
Ini hari kedua Mr Wilson berada di Indonesia ,dan hari ini tujuan nya akan terlaksana, apa lagi kalau bukan melamar Nia, karena di hari pertama pak Cakra melarang mereka untuk langsung pergi,
Pak Cakra menyiapkan acara lamaran Mike dengan sempurna, meskipun Nia tinggal di kota, tapi adat itu tetap di lakukan.
Di tengah tengah kebahagiaan, ada yang menangis terisak melihat sasrahan yang akan di antar ke rumah pak lek Hajir.
''Kamu kenapa?'', tanya Refan melihat sang istri yang sedari tadi hanya diam dan sesekali mengusap air matanya yang jatuh di pipi.
Sahila hanya menggeleng tak mau suamimya itu cemas melihatnya.
Namun Refan curiga, tak mungkin tak ada apa apa saat Sahila sedang menangis, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan.pikirnya.
Refan terus saja melihat ke mana arah mata Sahila tertuju.dan ternyata pada semua barang sasrahan.
''Apa kamu ingin di lamar juga, ?''celetuk Refan tepat di depan Sahila.
''Mas, hanya itu ucapan Sahila dengan sedikit manja .
''Sini,!'' Refan langsung merentangkan tangannya meraih tubuh Sahila dan mendekapnya.
''Mas memang nggak melamar kamu, tapi mas sangat mencintai kamu, ini hanya acara adat saja,bukan tanda cinta, jadi kamu nggak perlu menyesali apa yang sudah terjadi dengan kita, karena waktu itu berbeda, sambil mengelus rambut Sahila.
Sahila masih diam meresapi semua kata yang terucap dari bibir Refan.
Mas Refan benar juga, ini bukan tanda cinta, tapi ini hanya adat saja, dan aku nggak boleh iri sama Nia ,batinnya dan tersenyum..
Sahila mendongak ke atas melihat wajah Refan yang masih saja
tersenyum untuknya.
''Aku nggak ingin di lamar , tapi aku ikut bahagia, akhirnya tuan Mike dan Nia bertunangan juga. ucapnya,.
''Sayang, apa kamu beneran mau ikut?'', tanya Refan kembali saat semua sudah siap untuk berangkat,
Sahila mengangguk, ''Aku ingin ikut, aku nggak apa apa kok, ucapnya, bersikeras.
Meskipun Refan sudah membujuknya semalaman, Sahila tetap kekeh mau ikut, mau tidak mau Refan terpaksa meng iyakan keinginan Sahila.
Akhirnya tiga mobil mewah itu melaju ke rumah pak lek Hajir.
__ADS_1
Dalam perjalanan, semua menikmati keindahan kota dan sampai masuk ke hutan dan jalan jalan yang menjulang kanan kiri di penuhi jurang dan gunung, Mr Wilson pun tak meninggalkan momen ini, karena pemandanagan ini sangat langka ,bahkan tak akan di temui di negaranya.
''Kamu sangat pintar cari istri Mike, kalau bukan karena kamu, mungkin papa nggak pernah lihat pemandangan yang seperti ini, gumam Mr Wilson memang sedikit norak, tapi itulah kenyataannya.
''Puas puasin saja Wil, ini kesempatanmu, dan nggak akan terulang lagi, ucap pak Cakra sambil geleng geleng kepala melihat tingkah Wilson.
Di mobil lain....
Sedangkan Nia masih saja diam, sesekali menggigit jarinya, meemikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
''Mas, aku takut, ucapnya pelan dan menggenggam tangan Mike,
''Peluk aku!'' suruhnya, dengan cepat Nia memeluk Mike dan merasakan sedikit lega.
''Kamu percaya kan sama aku?'', papa dan mama pasti akan menyetujui kita ,walaupun keluargamu itu orang kampung dan miskin, Sekali lagi Mike menenangkan Nia.
Beberapa jam itu berlalu, kini tiga mobil mewah itu pun sudah memasuki perkampungan, di mana pak lek Hajir tinggal.
Sahila sudah merasa lelah meskipun sudah tiduran di pangkuan Refan dan sesekali berjongkok, dan selonjoran ,masih saja merasa lelah, apa lagi pinggangnya terasa berat untuk bergerak.
''Apa kamu merasa capek ,Refan mengelus punggung Sahila yang sedari tadi bergerak.
Refan mengangkat tubuh yang semakin gemuk itu ke pangkuannya, berharap bisa membuat Sahila lebih nyaman.
''Kamu lihat itu, sebentar lagi kita sampai, dan itulah bukit yang sangat berjasa saat mas di kampung ini, ucapnya, supaya Sahila sedikit melupakan rasa bosan dan capeknya.
Saat mobil mulai masuk ke perumahan warga,
dan tak tau lagi warga langsung heboh ,mereka membuat kerumunan bagaikan pasar, entah apa yang di bicarakan, hingga mereka terus mengikuti mobil yang jalan perlahan karena jalan yang terjal.
Tak lama mobil berhenti tepat di depan rumah pak lek Hajir, semuanya turun dan menghampiri rumah yang sudah tua dan sedikit rapuh itu,
''O... ternyata tamunya pak lek Hajir, dan itu kan Nia keponakan pak lek Hajir, terus bule dan orang itu siapa, itulah topik pembicaraan kampung di mana Nia tingal.
''Pak lek,,, teriak Nia, melihat rumahnya yang tertutup rapat.
Kayaknya pak lek di kebun deh, batin Nia,
Nia melihat calon kedua mertuanya dan pak Cakra bergantian, melihat reaksi dari orang orang kaya itu saat melihat rumah pak lek Hajir bagaikan gudang sampah.
__ADS_1
Nyonya Wilson mengernyitkan dahinya,
Aku juga orang kampung, tapi tak seburuk ini, bagaimana Mike mendiamkan rumah calon istrinya begini, apa dia nggak punya hati nurani. batinnya.
Nia tersenyum kecut memegang lengan calon mertuanya, pikirannya kemana mana, melihat reaksi calon mertuanya membuatnya semakin menciut, karena Nia tak tau apa isi pikiran dari nyonya Wilson.
''Mama nggak apa pa sayang, ini kemana pak lek mu kok nggak ada, ?''tanyanya,
Sedangkan para warga menghampiri Nia dan yang lain memberi tau kalau pak lek Hajir masih di kebun.
''Terima kasih Bu,ucap Nia.
Para Ibu ibu pun masih membentuk kelompok yang sedikit menjauh dari rumah pak lek Hajir, mungkin dalam hati mereka ingin berkenalan dengan bule yang tampan itu, sehingga mata mereka masih terpana ke arah bule yang sudah berumur setengah abad itu.
Tak lama menunggu, pak lek dan bu lek datang membawa sayur sayuran dan singkong serta pisang yang di panen dari kebun sendiri,.
Sahila yang masih berada di mobil pun langsung menelan ludahnya dengan susah payah melihat apa yang di bawa pak lek Hajir.
Sahila melihat Refan memegang pipinya dan memandangnya lekat.
''Mas, aku pingin itu?'' rengeknya sambil menunjuk ke arah pisang yang berada di pundak pak lek Hajir.
''Pisang, Refan menebak, Namun benar, Sahila mengangguk.
''Kan di rumah banyak sayang, kenapa kamu mau pisang pak lek Hajir?'',
Dengan cepat Sahila menutup mulut suaminya.
''Kenapa?'', Refan heran dengan tingkah istrinya.
''Aku mau pisang yang itu, bukan milik pak lek Hajir, ucapnya kembali, malah membuat Refan bingung.
Refan yang tak mau berdebat pun langsung keluar memanggil pak lek Hajir yang berhenti di samping mobil yang di tumpangi pak Cakra, karena pak lek Hajir pun heran kenapa rumahnya di datangi tiga mobil mewah, sedangkan bu lek malah mundur berada di belakang pak lek Hajir .
''Pak lek, teriak Refan dari belakang, membuat keduanya menoleh dan terbelalak.
''Ternyata mase to ,tak kirain siapa, kok rame banget, sama siapa saja, tanyanya pada Refan karena pak lek Hajir tak melihat Nia malah melihat bule yang akan menjadi besannya.
''Sama calon mertua Nia, kita ke sini mau melamar Nia untuk Mike, dan mereka itu orang tua Mike yang datang dari luar negeri,.
__ADS_1
Weleh Weleh, punya tamu dari luar negeri to, mimpi apa aku semalam, batin pak Lek Hajir senang.