
Perpisahan Refan dan Sahila berlanjut, dan ini sudah tiga hari, karena Refan belum juga menuntaskan semua masalah dan belum bisa meninggalkan negara L,
Refan hanya bisa melihat wajah Sahila dari layar ponsel ,begitu juga sebaliknya, Seperti saat ini mereka sedang melakukan Vc di sebuah restoran di negara L ,sedangkan Sahila berada dalam kamar,
Keduanya saling mengutarakan rindu masing masing, tak ada celah untuk berdebat, dengan sikap Refan yang begitu manis membuat Sahila semakin merindukan sosok suaminya itu.
''Jadi kapan mas pulang, apa masih lama?'', tanya Sahila.
''Paling tiga hari lagi , kamu nggak usah khawatir kalau sudah beres mas akan segera pulang, tetap jaga diri baik baik dan jangan keluar rumah, kalau kamu butuh sesuatu suruh saja pak Jono, ........ucapan Refan berakhir,
''Sayang.....tiba tiba saja ucapan itu terdengar dari belakang Refan, suara seorang wanita dengan nada yang begitu manja, Serta tangan putih mulus memegang pundak Refan, membuat Sahila terbelalak, namun seketika itu Refan mematikan ponselnya,
Sahila masih memegang ponselnya ,namun seketika badannya merasa lemas ,kakinya seakan tak bisa menopang tubuh kecilnya itu, dalam telinganya terngiang ngiang, kata 'sayang', memang Sahila tak tau pasti siapa itu, tapi tangan di pundak Refan menunjukkan bahwa ucapan itu memang untuk Refan sang suami.
Air mata yang tak di harapkan kehadirannya itu sudah mulai membasahi pipi mulus Sahila, pandangannya kosong, namun dalam hatinya merasakan sakit, meskipun dulu pernah mengatakan baahwa dia ingin di pandang saja sebagai seorang istri, , sejak Refan menyatakan cintanya, Sahila sudah mulai labil, ingin memiliki Refan seutuhnya. walaupun terlihat egois, itulah kenyataannya.
''Kenapa kamu setega ini mas, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, apakah yang kamu ucapkan itu semuanya palsu, aku tidak menyangka kalau kamu akan lebih menyakitiku, aku sadar, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, tapi bukan dengan cara seperti ini ,masih dalam tangisnya ,Sahila mengatakan apapun yang terlintas dalam hatinya saat ini,
Tak lama bunyi ketukan pintu itu terdengar olehnya, Namun Sahila masih saja di tempat ,dengan matanya yang sembab dan merah, membuatnya enggan untuk menemui siapapun.
''Sa, ucapan sang Ibu yang langsung membuka pintu dengan sendirinya setelah tak mendapat jawaban dari Sahila.
Betapa terkejutnya sang Ibu, melihat Sahila yang sudah duduk lemas menyenderkan kepalanya serta wajah yang begitu kusut,
''Sa, kamu kenapa?'', kamu habis nangis, apa kamu merasa sakit, mana yang sakit?'', tanya sang Ibu tanpa jeda, namun Sahila tetap diam tak mau menjawab.
__ADS_1
''Sa, apa kamu ada masalah, cerita sama lbu, jangan diam, kalau kamu kayak gini, masalahmu tidak akan selesai,. ucapan sang lbu sambil membelai rambut Sahila.
Sahila menoleh ke arah Ibu dan langsung memeluknya dengan begitu erat, tak lupa dengan tangisannya,.
''Bu, mas Refan,..... Sahila sambil menangis.
''Refan kenapa, apa yang terjadi?'', Sang Ibu khawatir,.
''Aku nggak tau harus ngomong apa, tadi waktu aku Vc dengannya, ada seorang wanita yang memanggilnya sayang, dan memegang pundaknya, setelah Sahila bercerita tangisan itu semakin keras.
''Apa, apa kamu nggak salah, mungkin saja kamu salah lihat, mungkin saja itu temannya ,atau orang lain yang di panggilnya, bukan suami kamu, Bu Nur memastikan.
''Kalau memang panggilan itu untuk orang lain, atau sekedar teman mas Refan, nggak mungkin mas Refan mematikan ponselnya seketika , pasti dia akan menjelaskannya?Sahila tak mau kalah,
Sahila menggeleng,''Tidak ,Aku mau pulang kampung , aku tidak mau mendengarkan penjelasannya, aku sudah tidak tahan,mungkin dulu aku hanya diam saat dia menghinaku, karena memang statusku orang lain baginya, tapi sekarang aku istrinya, aku nggak mau kalau aku di hianati, itu terlalu menyakitkan, Ibu jangan bilang kalau aku egois, Sahila mengatakan pada sang Ibu dengan memohon berharap sang Ibu mau menuruti kemauannya.
Bu Nur mengangguk, ''Baiklah besok kita pulang, Sekarang kamu tidur, Ibu akan bilang pada mertua kamu,
''Jangan bilang papa, aku nggak mau papa memarahi mas Refan, Ibu cukup bilang aku kangen kampung saja,
Bu Nur mengangguk dan berlalu. meninggalkan Sahila,
Setelah beberapa jam ,Sahila melihat ponselnya , berharap Refan menghubungi dan menjelaskan apa yang terjadi, namun semua itu nihil, bahkan ponselnya itu tak berdering sama sekali,
Dengan gulingnya Sahila meringkuk dan pikirannya kacau,mengingat apa yang barusan terjadi,.
__ADS_1
''Ternyata aku salah menilaimu mas, aku pikir kamu beneran cinta sama aku, tapi nyatanya saat kita jauh kamu punya wanita lain, aku yakin ini semua pasti karena aku sakit dan tidak bisa memberikan kamu keturunan, aku sadar, aku memang tidak pantas untukmu, aku hanya membuang waktumu untuk hidup bahagia, aku akan pergi, dan aku harap kamu bahagia dengannya, gumamnya, akhirnya setelah lelah ,Sahila terlelap dan meninggalkan dunia nyata dan beralih le dunia mimpi,
Awalnya pak Cakra menolak bu Nur untuk membawa Sahila pulang, namun dengan alasan Sahila kangen dengan kampung ,akhirnya pak Cakra mengizinkan,tapi dengan syarat, Sahila tetap menjalani perawatannya.
Dengan persetujuan pak Cakra, pagi sekali Sahila membereskan bajunya yang akan di bawa pulang,
Tak ada tangisan di pagi itu, wajah Sahila seceria mungkin saat berpamitan membuat pak Cakra percaya akan alasan sang Ibu,
''Kamu hati hati ya Sa, dan secepatnya pulang, kamu masih harus berobat, ucapan pak Cakra, Sahila hanya mengangguk.
''Hati hati ya kakak ipar, kakak ipar harus menjaga pola makan, jangan sampai telat, maaf aku nggak bisa menemani kakak ipar ke sana, aku banyak tugas, Ririn.
''Iya, aku tau kok, kamu itu wanita yang super sibuk, aku akan melakukan apa yang kamu perintahkan, kamu tenang saja. ucapan Sahila terakhir,
Mobil yang di tumpangi Sahila dan sang Ibu sudah hilang dari rumah, namun ada tanda tanya di balik itu semua dalam benak Ririn.
''Apa Om nggak merasa aneh dengan kakak ipar, wajah kakak ipar terlihat seperti habis menangis, dan matanya masih sembab, apa dia ada masalah dengan kak Refan, apa mereka bertengkar lewat ponsel, tanya Ririn pada pak Cakra, karena Ririn curiga melihat wajah cantik itu sedikit sayu dan tak bergairah.
''Biarkan saja, Om juga tau itu, tapi om nggak mau ikut campur, biarkan mereka yang memutuskan, dan om yakin pasti Sahila hanya salah faham saja, pak Cakra meyakinkan Ririn untuk tidak memperbesar masalah Sahila dan Refan.
Sepanjang perjalanan, Sahila hanya diam saja, tak ada satu patah kata pun yang dia luncurkan, karena jiwanya saat ini sedang melayang , memikirkan sesuatu yang sedang mengusik hatinya.
Author minta like koment votenya ya ,supaya tetap semangat nih,
ikuti kelanjutannya ya! ''
__ADS_1