
Hari ke lima semenjak Refan pergi, kesabaran Sahila pun sudah habis, karena memang tak ada kabar sama sekali membuatnya semakin khawatir.
Sahila membolak balikkan ponselnya dan mulai menggeser layarnya.
''Zero, ya aku harus menghubungi Zero.'' gumamnya.
''Tersambung, ucapnya lagi, setelah menunggu sedikit waktu, Akhirnya Zero mengangkatnya.
Halo kakak ipar, ada apa ya, kok tumben telepon, apa ada yang sakit?'' suara Zero pertama kali.
Sahila yang tak mau basa basi pun langsung mengucapkan tujuannya.
''Tidak kok, cuma mau nanya, Kamu di mana sekarang?'' tanya Sahila.
O... aku dan Ririn keluar kota, aku ada seminar, karena Ririn mau ikut jadi aku ajak. jawab Zero.
Karena sudah mendapat jawaban dari Zero, Sahila tak mau melanjutkan lagi omongannya.
''O... ya sudah kalau gitu, maaf ya aku ganggu.'' ucap Sahila dengan pelan.
Sahila menutup teleponnya dan kembali menatap ke depan dengan pandangan kosong, tak tau lagi harus menghubungi siapa.
Hanya air mata yang lagi lagi menemaninya selama lima hari ini.
''Ini tidak bisa di biarin, aku harus telepon papa, kalau sampai terjadi sesuatu dengan mas Refan, aku nggak mau di salahkan.'' ucapnya pelan dan kembali mengambil ponselnya.
Sahila menghubungi pak Cakra, lagi lagi nasib baik itu menjauh darinya, bahkan nomor pak Cakra pun tak bisa di hubungi, karena lelah, Akhirnya Sahila membanting ponselnya sampai remuk.
''Apa yang harus aku lakukan sekarang mas?'' ucapnya di tengah tangisnya.
Melihat Kyara yang tidur membuatnya tak tega karena sudah lima hari tak bertemu dengan papanya, akhirnya Sahila memilih memejamkan mata sejenak, berharap saat dirinya bangun akan lebih merasa tenang.
Di sisi lain, Mike pun bingung karena sudah beberapa kali menghubungi Refan, namun tak ada hasil.
Tak seperti biasanya dia mematikan ponselnya, apa dia marah padaku karena aku pulang, lirih hatinya.
''Kenapa mas ?'' tiba tiba saja Nia mengagetkannya dari arah belakang.
''Bos nggak bisa di hubungi dari kemarin, mungkin saja dia marah padaku.'' ucapnya pada Nia.
''Coba hubungi nona saja, dan tanya sama dia kenapa ponsel tuan Refan tidak bisa di hubungi.'' Nia menyarankan.
Mike langsung mengangguk dan tersenyum.
''Cerdas juga istri kampungku ini,'' ucapnya sembari mencubit pipi Nia yang membuat sang empu meringis.
__ADS_1
Karena mendapat saran dari Nia, akhirnya Mike menghubungi Sahila.
Kali ini Mike pun mengernyitkan dahinya mendengar suara operator yang menyebalkan, bagimana tidak, No Sahila juga di luar jangkauan.
''Masa iya, orang kaya paket data habis sih,'' gerutunya yang membuat Nia tertawa.
''Apa sih mas, ada ada saja, ya mungkin saja memang Nona lagi sibuk dan mematikan ponselnya.''
Kini Mike tak lagi mendengarkan omongan Nia, fikirannya melayang, dan mulai bingung dengan situasinya.
''Tapi sayang, ini aneh, kalau memang mereka marah, nggak mungkin kan nona ikut ikutan, lagi pula sesibuk apa nona, sampai mematikan ponselnya.'' ujar Mike.
Nia yang berada di samping Mike pun ikut mengangguk membenarkan ucapan suaminya.
Akhirnya Mike mengambil ponselnya kembali yang sesaat di taruhnya dan menghubungi semua pihak yang berhubungan dengan Refan.
Dan terakhir kali jatuh pada no kantor Refan.
Dan kali ini betapa terkejutnya mendengar penjelasan dari kantor bahwa Refan keluar kota selama lima hari.
Mike teringat dengan sektetaris Refan yang sekarang adalah seorang janda.
Apa yang terjadi, pasti dia keluar kota dengan Viola, terus.... Mike menghentikan batinnya dan beranjak dari ranjangnya.
''Mau kemana mas?'' tanya Nia.
Ini namanya bukan menawari, tapi memaksa, masa iya aku belum jawab sudah main tarik saja, batinnya sebel sambil mendongak melihat wajah suaminya.
''Ma, papa mana?'' tanya Mike pada nyonya Wilson yang sedang asyik membaca majalah dewasa.
''Di ruang kerja, ada apa, apa kamu sudah mau mulai datang ke kantor?'' tanya Nyonya Wilson yang membuat Mike berdecak.
''Masa iya sih ma, pengantin baru kerjanya di kantor, mama harusnya faham dong, kalau pengantin baru itu kerjanya di kamar.'' Mike sedikit ngelawak membuat Nyonya Wilson menghentikan kegiatannya dan melihat anak semata wayangnya.
''Kamu pinter seperti papamu ternyata ya?'' Ucapnya lalu tersenyum.
Sedang Mike hanya bisa menaikkan kedua alisnya sambil menatap Nia.
Mama sama anak sama saja, yang di bahas itu dan itu saja, batin Nia sedikit merasa malu.
Mengingat tujuannya, Mike kembali berjalan menuju ruangan Mr Wilson dan meninggalkan Nia bersama mama nya.
''Pa, panggilnya mendekati Mr Wilson yang sibuk dengan laptopnya.
Mr Wilson membuka kaca matanya dan mempersilahkan Mike untuk duduk.
__ADS_1
''Kamu kelihatannya serius banget ada apa?'' tanya Mr Wilson melihat wajah Mike yang terlihat kecut.
''Aku mau ke Indonesia, Kayaknya ada yang nggak beres dengan bos.'' ucapnya sedikit ragu.
Mr Wilson hanya mengangguk kecil mendengar ucapan Mike.
''Nggak masalah.'' sambil mengangkat kedua bahunya.
Mike terbelalak mendengar jawaban papanya yang terlihat ringan.
''Kapan kamu mau berangkat?'' ucap Mr Wilson dengan santainya membuat Mike langsung beranjak dan merangkulnya.
''Besok, lebih cepat lebih baik, lagi pula aku akan sering pulang kok, ucap Mike masih berdiri di samping Mr Wilson.
''Jangan, nggak pulang ngak apa apa, gangguin papa saja, kalau kamu disini papa nggak bebas mau mesra sama mama kamu.'' ucapnya membuat Mike lebih terpaku.
O.... ternyata jiwa papa ini nggak mau kalah sama yang muda, batinnya.
Setelah mendapat izin, Mike kembali keluar dan menemui nyonya Wilson yang saat ini berbincang dengan Nia.
''Ada apa Mike, kelihatannya kamu seneng banget?'' ucap Nyonya Wilson sambil melihat putranya yang tersenyum setelah dari ruangan Mr Wilson.
''Ma, papa ngajakin ke kamar tu, katanya mau itu.'' ucapan Mike langsung mendapat pukulan dari Nia.
Nia menatap wajah Mike dengan tatapan tajam.
Sedang nyonya Wilson hanya tersenyum santai.
''Kamu sudah menuruni jiwa mama Nia, jadi wanita jangan lemah, kalau bisa pukul tu mulut mereka yang selalu ember.'' ucapnya memprovokasi sang menantu.
Mike yang tak mau menanggapi mama nya pun langsung mengalihkan pembicaraanya.
''Ma, aku mau balik ke Indonesia ya?'' ucapnya pun ragu takut kalau si cerewet nyonya Wilson itu memarahinya.
Nyonya Wilson tertawa karena sudah menduga, kalau kata itu akan muncul dari mulut Mike, meskipun nyonya Wilson tak menduga akan secepat itu.
''Mama tau. ucap nya.
''Dari mana?'' tanya Mike balik.
''Mama itu tau dari wajah kamu, kelihatannya kamu belum rela berpisah dari wajah tampan bosmu itu.'' ucapnya menjelaskan.
Belum juga Mike bicara, nyonya Wilson kembali menyahut.
''Tapi mama kasih kamu waktu satu bulan, kalau sampai satu bulan Nia belum hamil, kamu harus kembali ke sini lagi, tapi kalau Nia sudah hamil, kamu boleh selamanya di sana, tapi mama minta cucu mama untuk disini dan ini keputusan akhir mama tidak boleh di tawar, titik.''
__ADS_1
Mike pun mengangguk dengan permintaan Nyonya Wilson.
Sedangkan Nia hanya diam saja tak bisa berbuat apa apa.