KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 221. Couple


__ADS_3

Di ruang keluarga, Mike tertawa terbahak bahak, bahkan sampai memegang perutnya yang terasa kaku mendengar cerita dari Refan, meskipun Refan sangat jengkel dengan Mike yang seperti menghinanya, Mike pun tak bisa diam dan terus menertawakannya, seperti mendengar cerita komedi saja.


Refan yang ingin membalas Mike pun langsung menyuruh Sahila untuk masuk kamar, dan nasib baik berpihak padanya karena Refan langsung punya ide saat melihat putri kecilnya.


''Sayang kayaknya princes kita sangat ngantuk deh, apa nggak sebaiknya kamu ajak ke kamar!'' ucap Refan melihat Kyara memang sudah mulai menguap.


''Ya sudah aku ke atas dulu ya, Aku ke kamar dulu ya Nia, pamitnya dan beranjak dari duduknya menuju kamarnya, Sedangkan Nia pun ikut pergi ke kamar yang di tempatinya sebelum menikah dengan Mike, memberi kesempatan Mike dan Refan untuk ngobrol lebih santai.


Setelah kepergian dua wanita itu, Refan beralih duduk di samping Mike, meskipun Mike memang sudah curiga, namun Mike masih diam dan membiarkan apa yang akan di lakukan Refan padanya.


Pasti ada apa apa nih, batin Mike sambil melirik Refan.


''Sialan kamu, bisa bisanya kamu menghinaku dengan kesusahanku di sana, apa kamu nggak tau kalau aku sangat menderita? '' ucap Refan mulai serius sambil merangkul Mike dengan kencang.


''Sorry bos, bukan maksudku menghina, tapi lucu juga, dan aku tidak bisa membayangkan wajah Viola menghadapi bos saat marah padanya.


Refan mengingat saat dirinya membentak Viola dan seketika itu memang wajah Viola langsung merah mungkin karena takut.


''Tapi aku juga salut sama bos yang tak tergoda sama sekali dengan penampilan Viola, janda seksi itu, apa lagi saat dirinya terkilir, kenapa nggak bos sikat saja, ucap Mike asal, dengan cepat Refan meninju perut Mike dengan pelan.


''Sialan Kamu, kamu fikir aku apa, bisa tergoda sama janda, lagi pula secantik apapun dia tidak mungkin aku bisa tergoda, ucapnya meyakinkan Mike.


''Ya, siapa tau pingin tau rasanya janda itu gi mana, dan siapa tau lebih greget, ucap Mike sambil menaik naikkan kedua alisnya.


''Kenapa nggak kamu coba saja sendiri, ujar Refan marah.


Karena sebel dengan omongan Mike, Refan beranjak.


''Mau kemana?'' tanya Mike saat melihat bosnya mulai melangkah pergi.


''Kamar, dari pada dengerin omongan kamu yang nggak berfaedah, medingan aku ke kamar bisa memeluk istri dan anakku.''


Gitu tu, yang paling aku nggak suka, pamer di depanku, Mike bicara dalam hati .


Namun sebelum sampai ujung tangga, suara ketukan pintu membuatnya menoleh.


''Siapa bi?'' tanya Refan melihat bibi yang sudah membuka pintu.


''Masuk!'' belum juga bibi menjawab, Mike dari belakang menyahut mempersilahkan masuk.

__ADS_1


''Ponsel, teriak Mike sambil melihat Refan yang masih mematung di ujung tangga.


Refan mengingat kalau dirinya minta Mike untuk memesankan ponsel pun langsung turun kembali.


Melihat ponsel yang berjejer dengan berbagai type membuat Refan mengernyit, pasalnya kali ini bukan cuma untuk dirinya, tapi untuk Sahila juga.


''Menurut kamu yang mana yang di sukai wanita? '' tanya Refan pada Mike.


''Selera orang itu beda bos, mending bos panggil nona saja, biar dia milih sendiri, lagi pula sekali kali lah dia itu memilih apa yang di sukai,'' ucap Mike santai.


Refan yang setuju dengan pendapat Mike pun langsung memanggil Sahila untuk turun.


''Kenapa mas?'' tanya Sahila setelah sampai bawah dan berdiri di samping Refan.


''Kamu pilih ponsel yang mana?'' tanya Refan.


Sahila melihat ponsel yanag berjejer pun ikut bingung.


''Aku sih terserah mas saja deh, yang penting bisa di pakai, ucapnya santai.


''Oke, Akhirnya Refan menjatuhkan pilihannya pada dua ponsel dengan type yang sama namun beda warna, karena menurutnya itu yang yang paling bagus di antara ponsel lainnya.


Sahila tersenyum dan menggangguk.


''Nggak apa apa lah, orang tinggal pakai saja, ngapain repot, ucapnya santai.


''Kenapa harus sama sih mas, aku nggak apa apa yang ini, menunjuk sebuah ponsel yang lebih murah dari pada yang di pilih Refan.


Refan menghela nafas panjang, melihat istrinya masih saja tak berubah dengan kemiskinannya.


''Sayang, ini namanya couple, dan kamu nggak usah protes ya, kalau kamu milih yang itu, mas pastinya juga milih yang itu, tapi mas nggak mau, apa kata Mike nanti, masa iya mas pakai ponsel kayak gitu.


Akhirnya Sahila mengalah dari pada panjang urusannya.


''Memang kenapa ponsel kamu bisa hancur?'' tanya Refan penasaran, karena hari hari kebersamaan mereka, Refan jarang sekali melihat Sahila memegang ponselnya, tidak seperti emak emak jaman now, yang suka berselfi.


''Aku banting, jawab Sahila ragu, takut kalau Refan akan memarahinya.


''Whaattt... banting, kenapa bisa sama, punya mas juga aku banting, ucap Refan lalu tertawa, mengingat ternyata istrinya bisa melampiaskan kemarahannya pada benda mati.

__ADS_1


''Ya habisnya aku sebel, masa iya buat nelpon mas nggak bisa, papa juga nggak bisa, karena gedeg ya aku banting saja, ucapnya.


Ya kemarahan kalian itu juga couple. batin Mike.


Karena urusannya sudah selesai, Refan dan Mike kembali ke ruang keluarga .


Dengan cepat Refan menarik tubuh Sahila mendudukkan di pangkuannya.


''Mas malu, ucapnya sambil melihat Mike yang menunduk dan menggaruk tengkuk lehernya.


Refan ikut melihat Mike dan mengedipkan satu matanya memberi kode agar Mike pergi dari tempatnya.


''Nggak usah malu Nona, sudah pemandangan tiap hari, aku pergi dulu,'' ucapnya menghampiri kamar Nia.


''Kamu tidur sini saja kalau malas pulang, ucap Refan sedikit berteriak.


Namun sebelum mengetuk pintu kamar Nia, Nia terlebih dulu keluar dan mereka pun akhirnya pulang ke apartemen.


''Hati hati Nia,'' ucap Sahila,


Sedangkan Mike hanya mengangkat jempolnya mengarahakn pada Refan.


''Karena keadaan rumah sudah sepi, Refan mengajak Sahila ke kamarnya alih alih ingin istirahat karena capek.


Setibanya di kamar, Refan melihat Sahila dengan lekat.


''Kenapa?'' tanya Sahila bingung dengan pandangan suaminya.


''Enggak, pingin lihat saja, ternyata Ibu satu anak ini bagai sabu sekarang, yang membuatku kecanduan,'' ucapnya lebay.


Sahila hanya diam tak mau menanggapi suaminya karena dirinya sudah hafal dengan akal bulusnya itu, awalnya memang muji muji tapi ujung ujungnya adegan ranjang yang di minta.


Sahila berbalik memunggungi Refan dan berjalan pelan menuju ranjang.


*Aku hitung ya, satu... dua... ti... belum juga lengkap tiganya, Sahila sudah merasakan kalau Refan memeluknya dari belakang.


Ini nih yang ku hafal dari mas Refan, tidak pernah memberi kebebasan saat aku tidur. batinnya lagi.


Pasrah deh pasrah, batinnya bertubi tubi saat merasakan Nafas Refan mulai menderung, belum lagi lagi ciumannya yang mendarat itu bertubi tubi*.

__ADS_1


__ADS_2