KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 162. Kepo


__ADS_3

Hari pun sudah larut, Zero mengantarkan Ririn untuk pulang, dalam hati Zero sedikit resah, takut Om Cakra dan yang lain marah karena membawa Ririn pulang malam.


Ririn melihat mobil Refan dan yang lain sudah berjejer menandakan mereka sudah pulang dari rumah Nia.


''Aku antar masuk ya,!'' Zero menawarkan diri karena tidak mau ada kesalah pahaman.


Maksud Zero pun juga ingin menjelaskan kenapa mereka bisa terlambat.


''Maaf, hanya itu yang di katakan Ririn karena semua ini memang ulahnya, karena dirinya lah yang membuat mereka pulang selarut ini.


Karena sepulang dari nonton, Ririn mengajak Zero untuk jalan ke mall karena ada sesutau yang akan di beli.


''Nggak apa apa, dan ini tanggung jawabku, jadi aku akan menjelaskan pada mereka, Zero santai.


Sudah gelap. Batin Ririn.


Ririn melangkahkan kakinya menuju pintu utama, dan Zero mengikutinya dari belakang,


Seperti biasa ,Ririn langsung masuk karena rumah pak Cakra tak pernah terkunci jika salah satu keluarganya masih berada di luar.


''Apa aku ikut masuk?'', Ucapnya.


Ririn menggeleng, ''Kayaknya nggak usah deh, pasti semua sudah tidur, kata Ririn karena melihat lampu rumah yang hanya menyala remang remang,


Namun sebelum Ririn menutup pintu ,tiba tiba aja lampu menyala terang membuat Ririn melongo.


Kok nyala batinnya.


Zero yang belum kembali pun ikut masuk melihat cahaya rumah yang tiba tiba bersinar.


''Dari mana saja, jam segini baru pulang. tiba tiba suara itu mengagetkan Ririn dan zero.


Ririn dan Zero mencari sumber suara yang ternyata di tangga.


''Kakak ngagetin saja,ucapnya lantang, aku kira monster ucap kembali dengan pelan dan itu tak mungkin terdengar oleh Refan.


Refan turun dari tangga menuju sofa ruang keluarga, Ririn pun ikut duduk dengan Zero.


''Maaf kak kita telat pulang, kita cuma nonton saja, Zero hanya menjawab inti.


Refan melihat jam yang melingkar di tangannya,


''Kenapa sampai jam segini?'', Refan mengeraskan suaranya.

__ADS_1


''Kakak apaan sih, kakak kira kita ngapain, kan Zero sudah bilang kalau kita cuma nonton, kakak nggak percaya banget, Ririn ikut sewot.


Zero tersenyum ,''Ririn benar kak ,kita cuma nonton saja setelah itu langsung pulang, Zero mengulangi berharap Refan percaya.


''Ya sudah, sekarang kamu pulang, ini sudah malam, lain kali kalau mau keluar jangan lupa waktu, Ririn itu tanggung jawabku, dan aku nggak mau di salahkan kalau terjadi apa apa dengannya, ucapan Refan membuat Zero mengangguk dan langsung berlalu.


Namun ada kejengkelan dalam hati Ririn melihat Refan,Ririn beranjak dari duduknya menuju kamarnya.


''Eits.. .mau kenmana tanya Refan sambil menarik tas Ririn hingga membuat sang empu langsung berhenti.


''Apa lagi, Ririn masih terlihat sewot.


''Duduk sini kakak mau bicara, ucapnya seperti akan ada hal yang serius, .


Refan menoleh ke penjuru arah yang memang sudah sepi,


dan kini pandangannya pada sepupu nya yang cantik.


''Bagaimana pacaran ala dokter?'', pertanyaan Refan membuat Ririn mengerutkan alisnya dan memandang lekat sepupunya yang manaikkan kedua alisnya itu.


Apa aku tidak bermimpi batinnya.


Ririn mengambil toples yang berisi cemilan dan membukanya, mengambilnya dan menyuapi mulut Refan dengan penuh.


Dasar nih orang mulutnya nggak bisa di rem, memangnya ada pacaran ala dokter, ala pengusaha dan ala ceff ,batin Ririn jengkel.


Ririn memutar badannya menghadap Refan yang santai menguyah cemilan suapannya..


''Kak ,Dokter juga manusia, jadi sama saja seperti kakak, gi mana sih ,kalau pacaran dengan kakak ipar ya seperti itulah kita, dan kakak itu nggak usah kepo, Ririn semakin sewot menghadapi kakaknya.


Ingin rasanya memukul Refan yang terlihat santai, sedangkan dirinya sangat tegang menghadapi sikapnya.


''Kirain beda, singkat,


''Apa Zero juga romantis,?''


''Pertanyaan macam apa itu, Dia sangat romantis, bahkan lebih dari pada kakak, kali ini ucapan Ririn membuat Refan terpaku.


Bagaimana bisa, dia pikir dialah yang paling romantis di antara para laki laki, tapi Ririn malah mengatakan Zero lebih romantis darinya.


''Sudah, aku mau tidur, ucapnya beranjak dari duduknya dan tersenyum menyeringai. tak mau lagi meladeni kakaknya yang konyol itu,.


Rasain, emang enak, siapa suruh jadi orang kepo banget, ha.. ha... ha.. rutuki tu nasib mu yang kalah romantis sama Zero, sambil menutup pintu melihat Refan yang sedang garuk garuk kepalanya

__ADS_1


''Masa sih, Zero romantis, melihat wajahnya yang tak pernah senyum, apa iya aku masih kalah dengannya, setelah melihat kamar Ririn tertutup, Refan beranjak dan kembali ke kamarnya .


Refan membuka pintu dengan pelan, berjalan menuju ranjangnya melihat Sahila yang terlelap membuatnya tersenyum lebar.


Membelai rambutnya dan mencium keningnya. memegang perutnya dan berinteraksi dengan calon anak yang masih di dalam kandungan.


''Kenapa anak papa belum tidur?'' ucapnya pelan, saat merasakan pergerakan dari babynya,


''Papa juga belum tidur sih, tiba tiba suara Sahila menirukan anak kecil itu membuat Refan terkejut, Refan mengira kalau Sahila itu sudah terlelap, tapi nyatanya Sahila mendengar kata katanya.


Refan menarik tangan Sahila yang terlihat ingin bangun.


''Kenapa belum tidur, tanyanya,


''Mas dari mana, kenapa juga belum tidur, aku tadi terbangun karena buang air kecil, tapi aku melihat mas nggak ada, dan aku males untuk turun jadi aku tungguin saja.


''Mas cuma lihat Siapa yang datang,ternyata Ririn. ucapnya singkat, karena memang Refan keluar saat mendengar mobil berhenti di depan rumahnya.


''Dari mana, tanya sahila. sambil menyikap selimutnya yang masih menutupi tubuhnya.


''Kencan sama Zero,.ucap Refan cuek sedikit merasa tak senang karena teringat ucapan Ririn kalau Zero itu lebih romantis dari pada dirinya.


Kok kelihatannya mas Refan nggak suka gitu saat mengatakan nama Zero. batinnya


''Apa Zero membuat kesalahan, Sahila mengambil kesimpulan, melihat gelagatnya Refan memang nggak suka dengan Zero kali ini.


Refan mengangguk.


''Kenapa? ''


''Karena dia lebih romantis dari pada mas, dan mas nggak suka itu, mas berharap hanya mas yang paling romantis, bukan si dokter itu, kini ucapannya semakin jengkel.


Sahila tertawa keras, sampai mengeluarkan air mata mendengar kegusaran suaminya yang kalah saing dengan calon suami sepupunya itu.


''Kenapa tertawa,?'' memberhentikan tingkahnya yang hendak menarik selimut.


''Mas itu sangat lucu, itu kan menurut Ririn, kalau menurutku mas itu laki laki yang sangat romantis di banding laki laki di luaran sana ,Sahila berharap kata katanya itu bisa membuat suaminya lebih tenang, dan tak memikirkan apa yang baru saja mengganjal hatinya.


''Apa kamu tidak bohong dengan semua kata katamu itu?'', Refan memastikan.


Sahila menggangguk dan meletakkan kepalanya di lengan Refan,


Ternyata suamiku ini juga nggak mau kalah dengan calon sepupunya, aku kira dia cuma mau menang sendiri di depan tuan Mike ,tapi dia juga ingin lebih di depan dokter Zero, batinnya.

__ADS_1


__ADS_2