
Setiap hari Sahila selalu saja membuat Refan semakin bahagia ,meskipun Sahila belum juga bisa memberikan keturunan, tapi dengan tingkahnya Sahila mampu membuat Refan semakin mencintainya, seperti
hari Ini dengan kekonyolannya, Sahila membuat Refan tertawa puas.
Dengan kejahilannya Sahila membuat wajah tampan Refan itu menjadi badut, karena hari ini Sahila tidak mood untuk keluar kamar,
''Sayang ,ini wajah Refan pengusaha kaya, dan sukses, kalau sampai orang tau gi mana?'', pasti repotasiku akan hancur,mereka akan mengejekku kalau aku ini hanya takut sama seorang istri,. ucapnya, saat melihat wajahnya dari pantulan cermin.
''Hei, diamlah, aku tidak mengizinkanmu untuk bicara, ucap Sahila ketus ,sambil terus sibuk dengan wajah Refan.
Akhirnya dengan terpaksa Refan hanya diam sambil menikmati tangan Sahila yang selalu merias wajahnya.
Namun sebelum karyanya itu selesai, Sahila merasa mual, dan dengan terpaksa berlari ke kamar mandi.
Hoek.... hoek..... suara Sahila memuntahkan semua isi perutnya, Refan yang masih di tempatnya pun langsung panik dan berlari menuju kamar mandi.
''Kamu kenapa sayang ?''ucapnya sambil memijat tengkuk leher Sahila.
Sahila hanya menggeleng .
''Apa kamu salah makan ?'' tanya Refan kembali, Wajahnya begitu khawatir melihat Sahila yang tak berhenti juga.
''Aku akan panggil Ririn ,ucap Refan dan langsung keluar dari kamarnya,
Ririn yang sedang bersantai bersama Mike pun langsung beranjak mendengar teriakan Refan .
''Kakak kenapa,kok panik seperti ini, lagian wajah kakak kenapa? ''tanya Ririn sambil memegang lengan Refan, sedangkan Refan masih panik,
''Sudah, kamu nggak usah pikir wajahku, Sahila muntah, aku nggak tau dia kenapa?!!, ucap Refan dan langsung menarik tangan Ririn menuju kamarnya,
Sedangkan Mike masih saja tertawa melihat wajah Refan yang masih seperti badut. namun tertawanya itu langsung menghilang saat melihat tatapan tajam Refan .
'!Ini nggak lucu Mike, nonamu muntah, sekarang kamu tunggu di sini,!'' perintah Refan dan meninggalkan Mike yang masih mematung,.
''Kakak ipar kenapa,?'' tanya Ririn dengan muka yang khawatir melihat wajah Sahila yang semakin pucat.
''Kak, bawa kakak ipar ke ranjang, setelah mendengar ucapan Ririn ,dengan cepat Refan menggendong badan Sahila yang sudah lemas ,Ririn mengambil paralatan yang di bawanya, setelah beberapa menit pemeriksaan itu pun selesai.
Dengan tidak sabarnya Refan langsung saja menanyakan keadaan Sahila.
''Kakak tenang saja ,kakak ipar cuma masuk angin, mungkin karena kemarin kelamaan di pantai, ucap Ririn begitu yakin dengan hasil pemeriksaan.
__ADS_1
''Apa kamu yakin kalau dia cuma masuk angin dan tidak ada yang perlu di khawatirkan? ''tanya Refan masih terlihat gelisah.
Ririn hanya mengangguk dan keluar meninggalkan Refan dan Sahila di kamar .
Refan menghampiri Sahila dan duduk di sampingnya.
''Sekarang apa yang kamu rasakan sayang?'',
''Mas, kenapa kamu sangat khawatir, aku nggak apa apa ,benar apa kata Ririn aku hanya masuk angin, lagi pula sekarang aku sudah merasa sehat, aku mau jalan jalan, ucap Sahila dengan wajah yang kembali sumringah.
''Hai, istirahatlah dulu, besok kita belum pulang, jadi untuk sekarang mas nggak mau menurutimu, ucap Refan sedikit keras,
''Kalau begitu aku akan jalan sendiri bersama Ririn dan tuan Mike, ucap Sahila tak mau kalah,
''Baiklah nyonya Refan, kamu memang selalu menang atas diriku, aku tak bisa berbuat apa apa jika itu semua menyangkut tentangmu, ucapnya dan langsung mencium kening Sahila.
Refan berdiri dan menjulurkan tangannya,
''Kemana, ucap Sahila bingung.
''Katanya mau jalan jalan, memang kemana ?''ucap Refan kembali .
Sahila beranjak dan mengalungkan kedua tangannya di leher Refan.
''Sayang ,kalau kita mau jalan jalan lebih baik kamu ke kamar mandi dulu, dari pada semua orang nanti menertawakanmu, ucapnya dan menggiring Refan ke depan cermin.
Refan terkejut melihat wajahnya yang persis badut itu.
Jadi, tadi Mike menertawakanku karena ini, batin Refan malu.
''Baiklah, ternyata sekarang aku menjadi Refan yang takluk sama istri, ucapnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit, perjalanan untuk menikmati keindahan pun di mulai, Mike mengemudi denagn pelan, karena semua itu keinginan Sahila.
''Tuan berhenti di sana! ''titah Sahila saat melihat sebuah rumah makan yang begitu besar.
''Apa kamu lapar sayang, tanya Refan melihat Sahila dari dekat.
''Tidak, aku cuma..... ucapan Sahila berhenti karena dengan cepat Refan menyahutnya, ''Jangan bilang kalau kamu suka dengan namanya,. Refan memastikan
''Hmmm, tapi kali ini aku janji, aku akan makan .ucap Sahila sambil mengangkat dua jarinya seperti huruf v.
__ADS_1
''Baiklah, aku harap kamu tidak hanya memesannya saja, Refan sedikit menyindir.
Setelah melihat menu, Sahila memesan sate lilit dan ayam betutu, sebenarnya masih banyak nama menu yang akan di pilihnya, namun Sahila mengurungkan niatnya karena takut tak menyukainya.
Setelah semua siap, Sahila segera menyantap makanan yang di pesannya, dan kali ini ekspresi Sahila negitu mengejutkan Refan, Sahila langsung menyantapnya tanpa melihat Refan, Ririn dan Mike yang melihatnya dari tadi
Sedangkan Refan hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah melihat Sahila yang begitu lahap dengan makanannya .
''Kakak ipar pelan pelan ,nanti tersedak, Ririn mengingatkan, namun Sahila sudah tak menghiraukannya.
Setelah beberapa menit, Sahila tersadar bahwa orang yang mengelilinginya itu melihatnya.
''Kenapa kalian melihatku seperti itu, apa aku aneh ucapnya pelan, karena mulutnya masih terisi.
Semua menggeleng, termasuk Refan, karena takut Sahila salah faham.
''Apa kalian kali ini yang nggak menyukai makanannya? ''.tanya Sahila kembali dengan nada masih pelan.
''Tidak sayang, kamu makanlah, dari pada nanti di ambil orang itu, ucap Refan sambil menunjuk orang yang sedang duduk di belakangnya.
Refan memang sedikit menyindir Sahila, tapi bodo amat, karena Sahila sangat menyukai makanan yamg di pesannya kali ini.
''Apa nona sangat menyukai makanan itu?'', tanya Mike pun sedikit heran,
Sahila mengangguk.
''Ini sangat enak, kenapa aku tak pernah melihat makanan seperti ini di kampung, padahal ini kan ayam, sementara ayam kan semua berasal dari kampung, kenapa mereka begitu bodoh, hanya menjualnya tidak memasaknya, Sahila kembali dengan kepolosannya membuat Refan mendekati dan mencium pipinya.
''Diamlah sayang, jangan bicara lagi oke!'',
Refan menyuruh Sahila diam, karena semakin Sahila ditanya pasti akan menjawabnya keman mana, karena mulutnya yang tak bisa bohong itu pasti akan meluncurkan kata kata polosnya, tak sadar di mana pun dia berada.
''Setelah ini kita kemana lagi?'' tanya Refan kembali pada Sahila, karena di sini sahila lah penentu kemana mereka pergi. ,.
Namun Sahila malah tersenyum melihat sebuah pesan dari ponselnya.
''Mas, Neaya sudah melahirkan , dan anaknya laki laki, ucapnya, namun pandangannya masih menghadap ke ponsel.
Sahila menunjukkan sebuah foto baby ke depan Refan ,yang mana itu adalah anak Doni dan Nesya.
Namun reaksi Refan tak seceria Sahila malah semakin datar.
__ADS_1