
Berbeda dengan meeting di siang hari, malam ini meetingnya berjalan sangat lama, di sebabkan kedatangan kliennya terlambat dan bertele tele, itu yang semakin membuat Refan di bakar amarah.
Di akhir meeting Refan pun terpaksa marah marah karena membuatnya kesal.
''Kalau memang bapak tidak mau bekerja dengan perusahaan saya, tidak apa apa, lagi pula saya juga tidak mau punya rekan kerja yang tidak di siplin seperti bapak, ucapnya sambil mengendurkan dasinya.
Sang klien pun hanya bisa minta maaf berulang ulang pada Refan yang akhirnya membuatnya luluh dan memutuskan untuk masih bekerja sama.
Refan langsung saja meningggalkan tempatnya sambil melihat jam yang melingkar di tangannya, dan itu sudah jam sepuluh malam.
Sialan, kalau saja ini bukan urusan penting, aku tendang dia dari tempat ini, umpatnya.
Refan melihat Viola yang masih berdiri di belakangnya.
''Vi.. kamu pulang naik apa?'', tanyanya.
''Taksi pak .''jawab Viola singkat.
Refan mengangguk anggukkan kepalanya.
Mobil jemputan Refan sudah di depan mata ,dan dengan cepat Refan pun masuk, tapi melihat sang sekretaris yang masih mematung membuatnya kasihan, lagi pula jam memang sudah malam, pasti taksi pun sudah sedikit sekali yang beroperasi.
Refan membuka jendela melihat Viola yang kini tersenyum padanya.
''Bareng saja Vi, aku antar, lagi pula ini sudah malam, dan nggak baik buat wanita sepertimu, ucapnya sedikit teriak.
''Tidak usah pak, saya sudah pesan taksi Online kok ,lebih baik bapak pulang saja, Jawab Viola dengan ramah.
Setelah menimbang ,Akhirnya Refan kembali mengajak Viola untuk masuk ke dalam mobilnya.
''Nggak apa apa Vi, ini sudah malam ,dan kamu sekretaris ku, aku tidak mau kalau sampai terjadi apa apa sama kamu di saat kamu pulang kerja ,pasti akan berdampak buruk untuk perusahaan.
Karena Refan terlihat memaksa, akhirnya Viola langsung masuk.
Dalam perjalanan, Viola sesekali melirik ke arah Refan yang fokus dengan ponsel di tangannya.
Sekilas terlihat olehnya ternyata Refan memandang foto Sahila dan anaknya.
''Apa Ibu tidak marah kalau tau bapak mengantar saya pulang?'', tanya Viola.
__ADS_1
Refan hanya tersenyum kecil dan kembali memasukkan ponselnya di saku jasnya.
''Istriku tidak pernah marah padaku, apa lagi hal sepele seperti ini, dia itu sangat penyabar ,meskipun aku sangat keras kepala, terkadang aku juga bingung dengan hidup ini, kenapa aku bisa bertemu dengan wanita sepertinya, sambil geleng geleng kepala.
Viola meresapi setiap inci kata dari Refan yang di utarakannya.
Memang sebaik apa sih istrinya, sampai seorang ceo seperti pak Refan sangat memujinya .batin Viola.
''Sepertinya bapak sangat mencintainya?''.Nada penasaran.
''Apa perlu aku menjawabnya?''.
''Hmm... maaf kalau saya lancang.
''Aku sangat mencintainya, dan aku tidak akan bisa hidup jika dia sampai pergi dariku, aku ada karena dia masih ada di dunia ini, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kami berdua, Refan mengucapkannya dengan begitu menyentuh, apa lagi yang mendegarkan adalah seorang wanita yang baru saja patah hati.
Andai saja di dunia ini semua laki laki seperti bapak ,pasti setiap wanita tidak akan ada yang meneteskan air matanya hanya untuk cinta, batin Viola.
Setelah beberapa menit perjalanan, kini mobil Refan berhenti di depan rumah sederhana milik Viola,.
''Ini rumah kamu Vi,?''tanya Refan dan matanya mengarah ke rumah yang ada di depan mobilnya.
Refan hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman kecil.
Lagi lagi Refan hanya bisa melihat jam yang melingkar di tangannya karena perjalanan ke rumahnya masih memakan waktu, terpaksa Refan memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian...
''Tuan bangun, ucap sang supir sambil menggoyang goyangkan lengan Refan yang terlihat pulas.
Dengan cepat Refan pun membuka matanya dengan perlahan, melihat sekelilingnya yang ternyata sudah di depan rumah dan kondisi rumah yang sudah berganti dengan lampu remang.
Dengan santainya Refan memasuki pintu utama.
''Kok se-malam ini pulangnya Fan,?'' tiba tiba saja Suara pak Cakra mengagetkannya.
Refan yang sudah menaiki satu anak tangga kembali turun dan menghampiri pak Cakra yang baru keluar dari kamar.
''Iya pa, tadi ada meeting, jadi aku terpaksa lembur, papa mau apa, kok belum tidur?'', tanya Refan.
__ADS_1
''Nggak mau apa apa ,cuma mau ambil minum saja, kamu ke kamar saja istirahat, suruhnya.
Setibanya di depan kamar, Refan membuka pintu yang memang tidak di kunci.
Melihat Sahila yang sudah terlelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya membuatnya lega, ternyata istrinya baik baik saja, beralih melihat Kyara yang berada di sampingnya,membuatnya tersenyum.
''Loh, anak papa belum tidur, nungguin papa pulang ya,?'' ucapnya menirukan anak kecil, Refan menghampirinya dan mencium pipinya yang semakin gembul.
Refan melihat Kyara yang sesekali menjulurkan lidahnya.Apa dia haus, batinnya .
Dengan cepat Refan mengambil susu yang sudah di siapkan untuk bayi kecilnya, dan meminumkannya, dan ternyata benar, bayi Kyara memang haus,karena belum juga beberapa menit, susu yang di minumnya itu sudah ludes, dan setelah Refan menarik botol dari mulutnya, Kyara langsung memejamkan matanya kembali,.
''Wah... wah.. wah.. ni anak kerjain papa nya, giliran sudah kenyang dia ninggalin papa tidur, Refan pun tersenyum gemas.
''Mas,, tiba tiba saja panggilan itu terdengar olehnya saat sibuk melepas bajunya.
''Kok bangun sih sayang, apa mas terlalu berisik ya?''. ucap Refan merasa bersalah .
Sahila menggeleng dan terbangun dari tidurnya.
''Kok sampai jam segini sih mas, nggak biasanya deh, tanya Sahila heran.
Karena meskipun lembur paling lambat juga jam sembilan sudah sampai rumah.
''Mas habis nganter Viola dulu, soalnya mas takut, nggak baik kan malam malam Viola pulang sendirian, ucap Refan menghampiri Sahila yang masih setia di balik selimut.
Mencium keningnya dan merapikan rambutnya yang berantakan.
''Kamu nggak marah kan?'',
Sahila menggeleng, ''Untuk apa marah, kalau aku ada di posisi mas ,aku juga akan melakukan hal yang sama, aku percaya kalau kamu akan setia dan tidak akan selingkuh di belakangku, jadi kamu harus menjaga kepercayaanku, Sahila mendongakkan kepalanya menghadap wajah Refan yang lebih tinggi darinya.
Refan kembali mencium bibir Sahila dengan sangat lembut, bukan hanya itu ,Refan merasa malam ini adalah momen untuk menghabiskan dengan sang istri,
''Kamu lihat kyara, dia habis minum susu ,dan mungkin sekarang dia sedang bermimpi indah, ucap Refan basa basi.
''Maksudnya?'', Sahila penasaran dengan arah pembicaraan Refan saat ini.
''Maksudanya itu,... mas mau itu...''. lagi lagi Sahila hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya,.
__ADS_1
Dan malam ini bukan dengan terpaksa Sahila melayani suaminya ,tapi dengan suka rela.