KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 78.Ingin marah


__ADS_3

Tak ada yang nengetahui bagaimana kehidupan yang akan datang, tak ada yang tau pula bagaimana isi hati seseorang meskipun itu orang terdekat, seseorang hanya bisa mengira dari raut wajah, meskipun kadang tak sesuai ekspektasi kita, terkadang wajah bisa menipu, namun meskipun hati yang tak nampak ,dialah yang sebenarnya mengartikan sebuah kebaikan maupun keburukan, semua itu tergantung dengan benda lunak yang bernama hati,


Ketakutan Refan pun tak sesuai akspektasinya ,ketakutan yang menyelimuti hatinya langsung hilang seketika melihat wajah Sahila yang langsung menampilkan senyuman manis.


''Apa ini tidak sakit sayang, ucapnya mengelus rambut Sahila yang saat ini berbaring.


Sahila menggeleng dan terus memberikan ucapan ucapan yang tidak membuat Refan gelisah.


''Apa kakak pernah di gigit semut merah?'', ucap Ririn sambil membenarkan letak infus Sahila.


''Pernah, jangankan semut merah, kelabang merah pun aku pernah, ucapnya sombong.


''Nah, bagaimana rasanya, apakah sakit, ?''


Dengan cepat Refan menggeleng.


''Nah, infus kakak ipar itu rasanya seperti di gigit semut, dan aku heran ketakutan kakak itu tak beralasan, jadi jangan di besar besarkan, kakak tunggu saja di sini, aku akan keruanganku, nanti kalau kakak ipar merasa ada keluhan panggil aku saja di ruanganku, ucap Ririn dan langsung keluar dari ruang rawat Sahila.


Mike pun ikut pamit karena pekerjaan di kantor yang begitu menumpuk,


Benar saja, setelah beberapa jam, Refan sangat panik dan wajahnya terlihat begitu marah, saat Ririn datang pun reaksi wajahnya masih datar,


Ririn hanya diam karena tau apa yang sedang menyelimuti hati sepupunya saat ini.


''Jangan marah, ini sudah biasa ,ucap Ririn santai saat melihat Sahila memuntahkan apa yang di makan, bahkan isi perutnya habis pun Sahila masih saja merasa mual.


Sahila terlihat sangat pucat, badannya begitu lemas ,untuk bangun saja tak bisa, di atas brankar Sahila memuntahkan isi perutnya, karena tak memungkinkan untuk turun dan ke kamar mandi.


Sudah tak bisa di bayangkan bagaimana wajah Refan saat ini, wajah yang tak bisa di artikan, ada rasa kesal, sedih, dan rasa kasihan bercampur jadi satu.


Genggamannya begitu erat, seperti tak dapat terpisahkan ,bahkan matanya pun tak bisa melihat apapun selain wajah wanita kampung yang saat ini menjadi istrinya.


''Selain mual apa yang kakak ipar rasakan saat ini ?''tanya Ririn pada Sahila.


''Aku merasa detakan jantungku semakin cepat, aku nggak tau sejak kapan, tapi saat ini aku juga merasa menggigil, ucapan Sahila semakin membuat Refan panik,

__ADS_1


Tatapan Refan mengarah ke arah wajah cantik Ririn ,namun dengan santainya Ririn mengatakan, ''Semuanya akan baik baik saja kak, ini cuma sementara, karena obat nya sudah mulai bereaksi .


Refan tak bisa mengatakan satu patah kata pun, karena Ririn sudah tau akan kakak sepupunya itu pun memasang tameng di depan.


Sebelum Pembicaraan yang akan menyudutkannya ,Ririn langsung meluncurkan kata katanya duluan.


Diatas brankar itu pun Refan memeluknya tanpa rasa malu, meskipun suster silih berganti memeriksa Sahila tak membuat Refan bergeming.


Tok... tok... tok... suara ketukan menggema dari dalam ruangan.


''Masuk, ucap Refan sedikit keras, Refan melihat siapa yang datang saat ini,


''Doni, Nesya, dari mana kalian tau kalau kita di sini? ''tanya Refan kaget melihat sahabatnya bersama sang istri masuk ke ruangan Sahila.


Perut Nesya yang semakin membesar itu membuat Refan teringat kembali keadaan Sahila saat ini,


''Kami tadi dari rumah kamu, katanya Nesya kangen sama Sahila, tapi kata bibi kamu ada di rumah sakit, dan kebetulan kami ketemu dengan om Cakra dan memberi tau kalau kalian di rumah sakit ini,


''Sahila sakit apa, tanya Nesya yang khawatir melihat wajah pucat Sahila. Nesya mendekat ke arah Sahila,


Sahila langsung tersenyum melihat perut buncit Nesya, kebahagiaannya mulai terpancar, meskipun bukan dirinya yang hamil setidaknya kehamilan Nesya bisa mengobati keinginannya untuk menjadi seorang Ibu. .


Di dalam ruangan itu pun akhirnya terjadi adegan yang mengharukan Sahila memeluk sahabat satu kampungnya itu yang sudah lama tak pernah bertemu, itupun di iringi dengan air mata, karena bukan hanya rasa kangen saja yang ada dalam hati Sahila saat ini .


''Kamu dan kak Doni pasti sangat bahagia, dengan kehamilanmu ini?'' ucapan Sahila terbata bata, bahkan air matanya mulai menetes ,.


Seketika itu Refan langaung menghampiri dan merangkul pundak kecil itu,.


''Kamu tenang ya, nanti kamu pasti akan hamil juga, aku janji aku akan memberikan anak berapapun yang kamu mau, ucapan Refan sedikit konyol, namun hanya itu satu satu nya cara untuk membuat Sahila tertawa, dan ternyata benar, bukan hanya Sahila ,tapi semua penghuni kamar itu pun ikut tertwa termasuk para suster yang sedang berjaga ,.


''Mas, aku malu, apa mas nggak lihat disini banyak orang, Sahila melihat ke arah samping, dan suster yang cekikikan itu pun langsung diam setelah mendapat tatapan dari Refan .


''Tidak usah malu Sa, dia memang seperti itu, aku yakin dia akan menepati janjinya. Doni langsung menimpali.


Suara ketukan pintu itu pun menggema untuk yang kedua kalinya, kali ini Doni yang membuka pintu, rangkulan persahabatan pun terjadi tepat di balik pintu,

__ADS_1


''Roman romannya ada pasangan baru nih, ucap Doni meledek, namun Refan tak terkejut lagi,


Iwan tersemyum dan menghampiri Refan serta Sahila


''Kalian juga tau kalau kami disini?'',


''Tu yang kasih tau, ucap Iwan mungut mungut kan kepalanya ke arah Doni,


''Sorry, tadi aku yang kirim pesan ke dia saat aku tau Sahila di rawat, Doni.


''Kamu nggak apa apa Sa, kenapa bisa begini, apa yang terjadi?'',Sindi pun tak kalah khawatir,


Sahila menggeleng,


''Aku nggak apa apa, kalian ini kompak banget sih, lagi pula aku nanti juga langsung pulang, kalian gi mana hubungannya, apa sudah..... Sahila sedikit memberi lelucon


Sindi mengangguk, ''Aku akan menikah dengan kak Iwan bulan depan, kamu dan tuan Refan datang ya,!'' ucap Sindi mengharap.


''Pasti aku datang, kamu tenang saja, iya kan mas,?'' Sahila langsung mengarah ke arah Refan.


Refan hanya mengangguk memberi jawaban.


''Wah, ternyata kakak ipar kedatangan tamu, ucap Ririn saat masuk untuk memeriksa Sahila.


''Apa yang kakak ipar rasakan sekarang,?!''ucap Ririn sambil melirik Refan,


''Sekarang aku lebih baik, aku juga nggak merasa kedinginan lagi,


''Wah, kalau gitu nggak ada yang memarahiku, sebenarnya aku menunggu waktu itu tiba kak, tapi gagal deh, Ririn menyindir Refan,


Sedangkan yang di sindir hanya melihatnya sinis.


''Terus saja kamu dan Mike itu berkomplot untuk mengejekku terus, lagi pula aku kan cuma khawatir, apa tidak boleh, Refan tak mau kalah.


''Bukan tidak boleh, tapi cara kakak itu salah, kakak selalu saja menyalahkan orang sebelum semuanya jelas ,dan itu tidak baik. Ririn menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2