KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 200. Galau


__ADS_3

Mike tak menyangka, di hari menjelang pernikahannya akan menjadi runyam seperti ini, dirinya mengira kalau pernikahannya akan berjalan dengan mulus setelah melewati terjalan untuk mendapatkan Nia, faktanya hal yang menyakitkan itu terulang kembali dan ini dari dirinya, karena semalaman penuh nyonya Wilson mengomel, hari ini Mike memutuskan untuk pergi ke kampung pak lek Hajir bersama Refan.


''Mas hati hati ya di jalan, aku doakan semoga tuan Mike berhasil dan Nia mau kembali,'' ucap Sahila sambil mencium punggung tangan suaminya, sedangkan Refan mencium kening Sahila dan tak lupa sang buah hatinya.


''Biar aku yang kemudi!'' ucap Refan saat melihat Mike yang terlihat lesu.


Setelah Mike keluar, Refan langsung duduk di depan setir.


Dalam perjalanan, Mike hanya berbicara jika Refan bertanya, tapi jika Refan diam, Mike pun ikut diam.


''Apa kamu sudah bilang sama nyonya Wilson kalau Nia pergi?''


Mike mengangguk.


''Terus apa tanggapan dia ?'' Refan kembali bertanya.


''Kalau Nia tak kembali, aku akan tetap menikah dengan wanita pilihan mama, ucap Mike langsung ke inti.


''Bagus, jadi kamu akan tetap mempunyai istri, setidaknya ada pengganti Nia, dan aku yakin kalau nyonya Wilson mengambil langkah yang tepat.


Ucapan Refan membuat Mike berdecak kesal. bukan membantu memikirkan cara bagaimana mengatasi nyonya Wilson malah menjerumuskannya.


''Kelihatannya Bos sangat senang kalau aku menikah dengan wanita lain dan Bukan Nia, Mike memiringkan duduknya menghadap Refan.


''Tidak, tapi kamu taulah keadaanya, semua sudah siap, dari pada Mr Wilson malu, ya kan?'' Refan meyakinkan, Namun kali ini Mike hanya diam tak mau berbicara lagi.


Tapi memang benar apa yang di katakan Refan, kalau pernikahan itu tak terlaksana, pasti Mr Wilson akan malu dan itu tidak baik untuk mitra bisnisnya, Meskipun masih terlihat galau, Mike tetap pada keputusan nyonya Wilson.


Setelah beberapa jam, mobil mewah Refan sudah memasuki perkampungan di mana pak lek Hajir tinggal, dan setelah bebrapa menit, kini mobil Refan sudah terparkir manis di depan rumah pak lek Hajir.


Sebelum keluar, Mike maupun Refan melihat pintu rumah yang tertutup rapat.


''Kok sepi, apa pak lek Hajir masih di kebun?'' ucap Refan menerka, sedangkan Mike hanya memandangnya tanpa bicara, tak ada semangat sedikit pun pada Wajah Mike kali ini karena Mike sedikit tidak yakin dengan hatinya.

__ADS_1


Apa mungkin Nia pulang ke sini, kenapa hatiku mengatakan kalau dia tidak disini?''


lirih hatinya.


Meskipun perasaanya tidak yakin, Mike tetap keluar dan mengahampiri pintu yang masih tertutup.


''Di kunci.'' ucapnya pada Refan.


''Kita tunggu saja, pasti sebentar lagi juga pulang, Refan langsung berlari ke bukit yang ada di belakang rumah pak lek Hajir untuk memberi kabar pada Sahila kalau dirinya sudah sampai dengan selamat.


Setelah menunggu kurang lebih satu jam, Refan merasa bosan dan belum ada tanda tanda pak lek Hajir pulang.


Untung saja ada tetangga yang lewat, akhirnya dengan cepat Refan menanyakan.


''Pak maaf, pak lek Hajir kemana ya, apa dia masih di kebun?'' tanya Refan.


Sedangkan Mike hanya duduk dan diam.


''O.. pak lek Hajir to.. Kemarin orangnya pergi dengan istrinya membawa tas besar, dan saya juga tidak tau mau kemana,'' ucap sang tetangga yang membuat Refan manggut manggut.


''Apa selain bapak ada yang tau kemana pak lek Hajir pergi?'' Refan mencoba mencari tau lagi, barang kali ada tetangga yang tau perginya pak lek Hajir.


Tetangga itu menggeleng, ''Justru itu yang jadi tanda tanya mas, semua warga disini juga bingung, karena pak lek Hajir tidak berpamitan pada tetangga, dan juga tidak berpesan apa apa, dia perginya di jemput mobil mewah, jadi kami juga tidak menanyakannya.''


Setelah mendengar penjelasan dari tetangga pak lek Hajir, Refan dan Mike hanya terbengong mengingat kalau kemarin adalah hari di mana Nia juga pergi dari rumah.


Refan melihat Mike yang sudah mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya.


''Jangan berfikir negatif dulu , lebih baik kita pulang dan cari tau, Refan kembali menenangkan Mike.


Setelah tak mendapatkan hasil, Refan kembali melajukan mobilnya untuk pulang, dan kali Ini Refan mulai berfikir bagaimana cara untuk mencari Nia.


Akhirnya Refan mengeluarkan ponselnya dari saku celana .

__ADS_1


''Kamu cari wanita yang bernama Nia, aku akan kirim fotonya, kalau perlu, kerahkan semua anak buahmu ke luar kota, dan aku mau kamu segera memberi kabar baik.'' ucap Refan pada orang di balik telepon, tanpa menunggu jawaban, Refan langsung menutup teleponnya.


''Tenang saja, pasti Nia akan segera ketemu, jadi kamu jangan galau kayak gitu, calon pengantin baru harusnya bahagia, Refan mulai bercanda, namun masih tak ada sedikit pun senyum di wajah Mike kali ini.


Refan memang sangat yakin karena bawahnnya itu tak pernah sekali pun mengecewakan dirinya, jadi Refan merasa tenang.


Bagaimana kalau tidak ketemu juga, apa aku akan menerima wanita pilihan mama, apa aku akan bahagia menikah dengan orang yang sama sekali belum aku kenal, bahkan aku saja belum pernah melihatnya, membatin sambil memejamkan mata.


Tak terasa perjalanan yang memakan waktu itu kelar juga, kini mobil mewah itu sudah terparkir di depan rumah mewah milik pak Cakra, ''Ayo turun!'' ajak Refan.


''Apa kamu akan tetap di sini sampai nanti, kamu tidak dengar kalau tadi aku sudah menyuruh anak buahku untuk mencarinya, jadi tenang saja,'' Refan lalu turun dan masuk rumah.


Sedangkan Mike masih duduk di tempat tak bergeming.


Refan tersenyum melihat wanita yang di cintainya itu sudah menunggunya di sofa bersama sang buah hati.


''Papa pulang,'' ucapnya sedikit berteriak yang langsung di sambut oleh Sahila.


''Gimana mas, apa Nia sudah ketemu?'' tanya Sahila antusias.


Refan menggeleng dengan pelan, ''Tapi mas sudah menyuruh anak buah mas untuk mencarinya dan mudah mudahan saja cepat ketemu.


''Ya, tapi kalau nggak ketemu juga gi mana, kasihan tuan Mike, dia nggak jadi nikah dong,'' Sahila memanyunkan bibirnya.


''Jadi dong sayang, kalau Nia nggak ketenu nyonya Wilson sudah ada cadangan pengganti Nia, dengan gampangnya Refan mengucapkannya.


''Maksud mas apa, Tuan Mike menikah dengan wanita lain kalau Nia tidak ketemu?'' Sahila memastikan.


Refan mengangguk Dengan terpaksa, ''Ya gi mana lagi, karena semuanya sudah siap dan tidak mungkin di batalkan don, kasihan Mr Wilson, kalau sampai pernikahan Mike dan Nia batal, ini akan berdampak buruk pada bisnis Mr Wilson, maaf untuk urusan ini mas juga setuju dengan nyonya Wilson,'' Refan meyakinkan Sahila untuk mengerti posisinya sebagai seorang pembisnis.


Kamu di mana sih Nia, kenapa kamu tidak mau pulang, aku yakin kalau tuan mike juga bercanda seperti mas Refan, batinnya sedih.


Sedangkan Refan hanya bisa mengelus lengan Sahila yang menopangkan kepalanya ke pundak sang suami.

__ADS_1


''Tenaglah sayang, kamu percaya jodoh kan, pasti tidak akan kemana, lagi lagi ciuman mendarat di kening Sahila.


__ADS_2