
Disaat heningnya malam yang sangat sunyi ,ada dekapan penuh cinta dari sang suami membuat malam semakin indah,
Kasih dan sayang serta cinta yang tak bisa di gambarkan itu merubah segalanya,
Eugh.... Sahila menggeliat, dan terbangun, karena merasakan mual ,karena sudah tak bisa di tahan, Akhirnya Sahila berlari ke kamar mandi, dan itu sontak membangunkan Refan.
Refan langsung ikut berlari menghampiri sang istri yang sudah terdengar memuntahkan isi perutnya.
Karena itu sudah berlangsung berhari hari Refan tak bingung, karena berulang kali juga Ririn mengatakan kalau itu sudah biasa ,bawaan Ibu hamil.
''Mas, kok kamu bangun sih, ini masih terlalu pagi, ujarnya di saat mualnya mulai berkurang,
''Hai, gi mana bisa mas tidur enak enakan ,sedangkan kamu saja tak bisa tidur, Ucapan Refan membuat Sahila langsung memeluknya.
''Inilah resiko seorang Ibu mas, jadi sudah biasa, dan aku akan bertahan demi buah hati kita ,kamu tenang saja, mungkin tiga bulan lagi aku akan normal seperti biasa kok, kamu tenang saja Sahila pasti bisa, sambil tersenyum dan mencubit pipi Refan.
''Kalau Sahila saja bisa menjadi Ibu yang kuat, Refan juga harus bisa menjadi ayah yang siaga, ucapnya sambil menggandeng Sahila keluar kamar mandi.
''Mas, tunggu,!'' sambil menarik tangan Refan dari belakang.
Refan menengok melihat sang istri yang seperti memikirkan sesuatu.
''Kenapa lagi, apa mual lagi?'' tanya Refan.
Sahila menggeleng.
''Mas, sudah lama aku nggak jalan jalan sama Sindi dan Nesya, aku kangen sama mereka, apa mas mengizinkanku untuk jalan sama mereka, ucap Sahila ragu, karena biasanya Refan tak pernah mengizinkannya.
''Kenapa tidak, mas mengizinkanmu, apa perlu mas antar sekarang?'', dengan cepat Refan menjawabnya membuat Sahila menyatukan alisnya .
Sahila bingung dengan sikap Refan yang langsung menyetujui semua keinginannya tanpa bertanya, meskipun menguntungkan baginya ,Sahila merasa ada yang aneh pada suaminya saat ini.
Biarin deh yang penting mas Refan nggak salah faham. batinnya
__ADS_1
''Ya nggak sekarang juga lah mas, apa mas nggak lihat sekarang jam berapa?'', ucapan Sahila membuat Refan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, karena jam masih menunjukkan jam 4 pagi.
''He... he... he... maaf ,mas kira sudah jam tujuh pagi, Refan pura pura bodoh.
Namun pagi ini Refan merasa sedikit lega, karena setelah sarapan tak melihat Sahila berlari ke kamar mandi, itu tandanya Sahila nggak merasakan sakit atau mual lagi, dan Refan berharap ini seterusnya.
''Sayang, ayo kita berangkat, Nesya dan Sindi pasti sudah nungguin kamu, ucapnya sambil membukakan pintu mobil untuk Sahila.
Karena sebelumnya Refan sudah memberi tau pada Nesya dan Sindi akan kedatangan Sahila,
Sahila mengangguk dan berjalan menuju mobilnya.
Dalam perjalanan, Sahila masih memikirkan sikap suaminya yang sedikit aneh itu, dalam benaknya terselip ingin menanyakan pada Mike ,tapi itu di urungkannya ,karena melihat sang suami saat ini ada di sampingnya.
Sahila melihat wajah sang suami, semakin tidak sabar ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, pasalnya bukan senang karena Sahila hamil, tapi Refan selalu antusias saat Sahila minta sesuatu, meskipun menguntungkan baginya, Tapi Sahila merasa kasihan pada sang suami.
''Mas, aku boleh nanya nggak, tapi mas jangan marah ya? ''Sahila sangat pelan, karena tidak mau membuat mood suaminya yang bagus itu berubah menjadi buruk.
Dengan cepat pula Refan mengangguk.
Gawat, ini pasti bos salah mengartikaan apa yang aku ucapkan padanya, apa bos menganggap semua keinginan Nona itu ngidam, gi mana ini bisa di pecat dan di buang ke laut aku, batin Mike.
Wajah Mike berubah sedikit tegang, menciutkan matanya, sesekali melirik wajah Refan dari spion, berharap jawaban Refan itu bukan karena ide dari dirinya.
''Sayang, mas harus menuruti semua keinginanmu, meskipun mas nggak suka, dan mas nggak mau kalau anak kita ileran, kamu kan hamil ,dan semua keinginamu itu ngidam kan?'' ucap Refan serius dengan memegang kedua tangan Sahila,
Dengan cepat Sahila menepuk jidatnya sendiri, bingung dengan apa yang di ucapkan suaminya.
Ini beneran mas Refan kan ,pembisnis muda yang kondang itu, kenapa otaknya lemot sekali kalau soal beginian, terus dari mana coba, dia mengartikan kalau semua keinginan ibu hamil itu adalah ngidam, hadeh.... suami cuma pinter nyari uang saja, batin Sahila sambil geleng geleng kepala.
Sedangkan Mike hanya bisa menghela nafas panjangnya, bersiap siap menghadapi singa yang kini duduk di belakangnya, siap untuk menerkam kepalanya .
Mudah mudahan Nona jawabnya nggak menyinggung ku, kalau itu terjadi, siap siap deh kepalaku putus, batin Mike.
__ADS_1
Sahila memiringkan duduknya melihat manik mata suaminya.
''Mas Refan tersayang, dengarkan aku baik baik, tidak semua keingainan Ibu hamil itu ngidam, memangnya mas pikir kalau keingananku bertemu Nesya dan Sindi ini juga ngidam, tanya Sahila sambil mencondongkan kapalanya mendekat sang suami.
Refan melihat Mike sebentar, namun dengan cepat Sahila meraup pipi Refan supaya melihat wajahnya, dengan cepat pula Refan mengangguk.
Sedangkan tak tau raut wajah Mike yang sudah memerah karena takut bosnya itu murka,
''Mas dapat info itu dari mana.?'' dengan cepat Refan menunjuk ke arah Mike yang fokus menyetir.
Sahila pun ikut menengok ke arah Mike yang saat ini malah bersiul sambil memasang heandset.
''Mas itu salah mengartikan semua yang di katakan tuan Mike, ini bukan termasuk ngidam, aku cuma kangen sama Nesya dan Sindi, dan itu normal,ucapnya melihat sang suami ,berharap faham apa yang di katakannya.
''Jadi tidak semua keinginanmu itu ngidam, dan aku nggak harus cepat cepat melakukannya?'' ucap Refan tepat di depan Sahila.
''Tapi kata Mike, aku harus menuruti semua keingainanmu, meskipun kamu ingin menciumnya, makanya aku lebih waspada ,supaya kamu nggak ngidam itu, Refan dengan tegas mengatakannya.
Sahila malah tertawa terpingkal pingkal mendengar pernyataan Refan, sedangkan Mike melepaskan heandset nya dari telinga saat melihat Sahila,
''Ada apa Nona, apa ada badut lewat?'', ucap Mike pura pura bodoh, sedangkan kemarahan Refan sudah memenuhi ubun ubun dan sudah ingin meledak,
Mas, mas ,gampang banget kamu di kerjai tuan Mike, tapi aku salut ,kalian itu pasangan yang serasi, tuan Mike bisa bertahan dengan sikapmu yang bossy itu,batin Sahila.
Tangan Refan mengepal ingin sekali menjambak rambut yang ada di depannya itu, namun dengan cepat Sahila memegang dan menggeleng,
''Tuan Mike, lain kali kalau mau mengatakan sesuatu pada mas Refan itu yang jelas, biar dia nggak salah mengartikan seperti ini, untung saja aku cepat tau, kalau nggak bisa malu maluin kan?'', ucap Sahila menasehati.
Mike hanya bisa cengingisan mendengarkan omongan Sahila.
''Maaf Nona, aku cuma iseng saja, ucapnya santai tak merasa bersalah.
''Apa kamu nggak tau, gara gara ucapanmu itu aku selalu panik, takut kalau istriku ngidam pingin menciummu, ucap Refan marah,
__ADS_1
''Maaf bos, aku tidak akan mengulanginya lagi.
Sedangkan Refan hanya bisa memandang wajah Mike dari spion dengan pandangan yang sinis.