
Waktu terus berputar, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Nia masih saja mondar mandir di dalam kamarnya, melihat Sahila yang sedang meringkuk, sedangkan pesan untuk Mike pun tak di balas semakin membuatnya kesal.
Untung saja waktu makan malam pak Cakra tak banyak menanyakan soal Sahila dan Refan, karena memang Nia berbohong, itu pun demi kebaikan mereka berdua.
''Ini kan sudah jam sembilan malam, tapi Nona belum bangun juga, apa sebaiknya aku bangunkan, biar Nona kembali ke kamarnya, atau aku biarkan saja dia tidur di sini, gumam Nia sambil melihat wajah Sahila yang semakin teduh semenjak hamil itu.
Dengan langkah pelan Nia mendekat ke arah Sahila mengelus lengannya.
''Nona, ucap Nia pelan, namun dengan cepat Sahila mengerjap ngerjapkan matanya.
''Nia, ngapain kamu disini, ucap Sahila karena belum menyadari kalau dialah yang berada di kamar Nia.
''Maaf kalau aku lancang, Nona belum makan malam, dan itu tidak baik untuk bayi Nona, apa sekarang mau aku siapin, ucap Nia lembut,.
Sahila membuka matanya dengan lebar melihat setiap sudut ruangan yang sangat berbeda dengan kamar Refan, membuatnya mengingat di mana sekarang dirinya berada.
''Nia ,jadi dari tadi aku tidur di kamar kamu ?''tanya Sahila sambil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Nia tersenyum dan mengangguk.
''Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, aku pikir ini kamarku, ucapnya sambil beranjak.
''Apa mas Refan sudah pulang, ?''ucapnya seketika,.
''Sudah, dari sore apa nona lupa,?'' ucapan Nia membuat Sahila berfikir keras.
Setelah semua ingatannya terkumpul, Wajah Sahila berubah masam kembali, karena Sahila lupa akan kejadian sebelum dirinya tertidur di kamar Nia.
''Aku lupa kalau saat ini mas Refan sedang marah padaku, bahkan sampai jam segini pun dia tidak mencariku, tapi aku akan kembali ke kamar, meskipun dia memarahiku, nggak baik kalau aku meninggalkannya ,nanti kalau dia butuh sesuatu siapa yang akan menyiapkannya, ucap sahila .
Nona memang benar benar wanita yang sangat baik, disaat suami nona marah pun nona masih sempatnya memikirkan kebutuhan tuan Refan. Batin Nia.
__ADS_1
''Apa Nona yakin mau ke kamar Nona, Nia memastikan kalau Sahila kali ini tidak salah bicara.
Sahila mengangguk.
''Tapi Nona makan dulu biar aku siapkan. ucap Nia lalu menggandeng Sahila keluar dari kamarnya.
Sahila mengangguk dan berjalan mengarah ke meja makan, sedangkan Nia berlalu ke dapur menyiapkan makanan.
Setelah makan malam selesai, Sahila kembali ke kamar nya,
Dengan pelan Sahila membuka pintu, takut Refan terganggu..
Ternyata kamu sudah tidur mas, batin Sahila.
Sahila menghampiri ranjang nya, ingin sekali rasanya tidur di samping suami tercinta, tidur dalam pelukannya yang hangat, namun itu di urungkannya mengingat bentakan Refan.
Sahila berdiri di samping ranjangnya, melihat wajah Refan yang sudah tertidur pulas ,sedang tangannya menopang di atas bantal Sahila, dengan terpaksa Sahila tidur di sofa tanpa bantal dan selimut, meskipun kedinginan Sahila rela menahan agar sang suami tidak terbangun.
Sebenarnya apa salahku, sampai kamu marah padaku .batin Sahila sambil menitihkan air matanya.
Meskipun Sahila mencoba mengingat apa yang di lakukan seharian, Sahila tak merasa dirinya itu bersalah.
Akhirnya kesedihan itu membawanya sampai ke alam mimpi sampai pagi, malam yang sunyi dan sepi, bahkan hanya ada rasa sedih yang menyelimuti hati Sahila.
Meskipun beberapa kali Sahila merubah posisinya, karena Sofa itu sangat sempit, dan Sahila merasa tak nyaman dengan perutnya yang mulai membuncit, Refan sama sekali tak bergeming ,
''Huh... kenapa badanku malah sakit semua gumamnya pelan, apa aku tidur di lantai saja, kan aku bisa bebas, tapi apa nggak semakin dingin, kalau di sofa saja dingin seperti ini apa lagi di lantai, gumam Sahila kembali sambil mengelus kedua lengannya.
Sahila melihat punggung Refan yang masih dengan posisinya,
''Andai saja kamu tidak marah padaku, malam ini aku pasti akan tidur di pelukanmu, dan aku tidak akan kedinginan seperti ini ,Kamu yang sabar ya Nak, gumamnya, dengan terpaksa Sahila kembali tidur di sofa karena sudah tidak ada pilihan lain, meskipun tidak bisa terlelap, tapi malam itu terlewati juga ,
__ADS_1
Dan akhirnya....
Sang fajar mulai menyingsing, membuat Sahila segera bangun dari tidurnya, Sahila langsung ke kamar mandi dan turun, karena dirinya tau kalau Refan pasti melewati makan malam dan pasti pagi seperti ini dirinya sudah lapar.
''Nona sudah bangun ?''tanya Nia yang juga berjalan menuju dapur, Sahila hanya mengangguk.
''Nona mau ngapain?''. tanya Nia, karena tak biasa melihat Sahila bangun pagi dan ke dapur.
''Aku mau masak untuk mas Refan ,tadi malam dia pasti melupakan makan malamnya ,jadi pasti pagi ini dia kelaparan, dan aku akan membawakannya ke kamar. ucapnya sambil menyiapkan bahan untuk di masak.
Setelah memakan waktu beberapa menit, masakan Sahila yang di bantu Nia dan pembantu pun sudah siap di hidangakan, Nia menyiapkan sarapan itu di meja makan, sedangkan Sahila mengambil dan membawanya ke kamar.
''Mas, bangun!'' ucap Sahila sambil mengelus lengan Refan, dengan cepat Refan membuka matanya,
''Mas, aku sudah siapin sarapan kamu disini, jadi kamu nggak perlu turun untuk sarapan .ucap Sahila kembali, namun Refan masih saja diam tak menjawab, malah beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi ,namun sebelum Refan membuka pintu kamar mandi ,Sahila menarik tangannya dari belakang.
''Mas, apa kita bisa bicara sebentar?'', ucap Sahila yang membuat refan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.
''Cepat bicaralah, waktuku nggak banyak, jadi aku nggak bisa lama lama, ucap Refan dengan ketus.
''Sebenarnya kamu kenapa, kenapa kamu diam, dan tak mau bicara padaku, apa salahku, ?''ucap Sahila ramah,
Refan malah menyunggingkan bibirnya setelah mendengar ucapan Sahila.
''Apa kamu memang benar benar lupa dengan apa yang sudah kamu perbuat di belakangku, atau kamu memang menyembunyikannya dariku ?''kata Refan kembali dan menepis tangan Sahila yang masih setia menempel di lengannya.
''Maas, teriak Sahila karena Refan langsung masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan Sahila yang sudah menangis tersedu sedu .
''Kalau kamu diam seperti ini, aku nggak akan tau salahku di mana, tapi kalau kamu menjelaskan, pasti aku akan minta maaf kalau memang benar aku yang salah, gumam Sahila dengan di iringi air matanya.
Sedangkan di kamar mandi ,Refan bukan semakin sadar malah semakin emosi karena menurutnya Sahila kali ini sudah kelewatan, tak mau jujur padanya, dengan apa yang di perbuat di belakangnya.
__ADS_1
''Sampai kapan kamu akan menyembunyikan perbuatanmu di balakangku, bahkan sedikit pun kamu nggak punya niat untuk membicarakan tentang pertemuanmu dengan laki laki itu. gumam Refan,