
Karena hari sudah mulai malam ,para penghuni pun sudah mulai istirahat setelah seharian lelah dengan pekerjaan masing masing ,begitu pun dengan Refan, meskipun seharian ini tidak bekerja, tapi Refan pun merasa sedikit lelah.
''Kamu tidur saja Fan, papa sudah nggak apa apa?'', ucap pak Cakra meyakinkan Refan sambil mengangkat kedua tangannya bak super hero yang membuat Refan terkekeh.
Karena sudah mendapat izin, Refan pun keluar dan berjalan menuju kamarmya.
Refan mengerutkan alisnya melihat sang istri yang belum tidur, dan memiringkan badannya ke kiri dan kekanan, dan itu berulang kali, sedangkan Refan hanya melihatnya di depan pintu.
''Mas,, rengekan Sahila yang membuat Refan memajukan langkahnya dan menghampirinya.
''Kenapa?'' ,Refan dengan raut wajah yang khawatir karena Sahila sesekali meringis ,bukan kesakitan tapi sedikit kegelian karena merasakan pergerakan sang baby yang makin hari semakin aktif.
Sahila meraih tangan Refan dan menaruh tepat di atas perutnya yang seperti anak gunung itu.
''Halo anak papa''. ucap Refan sembari. mengelus perut Sahila dengan elusan yang sangat lembut.
Sesekali mengecupnya dan semakin membuat Sahila tersenyum.
''Kenapa kamu yang senyum senyum sendiri, ?!!Refan sedikit heran melihat tingkah sang istri.
''Geli, hanya itu yang di ucapkannya.
Karena ucapan Sahila ,pikiran licik Refan pun mulai muncul.
''Berarti mas harus menjenguknya langsung kalau kamu geli, Refan mulai mencium pipi Sahila dan turun keleher, meskipun tangan Sahila berusaha untuk menghadangnya ,namun percuma saja ,karena tenaga Refan jauh lebih kuat.
Dan akhirnya terjadilah adegan suami istri pada malam itu ,Refan melakukannya dengan sangat hati hati mengingat keadaan Sahila yang sedang hamil.
Hingga malam itu menjadi malam pertama kalinya Refan menyentuh Sahila semenjak di nyatakan hamil.
''Kita tidur, sudah malam, besok mas mulai ke kantor. ucapnya sambil mengecup kening Sahila dengan sangat lembut dan mendekap sang istri tidur dalam pelukannya melewati malam yang sangat gelap namun sangat berarti.
Hingga fajar menyingsing pun Sahila masih dalam dekapan Refan, karena Sahila mulai merasa gerah ,akhirnya dirinya pun terbangun, melihat tubuh suaminya membuatnya tersenyum.
Aku nggak nyangka kamu bisa cinta sama aku, bahkan lebih dari apa yang aku bayangkan, batinnya.
Sahila mengangkat tangan Refan yang masih memeluknya dan meletakkan di kasur, dengan perlahan dirinya beranjak berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Memutar kepalanya yang terasa kaku di depan cermin dan sesekali menggelengkannya.
__ADS_1
''Capek .gumamnya dan langsung mengguyur badannya tepat di bawah shower.
Sedangkan di dalam kamar Refan mulai menggerayangi bantal yang ada di sampingnya, ''Kosong. ucapnya,.
Membuka matanya lebar lebar dan mulai menyatukan kesadarannya sambil duduk di pinggir ranjang ,melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup dan suara air masih gemericik terdengar jelas olehnya.
Karena sudah di kira lama ,Refan sedikit khawatir karena Sahila tak keluar juga, akhirnya Refan berjalan menuju kamar mandi dan mengetuknya.
''Sayang, apa kamu masih lama,?'' sedikit berteriak.
Namun Sahila tak menyahut.
Refan menggaruk kepalanya.
''Sa... ucapannya terhenti karena Sahila sudah keluar dari kamar mandi,
''Apa, celetuk Sahila tepat di depannya.
Sahila duduk di depan meja rias dan duduk,.
Dengan cepat Refan pun langsung mengeringkan rambut sang istri yang masih meneteskan buliran airnya.
''Kok mas lihat semakin hari kamu semakin cantik ya, ?''Refan mulai menggombal, bukan tersanjung Sahila malah mengerucutkan bibirnya.
Refan mensejajarkan wajahnya tepat di samping wajah Sahila.
''Dulu kamu juga cantik, tapi mas aja yang nggak bisa melihat kecantikanmu ,karena mas buta,ucapnya pelan. sambil memandang wajahnya dan Sahila dari pantulan cermin.
Dan melanjutkan tugasnya untuk mengeringkan rambut Sahila kembali.
''Kata orang kampung ,kalau ibu hamil semakin cantik itu berarti anaknya perempuan, ucap Sahila santai mengingat setiap kata kata orang kampung, entah itu mitos atau fakta namun itulah yang sering di dengar.
,
Refan tersenyum dengan tangan yang masih sibuk di rambut Sahila.
''Mau Laki laki atau perempuan yang penting dia dan kamu selamat dan sehat. mas sudah bersyukur, kita akan merawatnya dengan baik, Refan meletakkan hair dryer yang di pakainya dan kini beralih ke wajah Sahila.
''Sejak kapan mas jadi tukang rias, ?''Sahila terkejut melihat Refan mulai merias wajah Sahila.
__ADS_1
''Jangan meremehkan suamimu ini, ?''ujarnya ,
Karena kalau sudah ada kemauan Refan pun tak bisa di bantah dan Akhirnya Sahila memilih untuk diam.
''Lihat!'', sambil memutar lagi wajah Sahila ke arah cerimn.
''Cantik kan, mulai percaya diri dengan karyanya,
''Heemmm... hanya itu yang keluar dari mulut Sahila.
''Kalau gitu aku keluar dulu, aku mau masak untuk kamu dan yang lain.
Refan mengangguk dan membiarkan Sahila keluar dari kamar.
''Istri kampungku yang cantik, akhirnaya kau akan menjadi ibu dari anakku, gumamnya setelah Sahila menghilang dari balik pintu.
Sahila menuruni anak tangga dengan pelan, karena perutnya yang mulai membesar itu harus membuatnya ekstra hati hati.
''Kakak ipar sudah bagun,?'' tanya Ririn yang baru keluar dari kamarnya ,sedangkan Nia sudah berkutat di dapur dengan Bibi.
''Sudah, Rasanya sekarang aku mulai tak bisa tidur nyenyak Rin, perut kakak ini mulai ngak bisa di ajak kompromi, Sahila mengadu, dengan apa yang sering kali di alaminya.
''Tapi kakak ngak apa apa kan,?'' Sahila mengangguk.
''Tumben kakak sudah cantik,?'' Ririn kembali bertanya, karena tak seperti biasanya Sahila sudah serapi ini saat bangun tidur.
Sedangkan yang di tanya masih tersipu malu, bagaimana tidak, harus jawab apa hayo, masa bilang kalau Refan yang mendandaninya kan malu, itu pikirnya.
''Kakak, aku nanya?'' Ririn mengulangi.
Sahila tersenyum, ''Mas Refan yang merias kakak, jawabannya singkat dan membuat Ririn terbelalak.sedangkan Sahila masih menahan malu dengan kata katanya.
Apa, kak Refan, kenapa bisa dia membuat wajah kakak ipar secantik itu, aku kira dia hanya bisa nyari duwit saja, tapi aku salah ,bahkan dia bisa merias istrinya, andai saja semua laki laki di dunia ini seperti dia, batin Ririn yang terjeda, karena Refan sudah menepuk bahunya dari belakang.
''Kenapa bengong, suara berat itu membuyarkan lamunannya.
''Kapan kakak belajar make up,?'' pertanyaan Ririn tak langsung mendapat jawaban dari Refan malah membuat nya mengerutkan alisnya, dan melihat wajah sang istri yang berlalu menuju dapur.
Refan mengangkat kedua bahunya dengan bersamaan.
__ADS_1
Refan tertawa dan berbisik, ''Dari kakak ipar kamu, kakak cuma sering lihat dia saat ber make up dan kakak ngikutin aja, bisiknya tepat di telinga Ririn.
Suami pintar dan cerdas, itulah yang saat ini ada di otak Ririn untuk kakak sepupunya tercinta.