
Dengan mata masih terpejam, tangan Sahila meraba kasur di sampingnya, dan setelah merasakan kosong, terpaksa Sahila membuka matanya dengan pelan,Tidak ada, Kini Sahila beralih melihat ke penjuru kamar mencari sosok pria tampan yang di cintainya.
Karena juga tak menemukannya, Sahila menyibak selimut dan teringat kejadian kemarin yang membuatnya demam.
Apa mas Refan sudah bangun duluan, membatin namun belum juga beranjak.
Karena merasa kalau tubuhnya lebih ringan, Sahila menurunkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karena belum juga melihat suaminya membuatnya terpaksa untuk keluar dari kamarnya.
Saat melewati kamar Kyara yang tepat berada di sampingnya, Sahila mendekatinya dan langsung membuka tanpa mengetuk pintu.
Masih tidur, batinnya lalu menutup kembali.
''Masih sepi,'' gumamnya sambil berjalan turun menyusuri anak tangga. Niat ingin mengambil air minum, namun saat pandangannya mengarah ke arah sofa, Sahila terkejut mendapati suaminya yang meringkuk tanpa selimut dengan mata masih terpejam.
''Apa mas Refan tidur di sofa dari semalam, bicara kecil.
Kali ini Sahila tak melanjutkan tujuan utamanya dan kini malah menghampiri suaminya.
''Mas.. panggilnya sambil menggoyang goyang lengannya.
Karena susah untuk tidur karena tempatnya yang sempit membuat Refan langsung membuka mata, dan hal yang di lakukan pertama kali adalah memegang kening Sahila dengan punggung tangannya, setelah merasa kalau Sahila sudah tidak demam dan kelihatannya sudah sembuh, Refan langsung menarik tubuh sang istri dan memeluknya.
Sahila diam karena tau pasti alasan Refan memeluknya adalah merasa bersalah kejadian di kolam renang.
Masih belum melepas pelukannya Sahila mengatakan berkali kali kalau dirinya sudah tidak apa apa, ''Tapi mas takut, kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, mas tidak akan memaafkan diri mas sendiri.
Bergelak tawa dalam hati itulah Sahila saat ini.
Sahila yang melihat punggung Refan hanya bisa menghela nafas panjang, makin lama suaminya ini makin posesif saja jika menyangkut dirinya.
''Sudah dong mas, nanti kalau di lihat yang lain kan malu, bisiknya berharap Refan melepas pelukannya.
Untung saja Refan cepat mendengarkan, kalau tidak mungkin adegan itu sudah menjadi tontonan Mike yang baru keluar dari kamarnya.
''Nona sudah baikan ?'' tanya Mike menghampiri keduanya.
Sahila mengangguk dan tersenyum.
''Nia mana?'' tanya nya, namun panjang umur karena Nia sudah muncul dari balik pintu.
__ADS_1
''Mas, hari ini kita jalan jalan, ya?'' pintanya .
Refan melihat ke arah Mike, dan menyungutkan kepalanya minta pendapat.
Mike pun mengangguk pelan.
''Baiklah kemana?'' tanya Refan kembali, yang mendapat hadiah sebuah tepukan di lengan.
''Mana aku tau, yang penting kita jalan, di tengah tengah obrolannya dengan Nia dan Mike, Doni pun ikut menyusul bergabung.
''Kamu sudah tidak apa apa kan Sa?'' tanya Doni.
''Aku baik kok, lagian aku juga pernah dulu, malahan lumpur, bukan air bersih, ucapan Sahila membuat semuanya mengernyit kecuali Nia.
Sahila memandang satu persatu wajah para pria di depan dan sampingnya.
''Kenapa wajah kalian seperti itu, Sahila ikut heran, Refan yang tak berani mengungkapkan rasa jijiknya pun hanya menelan ludahnya saja meskipun susah.
Membayangkan istri yang di sampingnya itu berlumuran dengan lumpur.
Sedangkan Mike dan Doni pun ikut merasa jijik membayangkan lumpur yang masuk ke dalam mulut.
''Jangan terkejut gitu, aku tidak sendiri kak Doni, tapi waktu itu aku sama Nesya, bahkan kita sama sama hampir mati, ucapannya serius membuat Refan langsung merangkulnya.
Setelah mendengar nama Nesya di sebut, kini Doni hanya menggaruk tengkuk lehernya.
Mike tertawa keras merasa dirinya aman.
Nia yang jengkel langsung saja menepuk paha Mike dengan sangat keras hingga sang empu meringis.
''Kenapa sayang, ucapnya sedikit bingung.
''Mas juga jangan tertawa, aku juga pernah mengalami hal yang serup, bahkan mungkin kotoran ikan yang tertelan di tubuhku ini, ucapnya lantang membuat semuanya terbelalak.
''Whaat... Mike lebih mengernyitkan dahinya.
Kotoran ikan, membayangkan saja aku tidak bisa Nia sayang, batinnya merintih sedih membayangkan istrinya menelan kotoran ikan.
''Kenapa bisa?'' Mike semakin penasaran.
''Ya, waktu itu aku kan ingin renang, kalau biasanya di empang, karena musim kemarau, dan empangnya itu nggak ada airnya, jadi aku masuk ke kolam ikan milik tetangga yang saat itu tidak ada penjaganya, aku langsung saja nyemplung, tapi karena tidak bisa berenang, aku minggir ke tepi dan langsung naik lagi, aku tidak sampai tenggelam karena kolamnya cetek, aku juga sudah kenyang dengan air waktu itu, tapi setelah aku pulang, aku dengar ikannya pada mati, saat itu juga aku langsung megakui kesalahanku karena aku takut di laporkan ke polisi.
__ADS_1
Cerita Nia membuat Refan bahagia, bahkan tertawanya kali ini tidak bisa di rem dan bersembunyi di belakang Sahila.
Untung saja Zero dan Iwan tidak tau kalau dia tau, mungkin aku akan menjadi tembang bibir mereka, batin Refan di sela sela tawanya.
Mike hanya bisa geleng geleng kepala mendengar masa kecil istrinya.
Untung masa kecil, kalau sekarang apa jadinya, batin Mike lagi.
''Sudah, jangan di bahas, lagi pula mas tidak apa apa kok, itu kan cuma masa kecil, untuk apa di ingat lagi.''
Refan mencoba mengalihkan pembicaraan dan karena tak mau lebih dalam membahas masalah tentang kampung.
''Kyara sayang, princes sudah bangun ya?'' ucapnya melihat Kyara yang sudah memasang senyumnya di gendongan Ana.
Refan mengeluarkan ponselnya mengambil gambar Kyara yang ada di gendongan sang istri saat ini.
''Sayang lihat deh, Refan tak menghiraukan yang lain.
''Apa?''.
''Nih lihat, ini mah bukan Kyara lagi, ini Sahila kecil, ucapnya membalikkan layar ponsel menghadap Sahila.
''Masa sih mas, Dengan santainya Sahila mengelak.
Mike yang memperhatikan pun ikut menilai, dan ternyata memang benar, Kyara benar benar mirip sengan Sahila.
''Iya benar Nona, aku juga merasa seperti itu, tapi aku tak berani cakap, takut aku saja yang menilai seperti itu.
''Awas saja ya, kamu tidak boleh menilai istriku, ucap Refan dengan tatapan tajam.
''Kalian ini bisa saja, tapi iya sih, kini Sahila mengakuinya setelah mengingat foto dirinya masih bayi memang benar benar mirip dangan Kyara.
''Terus Refan mana yang nanti akan beruntung mengambil hatinya ya, belum juga melanjutkan uacapannya Ririn sudah membuyarkan percakapan semuanya.
''Ramai banget ada apa nih, tanya Ririn yang sedang berjalan mendekat bersama Zero.
''Ini rencana mau jalan kamu mau ikut nggak?'', tawar Sahila dan masih fokus dengan Kyara.
''Mau dong, antusias, sedangkan Zero menggeleng.
''Kenapa Zer,apa kamu tidak mau ikut?'', kini giliran Refan yang bertanya.
__ADS_1
''Mual kak, aku yang hamil dia yang mual dan ngidam, jadi biar saja dia di sini jaga villa, ucapan Ririn menjelaskan.
Untung saja istriku tidak seperti itu waktu hamil, Batin Refan. Kembali mengelus perut rata Sahila.