mike sudah di dalamnya.


''Ke rumah sakit, ucap Singkat.


''Apa nona mau melahirkan?'', Mike terlihat sedikit gugup.


''Ya, Refan pun meladeni sikap sekretarisnya yang dangkal itu.


Mereka ini benar benar payah, apa tuan Mike benar benar nggak tau bagaimana tanda tanda wanita yang mau melahirkan, aku kan nggak kenapa napa, bisa bisanya dia mengira aku mau melahirkan, batinnya.


Tanpa pikir panjang, mike pun melajukan mobilnya mempercayai ucapan dari Refan.


Setibanya di rumah sakit ,Mike bergegas turun mencari dokter, dengan kebingungannya membuat Sahila serta Refan geleng geleng di belakangnya.


Refan kesal melihat tingkah sekretarisnya yang ada di depannya itu dengan gayanya yang sok sibuk membuatnya menarik kemeja nya dari belakang.


''Nona tidak melahirkan, kita cuma mau USG, kata Refan di telinga Mike yang membuat sang empu terbelalak karena kena tipu.


Sialan ternyata bos mengerjaiku,


Sedangkan Sahila hanya tersenyum,


Ini baru aku, bagaimana kalau nanti Nia yang ada di posisiku pasti dia lebih panik.


Tak berapa lama menunggu, Refan sekelebat melihat Iwan yang berlari mengikuti brangkar di depannya,


Itu benar Iwan kan, batinnya,

__ADS_1


Namun Refan masih saja diam., belum mengatakannya pada Sahila maupun Mike, tak berselang lama suster masuk ke ruangan Ririn dan Ririn pun keluar,.


''Kakak ipar maaf, ada yang mau melahirkan, kakak menunggu di dalam ruanganku saja ,sebentar, nanti aku kembali ucap Ririn buru buru dan meninggalkan Refan dan Mike serta Sahila.


Refan masih saja diam melihat arah Ririn yang ternyata menghampiri Iwan.


''Sayang, sepertinya yang melahirkan itu Sindi, ucapnya,.


''Sindi, dari mana mas tau, pasalnya suaminya dari tadi bersamanya ,tapi bilang kalau yang melahirkan itu Sindi.


''Tu... sambil menunjuk Iwan yang sedang mondar mandir di depan ruangan.


Sahila melihat mengikuti arah telunjuk Refan ,dan Ternyata benar di depan salah satu ruangan terlihat Iwan yang sedang kebingungan.


Sahila langsung saja beranjak ,


Kayaknya benar, batinnya.


''Mas, kita ke sana ya, ajaknya sambil merengek, sebetulnya Refan tak menyetujui takut Sahila lelah, tapi dirinya sudah tau kalau Sahila sudah ada maunya harus dituruti, akhirnya Refan menggandeng tangan Sahila menuju ke arah Iwan yang di ikuti Mike di belakangnya.


''Kak Iwan, apa Sindi mau melahirkan, Iwan tak banyak bicara hanya mengangguk, dan terlihat sedih,karena dari tadi hanya mendengar rintihan Sindi.


''Mereka di jalan, jawab Singkat.


Setelah beberapa menit ,Pintu terbuka dan muncullah Ririn yang meminta Iwan untuk masuk,


Setelah beberapa menit pun berlalu, Refan dan Sahila serta Mike masih menunggu di depan ruang bersalin ,sedangkan keluarga Iwan pun baru datang.


''Pagi Om, tante, sapa Refan pada pak Handoko dan Ibu Sonia selaku orang tua Iwan.


''Fan, gi mana, apa Sindi sudah melahirkan. pertanyaan yang terlontar dari tante Sonia.


Refan menggeleng, karena mereka pun baru melihat Iwan di suruh masuk.


Setelah kurang lebih dua jam, tangisan bayi itu menggema di ruangan tanda anak sepasang suami istri itu lahir ke dunia.


Semuanya mengucapkan syukur tak terutama Mike, meskipun dirinya belum mempunyai istri, namun Mike ikut lega karena orang di sekelilingnya itu bermuka ceria tak setegang tadi.


Ceklek... pintu terbuka ,terlihatlah sosok Iwan, namun kali Ini membuat Refan langsung menghampiri sahabatnya itu.

__ADS_1


Bukan menanyakan jenis kelamin anaknya ,melainkan menanyakan penampilannya.


''Kamu kenapa?'' katanya pada Iwan.


Refan terkejut melihat penampilan Iwan ,rambut acak acakan, kemeja yang sudah tak berbenah, apa lagi tangannya yang terlihat itu banyak cakaran seperti habis berantem dengan harimau buas,


Iwan duduk di kursi dan Refan pun mengikutinya karena belum mendapat jawaban


''Nanti kamu juga ngerasain apa yang aku rasain, jawaban Iwan membuat Refan berpikir keras,


Kenapa aku nanti juga ngerasain, memang kenapa dia ,batinnya sambil mengerutkan dahinya, serta meringis, tanda bergedik ngeri.


''Maksud kamu apa?'', Refan masih saja penasaran apa yang di alami Iwan.


''Umur kandungan Sahila berapa, ?''tanya Iwan, ''7 bulan, dengan cepat kata itu terlontar dari mulut Refan.


''Nah ,kamu nanti akan mendapat cakaran dan jambakan rambut klimismu itu dua bulan lagi, nanti kamu juga akan paham, Aku permisi, mau ngobatin luka ku dulu,ucapan Iwan sambil berdiri dan meniup lukanya, karena merasa kesakitan .


''Semuanya selamat kan Wan,kini giliran kedua orang tuanya yang menanyakan.


Iwan tersenyum dan berlalu untuk mengobati lukanya.


Refan menghampiri Sahila yang masih mematung ,''Sayang Sindi kan sudah melahirkan, kita kembali saja, besok besok kota jenguk lagi, ajak Refan sambil menggandeng Sahila menuju ruangan Ririn.


Refan duduk di samping Mike dan Sahila, sesekali melirik istrinya yang sudah hamil besar itu,


''Kenapa, Sahila yang tau kalau dari tadi suaminya memperhatikannya itu bertanya.


''Sayang,. apa kamu tau Iwan tadi itu kenapa?'' kenapa tangannya penuh luka, terus rambutnya acak acakan ,kemejanya lungset, padahal aku lihat pas dia masuk, tadi penampilannya masih rapi, Refan masih saja terlihat bingung, sedangkan Mike hanya mendengar saja.


''Kata kak Iwan nanti dua bulan lagi mas kan juga akan ngerasain seperti dia, jadi aku nggak usah kasih tau, itu kan kejutan bagi suami, Sahila dengan santainya.


''Nggak mau kasih bocoran sedikit saja, ucapnya sambil menautkan dua jarinya.


''Mas, kalau aku kasih tau, itu nanti bukan kejutan, dan mas mungkin nggak mau menemani aku saat lahiran, Sahila mulai jengkel dengan suaminya yang selalu banyak bicara.


Akhirnya Refan memilih diam dan meresapi setiap kata yang didengarnya baik dari Iwan maupun dari Sahila.


Apa kalau istri mau melahirkan itu berubah jadi ganas ,dan mereka itu suka melukai suaminya, apa istriku juga akan seperti itu nantinya, dan tanganku ini akan di cakarnnya ,sambil melirik Sahila yang masih menghadap ke depan,

__ADS_1


Bahkan Refan seakan sudah ada di depan harimau buas yang siap menerkamnya setelah mendegar kata Iwan sahabatnya yang juga konyol itu,


__ADS_2