KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 167. Weekend 1


__ADS_3

Happy weekend ,mungkin hari itulah yang di tunggu tunggu bagi setiap pasangan yang sedang menjalin kasih, meskipun mereka sudah mempunyai ikatan tali pernikahan, namun hari itu seakan akan seperti hari yang special, melepas lelah dan berkumpul bersama keluarga setelah pekerjaan yang di gelutinya berhari hari.


Seperti Zero dan Ririn kali ini ,mereka keluar untuk mencari angin segar, kerjaannya di rumah sakit yang sangat menuntut itu membuat mereka jarang sekali bertemu, kali ini mereka saling mencurahkan rasa rindu dan keluh kesah masing masing.


Kali ini Ririn dan Zero memilih untuk menghabiskan waktunya dengan belanja,karena kali ini memang permintaan Zero dan Ririn tidak mungkin menolaknya.


''Kamu tunggu disini sebentar ya,!'' ucap Zero mendudukkan Ririn di tempat yang di sediakan,. Ririn pun hanya mengikuti perintahnya tanpa bertanya.


Ririn tersenyum senyum sendiri karena sikap Zero makin hari semakin manis padanya, apa lagi Zero itu ternyata pria yang sangat romantis seperti yang di inginkannya.


Om Cakra tidak salah memilih dirimu untukku, batinnya sambil melihat punggung Zero berlalu.


Ririn melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata Zero meninggalkannya hampir tiga puluh menit.


''Kemana dia, apa aku cari saja, gumamnya.


Namun sebelum Ririn beranjak ,Ririn melihat wajah dokter tampan itu dari jauh berjalan dengan gontainya dan menampilkan senyum yang membuatnya semakin berwibawa.


''Lama ya, katanya pada Ririn.


''Sedikit, ucap Ririn,


Zero duduk di samping Ririn dan masih saja menampilkan senyumnya.


Ririn melihat Zero dan mengernyitkan dahinya ,heran dengan tingkah Zero yang seperti orang malu malu.


''Kenapa,?'' Ririn memegang tangan Zero yang sudah sangat dingin.


kenapa tangan Zero dingin seperti ini, apa dia sakit, batinnya.


Zero menggeleng, kini Zero mengambil alih menggenggam tangan Ririn dengan kedua tangannya.


''Apa aku boleh bilang sesuatu padamu?'', ucap Zero pelan, wajahnya terlihat sedikit gerogi.


Kenapa dia terlihat gerogi, memang apa yang akan di katakannya ,batin Ririn heran.


Dengan cepat Ririn menganggukkan kepalanya.


''Aku mencintaimu,, ucapnya jeda, Ririn tak percaya dengan apa yang di dengarnya,.


''Ulangi,!'' titah Ririn.


Zero tersenyum, ''Aku mencintaimu, dan kamu satu satu nya wanita yang sudah berhasil singgah di hatiku, jelasnya.


Darah Ririn terasa berdesir entah apa yang harus di katakan saat ini selain menjawabnya.


Haruskah aku menjawabnya dengan bilang aku pun mencintainya juga,, Aaaa.... jeritnya dalam hati, Tuhan tolong apa yang harus ku katakan, Ririn kegirangan.

__ADS_1


Zero masih memegang tangan Ririn menanti jawaban dari sang empu


A... ucapnya belum juga terlanjur Ririn masih saja mikir mikir ,apa lanjutan A itu.


setelah mengatur nafas,


''Aku juga, akhirnya kata itu lolos dari mulut dokter kandungan yang cantik itu,


''Juga apa, Zero mencoba meledek, Ririn yang sudah tersipu malu.


''Aaa..... masa aku harus melanjutkan sih, aku kan malu, ucapnya sambil menepuk lengan Zero.


''Tidak ,tidak ,aku cuma bercanda, Aku punya sesuatu untukmu .ucap Zero kembali,sambil merogoh sesuatu dari saku celananya.


''Kenapa sulit sekali?'' ucapnya sambil mengernyitkan dahinya, sementara separuh tangannya masih berada di dalam sakunya.


Ririn melihat ke arah tangan Zero yang tersendat seperti tidak bisa untuk keluar.


''Memangnya apa sih, Ririn ikut menarik tangan Zero.


Saat Ririn memegang pergelangan tangan Zero dengan cepat tangan itu pun nampak dengan menggenggam sesuatu.


''Bercanda lagi, Ririn pelan.


Zero tersenyum dan membuka kotak kecil yang ada dalam genggamannya,.


''Ini untukmu, tapi aku tidak tau bagaimana seleramu, kalau kamu tidak suka, aku bisa menggantinya .ucapnya ragu, Zero memang belum tau bagaimana cara merayu wanita, apa lagi ini calon istrinya.


''Aku suka, tapi aku lebih suka kalau kamu yang memakaikannya, Ririn sedikit manja.


''Dengan senang hati sayang,


Zero langsung mengambil cincin dari kotak itu dan menyematkan di jari manis Ririn.


''Terima kasih, Sambil melihat cincin yang kini sudah melingkar dengan sempurna semakin memepercantik jemari lentiknya itu.


Ririn tidak menyangka sikap Zero yang terlihat serius itu bisa meluluhkan hatinya dalam sekejap bahkan Zero kini sudah lebih santai dalam bersikap, mungkin profesinya sebagai dokter mengharuskan dia harus tetap serius.


Tapi saat di luar kerja ,Zero sudah bisa menyesuaikannya.


Drttt... drt.... drrt.... Ponsel Ririn bergetar, Ririn mengambil dan mengangkatnya, karena itu dari rumah sakit.


Ririn berbicara dengan serius pada orang di balik telepon dan sesekali melihat Zero yang masih duduk.


Setelah menutup teleponnya, Ririn mengambil tas yang di taruhnya.


''Mas, kita ke rumah sakit, ada yang mau melahirkan dan ini jadwalku, ucapnya yang langsung mendapat anggukan dari Zero.

__ADS_1


Zero mengerti, andai saja dirinya yang berada di posisi Ririn saat ini Zero pun akan panik ,karena prioritasnya sebagai dokter pun lebih utama.


''Maaf ya, ucap Ririn saat mereka sampai ke mobil.


Untung saja momentnya pas, batin Zero.


Zero tersenyum kecil, ''Tidak apa apa, lagi pula aku pun akan sama sepertimu, kita harus mengutamakan nyawa seseorang ,mereka sangat membutuhkan kita, dan aku tidak mau egois mementingkan kebahagiaan kita saja, ucapnya.


Huhh... untung saja calon suamiku seorang dokter juga, jadi dia tau apa yang harus di lakukannya, batinnya senang.


Berbeda dengan Zero yang melewati weekendnya jalan jalan bersama sang kekasih , Refan dan Sahila memilih untuk bersantai di rumah, selain perut yang sudah semakin besar itu Refan juga kasihan melihat sang istri kalau harus kelelahan saat berjalan,.


Kali ini Sahila memilih untuk membuat kue bersama Refan dan juga bibi,


Setelah beberapa jam Sahila membuatnya, akhirnya kini kue itu siap untuk di hidangkan.


''Hmmm... sepertinya enak, Refan mencium dari baunya kue yang baru saja di ambil dari oven.


''Jelas dong Den, siapa dulu yang membuat, selain cantik, baik ,ramah, juga pinter masak dan membuat kue, ucap Bibi menyanjung.


Sedangkan Sahila hanya tersenyum dan berterima kasih mendegar sanjungan itu.


''Papa nggak salah kan fan memilihkan istri untukmu,?'' ucap pak Cakra bangga.


''Iya,pilihan papa memang tidak ada duanya, sambil mengekori Sahila menuju meja makan untuk menaruh kuenya.


Sahila mulai memotongnya dan memberi pada suami, dan papa mertuanya serta pembantu dan yang lain,.


''Kenapa kamu hanya melihatnya saja sayang, ?''apa mau aku suapi, ?''tanya Refan heran melihat istrinya hanya memandang kue yang ada di meja saja.


Sahila menggeleng,.


''Ririn kemana, tanya Sahila teringat pada adik sepupunya.


''O... Ririn keluar dengan Zero, dan pasti mereka sudah makan di luar ,kamu makan saja , ucapan pak Cakra membuat Sahila lega.


''Mas, rengeknya sambil memegang lengan Refan.


''Hemmm.... Refan masih mengunyah kue yang ada di mulutnya.


''Kasihan tuan Mike ,pasti di apartemen sendirian, apa nggak sebaiknya mas ke sana dan membawakan kue ini untuknya.!''


Karena biasanya Mike pasti akan ke rumah Refan sewaktu libur untuk menemui Nia, dan ini pertama kalinya, Mike melewati liburnya sendirian.


Permintaan Sahila membuat Refan memberhentikan kunyahannya.


Dan menggangguk.

__ADS_1


''Baiklah istriku yang cantik,tapi sekarang kita makan dulu,sambil memberi suapan kue untuk Sahila.


__ADS_2