KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 212. Mengungkap penyesalan


__ADS_3

Rumah yang sudah banyak berubah itu sudah terpampang jelas di depan mata , setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, kini mobil yang di tumpangi Refan sudah terparkir di depan rumah bu Nur,karena saking antusiasnya Sahila sampai meninggalkan Kyara tetap di gendongan Refan.


''Ayo dong mas!'', ajak Sahila pada Refan yang tak juga keluar dari mobilnya.


Bu Nur yang melihat dari depan pintu hanya bisa mengukir senyuman kedatangan Sahila ,Refan dan cucunya.


''Bu, panggil Sahila dan memeluk Wanita yang sudah mulai keriput.


Bu Nur pun membalas pelukan dari Sahila dan Refan dan langsung menggendong Kyara.


''Kalian kok mau ke sini nggak bilang dulu sih?'', ucap Bu Nur sembari menyiapkan minuman.


''Kan kejutan Bu, sahut Refan.


''Lagi pula kami nggak bisa nginep ,ucapan Refan membuat Wajah Bu Nur berubah.


''Kenapa, apa tempatnya kurang nyaman?'', tanya bu Nur ,Sahila diam, sedangkan Refan menoleh melihat Sahila dari samping.


''Tidak Bu, bukan maksud ku seperti itu..


Refan merasa sedikit tidak enak melihat wajah Ibu mertuanya.


Apa sebaiknya aku nginep saja ya semalam, kasihan juga Ibu, batinnya.


Setelah menimbang sejenak, Akhirnya Refan memutuskan untuk menginap di rumah sang mertua.


''Bu, kita mau ke makam ayah sebentar, biar Kyara ikut dengan kami, Sahila berkata dan mengambil alih Kyara dari gendongan Bu Nur.


Refan dan Sahila berjalan menyusuri desa menuju pemakaman umum, jarak yang tak terlalu jauh membuat mereka cepat sampai.


Lagi lagi Refan dan Sahila menatap gundukan tanah yang kering itu.


Tak dapat terbendung lagi, air mata pun mulai meluncur membasahi pipi Sahila saat ini.


Curahan hati Sahila dan Refan di ungkapkannya di depan makam sang ayah, bahkan sama seperti Sahila yang sudah menangis terisak ,Refan pun ikut meneteskan air matanya mengingat perjuangan orang yang dulu menjadi supirnya.


Refan kecil selalu minta apa saja pada supirnya itu jika pak Cakra tak mau menurutinya, belum lagi jika dirinya menangis ,pastilah orang yang di cari itu pak supir yang di panggilnya paman, jika bertengkar pun paman yang selalu melerai dan menggendong Refan menjauh dari temannya, Paman itulah yang selalu ada untuk dirinya, disaat pak Cakra memarahinya hanya paman itulah pengganti ibunya yang selalu membuat dirinya lupa akan kemarahan sang papa,bahkan punggung sang supir yang selalu menjadi kudanya di saat main.

__ADS_1


Masa kecil tanpa seorang Ibu yang di lewati Refan itu tak begitu buruk karena pria yang di panggilnya paman, dan yang lebih membuat Refan menangis di saat Refan mengingat saat dirinya melempar lembaran uang di depan Putri orang yang sudah membuatnya damai di waktu kecil itu.


Refan tak mempedulikan celana bagian lutut nya itu kotor demi bersujud meminta maaf di depan makam mertuanya itu.


Meminta maaf atas kesalahannya pada Sahila yang pernah di tuduh menjadi wanita murahan ,


Bahkan dalam hati Refan merasa sangat pilu karena saat ini dirinya hanya bisa bicara dengan tanah, Setelah semua curahan itu usai ,keduanya melantunkan doa untuk ayah tercinta ,


Sahila mengambil sejumput tanah dari samping makam dan di oleskan ke kening Kyara yang membuat Refan bertanya .


''Untuk apa sayang, kenapa begitu?'' .Tanya Refan,


''Kata orang jawa ini mah biar nggak kesambet mas, ucapnya lantang.


Refan mengangguk anggukkan kepalanya.


''Kita pulang, ajak Sahila sembari tersenyum menatap wajah Refan.


Di perjalanan pulang,


''Kamu nangis?'', tanya Sahila, karena dari tadi Sahila berdiri di belakang Refan ,meskipun Sahila melihat getaran punggung Refan, dirinya hanya ingin memastikan.


''Kenapa, apa ada sesuatu yang membuat mas sampai menangis, tanya Sahila lagi, saat ini rasa ingin taunya begitu besar.


Maaf aku nggak bisa cerita, batinnya.


''Tidak ada yang membuat kita menangis selain penyesalan, dan yang mas rasakan dari tadi hanya penyesalan,jawab Refan singkat,


Masih banyak sesuatu yang aku nggak tau tentang dirimu, aku pun tidak tau masa kecilmu dan masa lalu yang pernah kau lalui dengan ayah, tapi aku yakin ada sesuatu yang memang kau sesali yang membuatmu menangis di depan makam ayah .


Sahila yang tak mau kepo lagi akhirnya memilih diam,


Sesekali mata Refan mengarah Sahila yang masih berjalan di sampingnya.


''Apa kamu merasa menyesal menikah denganku?'', Pertanyaan yang membuat Sahila termangu.


''Maksud mas apa?'', Sahila penasaran.

__ADS_1


''Hidup adalah sebuah pilihan kan, kalau di luaran sana ada yang lebih baik, kenapa saat itu kamu menungguku, bahkan tanpa kepastian.


''Apakah mas itu merasa kalau mas orang baik?'', tanya Sahila balik.


Refan memikirkan dirinya memang jauh dari kata baik, dan yang utama adalah kesombongan yang melekat pada dirinya itu seakan memang baju yang selalu di pakai.


Refan menggeleng.


Sahila tersenyum dan menghentikan langkahnya,''Mas itu baik, hanya mas itu belum sadar, dan aku tidak menunggumu tanpa kepastian, tapi aku memang waktu itu butuh kemantapan hati untuk mencari calon suami, Aku sangat berhati hati karena tidak mau ada kata penyesalan, ucapan Sahila membuat Refan menatapnya dengan lekat.


''Dan memang aku tercipta hanya untukmu dan kau pun hanya untukku, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita selain maut. Refan meyakinkan.


Perjalanan yang singkat itu di iringi obrolan yang bermakna ,kini keduanya pun kembali ke rumah.


''Kalian sudah pulang?'', tanya Bu Nur sambil menyiapkan makanan, karena hari ini kedatangan Refan dan Sahila ,Bu Nur sengaja masak lebih banyak.


''Kayaknya enak nih Bu,ucap Refan antusias seakan liurnya sudah menetes melihat masakan yang serba sayur.


''Sejak kapan makanan seperti ini enak?'', tanya Sahila mengambilkan nasi untuk nya.


''Sejak menikah denganmu, aku kan jadi suka dengan makanan yang berwarna hijau.


''Termasuk rumput liar, Celetuk Sahila bercanda yamg membuat semuanya tertawa.


Makan siang itu Bu Nur merasakan nikmat ,dan ingin sekali kalau itu akan terjadi lagi, meskipun tidak mungkin, tapi berharap pun tak apa, toh itu juga tidak membayar.


Sahila menikmati pertemuan dengan sang ibu yang terbilang singkat.


Bahkan Sahila tidak tidur siang hanya untuk menemani sang Ibu ngobrol.


''Sayang mas ingin menghabiskan malam ini di kamar baru kita ,Refan mulai mesum,.


''Mas ,mesum kamu itu cukup di kota ya, tidak boleh di bawa ke kampung, Sahila mengucapkannya sambil mencubit perut Refan.


''Kenapa, apa bedanya di kampung maupun di kota ,yang penting kamu pasangannya sama saja, toh nggak ada larangan, dan mas akan menjadikan kenangan yang terindah disini, ucapnya mulai menyeringai.


Sahila yang sudah gedeg mulai pasrah, ''Terserah apa kata tuan saja lah, aku mah cuma hamba yang harus mengikuti tuannya, ucapnya bikin Refan gemes dan mencium pipi Sahila.

__ADS_1


''Terima kasih ya, mas pastikan malam ini adalah malam yang akan membuatmu melayang, sambil mengangkat tangannya.


__ADS_2