KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 71.Makam


__ADS_3

Selimut tebal itu masih setia membalut tubuh mungil Sahila ,karena kelelahannya melayani sang suami Sahila enggan hanya sekedar membuka mata,namun semua itu berbalik arah, Justru Refan begitu bersemangat, pagi yang cerah itu secerah hati Refan saat ini.


Refan tersenyum mengingat kejadian semalam dengan sang istri, begitu buasnya membuat Sahila terkapar,


''Sayang, sudah pagi, apa kamu nggak mau bangun dan buatin aku sarapan!''. ucapnya pelan.


Masih dengan mata terpejam Sahila menghela nafas,


''Kayaknya untuk kali ini aku nggak bisa, badanku sakit semua dan kepalaku terasa pusing, ucapnya lemas membuat Refan sedikit khawatir dan langsung memegang keningnya.


''Aku tidak demam ,hanya saja kau menyakitiku semalam, seperti harimau yang kelaparan, ucapan Sahila membuat Refan cekikikan ,namun itu cukup di tahannya di dalam hati.


Sengan sigap Refan meraih tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar mandi, Sahila benar benar tak bertenaga, di dalam bath up pun hanya diam, Refan lah yang memandikannya seperti bayi.


Kata maaf berulang kali dari Refan tak membuatnya bergeming,


Memakai baju pun peran Refan yang utama, mengeringkan rambut sampai menyisir dan terakhir memakaikan make up,


Refan memilah milih apa yang biasa di pakai sahila setiap hari,


''Mas ,kalau gini ceritanya nanti aku akan jadi lelucon di bawah, ucap sahila merengek melihat wajahnya dari pantulan cermin, wajahnya yang lucu dengan bedak yang tidak merata, lipstik yang tidak pas, entah menurutnya wajah Sahila saat ini persis seperti badut.


''Hai, siapa yang mau menertawakanmu, ucap Refan merasa tak bersalah dengan karyanya .


''Mas lihat, ucap Sahila dengan tegas meraih kepala Refan dan memperdekat dengan wajahnya, bukannya melihat malah sebuah morning kiss yang terjadi membuat Sahila semakin jengkel.


''Ini make up mas nggak rata, belum lagi leherku ini banyak tanda merahnya, dan ini semua ciptaan mas, kalau sampai Bibi lihat pasti dia akan mengira aku ini nggak waras, apalagi kalau sampai aku ketemu dengan papa, mau di taruh mana muka ku ini, dengan mengeratkan giginya karena jengkel dengan tingkah Refan.


''Sini, ucap Refan dengan santainya dan duduk di ranjang, Sahila langsung sja menghampiri laki laki yang sombong itu dan kini duduk di pangkuannya.

__ADS_1


''Pokoknya aku nggak mau turun, aku mau di kamar saja, ucap Sahila sekali lagi,


''Baiklah ,kalau gitu kamu duduk yang manis, aku akan mengambilkan makanan untukmu, ucapnya sambil beranjak dan mendudukkan Sahila di ranjang.


Refan turun dan tujuannya adalah ke dapur,


''Sahila mana Ref, kok kamu turun sendiri?'',. tanya pak Cakra heran, karena biasanya sahila sudah di dapur untuk memasak, dan kali ini belum melihat wajah menantunya sama sekali.


''Kecapekan pa, ini aku mau buat makanan untuknya, jawaban Refan membuat pak Cakra menyunggingkan bibirnya.


Alasan saja, batin pak Cakra


Dengan lincahnya Refan memasak berbagai makanan, meskipun ada sang bibi, Refan tetap kekeh ingin memasak sendiri


Bibi heran, ternyata majikan mudanya itu pintar sekali, karena tak pernah sekali pun melihatnya di dapur, dan sekalinya langsung membuat berbagai makanan, baunya pun mulai mnyeruak.


Refan hanya tersenyum tak menjawab.


Setelah selesai, Refan menyiapkan di meja makan untuk pak cakra, dan mengambilkan untuk Sahila dan membawa ke kamarnya.


''Bik, apa bibi lihat, sekarang mereka semakin hari semakin mesra saja, Refan begitu perhatian sama sahila, akhirnya perjuanganku nggak sia sia untuk memepersatukan mereka ,dan aku tidak lagi memikirkan masa tuaku, pak Cakra di sela sela makannya.


''Iya tuan, Bibi juga ikut bahagia melihat mereka ,bahkan tadi malam pun den Refan juga makan masakan non Sahila, meskipun sudah larut ,dan ternyata hari ini ulang tahunnya den Refan, Bibi dengan seriusnya mengatakan pada pak Cakra.


''Aku juga tau bi, tapi aku memang tak pernah merayakannya ,semenjak dia lulus SMA, karena dia malu, katanya sudah dewasa, saat dia ulang tahun dulu, aku sering mengajaknya ke makam mamanya, karena hanya itu kado yang di mintanya, bertemu sang mama, tapi sekarang ada sahila yang menggantikan, mudah mudahan Refan menjadi sosok yang lebih lembut lagi dan lebih baik,


Kasih sayang seorang Ibu yang di harapakn Refan memang tak tercapai, itulah yang membuat dirinya angkuh dan susah untuk mempercayai apa yang ada di dekatnya,


''Sayang hari ini mas akan mengajakmu ke suatu tempat, bersiaplah !''ucap Refan di sela sela makannya.

__ADS_1


Sahila hanya mengangguk,.


Setelah bersiap Refan menghubungi Mike ,karena mungkin dirinya sedikit siang untuk ke kantor.


Sepanjang perjalanan, Refan pun tak seperti biasanya yang selalu banyak omong, kali ini Refan hanya diam,banyak pertanyaan dari lubuk hati Sahila yang paling dalam, namun semua itu di urungkannya.


''Pak Bunga... ucap Refan masih di dalam mobil.


Mas Refan beli bunga berarti dia mau ke makam, tapi makam siapa, batin Sahila.


Tibalah kini mobil Refan di suatu tempat, dimana lahan kosong namun penuh arti, banyak penghuni di sana, meskipun tak bernyawa itu adalah gambaran dari kita yang hidup,.


Refan menggandeng tangan Sahila menyusuri gundukan tanah yang berjejer,


Tibalah di sebuah makam, yang sudah tua namun tetap bersih dan rapi, bunga nya segar menghiasi gundukan itu, Refan menyandarkan lututnya ke tanah untuk menopang tubuhnya, dan kini hatinya mulai merasakan ada getaran pedih, dan luka, karena makam yang sudah lama itu, merindukan orang yang tidak akan pernah bisa dia temui,


''Ma, sekarang hari ulang tahunku, dan kali ini aku tidak bersama papa, melainkan dengan istriku, dia wanita yang bisa meluluhkan hatiku, ucapnya terbata Refan mensejajarkan tubuh Sahila tepat di sampingnya,


Sahila berjongkok dan melihat suami sombongnya begitu rapuh hanya berhadapan dengan gundukan tanah itu.


''Ma, aku akan menjaga anak mama semampuku, aku tidak akan meninggalkan dia dan percayalah padaku, seluruh kebahagiaan yang aku punya akan menjadi miliknya juga, dan aku akan mendampinginya sampai kita menua, Mama tenanglah di sana, dan doakan kami selalu, supaya rumah tangga kami langgeng, dan mama lihatlah, ternyata anak mama ini sangat cengeng ,ucapan Sahila membuat tangis Refan pecah, air matanya mengalir deras membasahi makam di depannya,namun sedikit senyuman melintas di sela sela tangisnya mendengar ucapan Sahila yang lucu,


Refan menunduk, dan lagi lagi dalam otaknya terselip rasa bersalah pada wanita yang berada di sampingnya saat ini, yang dulu di hina dan di makinya, bahkan sepenuhnya sekarang mengisi ruang hatinya.


Refan merangkul pundak kecil itu dan mencium kening Sahila di depan makam ibunya.


Sahila mulai menaburkan bunga di makam mertuanya itu dengan penuh senyuman mengharap restu darinya,


Sampai akhirnya Refan berdoa untuk sang mama yang sudah tiada,

__ADS_1


__ADS_2