KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 79. Masalah


__ADS_3

Apapun yang ada di dunia memanglah bukan milik kita, namun tiada salahnya jika kita tetap mempartahankan apa yang menjadi hak kita, itulah yang di alami Refan saat ini, demi kesembuhan Sahila ,Refan rela melakukan apapun meskipun hal yang mustahil sekali pun, tak ada salahnya bagi Refan untuk menuruti semua keinginan Sahila sesulit apapun itu.


Baginya tak ada yang lebih berharga dalam hidupnya saat ini , kini hidupnya hanya untuk istri tercinta , apapun yang di lakukan Sahila tak luput dari pandangannya ,meskipun Refan tak selalu menemani sahila setiap waktu, Tuntutan pekerjaan sedikit menjadi penghalang baginya yang tak bisa di tinggalkan saat ini.


Dikantor, Refan mendapat kabar dari negara L untuk datang ke sana ,karena ada masalah yang harus di tanganinya sendiri,


Rasa bingung pun kini langsung menguasai hatinya, disaat Sahila membutuhkan dirinya ,tapi disaat itu pula harus berpisah dengan Sahila.


''Maaf bos kalau aku lancang, ini masalahnya sangat gawat bos ,dan orang kepercayaan om Cakra menyuruh kita untuk ke sana secepatnya, ucapan Mike memang sedikit ragu, karena tau keadaan bosnya saat ini,


Refan masih saja diam, belum punya jawaban yang tepat, Terlintas dalam benaknya tak pernah sekali pun meninggalkan Sahila dalam waktu yang lama, selama menikah, Refan selalu menjadi teman di siang dan malam, meskipun terkadang perdebatan kecil muncul dari keduanya, karena itulah bumbu dari pernikahan.


''Baiklah,besok kita ke sana, ucapnya dengan sedikit terpaksa, karena keputusannya kali ini belum di ketahui Sahila.


Di ruangan mewah itu Refan merebahkan badannya di dalam kamar pribadinya, memberi jeda untuk fikirannya sejenak, melupakan masalah yang ada saat ini.


''Kasihan sekali bos, pasti saat ini dia bingung, andai saja aku bisa mewakilinya, pasti aku akan kesana sendiri, tapi ini nggak mungkin, Gumam Mike,


Dalam perjalanan pulang pun Refan masih memikirkan alasan apa yang akan di berikan untuk Sahila, pasalnya ini mendadak dan Sahila butuh orang untuk menyemangatinya,meski masih banyak orang yang menyayanginya, namun keberadaan Refan bagaikan satu berlian di antara seribu perunggu.


Sosok yang selalu memberinya kasih sayang, itu memanglah menjadi ketergantungannya saat ini, Sahila tak bisa jauh dari Refan, itu faktanya.


Kaki yang terseyok seyok itu mulai menaiki anak tangga rumahnya, dengan berat kaki melangkah, namun tak dapat di hindari,.


''Mas kamu sudah pulang?'' Sahila menghampiri Refan yang baru membuka pintu kamar .


Refan tersenyum dan memberikan sebuah kecupan yang begitu mesra,

__ADS_1


Namun wajah yang lesu itu tak bisa di sembunyikan, Sahila yang cerdas pun langsung mulai mengintrogasinya.


''Kenapa lagi, apa ada masalah?'' Sahila membuka jas Refan .


Seperti yang sudah biasa terjadi, Refan tak memjawab namun memberi pelukan mesra, dan itu selalu di lakukannya selama menjadi suami Sahila.


''Kalau mas nggak mau cerita nggak apa apa, sekarang mas mandi dulu, aku sudah siapkan air hangat,


Refan langsung ke kamar mandi mengguyur semua baju yang di pakainya,


Kanapa lagi dengan mas Refan ,nggak mungkin dia diam saja kalau nggak ada masalah, batin Sahila,


Sahila berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu Refan yang sedikit lama,


Namun sebelum mengetuk, Refan sudah membuka pintu duluan, tangan yang sudah melayang itu pun mengenai dada bidang Refan. .


''Maaf, lagian mas itu lama sekali, aku kan capek berdiri di sini,. Sahila sambil menyegir,.


''Apa kamu baik baik saja hari ini, apa nggak ada keluhan?'',.


Sahila menggeleng,.


''Lagian aku kan baru besok lagi ke rumah sakit, dan kata Ririn aku harus berangkat pagi, soalnya Ririn ada seminar di kampus.


Refan terkejut, pasalnya Ririn adalah orang satu satunya yang akan di perintah untuk menjaga Sahila, tapi dengan bersamaan Ririn juga akan meninggalkan rumah sakit.


''Kenapa Ririn nggak bilang sama aku ?'', Refan terlihat tegang, membuat Sahila semakin penasaran.

__ADS_1


''Sebenarnya ada apa mas, kenapa mas terlihat tegang begitu?'', Sahila memegang kedua pipi itu,


''Sayang ,besok mas harus pergi ke negara L ,dan mas berharap Ririn yang menemanimu di rumah sakit, terus bagaimana kalau dia nggak ada, mas harus gi mana? 'Refan semakin menunjukkan kekesalannya.


''Aku nggak apa apa, lagian di sana kan banyak suster, aku yakin mereka juga akan menjagaku, mas nggak perlu khawatir, aku tau mas pasti bingung dengan keputusan ini, tapi yakinlah Tuhan akan menjaga kita, di mana pun kita berada,


''Dan sekarang mas tidurlah, besok mas akan melakukan perjalanan jauh, pasti itu akan menguras tenaga. Sahila memastikan Refan untuk tidak memikirkannya lagi.


Meskipun ada rasa sedih dalam hati Sahila saat ini ,namun itu di pendamnya demi menjaga agar Refan tak ragu dengan keputusannya .


Aku tau kamu pasti bingung, tapi aku tidak mau menjadi kan sakitku ini sebagai alasan untuk membuatmu tetap di sini, sebenarnya aku juga ingin kamu berada di dekatku, tapi aku nggak mau egois. bukan hanya aku yang membutuhkanmu, tapi perusahaan juga membutuhkan mu, batin Sahila.


Aku sangat beruntung memilikimu, kamu selalu pengertian, kamu sakit ,tapi kamu terlihat begitu tegar, bahkan aku pun tidak akan bisa sepertimu, batin Refan.


Sahila membuka lemari untuk mempersiapkan baju yang akan di bawa Refan,namun Sahila bingung baju apa yang akan di pakai Refan selama di negara L.


''Mas, kamu berapa hari di sana, dan baju yang mana yang harus aku siapkan,? tanya sahila sambil memilah milih baju yang ada di lemari,


''Sayang, sudah kamu harus istirahat,. biar aku sendiri saja yang menyiapkannya, lagian aku di sana nggak akan lama, aku akan usahakan cepat selesai, supaya aku cepat pulang.


''Mas, aku ini seorang istri, jadi sudah kewajibanku untuk mempersiapkan apa yang kamu butuhkan, aku nggak mau kalau suami aku kerepotan sendiri, ucapan Sahila masih ngotot dengan keinginannya.


Akhirnya Refan memberi tau apapun yang akan di bawanya, dari baju, celana ,jas ,dan yang lain,


''Apa ini cukup?'' Tanya Sahila sambil memperlihatkan koper yang sudah penuh, Refan mengangkat kedua alisnya.


''Sayang ,aku cuma sebentar ke sana, bukan pindahan, jadi itu lebih dari cukup, jadi sekarang ayo kita tidur!'', Refan langsung menggiring Sahila menuju ranjang, meskipun menolak, Namun tangan kekar Refan langsung saja mengangkat tubuh mungil itu yang membuat sang empu menjerit,

__ADS_1


Akhirnya ranjang itu menjadi tempat keduanya untuk melalui malam yang gelap, namun penuh dengan arti, setelah sekian lama, malam ini adalah malam yang terindah dari pada malam sebelumnya ,mungkin saja bagi keduanya ini adalah malam terakhir untuk bersama ,meskipun perpisahan mereka tak lama, namun tetap saja mereka akan berpisah ranjang.


__ADS_2