
Tak terasa ini adalah hari kedua bagi Refan dan Sahila di Bali, setelah hari pertama nya di habiskan di bedugul, kali ini Sahila
meminta Refan untuk ke pantai, dengan senang hati Refan langsung meng iyakan permintaan Sang istri.
Setelah semua siap, Sahila menyusuri pantai bersama Ririn, sedangkan Refan dan Mike hanya melihat dari jauh,.
"Rin, apa kamu mau membantuku membuat rumah dari pasir?", ucap Sahila mirip anak kecil.
Ririn pun langsung mengangguk,karena profesinya sebagai dokter membuat dirinya tak pernah sekali pun liburan.
Sahila dan Ririn begitu sibuk dengan apa yang di lakukannya, sedangkan Refan dan Mike bersantai tak jauh dari mereka .
Setelah beberapa menit, rumah buatan Sahila dan Ririn pun hampir selesai, namun ada yang aneh dengan rumah itu, pasalnya Ririn sedikit merasakan seperti pernah melihatnya, namun entah di mana,
"Mas sini ,panggil Sahila sedikit keras, membuat Refan langsung saja berlari.
"Kenapa, apa kamu perlu sesuatu?", tanya Refan saat melihat Sahila yang di penuhi senyuman, sedangkan Ririn masih saja diam. memikirkan rumah itu .
"Mas, lihat deh, ini persis kan, sama rumah tempat penginapan kita, ucap Sahila begitu senang dengan hasil karyanya .
Refan melihat dan ternyata benar rumah pasir itu persis dengan rumah yang di tempati mereka.
Sedangkan Ririn hanya ber o ria.
"Apa Nona suka dengan rumah itu, sampai Nona membangunnya dengan pasir?", mendengar pertanyaan Mike, Sahila langsung saja mengangguk, membuat Refan langsung memeluknya.
"Kenapa kamu nggak bilang sama mas ,kalau kamu suka dengan rumah itu, ucapnya,.
"Untuk apa, toh aku juga sudah menempatinya meskipun bukan milikku, ucap Sahila santai.
"Hai, kamu tau rumah itu milik siapa?'' ucapnya sambil memegang kedua pipi Sahila.
__ADS_1
Sahila menggeleng,.
"Itu rumahku, ucapnya pelan, namun Refan tak meneruskan ucapnya, tapi matanya melihat Sahila dengan lekat.
"Apa kamu mau aku meneruskan ceritaku? ucap Refan kembali membuat Sahila semakin penasaran.
"Dulu rumah itu aku bangun memang untuk hadiah istriku, dan aku memang membangunnya dengan penuh cinta dan kasih sayang sepenuhnya, tapi itu bukan untuk mu melainkan untuk Kania, ucapan Refan membuat hati Sahila sedikit tertusuk, namun Sahila masih saja diam berharap Refan melanjutkan ucapannya.
"Dengan berjalannya waktu, aku semakin mencintai Kania, dan keinginanku menikahinya semakin besar, sampai suatu saat aku benar benar menikahinya, dan di saat itu karena kami berada di luar negeri, aku mengurungkan niatku, aku berencana untuk memberikan padanya saat kami pulang ke Indonesia, namun sebelum semua itu terjadi, dia menghianatiku, dan di saat itu pula, aku langsung memutuskan untuk bercerai dengannya dan memberikannya sebuah apartemen,.
"Karena aku sudah mengucapkan janjiku itu, jadi aku nggak bisa mengingkarinya, jadi rumah itu memang aku persembahkan untuk mu, karena kamu istriku dan anggaplah itu hadiah pernikahan kita.
Namun dengan sigap Sahila menggeleng membuat Refan kembali bingung, pasalnya Sahila terlihat suka, kenapa dia menolaknya .
"Kenapa,?'' ucap Refan memastikan .
"Aku nggak mau berada di antara bayang bayang mas dan mbak Kania, itu bukan hakku meskipun aku istrimu, karena kasih sayangmu saat membuat rumah itu bukan untukku, melainkan untuk mbak Kania, apapun alasan kamu aku nggak mau menerimanya, ucap Sahila dan langsung menurunkan kedua tangan Refan yang memegang pundaknya.
"Mike, apa aku salah bicara, sampai Sahila marah!" tanya Refan pada sekretarisnya.
"Maaf bos ,mungkin saja Nona merasa cemburu karena bos mengatakan sangat mencintai Kania meskipun itu dulu, tapi Nona sangat mencintai bos, dan mungkin saja dia nggak mau kalau bos mengingat masa lalu, ucap Mike asal, karena dirinya tak pernah mengalami hal yang seperti itu.
"Iya kak, alangkah baiknya mulai sekarang kakak harus membuang jauh jauh cerita apapun itu jika tentang Kania, Kakak ipar pasti marah, dan sekarang kejarlah, Refan langsung berlari setelah mendengar ucapan Ririn kali ini .
"Wah.... ternyata dokter berpengalaman juga, apa dokter sudah punya pacar?" tanya Mike sedikit ragu, pasalnya ini soal pribadi.
"Maaf, apa tuan Mike benar benar ingin tau?", tanya Ririn balik.
"Kalau boleh, tapi kalau tidak aku juga tidak memaksa, dan maaf juga ,atas kelancanganku,.
"Tidak apa apa, aku memang belum punya pacar, dan aku juga tidak pernah punya pacar, karena papa dan mama serta om Cakra selalu melarangku untuk berpacaran, mereka hanya menyuruhku menanggapi orang yang serius menikahiku, bukan sekedar mencintaiku, untuk apa kalau kita sekedar di cintai tapi di gantung itu pasti nggak enak,
__ADS_1
"Tapi kalau kita di nikahi, meskipun nggak saling cinta, dengan berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh ,dan pasangan kita akan mencintai kita, begitu pun dengan kita ,meskipun kita harus berjuang, ucapnya Ririn lebih dewasa dari yang di pikir Mike.
Mike tersenyum melihat Ririn yang masih berdiri di depannya, kali ini Mike hanya diam tak bertanya apa apa, namun dalam hatinya menerka nerka sesuatu.
"Mari dokter kita pulang, ajak Mike sambil mempersilahkan Ririn untuk berjalan.
Setelah beberapa langkah ,Ririn tidak melihat Mike di sampingnya ,namun Mike berjalan di belakangnya.
"Kenapa kamu di situ, sini, Ririn langsung menarik tangan besar Mike untuk berada sejajar dengannya.
"Kamu itu terlalu sopan, anggap aja aku ini teman kamu, dan aku sudah berulang kali bilang panggil aku Ririn, ucap Ririn mengingatkan ,meskipun berulang kali Ririn menyuruh Mike untuk memanggil namun Mike merasa tak enak .
Kamu laki laki yang sangat baik Mike, andai saja kamu adalah laki laki yang mau menikahiku, pasti aku akan merasakan kebahagiaan seperti kakak ipar, lirih hati Ririn sambil menatap wajah Mike yang berjalan di sampingnya
Sedangkan di penginapan ,Refan menggedor gedor pintu kamarnya, karena Sahila tak juga membukanya.
"Sayang, mas mohon bukalah,mas minta maaf, atas semuanya, bukan maksud mas menyinggung atau membuatmu sakit hati, mas cuma ingin jujur saja, dan kamu harus ingat kalau sekarang kamulah orang yang mas cintai, Refan berteriak di depan pintu, namun sedikit pun tak ada respon dari Sahila
Sedangkan di dalam kamar ,Sahila menatap langit langit kamarnya mengingat kata kata Refan saat membangun rumah itu penuh kasih sayang dan cinta untuk Kania.
Sahila tak bisa membohongi dirinya sendiri ,bahwa dirinya saat ini sedang sakit hati sekali gus cemburu.
Sahila menangis tersedu srdu sambil memeluk gulingnya. .
Refan masih saja duduk di kursi dekat kamarnya berharap Sahila membuka pintu, namun setelah Mike datang dan memberikan kunci serepnya dengan cepat Refan menolaknya.
"Kenapa, bukankah bos mau minta maaf sama Nona?", ucap Mike.
Refan mengangguk dan menghela nafas,
"Tapi aku ingin dia sendiri yang membuka pintunya?''Kalau aku membukanya dengan kunci itu berarti aku memaksanya untuk. memaafkanku, namun kalau dia membuka dengan sendirinya, itu berarti dia ikhlas.
__ADS_1
''Apakah Sahila membuka pintu kamarnya, ataukah Refan tidur di luar ya? ''