KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 146. Cemburu


__ADS_3

Sepulang dari meeting di hotel X Refan terlihat sangat marah membanting semua benda yang ada di ruangannya ,semua file, atau pun benda lain berserakan di bawah lantai.


Emosinya meledak setelah melihat kejadian di hotel.


Tak lama setelah meluapkan emosinya, Refan mendengar ada yang mengetuk pintu, namun sedikit pun Refan tak bergeming.


''Apa aku boleh masuk,!''ucap Mike minta izin sambil mencondongkan kepalanya .


Refan tak menjawab ,malah memilih untuk memejamkan matanya sesekali menghela nafas panjang mengingat kejadian yang tak pernah di bayangkannya.


''Apa nggak sebaiknya bos tanyakan pada Nona kenapa mereka bertemu di hotel ?'', ucap Mike,.


Lagi lagi Refan tidak menjawab.


''Kalau bos diam saja seperti ini, masalah ini akan semakin larut, mungkin saja teman Nona hanya mengajak ngobrol ,dan bos tidak boleh berburuk sangka. ucap sekali lagi berharap Refan mereda dengan emosinya.


Ya, Refan sangat emosi melihat Sahila di hotel bersama Rendy ,dan tak sengaja pula Refan melihat Rendy merangkul Sahila.


''Kenapa harus di tanyakan, bukankah dia pamit ke supermarket, kenapa dia sampai ke hotel, terus apa yang harus aku tanyakan, bahkan kamu lihat sendiri kan, laki laki itu merangkulnya dengan sangat mesra, bahkan dia pun tak mengajak Nia ,dia hanya sendirian, ucap Refan memastikan,


''Tapi bos, itukan cuma teman Nona, dan nggak mungkin kan, Kalau Nona selingkuh di belakang bos, Nona itu wanita baik ,dan aku yakin bos cuma salah faham, Mike masih mencoba membuat Refan tidak berburuk sangka pada Sahila.


''Baiklah, kita tunggu, apakah nanti dia menjelaskannya padaku tentang pertemuannya tadi, atau dia akan diam saja karena kesalahannya. ucap Refan masih dengan muka datar.


Karena jam sudah menunjukkan waktu pulang ,akhirnya Refan tak mengulur ulur waktu, Refan langsung saja mengajak Mike untuk pulang,segera ingin mendengar penjelasan dari Sahila, apa yang terjadi sesungguhnya.


Tak lama untuk sampai di depan rumah,


Refan menghela nafas panjang mencoba bersabar agar tidak melakukan hal di luar kendali.


''Bos harus sabar, jangan emosi, ingat ,Nona sedang hamil,pikirannya pun labil, aku nggak mau terjadi sesuatu dengan Nona, karena itu akan merugikan bos sendiri , ucap Mike pelan .


''Mas sudah pulang?'', ucap Sahila saat membuka pintu,

__ADS_1


Refan hanya mengangguk saja, tanpa bicara.


''Maaf nona aku langsung pulang .ucap Mike ramah, melihat raut wajah Sahila sedikit kasihan takut Refan berbuat macam macam,


''Tapi Mike hanya orang lain tak berhak ikut campur.


''Apa nggak ingin ketemu Nia dulu, Sahila mencoba bercanda, sedangkan Mike hanya menggeleng.


Ingin rasanya Mike memberi tau Sahila ,apa yang terjadi pada bosnya saat ini namun di urungkannya.


Setelah mobil Mike menghilang, Sahila masuk mengikuti Refan.


Tumben mas Refan langsung ke kamar ,biasanya duduk di sofa dulu .batin Sahila, namun Sahila tetap menyusul Refan.


''Mas,panggil Sahila saat Refan di dalam kamar mandi, namun tak ada sahutan, akhirnya Sahila menunggu duduk di sofa.


Taka lama Refan keluar dari kamar mandi, Sahila pun langsung bergelayut di lengan kekar itu,.


Refan masih menunggu sebuah pernyataan dari Sahila,namun nihil, Sahila tak bicara juga,


''Kenapa mas Refan diam saja, apa dia sangat capek, sampai tak bicara padaku,?'' batin Sahila kembali.


''Apa mas nggak mau makan sekarang?'' tanya Sahila, karena biasanya kalau Refan tak pulang makan siang, pasti pulang dari kantor dia langsung makan tanpa menunggu malam.


Refan hanya menjawabnya dengan menggeleng.


''Apa mas nggak lapar?'', tanya Sahila lagi.


''Tidak, kamu jangan tanya terus, apa kamu nggak lihat aku lagi sibuk?'' ucap Refan sedikit membentak, karena sat ini Refan sedang memandang ke arah laptopnya.


Sahila terkejut, setelah pernikahan yang dijalaninya begitu lama ,baru kali ini Refan membentaknya,bahkan ini lebih menyakitkan menurutnya.


Setelah mendengar bentakan dari Refan ,Sahila memilih keluar meninggalkan Refan di kamar sendiri.

__ADS_1


''Bahkan saat aku datang pun kamu tidak menjelaskan pertemuanmu dengan teman mu di hotel, apa aku harus menanyakannya sendiri pada laki laki itu ,sebenarnya ada hubungan apa kalian, dan apa yang kalian lakukan di hotel. gumam Refan saat Sahila keluar dari kamar.


Akhirnya Refan memilih untuk tidur dari pada keluar kamar,.


Sedangkan Sahila pergi menemui Nia yang ada di kamarnya, Sahila memeluk Wanita yang kini menjadi temannya.


''Nona kenapa, apa yang terjadi sampai nona menangis seperti ini,?'' tanya Nia saat melihat tangisan Sahila.


''Apa aku boleh numpang di kamarmu sebentar, ucap Sahila, sedangkan Nia pun langsung mengangguk.


''Nona tenanglah, jangan menangis, kalau nona seperti ini, aku takut terjadi apa apa dengan bayi Nona, ucap Nia sambil merangkul Sahila mendudukkan di ranjang miliknya.


''Sekarang aku harus gi mana, mas Refan nggak mau bicara sama aku ,bahkan aku tanya pun dia tak mau menjawab, sekali dia menjawab itu pun dengan bentakan, tolong katakan padaku, apa yang harus aku lakukan ,dan apa salahku sampai mas Refan begitu marah padaku ?'', masih di tengah tangisnya.


Nia ikut duduk di samping Sahila melihat wajah Sahila yang di penuhi air mata.


''Lebih baik sekarang nona tenang dulu, nanti kita bicara lagi, mungkin tuan Refan hanya capek dan tak mau di ganggu saja. ucapan Nia membuat Sahila menurut dan langsung berbaring.


Kasihan sekali kamu nona, harus menghadapi masalah seperti ini , tapi kenapa dengan tuan Refan, kenapa dia sampai marah, padahal selama ini tak sekali pun tuan Refan berbicara keras , apa lagi membentak nona, apa aku tanya sama mas Mike saja sebenarnya apa yang terjadi?'' batinnya.


Akhirnya Nia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan untuk Mike.


✉️


''Mas, apa yang terjadi dengan tuan Refan, kenapa tuan Refan membentak Nona, sebenarnya ada masalah apa, tolong kasih tau, siapa tau aku bisa bantu. isi pesan dari Nia untuk Mike, namun setelah di tunggu lama tak ada jawaban dari Mike.


Sedang di kamar lain, Refan pun merasa tak tenang, meskipun Refan berusaha memejamkan matanya , tapi hatinya melayang, apa lagi saat melihat di sampingnya itu kosong, Refan hanya bisa mengelus bantal yang biasa di gunakan Sahila.


''Sebenarnya, disini siapa yang salah, aku yang terlalu cemburu, atau kamu yang tak mau berterus terang padaku, gumam Refan.


''Aku hanya takut kejadian yang dulu terulang kembali, aku di hianati oleh istriku, apa kamu sudah menyalah gunakan kepercayaan yang selama ini aku berikan, apa cintamu padaku itu mulai luntur ?''gumam Refan kembali, tak terasa air matanya itu pun tak setia dan membanjiri pipi Refan.


''Sebenarnya aku tak mau membentakmu seperti itu, tapi kenapa kamu masih diam tak mau jujur padaku?'', gumamnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2