
Pagi sekali Sahila mengawali harinya dengan membersihkan taman bersama bibi dan pak Jono, memotong rumput ,seperti dirinya waktu di kampung selalu menyapu halaman dan dan membasmi rumput liar bersama sang Ibu.
Meskipun sudah di larang Bibi dan pak Jono, Sahila tetap kekeh tak mau berhenti.
''Non sudah, biar nanti pak Jono dan Bibi saja yang membersihkannya? ucap Bibi.
''Bi, nggak apa apa, lagian aku sering kok ngelakuin ini, dan ini sangat menyenangkan, aku jadi ingat Ibu di kampung, setiap hari Ibu selalu menyuruhku menyapu halaman.
''Itu kan di kampung, sekarang non adalah majikan kami, dan ini tugas kami .
''Aku bukan majikan, aku di sini juga numpang seperti Bibi, jadi diamlah biar aku yang membersihkan!''
Sedangkan Refan hanya melihat perdebatan Sahila dan sang bibi dari balkon kamarnya yang mengarah ke taman.
Refan tersenyum ,pandangannya fokus pada Sahila yang sibuk dengan kerjaanya saat ini.
Bibi melihat Refan pun menyenggol Sahila,
sambil munggut mungut ke arah Refan.
Sahila yang faham langsung mengarah ke atas,
''Ngapain di situ, kemari, apa kamu nggak ingin bersihin rumput lagi seperti tadi malam? Sahila sambil mendongak ke arah Refan.
''Baiklah, tunggu aku di situ, ucapnya sambil berlalu meninggalkan kamarnya.
Refan mematung di belakang Sahila sambil melihatnya memotong rumput.
''Apa mas nggak mau mencoba, sambil menyodorkan alat pemotong rumput.
''Kenapa aku, ini bukan kerjaanku, mana bisa aku melakukan ini, jawab Refan.
''Ayolah jangan hanya bisa memegang laptop saja, ini juga perlu, kalau suatu saat kamu berumah tangga dan belum punya tukang kebun ,apa kamu mau halaman rumahmu seperti hutan belantara,
''Hai ,kenapa sampai ke rumah tangga, siapa yang mau menikah dengan duda sepertiku, jawabnya sambil mancing sahila,
Sahila diam, dan kini pandangannya tepat di wajah Refan.
Refan menaikkan kedua alisnya menunggu jawaban dari sahila.
''A.. aku minta maaf, lagian kamu itu harus serba bisa, jangan mengandalkan orang lain,
Siapa juga yang tau kalau kamu itu duda, meskipun kamu duda pasti banyak wanita yang mau sama kamu, kamu nya aja yang terlalu sombong, jadi siapa yang berani mendekatimu ,batin Sahila.
''Kamu lagi mikirin aku, celetuk Refan di telinga Sahila, membuat Sahila kaget,.
__ADS_1
''Nggak, kenapa kamu nggak pergi ke kantor ini kan hampir siang!'',
''Kamu sendiri kenapa nggak pergi ke kampus?''tanya Refan balik. ,
Sahila menepuk jidatnya,karena lupa kalau ini adalah hari libur .
''Aku lupa,
''Penyakitmu itu sudah menular ke sekretarisku, padahal dia baru sekali mengantarmu, tapi dia sudah tertular, ganas juga ya?''
''Jangan suka ngeledek ,ucap Sahila sambil memanyunkan bibirnya.
Refan langsung mengacak rambut Sahila karena merasa gemes dengan tingkah nya.
Sedangkan yang lain hanya menjadi penonton saja,
Di tengah tengah candanya, ada sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah pak Cakra,
Karena taman berada di samping rumah, jadi Refan dan yang lain langsung bisa melihat siapa yang datang.
''Pagi semua, Ref apa kabar,?''
''Aku baik, ada apa kok pagi sekali, apa ada yang penting?'' tanya Refan pada Iwan.
Ya,Iwan lah yang pagi pagi sudah bertamu ke rumah Refan.
Sahila ikut tersenyum ,sedangkan Refan pun juga ikut tersenyum.
Lain dengan hatinya saat ini yang merasa gelisah dengan permintaan Iwan untuk mengajak Sahila keluar.
Sahila melihat wajah Refan yang saat ini ada di depannya,
Dengan diamnya, Refan mengangguk tanda memperbolehkan.
''Baik, tunggu aku, Sahila berlalu meninggalkan Refan dan Iwan yang masih ada di tempat .
''Masuk dulu, sudah lama kita nggak ngobrol, ajak Refan ,
Refan dan Iwan saling berbincang sambil menunggu Sahila ganti baju.
Di dalam kamar Sahila melihat dirinya di pantulan cermin
''Kenapa mas Refan mengizinkanku, apa memang dia tidak menyukaiku sama sekali, dia sangat mendukung hubunganku dengan kak Iwan, kalau ini memang yang terbaik baiklah aku akan menjalankannya.gumam nya
Sahila menghela nafas dan berlalu dari kamar.
__ADS_1
''Kamu sudah siap Sa, Iwan melihat Sahila turun dari tangga,
''Papa kemana mas, kok dari pagi aku nggak melihatnya, aku mau izin?''
''Biar nanti aku yang bilang, kalian pergilah, mungkin papa masih di kamar, ucap Refan.
Setelah kepergian Sahila dan Iwan, Refan berlari ke balkon kamarnya melihat mobil Iwan berlalu dari halaman .
Ada rasa sedih dan kehilangan, meskipun Sahila hanya pergi untuk sebentar, namun hati Refan terasa sesak merasakannya.
Kenapa denganku, kenapa sekarang aku nggak rela Sahila dekat dengan pria lain, tapi aku harus sadar ,Iwan adalah orang yang tepat untuk Sahila, sedangkan aku hanyalah orang yang hanya bisa menyakiti Sahila, aku harus belajar ikhlas, bahkan aku akan kehilangan dia untuk selama lamanya. lirih hatinya.
Akhirnya Refan mengisi hari liburnya dengan tiduran di dalam kamarnya saja, dan tidak keluar sama sekali.
Makan siang pun di lewatkan dengan percuma membuat pak Cakra bertanya tanya.
''Bi, anak anak di mana kok sepi?''
''Anu tuan, Non Sahila keluar dari pagi bersama den Iwan, sedangkan den Refan di kamar belum keluar juga,
''Dari kapan Refan di kamar, tanya pak Cakra memastikan.
''Semenjak Non Sahila pergi, sampai sekarang.
''Kekanak kanakannya nggak berubah, dulu kalau ngambek nggak mau ketemu orang, dan aku tau Bi ,sekarang pasti dia sedang cemburu sama Iwan yang membawa Sahila keluar, apa bibi juga berfikir sama.
''Iya tuan, bibi juga ngerasa gitu, den Refan sekarang sangat menyayagi non Sahila, terlihat dari tingkahnya kalau den Refan nggak mau jauh dari non Sahila,
''Tapi aku nggak tau bi, Sahila masih mau sama Refan atau tidak, biarlah mereka yang memutuskan sendiri, aku nggak mau ikut campur ,ucap pak Cakra.
Seharian penuh Sahila pergi dengan Iwan ,entah pergi kemana, namun Refan sangat khawatir,hatinya mulai gelisah karena Sahila maupun Iwan tak memberi kabar, Refan hanya melihat jam yang melingkar di tangannya saat ini, sesekali melihat halaman dari balkon kamarnya.
Suara mobil berhenti di depan rumah, membuat Refan berlari dan melihat sekaligus membuka pintu utama membuat Sahila membelalakkan matanya.
''Mas Refan, kenapa mas yang membuka pintu?'' ucap Sahila sambil tersenyum renyah .
''Aku tidak sengaja, aku hanya mau cari angin saja, tapi tiba tiba saja kamu datang, ucapnya cuwek.
''Aku kira mas Refan nungguin aku pulang,
''Hmm, baiklah aku mau masuk dulu , Ucap Sahila meninggalkan Refan di depan pintu, sedang mobil Iwan langsung saja
pergi ,setelah melihat Sahila masuk rumah.
Aku memang menunggumu pulang, bahkan sejak kamu pergi, aku sudah menantimu untuk pulang kembali. lirihnya.
__ADS_1
Jangan lupa ya gaeess ,Like komen serta vote nya Supaya Authornya lebih semangat.